
Perjuangan hidup tidak akan berhenti selagi kita masih memiliki nafas dalam badan. tak terpikirkan oleh Salva jika kisah ini akan terulang lagi, padahal goresan yang ditinggalkan kaivan masih sangat membekas di hatinya.
Bagaimana ia bisa yakin akan berhasil dengan pernikahan ini? pernikahan yang berawal saling mencintai masih bisa kandas begitu memilukan. lalu bagaimana dengan hubungan terjalin tanpa rasa? dirinya tak berani berharap pelangi akan datang setelah hujan ini.
"Kenapa kau melamun?" salva tersentak mendengar suara Arya, ia menoleh melihat Arya yang baru selesai mandi.
Apakah mungkin ia akan mempertahankan hubungan ini? selama ini aku hanya bisa melihat kebencian dimatanya. andaikan....
"Bukannya menjawab, malah melamun lagi! sana mandi... setelah itu kita salat." salva tertegun, apa suaminya ini sedang mengajaknya salat bersama?
"Apa kau tuli?! cepatlah... sebentar lagi keluarga mu akan datang."
Astaga dirinya hampir saja lupa, jika bunda dan ayah akan datang. tak menjawab ucapan suaminya, Salva langsung berlari masuk dalam kamar mandi. tapi malah keluar lagi.
"Ada apa lagi? apa kau ingin aku yang memandikan mu!" salva mendelik tajam.
"Aku tidak punya baju ganti...." ucap Salva malu.
Arya menepuk jidatnya, bagaimana ia lupa akan hal kecil itu.
"Kau mandi lah, aku akan meminta pada ibu." Arya melangkah meninggalkan Salva yang terlihat bengong, jika dipikir-pikir ini malah terlihat seperti pengantin sesungguhnya, tapi bukan mereka sungguhan?
Salva tak mau memikirkan nya lagi, ia langsung melakukan seperti yang diperintahkan Arya. apalagi tubuhnya memang terasa lengket dan lelah setelah menjalani hari yang panjang ini, mungkin dengan air akan menyadarkannya dari mimpi gila ini.
Selagi Salva mandi, Arya pergi menemui ibunya dikamar. sebenarnya ia sedikit sungkan, tapi ia juga tidak mungkin menyuruh Salva sendiri yang meminta ke ibunya.
"Ada apa Ar?"
"Apa ibu ada baju ganti untuk Salva? dia belum punya." Mala tersenyum melihat kepedulian anaknya. ia tau betul sifat Arya yang dingin tapi sebenarnya ia sangat perhatian dan peka.
"Tunggu sebentar... mungkin ibu punya beberapa baju." Bu Mala mencari beberapa baju yang mungkin cocok dengan Salva, mungkin nanti ia akan mengajak Salva untuk berbelanja.
"Bawalah ini... disana juga ada pakaian dalam baru punya ibu, mungkin nanti Salva membutuhkan nya." Arya hanya mengangguk setuju, ia pergi meninggalkan ibunya.
Jangan ditanya apa Arya risih dengan itu semua, Jawabannya tidak. menjadi seorang dokter bahkan ia lebih tau segalanya, jadi untuk apa ia malu hanya untuk membawa pakaian dalam,dan ini pun untuk istrinya sendiri.
Rasanya kepalaku mau meledak saat mengatakan istriku... ya Tuhan!!
Arya sampai dikamar nya,ia melihat Salva yang masih berada dalam kamar mandi.
"Buka pintunya!! aku membawa pakaian ganti mu." pintu hanya terbuka sedikit, bersamaan dengan tangan yang terulur untuk mengambil bajunya.
"Terimakasih." brakkk... salva kembali menutup pintu kamar mandi.
******
Bunda Zera dan suaminya telah sampai di Bandung, sebelum pergi kerumah mertua Salva, bunda zera lebih dulu bertanya pada Maya dan kedua orang tuanya? apa yang sebenarnya terjadi?
"Maafkan kami yang tidak bisa menjaga anakmu dengan baik zera... kami tidak tau akan terjadi seperti ini...."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ardi tidak mau berbasa-basi lagi.
"Maafkan aku Paman... sebenarnya...."
Maya mulai menceritakan yang sebenarnya terjadi, ia juga menceritakan sikap Arya yang sebenarnya begitu dingin pada Salva. Ardi begitu terkejut, ia berpikir mereka menikah karena saling memilih rasa. ternyata ini hanya kesalah pahaman, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tohhh Salva sudah sah menikah dengan pria itu.
Keputusan hidup mereka akan ditentukan oleh mereka berdua, tapi sebagai orang tua tentunya tidaklah ingin anaknya berpisah lagi.
"Baiklah... kami akan kerumah orang tua pria itu! setidaknya ada sedikit harus dibicarakan."
Bagaimana pun mereka harus saling mengenal dan akan menjelaskan sedikit tentang masa lalu putri mereka, jika tidak akan menjadi petaka di masa depan.
Setelah melewati perjalanan, akhirnya bunda zera dan Ardi telah Samapi didepan rumah Hermawan.
