
Sebulan sudah berlalu semenjak Salva menjadi istri Arya, hubungan mereka semakin hari semakin dekat, meskipun belum melalui jenjang yang serius seperti suami dan istri sesungguhnya.
Sekarang Salva tidak lagi tinggal bersama mertuanya, mereka telah pindah dari tiga Minggu lalu. Apa yang ditakutkan Salva tidak terjadi, disini ia cukup dimanjakan oleh suaminya, bahkan Arya memperkejakan dua asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan menemani salva jika Arya pergi bekerja.
Tapi untuk memasak Salva memilih melakukannya sendiri, dulu bunda mengajarkannya, dari masakan kita bisa menyalurkan kasih sayang dan cinta untuk keluarga kita, itu akan membuat suami selalu mengingat istrinya.
"Kamu lagi yang memasak?" tanya Arya. bukan ia tidak suka hanya saja ia tidak ingin istrinya capek. "Kita sudah punya asisten rumah tangga Va... kenapa kamu tidak suruh mereka saja?"
"Apa kamu tidak suka? jika tidak suka besok aku tidak akan memasak lagi!" ada kekecewaan dalam dirinya, padahal ia sudah berusaha untuk menyenangkan hati suaminya, tapi malah ditolak, menyediakan.
Salva meninggalkan meja makan dengan kesal, dirinya benar-benar kecewa dengan ucapan Arya. padahal dulu sering kali masakannya ditolak kaivan, bahkan dihina dan masakannya dibuang, tapi dia tidak berani untuk marah. Tapi tidak dengan sekarang, kasusnya berbeda.
Arya mengejar Salva yang lebih dulu masuk dalam kamar, padahal tadi niatnya baik, hanya saja cara menyampaikan kurang tepat, perasaan wanita memang susah dipahami. Saat sampai di kamarnya, Salva sedang duduk termenung, entah apa yang dipikirkannya hanya Allah dan dirinya yang tau.
"Va... maaf, bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak ingin kamu lelah. Kamu istriku bukan pelayan ku, sudah tugasku untuk memanjakan mu...."
Deg...
Kata itu lagi, pelayan! hanya maknanya saja yang berbeda, tapi tetap saja ada desiran aneh dihatinya. Jika dulu kaivan mengatakan dirinya hanya sebatas pelayan, tapi disini suaminya tidak ingin membuatnya seperti pelayan, apa dia harus senang?
Tidak!!!
Dirinya tidak senang, jika suaminya bergantung pada pelayan lalu ia untuk apa? dirinya juga ingin melayani suaminya, seperti istri sesungguhnya, seorang istri yang mengabdi hidupnya pada suami yang sesuai dengan ajaran agamanya.
"Apa kamu masih marah?"
"Apa aku salah memberi perhatian pada mu? aku hanya ingin menjadi istri yang baik." Arya mengusap kepala istrinya lembut, ia sangat senang mendapat perhatian darinya, hanya saja ia tidak rela.
"Baiklah... kamu boleh melakukan apapun! asalkan berjanji, kamu akan berhenti jika merasa lelah, kamu bisa meminta bantuan pelayanan." salva menganguk Setuju.
"Ya sudah... ayo kita pergi makan, aku sudah lapar,"
******
Kadang-kadang Salva berpikir, apa Arya mencintainya atau tidak? Pria itu begitu dingin,dan bisa berubah dalam waktu seketika menjadi kepribadian hangat. Hanya saja selama satu bulan ini Arya tidak pernah memperilaku romantis padanya, hanya perhatian biasa seperti keluarga. Sempat Salva berpikir, jika dia hanya kasihan pada dirinya? lagi pula bagaimana mungkin pria sesempurna dirinya bisa menyukai seorang janda.
Dret...
Lamunan Salva terganggu dengan suara ponsel yang berdering, ia mengambil benda pipih itu tak bersemangat.
"Tuan Hendra?!" salva sungguh terkejut melihat si penelepon, sudah begitu lama, tapi kenapa baru sekarang pria berhati mulia itu menelpon? apa terjadi sesuatu?
Salva langsung menjawab. "Assalamualaikum ay...Aya... tuan Hendra." Salva benar-benar bingung untuk memangil mantan ayah mertuanya itu.
"Hehe waalaikum salam nak Salva... apa harus sekaku itu kamu memanggil ku? aku tetap lah Ayahmu, kamu bisa memanggil seperti biasa." ucap diseberang sana.
Salva Benar-benar canggung, tapi itu benar, hubungannya dengan kaivan sudah berakhir, tapi hubungan anak dan seorang ayah tidak akan berakhir, meskipun hanya sebatas orang asing.
"Maafkan aku... bagaimana kabar ayah? apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya baik-baik saja, bagaimana dengan mu nak... apa kamu lebih bahagia sekarang? apa kamu sudah mendapat apa yang kamu cari dalam hidup mu?"
Salva tak enak mengatakan tentang pernikahannya dengan Arya, padahal ia juga ingin menyampaikan pada pria itu, hanya saja ia takut menyinggung perasaan mantan ayah mertuanya itu.
"Banyak hal yang sudah terjadi... hanya saja, aku tak bisa menjelaskan ditelpon. tapi sekarang kehidupan ku lebih baik, aku sangat berterima kasih karena sudah menyayangi diriku seperti putrimu sendiri." ucap Salva tulus.
"Tidak ada kata terima kasih antara ayah dan anak... aku punya Waktu banyak untuk mendengar cerita mu, jika kau mau ayah sedang berada di Bandung, jika berkenan temui lah pria tua ini."
Salva ternganga tak percaya, pantas saja ayah Hendra menghubunginya, ternyata ia sedang berada di Bandung. Dengan senang hati ia akan menemui penyelamat hidupnya itu, ahhh dia terlalu dramatis memberi gelar mantan ayah mertuanya itu.
"Baiklah... mari kita bertemu di restoran xxx." ucap Salva menyetujui. Terdengar nafas lega disana, apa sebegitu inginkah pria tua itu menemui dirinya?
******