
Salva kembali dengan wajah penuh semangat, ia sangat senang dengan aktivitas paginya. Berjalan-jalan dipagi hari, bertemu beberapa teman lama juga saat berjalan pulang tadi, benar-benar membuat semangat Salva pagi ini.
Tapi dia tidak tau saja jika singa dirumah sedang mengamuk setelah bangun tidur karena tidak menemukan istri disampingnya. Menunggu sang istri tak kunjung pulang, bahkan kata bunda mereka sudah keluar dari dua jam yang lalu.
Jika di Bandung mungkin ia sudah langsung menyusul istrinya, tapi ini di Jakarta, ia tidak terlalu mengenal suasana disini. Bukan ia tidak membolehkan istrinya keluar, hanya saja ia tidak rela jika Salva sampai bertemu dengan Dia! kalian pasti tau siapa yang dia maksud.
Salva masuk dengan bersenandung kecil, ia hanya pulang sendiri, Nana menolak untuk pulang bersama karena dia bertemu dengan kekasihnya ditengah jalan.
Salva sudah memperingati saudarinya, ia tau bunda dan ayah pasti akan sangat marah jika mereka tau Nana berpacaran, dan Nana mengerti, berjanji akan pulang lebih cepat nantinya. Orang tua mereka memang melarang, hanya ingin menjauhkan anak-anak mereka dari dosa, tapi zaman sudah berubah, tak berpacaran tidak gaul katanya!
"Sudah selesai bersenang-senang?"
Salva berbalik, ia baru sadar suamiku ada di sofa kamarnya. "Lohh mas... sejak kapan kamu disana?"
Arya berdecak kesal, kebiasaan Salva. jika ditanya malah Balik bertanya. "Dari tadi! Tunggu istri yang kabur saat suaminya tidur!"
Salva menyengir, sindiran suaminya mengenai relung hatinya. Ahhh kenapa jadi lebay ya?
"Siapa yang kabur sih mas? Aku pergi sama Nana. Hanya rindu melakukan aktivitas seperti dulu." Arya hanya memandang dingin. "Kamu tau mas? Tadi aku bertemu dengan beberapa teman-teman sekolah ku, mereka semakin lebih baik sekarang."
"Aku gak nanya!"
Salva memutar otak agar suamiku tak marah lagi, rencananya untuk berlindung sama Bunda dengan ayah sekarang sudah pupus. Salva sendiri tidak tau kemana perginya mereka, saat diluar begitu sepi, sepertinya mereka tidak berada dirumah.
"Ehhh mas... bukankah mas akan kerja? jam berapa perginya?"
Tamatlah riwayatnya, tidak ada lagi alasan yang dikeluarkan Salva lagi. Mungkin hanya merayu sang suami jalan satu-satunya untuk dapat maaf Arya.
"Mas... maaf ya," ucap Salva lirih. "Kan perginya sama Nana, masa gak boleh keluar sih?" Memasang wajah yang menyedihkan, agar suaminya berhenti interogasi dirinya.
"Mas gak melarang kamu pergi, tapi berpamitan lah sebelum pergi. Kamu membuatku hampir berhenti benafas tau? Jika terjadi sesuatu bagaimana? Mas gak mau kamu Terluka."
"Sebenarnya ada apa sih mas? Kenapa setelah hari itu kamu berubah mas? Apa yang dia katakan sama mas..? Apa dia mengancam?"
Arya mengusap kasar wajahnya. Dia tau salah telah melarang kebebasan istrinya, tapi ia tak punya cara lain, hatinya tidak tenang jika Salva pergi keluar sendirian. Ada banyak bahaya yang mengintai dirinya diluar sana, yang pasti tidak diketahui istrinya ini.
"Tidak perlu kamu tau... Semuanya baik-baik saja." Arya langsung meninggal Salva yang masih terdiam dalam kebingungan. Ekspresi yang dikeluarkan suamiku nampak tidak baik-baik saja, ada sesuatu yang dicoba sembunyikan sang suami darinya.
*****
Darah akan mengalir bagaikan sungai...Nyawa harus dibayar nyawa, hidupnya tidak akan tenang setelah kau mengambil kebahagiaannya!
Dendam akan berjalan seiring waktu... dendam tidak pernah berhenti sampai darah penghabisan! Kau harus membayar dendam yang belum usai!
Aku tunggu kau hidup menderita, aku tunggu kehancuran itu datang, menghancurkan kehidupan seseorang yang menghancurkan hidupku!!
******
Jangan lupa like, Komen dan vote ya kkππ