
Hari ini seorang gadis cantik sedang bersenandung kecil sambil berjalan santai pagi ini, entah mengapa ia merasa bahagia setelah bertemu dengan kakak iparnya itu. Rencana sudah disusun dengan baik hanya perlu menjalankan nya lagi.
"Wow... baru saja aku berpikir tapi buruan ku sudah datang saja."
Nana melihat mobil Kaivan memasuki pekarangan rumahnya, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, dengan cepat ia berlari menyusul Kaivan, jika ia masuk kedalam rumah itu akan membuat rencana akan kacau.
Nana mulai berpura-pura menelpon didekat kaivan, ia sengaja memancing reaksi pria jahat itu.
"Iya kak Salva! kami baik-baik saja!" sengaja mengeraskan suara. "Kak, kau memang hebat mencari penganti dia, kau tau pria sangat tampan dan tidak ada apa-apanya dibanding dengan mantan mu itu!!"
Kaivan mulai tertarik mendengar Nana mengatakan nama mantan istrinya itu, apalagi mendengar pria, tampan,dan mantan?
"Cepatlah berikan adikmu ini keponakan yang lucu ya!! aku yakin dia pasti akan tampan dan cantik seperti kakak ipar!!" Nana semakin menjadi-jadi mengerjai kaivan, apalagi melihat pria itu mulai mendekatinya.
"Nana?" panggil Kaivan, ia harus memastikan sesuatu yang baru saja dia Dengar.
"Sudah dulu ya kak... ada orang aneh memanggil ku!" Nana berpura-pura mengakhiri panggilan yang tidak pernah ada itu.
Kaivan semakin mengeram kesal, kenapa mantan adik iparnya itu tak ada baik-baiknya? kaivan sadar gadis itu sedang memanas-manasi dirinya.
"Apa maksud mu tadi? siapa yang tampan dari ku? dan keponakan apa?!" Tanya Kaivan tak senang. Nana menatap kaivan pura-pura bingung.
"Kau berbicara apa kak..? mungkin kau salah dengar,"
Kaivan berdecak kesal, sepertinya adik mantan istrinya ini sengaja mengerjai dirinya. Lihat lah dirinya berbicara begitu manis tidak seperti biasanya, gadis ini harus diberi sedikit pelajaran.
"Kamu ini tau hal yang menarik tidak? ingin mengerjai ku..? cikk bagaimana reaksi Tante zera jika tau anak gadisnya pandai berpacaran?" Kaivan tersenyum licik, sekarang gadis itu harus takluk di tangannya.
Astaga bagaimana dia bisa tau?? jika bunda tau bisa mati aku!! Tapi aku tidak boleh kalah sama pria kejam ini... aku harus cari cara agar dia gak bilang sama bunda!!
"Kau tau?? setiap wanita di dunia ini akan memilih pria yang sempurna. Tak perlu kaya dan tampan... seorang wanita hanya butuh tempat ternyaman dia udah berlabuh!! dan sayangnya kau tidak PANTAS UNTUK ITU KAK!!"
Nana pergi meninggalkan Kaivan yang masih mematung didepan rumahnya. Tak ada yang harus dijelaskan pada pria itu,jika dia pintar ia tau apa yang dikatakannya. Nana masuk dengan senyum lebar, seperti siap memenangkan pertandingan.
Kaivan yang masih tak bergerak dari tempatnya merasa hatinya ditusuk beribu jarum. Ia masih ingat dengan jelas bagai ia membuat Salva tak bahagia, begitu banyak air mata yang diberikannya, apa dirinya pantas? tidak... dia sangat tidak pantas untuk dimaafkan!
"Nana!" hadis itu mematung saat namanya dipanggil sang bunda.
"Apa kamu harus berucap sekasar itu?" ternyata ia mendengar pembicaraan mereka, entah mengapa bunda ini selalu ada disaat yang tidak tepat.
"Maaf Bunda... aku hanya merasa kesal saat dia masih berusaha mencari kakak." zera menarik nafas berat, kenapa putrinya ini tak juga mengerti?
"Bunda sudah bilang! tidak baik ada dendam dalam hati, jika kita membalas lalu apa bedanya kita dengan mereka?" nasehat zera.
Nana merasa tak senang, jika seperti itu hidup ini tidak akan terasa seru? itulah yang ada dalam pikirannya.
"Bukankah kita harus memberikan sedikit pelajaran? Kenapa kita harus membiarkan orang seperti itu ada didekat kita?" nada suara Nana sudah naik, membuka bunda terlonjak kaget.
"Astagfirullah!!! Kenapa kau menjadi seperti ini nak..? Apa kau pikir hidup ini hanya untuk balas dendam?" bunda menggeleng kecewa, " Kamu tau? setiap yang kita lakukan didunia ini,akan menerima balasannya... jika sekarang kamu mentertawakan kesusahan orang, apa kamu mau merasakan juga suatu hari nanti? ingat Nana! kamu itu seorang gadis, hidup mu masih panjang, jangan hanya karena salah langkah bisa menghancurkan masa depan mu nak... Allah itu maha adil, apa saja kita tanam itu yang kita tuai!" ucap zera dengan kecewa, balas dendam? ia bahkan takut untuk mendengarkannya. Jika setiap orang harus membalaskan dendam, lalu didunia ini tidak akan ada kedamaian, sama saja mereka tidak mempercayai Allah itu maha adil.
Setelah itu Bunda pergi meninggalkan Nana yang masih terdiam, ia merasa bersalah karena membantah perkataan bundanya. Bunda benar... takdir hidupnya belum tentu lebih beruntung dari mereka, lalu apa haknya untuk mentertawakan nasib seseorang?
Nana mengejar bundanya,ia harus meminta maaf karena sudah berani berbicara kasar.
*******