
Setelah semuanya menjadi jelas bunda dan ayah pamit untuk pulang, ibu mertua Salva menyuruh untuk menginap saja tapi bunda dan ayah menolak. Dengan berat hati Salva merelakan mereka pergi lagi, padahal Salva masih sangat rindu dengan mereka
"Jadilah istri yang baik ya sayang...." pesan bunda sebelum pergi, Salva menganguk, air matanya tak dapat ditahan lagi.
Setelah mengantarkan mereka pergi, Salva kembali ke dalam rumah. sekarang ia harus berjuang akan hidupnya kedepan, disini tak seorang pun yang akan membela dirinya.
"Dasar cengeng." hampir saja Salva terjungkal ke belakang karena terkejut. Kenapa pria ini selalu ada dimana-mana?
"Astagfirullah!! kamu...." Arya berlalu tanpa dosa, entah mengapa rasanya senang sekali menganggu istrinya itu.
Salva tak lagi mempermasalahkan kelakuan Arya yang rada-rada aneh itu, mungkin lebih baik ia tidak mencari masalah. salva kembali ke kamar, karena ayah dan ibu mertuanya tak lagi ada di ruang tamu.
Hampir saja ia lupa malam ini malam pengantin mereka, mengingat hal ini dirinya mengingat luka dimalam pertamanya bersama kaivan. Tak ada hal yang lebih menyakinkan dari itu, saat kita menantikan kelembutan, kemanisan sikap seorang suami, tapi dirinya malah mendapat luka yang sulit untuk diobati.
Dulu ia pernah berpikir sikap kaivan akan berubah dengan ketulusan yang ia berikan, tapi itu tak kunjung terjadi. Semakin hari luka itu semakin besar, Semakin perih. Mungkin jika itu kaca sekarang sudah hancur tak bentuk lagi, tapi hati harus dikuatkan, luka dan kesedihan tak selamanya akan dirasakan. ada kalanya manusia menemukan kebahagiaan tiada Tara, dirinya yakin Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuannya.
"Cikhh melamun lagi... Apa hidup mu itu tidak ada bahagianya?" Salva menarik nafas kesal, kenapa mulut Arya begitu cerewet sekarang? padahal kemarin-kemarin pria itu sangat dingin.
"Ya... mungkin kamu benar!!! Hidupku tak ada bahagianya."
Arya tertegun mendengar jawaban Salva, dapat ia lihat dari tatapan dingin itu. ia sangat sedih dan terluka yang tidak dapat disampaikan pada orang lain. entah mengapa Arya merasa tak nyaman, ia merasa bersalah telah mengucapkan hal itu.
"Kau... Sudah lah, ayo kita salat magrib sebelum waktunya habis." ajak Arya.
Ini kedua kalinya mereka Salat bersama setelah tadi siang, entah mengapa hati Salva merasa hangat saat melihat Arya menjadi imamnya. meskipun mereka hanya salat, tidak ada salam atau adegan romantis lainnya seperti pasangan lain. Tapi Salva tetap bahagia.
*****
"Kenapa kau masih duduk disana?" Arya sudah berbaring ditempat tidur sambil memandang Salva yang tampak gelisah.
"Lalu harus apa?" Arya terkekeh geli melihat kepolosan Salva, entah mengapa hari ini ia begitu banyak tertawa dan tersenyum hanya melihat tingkah istrinya yang tidak bermutu.
"Tentu saja tidur... Apa kau mau tidur di sofa itu?"
Apa bisa Salva anggap Arya membolehkan dirinya tidur ditempat tidur? dengan ragu Salva menjawab.
"Ya,"
"Cikh! dasar wanita! cepat tidur disini, aku tidak suka bercanda!"
"Tapi."
"Sekarang! Atau kau mau aku gendong?" salva meloncat dari duduknya, ia langsung berlari ketempat tidur. Takut pria ini benar-benar melakukannya, ia masih ingat saat kejadian ia terluka. dengan tidak tau malunya Arya menarik tangannya masuk ke ruangannya, apalagi sekarang tak ada yang bisa menjamin pria itu tidak melakukan ancamannya.
Salva mulai berbaring sedikit canggung, bisa dibilang ini kali pertama ia tidur berdua dengan pria. Bahkah saat masih menjadi istrinya kaivan ia tidak pernah tidur bersama. Meskipun sempat sekamar tapi Salva disuruh tidur dilantai dingin tanpa alas. Bahkan di sofa saja kaivan tak mengizinkan nya, mengingat hal itu entah mengapa membuat hati Salva berdenyut sakit, tanpa sadar air mata Salva mulai mengalir.
"Kenapa kau hobi sekali menangis? tidak ada yang akan menggangu mu... sekarang tidur lah. Karena besok pagi kita harus pindah." salva mendongak melihat Arya yang mulai memejamkan matanya.
"Pindah..? Kemana?"
******
Bab ini telah di revisi, aku harap yang membacanya bisa lebih nyaman lagi π