Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
kecewa


Dunia bagaikan berputar kebelakang, jantungnya bagaikan berhenti berdetak, saat melihat orang yang selama ini ia rindukan tepat didepannya. Ingin rasanya berlari dan memeluk tubuh mungil itu, tapi keadaan tak mengizinkan, mungkin dia masih belum memaafkannya kesalahan yang terjadi.


"Apa ini benar-benar kau? apa aku tidak bermimpi?" Kaivan mencoba mendekati Salva yang diam mematung, tak ada jawaban darinya. Meskipun begitu kaivan mencoba memeluk sang mantan istrinya itu.


"Aku merindukan mu Va... sangat merindukan mu!" tak tau malu Kaivan langsung memeluk Salva.


Salva yang masih syok tak kuasa menghindari, mencoba untuk mendorong tapi kaivan memeluknya erat.


"Aa... apa yang kamu lakukan! lepaskan aku mas!" Bentak salva. Dan ia berhasil memisahkan diri dari kaivan. Tapi sepertinya itu sudah terlambat, sepasang mata sedang melihat mereka dengan marah dan kecewa.


Arya yang keluar dari ruang operasi, ingin menyampaikan bahwa pasien selamat. Tapi apa yang dilihatnya sungguh membuat hati dan perasaannya hancur!


Disana, didepan matanya ia melihat sang istri dipeluk pria lain, meskipun Salva tak membalas tapi dia membiarkan nya. Hatinya terasa ditemukan, meskipun selama ini ia tidak bersikap romantis pada Salva, tapi dalam hati ia selalu mendambakan belaian dari sang istri, tapi sekarang ia melihat tubuh istrinya disentuh orang lain.


"Salva... aku minta maaf... kembali lah bersama ku, aku sangat mencintaimu!"


Deg...


Genggaman tangan kaivan tidak lepas dari pundak Salva, Salva hanya terdiam mendengar perkataan Kelvin. Pantas kah pria ini bilang cinta? apa dia tidak sadar? luka yang dia tinggal begitu dalam, dirinya bukan wanita hebat bisa memaafkan begitu mudah.


"Hmmm... keluarga pasien?"


Salva dan Kaivan yang tadinya fokus dengan masalah mereka langsung mengalihkan tatapan pada sang dokter.


Dunia Salva bagikan diguncang gempa, ia tak percaya suaminya ada Disini. Apa dia melihat semuanya? kenapa tatapannya itu begitu sulit dipahami?


Kaivan yang terlalu fokus dengan urusan pribadinya, sampai lupa dengan kondisi ayahnya.


"Benarkah dok? ayah saya baik-baik saja?" tanya Kaivan.


Kaivan menarik nafas lega, ia sudah berpikir hal terburuk yang terjadi. "Apa saya bisa melihatnya dokter?"


"Tentu saja, tapi hanya satu orang yang diperbolehkan masuk."


Kaivan menganguk mengerti,ia berlaku masuk keruang rawat ayahnya. Begitupun dokter dan para suster yang meninggalkan ruangan, tapi tidak dengan Arya.


"Jadi?? apa ini yang kau bilang dengan bertemu teman?" ucap Arya sinis, Salva terhenyak mendengarnya.


"Maaf... aku bisa jelaskan...." Salva begitu ngeri melihat tatapan mata Arya.


"Sepertinya dia sangat merindukan mu? apa dia mantan suamimu?" salva semakin tersudutkan dengan pertanyaan Arya, lidahnya begitu berat untuk menjawabnya.


"Sepertinya perkataan ku benar...." Arya pergi meninggalkan Salva, tapi dengan cepat Salva meraih tangan Arya.


"Ar, tolong dengarkan penje...." ucapan Salva terpotong karena kaivan yang keluar dari ruang rawat ayahnya. Terpaksa salva melepaskan pegangan tangannya pada Arya, yang membuat hati suaminya itu Semakin hancur.


Kau bahkan takut dia melihat hubungan kita? apa masih begitu besar cinta mu untuknya?


Akhir-akhir ini ia cukup lelah dengan pekerjaannya, ditambah sikap Salva yang begitu cuek, membuat ia mudah marah dan suka bawa perasaan.


"Salva kita harus berbicara... aku ingin menjelaskannya secara langsung padamu!" Kaivan meraih tangan Salva, ia bahkan tidak perduli dengan keberadaan Arya disana.


"Ta,,,tapi..."


Arya pergi dengan senyum kecut, ia akan membiarkan Salva memilih, siapa pun layak untuk dipertahankan. Meskipun nantinya ia memaksa, jika ia ditolak dengan alasan tak mencintai dirinya, Arya juga tak punya pilihan. Baginya kebahagiaan Salva lebih baik, dari pada ia memaksa kehendak hatinya.


******