"Ayah tidak tau Bun... mendengar cerita Maya, ayah tidak dapat menebaknya." saat ingin masuk, terlihat penjaga rumah itu menghampiri mereka.
Bunda mulai merasa sedikit cemas, meskipun rasa cemas ini tak beralasan. tetap aja ia cemas.
"Ingin bertemu dengan siapa Bu?" tanya sang penjaga dengan sopan.
"Apa benar ini rumah pak Tio Hermawan?" Ardi hanya ingin memastikan mereka tak salah alamat.
"Bener tuan... ada yang bisa saya bantu?"
"Saya dan istri saya adalah keluarga Salva, apa benar dia tinggal disini?" sang penjaga dengan canggung mempersilahkan mereka masuk.
Tidak ku sangka? ternyata mereka begitu ramah dan alim. tapi putri mereka malah menjebak tuan muda kami!
Mana tau mereka masalah yang sebenarnya, kabar sudah terlanjur tersebar dengan cepat. bahwa Salva dan tuan Arya berduaan didalam kamar dan berbuat yang tidak senonoh. itulah yang mereka percayai.
Mereka sudah berkumpul diruang tamu, Bu Mala menyambut baik kedatangan keluarga Salva. sedangkan Salva ia langsung memeluk wanita yang begitu dirindukannya, terlihat dari matanya banyak hal yang ingin ia bagikan dengan bundanya.
"Maafkan kami tuan Ardi dan nyonya zera. bukan maksud kami tidak menghormati kalian, tapi pernikahan itu Bena tak bisa ditunda lagi!" pak Tio mengatakan ia tidak punya pilihan lain.
"Tidak apa-apa... meskipun kami sedikit kecewa, tapi mungkin ini semua rencana Allah!" ucap ayah Ardi tak kalah bijak.
"Kita sudah menjadi besan... jangan terlalu canggung seperti ini...." Bu mala mulai merasa tak nyaman dengan situasi ini.
"bunda... apa kita bisa berbicara?" bisik salva yang ingin melepas rindu dan berbagi kisah dengan wanita itu.
Zera mengelus rambut putranya itu dengan sayang. dan itu tidak lepas dari tatapan tajam Arya, sekarang ia tau istrinya itu wanita manja. cihh hanya ucapan saja yang pedas,ada sisi lain yang tidak diketahui orang banyak.
"Baiklah sayang... minta izin dulu dengan mertua mu," ucap bunda lembut.
Setelah berpamitan Salva membawa bunda ditaman Belakang rumah Bu Mala, disana ada buayan tempat untuk bersantai.
"Apa kabar mu sayang?" ucapan pertama saat mereka memulai obrolan.
"baik Bun... maaf, maaf Salva sudah membuat kalian malu." salva menunduk sedih,ia tak berani melihat bundanya.
"Apa kamu melakukannya?"
"Tidak!"
"lalu untuk apa meminta maaf? ini Allah yang mengaturnya,kita sebagai umat tidak tau apa yang akan terjadi pada kita dihari ini maupun esok." bunda menangkup wajah Salva dengan lembut. "Jalani lah nak... jangan pernah menyalahkan Allah apa yang sudah terjadi!! mungkin saatnya kamu memulai hidup baru." salva tak lagi dapat menahan air matanya,ia menagis dipundak sang bunda dengan begitu menyedihkan.
Ia tidak menyesal, ia tidak menyalakan tuhan akan takdirnya. ia hanya merasa takut... takut akan kegagalannya itu terulang lagi. goresan luka di hatinya belum sembuh,dan sekarang ada lagi duri yang siap menghadangnya.
Sedangkan diruang tengah tinggal lah keduanya orang tua Arya dan Ardi, Arya sendiri disuruh ibunya menyusul Salva dan bundanya.
"Aku ingin menjelaskan status putri ku pada kalian... salva tidak lah Gadis.... ia janda yang baru saja diceraikan!" Tio begitu terkejut mendengar ucapan Ardi, sedang-sedang Bu Mala yang sudah tau hanya mengangguk saja.
"Anda serius tuan? kenapa ia tidak mengatakan sebenarnya?" entah lah, apa dihatinya mulai ragu akan menantu barunya.
"Aku tidak berbohong tuan Tio... apa kak pernah bertanya padanya?" tanya Ardi balik.
"Sudah lah yah... untuk apa memandang status, yang terpenting ia terbaik untuk putra kita." Bu Mala mencoba menenangkan suaminya, ia tau Salva. ia yakin Salva wanita baik-baik, lalu untuk apa dipermasalahkan status?
"Apa kamu sudah tau? kenapa tidak bilang sama ayah!" terdapat rasa tidak puas dihatinya.
"Ya... aku sudah tau sejak awal,"
Tio menarik nafas panjang,jika istrinya sudah berkata baik lalu ia bisa apa? tak mungkin ia membatah pendapat sang istri, sedangkan ia sendiri tidak tau siapa Salva.
******