Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
maaf bersalah


Setiap jam dua belas malam, sang manusia misterius itu akan mengirimkan pesan yang penuh ancaman pada ponselnya. Itu sudah berlanjut dalam dua Minggu ini, dan ia tidak memberi tau Salva masalah itu.


Awalnya Arya hanya terbangun tengah malam, ia melihat telpon nya bergetar, dengan rasa penasaran Arya membuka isi pesan itu. lagi pula siapa yang masih terjaga malam seperti ini? pasti seseorang yang niat tidak baik.


Arya sangat terkejut melihat berbagai macam ancaman yang ditulis, dan ada juga foto darah yang bersimbah di kain putih. Sepertinya seseorang itu memiliki dendam dengan dirinya, mereka juga mengirim foto Salva dengan kata-kata yang begitu kejam.


Sejak saat itu Arya selalu terbangun setiap tengah malam untuk menghapus pesan ancaman itu. Jika Salva sampai tau bisa dipastikan wanita itu akan ketakutan, untuk saat ini ia masih bisa menanganinya.


"Assalamualaikum kakak ipar!!" teriakan Nana membuyarkan lamunan Arya.


"Waalaikum salam,"


"Kenapa? Maksudku, kenapa wajah kak Arya suram seperti itu?" Ia mulai ingat dengan acara kabur mereka tadi pagi.


Apa mereka sedang marahan? astaga, ini kabar buruk. Bunda pasti akan menyalahkan ku nanti.


"Nana...,"


"Ya?"


"Apa saya bisa meminta bantuan padamu?" tanya Arya.


"Tentu saja kak, ada apa?"


"Selagi saya sibuk bekerja, bisakah kamu menjaga kakakmu."


Nana terdiam bingung, memangnya apa maksud kakak iparnya ini? Memangnya kenapa kakaknya sampai harus dijaga?


"Sebenarnya ada apa kak? Kakak ku tak butuh untuk dijaga, ia bisa menjaga dirinya sendiri," ucap Nana yang masih bingung.


"Entah lah... saya merasa ada sesuatu yang tidak menyukai hubungan kami, saya takut dia berbuat sesuatu dengan kakakmu!"


Otak Nana langsung memikirkan sang mantan suami kakaknya, mungkin hanya dia yang belum rela Salva bahagia.


"Baiklah, aku akan menjaga kakak."


Arya mengucapkan terima kasih sebelum meninggal Nana, setidaknya ia nanti merasa aman jika meninggalkan istrinya saat bekerja.


******


Arya kembali kekamar Salva, sudah cukup ia marah pada istrinya, tidak ada gunanya lama-lama saling marahan.


Arya dapat melihat istrinya sedang duduk termenung di jendela kamar, terlihat wajah sendu disana. dirinya memang sudah keterlaluan, padahal istrinya tidak melakukannya kesalahan yang besar.


"Sayang...," Salva tak menjawab, sepertinya ia masih asik dengan lamunan.


Istri mana yang tidak merasa sedih, melihat suaminya marah tanpa alasan. Ia tau pergi tanpa pamit itu salah, hanya saja ia ingin sedikit kebebasan.


Sibuk dengan pikirannya sendiri tidak sadar suaminya sudah memanggil, ia hampir berteriak terkejut saat merasa seseorang tidur dipangkuan nya.


"Mas!!"


"Mikirin apa? maaf sudah membuat mu sedih...," ucap Arya sambil memeluk perut istrinya.


"Aku tidak memikirkan itu!"


"Bohong!! aku tau kamu merasa sedih karena aku memarahi mu."


Salva berusaha memalingkan wajahnya yang sudah dijatuhkan air bening itu. Padahal tadi ia masih sanggup menahan tangisnya, tapi sekarang, dihadapan Arya ia tidak bisa berbohong jika hatinya sakit saat melihat Arya marah padanya.


Buru-buru arya menghapus air mata istrinya, dirinya benar-benar merasa berdosa membuat mata itu meneteskan air mata.


"Maaf kan aku sayang...,"


"Mas... aku belum mengerti mengapa kamu melarang ku keluar? Jika masalah dia, aku bisa menanganinya."


Arya semakin kuat memeluk perut Salva, ia merasa sesak saat mendengar istrinya mengatakan dirinya egois. Andaikan istrinya tau ia sedang ketakutan sekarang, pasti wanita ini mau mengerti.


"Bersabar lah sayang... nanti akan mas jelaskan!" salva menarik nafas lelah, selalu saja itu jawaban yang ia dapatkan.


"Aku tau,"


"Apa sudah memaafkan mas? kamu bisa menghukum mas, jika membuat dirimu bahagia sayang. tapi jangan pernah meminta kebebasan saat ini!"


Salva hanya membalas dengan senyum berat, tidak ada yang diinginkannya.


"Maaf akan mas dapatkan saat dirimu memberikan alasan yang jelas, biar kita impas mas,"


Arya bangkit tak terima. "Gak bisa gitu dong sayang... Kan mas sudah minta maaf," ucap Arya sambil memegang pundak istrinya.


"Serah aku dong mas... lagian siapa suruh main rahasia-rahasia sama istri?"


"Makin pintar kamu Sekarang ya...," mencibir hidung Salva, membuat gadis itu mengaduh sakit.


"Sakit mas!!" Arya terkekeh mendengar teriakkan marah istrinya.


"Siapa suruh mengemaskan sepi itu?" Arya merengkuh tubuh salva masuk kedalam pelukannya. "Sudah ya sayang!! ini semua demi kebaikan kita berdua, jangan pernah ragu dengan mas ya??"


"Baiklah lah mas."


Tidak ada lagi protes dari mulut Salva. mereka menikmati hari-hari dengan senyum dan bahagia.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Arya, Arya membukanya dengan sedikit kesal. Tapi yang dilihatnya sungguh sangat terkejut, padahal kemarin-kemarin pesan itu hanya datang saat tengah malam, tapi sekarang si misterius mengirimnya disiang hari.


Nikmati kebahagiaan kalian sekarang... sebentar lagi kalian akan menderita, berpisah untuk selamanya.


Kau tidak pantas untuk bahagia!! Hanya dengan darah dan nyawamu yang membutuhkan diriku puas!!


Dia akan meninggalkan mu selamanya, kau akan segera melihat mayat nya. Kau tidak pantas bahagia, aku hanya pantas mati!!!


Arya melihat jam dinding, disana tepat jam dua belas siang, sama seperti kemarin jam dua belas malam tepat.


"Siapa mereka?"


Arya melihat wajah istrinya yang sudah tertidur, pelan-pelan Arya memindahkan tubuh istrinya ketempat tidur.


"Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan cinta kita sayang!! Aku berjanji akan selalu melindungi mu."


Sungguh masalah ini benar-benar membuat ketenangan Arya hilang, padahal selama ini ia bersikap acuh jika ada masalah seperti ini, tapi yang jadi taruhannya nyawa istrinya, Salva.


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak