
Kaivan sudah mendapatkan surat perceraian mereka, sekarang mereka sudah resmi bercerai. Entah mengapa ada rasa ruang yang hampa semenjak Salva tak lagi tinggal dirumah ini, karena merasa tak nyaman Kaivan memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.
Sedangkan ibu Kaivan saat ini masih syok dengan kenyataan yang ia dapatkan dari suaminya. sekarang dia sudah kembali kekediaman mereka, tapi Hanum selalu membayangkan wajah Salva yang menyediakan saat dia ejek dan memperlakukan dengan kasar.
Aku melakukan dosa begitu besar, seharusnya aku tak mendengar perkataan salsa, yang sekarang memilih melarikan diri disaat semuanya menjadi kacau. aku bodoh...aku sangat bodoh. ibu macam apa aku ini? bagaimana aku terlena dengan bujuk rayunya salsa. Hanum berperang batin sendiri. tak ada tempat dia mengadu isi hatinya yang begitu sesak,sesak akan dosa yang dia lakukan.
"Ibu kenapa?" Kaivan yang datang membuat Hanum terkejut, buru-buru ia menyimpan foto pernikahan anaknya yang sempat ia pandangi.
"Apa kah kamu kecewa dengan ibu? maaf kan ibu yang menyakiti kalian..." kaivan yang belum mengerti hanya diam dalam kebingungan.
"Ayahmu pasti sudah mengatakannya bukan??" Hanum mencoba bertanya, karena ekspresi yang ditujukan kaivan sangat berbeda dengan yang dia bayangkan.
"Mengatakan apa?"
Hanum memandang kaivan dengan raut tak menentu. sekarang ia tau suaminya Belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kaivan.
"Ibu mau menjelaskan tentang kejadian kemarin, Salva...."
"Ibu tenang saja... salva sudah menerima akibatnya. dia tidak akan menggangu kita lagi!" jawab Kaivan ceper, padahal ibunya belum menyelesaikan ucapannya.
"Kaivan dengarkan ibu dulu... salsa dan kamu...." lagi-lagi Kaivan memotong ucapan ibunya.
"Ibu tenang saja, aku akan menikahi salsa,jika itu membuat ibu bahagia!"
Deg...
Deg...
Jantung Hanum berdetak kencang mendengar ucapan putranya. Kaivan begitu memikirkan perasaan, sedangkan dirinya hanya sebuah hasutan ia mengorbankan kebahagiaan putranya.
"Ibu ingin kamu membatalkan pernikahan itu... ibu ingin kamu rujuk lagi dengan istrimu." Hanum menundukkan kepalanya,ia benar-benar merasa malu.
"Ap,,,apa maksud ibu? bukankah ibu ingin kami berpisah?" Kaivan mencoba bertanya, menyakinkan bahwa dia tidak salah dengar.
"Salva tidak salah nak... salva tidak menyakiti ibu," Hanum berlutut dihadapan kaivan sambil menagis,ia benar-benar menyesal sekarang. kaivan mencoba membatu ibunya berdiri, tapi Hanum tetap melakukan.
"Ibu sudah salah sangka dengan Salva... salva tidak pernah menyakiti ibu,ibu yang hampir mendorongnya dari tangga...." Kaivan masih belum paham dengan maksud ibunya, sehingga ia hanya mendengarkan nya saja tanpa menyahut.
"Bagaimana seperti ini Bu? lalu siapa yang yang menuang minyak ditangga?!" kaivan mulai tersulut emosi,ia merasa hidupnya dipermainkan. "Jelas-jelas salsa bilang, Salva mendorong ibu dari atas tangga!!! dai juga yang sudah merencanakan ini semua Bu...." Hanum semakin sesegukan, ternyata keluarganya benar-benar sedang kacau karena dirinya. ia mencoba berdiri untuk memeluk sang putra.
"Itu tidak benar nak... salsa berbohong, Salva tidak melakukannya." Kaivan menghempas tangan Hanum yang ingin memeluknya. "maaf kan ibu... kejarlah dia, sekarang ibu akan mendukung hubungan kalian." Kaivan tersenyum kecut mendengar penjelasan ibunya. mengejarnya, setelah perceraian yang selama ini diminta Salva. ia yakin gadis itu tidak akan mau kembali dengannya.
"Semuanya sudah terlambat Bu... semuanya sudah hancur. Hubungan ku dengan salva sudah berakhir!!!" Ucap Kaivan kesal, marah, bercampurnya sedih. ternyata ayahnya benar Salva tidak bersalah.
Mengapa aku tidak mendengarkan kata ayah, mungkin semua ini tidak terjadi. saat ayah bilang Salva tidak bersalah,aku tetap tidak mempercayainya. aku terlalu percaya dengan ibu dan salsa.
"Kamu masih bisa nak... kalian Masi bisa rujuk,ibu yakin Salva juga masih mencintai mu...." Hanum masih menyakinkan Kaivan untuk membawa Salva kembali.
"Bukankah itu terlalu egois istriku...? bagaimana bisa kau mau menyakitinya lagi?!" Hendra memandang istri dan anaknya dengan murka. tak habis pikir pria itu, setelah menyakitinya sedemikian rupa dan kini ingin melakukannya lagi?
Handra yang baru kembali dari kantor,ia terkejut melihat istrinya meminta Kaivan membawa kembali gadis yang pernah disakitinya, yang jam meninggal karena keegoisan mereka berdua.
"Dia akan bahagia dengan kehidupannya! jangan kalian ganggu lagi!!" bentak ayah Kaivan geram.
"Ayah harus ingat... aku tidak pernah ingin menceraikan nya! ayah yang telah memaksa ku!" Kaivan ikut tersulut emosi, melihat ayahnya tak mendukung ia kembali bersama Salva.
"Kamu benar, ayah yang melakukannya... tapi aku juga sudah melepaskan seorang wanita dari genggaman iblis seperti dirimu!!! kamu memang putraku kaivan... tapi aku tidak pernah mengajarkan anakku menjadi seorang penjahat seperti mu!" Hendra benar-benar kesal kali ini. "kamu ingin membawa dia kembali...? pergilah, lakukan yang bisa kau lakukan. tapi ingat,jika kau menyakiti dia lagi... ayah tak segan-segan mencabut semua warisan untuk mu!! dan mencoret kamu dari kartu keluarga."
Deg....
Kaivan terdiam mendengar perkataan ayahnya, entah mengapa ayahnya begitu menyayangi Gadis itu. padahal mereka tidak saling kenal awalnya sebelum mereka menikah.
"Kenapa ayah begitu menyayangi dia... aku putra ayah,aku anak ayah! bukan dia!" ucap Kaivan kesal.
"Kau ingin tau... karena aku dilahirkan oleh wanita yang tersakiti... wanita yang berjuang untuk hidup demi anaknya! kamu tidak akan mengerti perjuangan seorang wanita nak... karena kamu terlahir sebagai orang yang berada," Bercerita seperti ini membuat luka di hati Hendra kembali terkoyak. ia tak bisa lupa perjuangan ibunya yang saat tak diterima oleh keluarga mertuanya, bagaimana nasibnya saat masih kecil harus bertahan hidup dengan ibunya digubuk yang kecil.
Anaknya sekarang mana mengerti akan hal itu,ia tidak akan tau apa saja yang sudah dilalui dirinya dulu. Entah apa yang salah dari didikannya sehingga putra satu-satunya berbuat sesuatu yang paling dia benci selama dia hidup.
"Aa,,, ayah...."
"Sudahlah nak... jika kau ingin ia kembali berusaha lah, tapi jangan pernah memaksa nya dan menyakitinya lagi." Hendra pergi meninggalkan Hanum yang masih sesegukan menagis. entah mengapa melihat wajah istrinya ia merasa sedikit kesal. mungkin dia belum memaafkan perbuatan jahat istrinya itu.
******