
Suara kicauan burung membuat tidur Salva terganggu, ia mulai mencoba bangkit tapi entah mengapa ia merasa tubuhnya begitu sakit.
"Ahhh!"
"Aku dimana?"
Hal terakhir yang Salva ingat saat ia pergi ke toilet seseorang pria membekap mulutnya, sambil berteriak mengatakan ia kekasihnya.
Salva menatap sekeliling, sepertinya ia sedang diikat disebuah kamar. Kamarnya begitu gelap dan salva tak bisa melihat dengan jelas karena semua jendela ditutup rapat dengan tirai.
Seseorang menghidupkan lampu membuat dirinya merasa silau karena Cahaya yang mendadak.
"Kau siapa?? kenapa kau mengikatku?" Salva masih santai, lagi pula ia hanya diikat, tapi tempatnya di sekap tidak terlalu mengerikan.
"Wanita cantik... sayangnya aku tidak tertarik, hahah...."
Salva merasa heran, Ia merasa tidak pernah bertemu dengan pria didepannya ini. hanya sedikit menyeramkan dengan rambut panjang dan wajahnya yang garang.
"Aku dimana?" Kembali salva mencoba bertanya pada orang didepannya ini. "Lepasin tali ini tuan! tangan ku sakit,"
Pria itu mengernyit heran, kenapa istri musuhan ini tidak ada takut-takut nya. Tidak ada seperti wanita yang sedang diculik, hanya terlihat seperti orang berbicara seperti biasa.
Padahal dalamnya hati Salva sudah begitu ketakutan, hanya saja ia tidak ingin memperlihatkannya. Jika sang pria tau, ia akan semakin menakuti-nakuti, lebih baik bersikap santai saja lagi pula berteriak pun Salva tak yakin ada yang mendengarnya.
"Kau tidak takut pada ku?"
Ya Allah wajahnya seram sekali, apalagi bekas luka diwajibkannya terlihat seperti penampakan!!
"Gak... Memangnya aku harus takut ya?"
Berpura-pura kuat, padahal ia rasanya sudah ingin pipis di celana karena saking takutnya. "Tuan saya haus... apa boleh minta air?"
Pria itu memicingkan matanya, jika tidak ingat dia istri musuhnya, mungkin ia sudah melepaskannya dari tadi. wajah sok tegar wanita itu sungguh lucu, ia tau wanita itu sedang ketakutan, terlihat dari tangannya yang gemetar.
"Bersikap baiklah..! Sebelum nyawamu sebentar lagi akan melayang!!!"
"Ya Allah siapa pria ini?? kenapa ia ingin membunuhku? Aku harus cari cara agar bisa keluar dari sini!
Salva mencoba melepaskan tali yang mengikatnya, tapi ia tidak bisa malah membuat tangannya semakin sakit.
******
Di depan mall Arya menjemputnya adik iparnya itu, ia melihat Nana menagis sesekali memanggil nama kakaknya.
"Apa Salva sudah dilakukan?"
"Kak ipar..? Dia tidak ketemu kakak, bahkan dia juga meninggalkan ponselnya didalam tas yang terjatuh."
Arya Semakin gusar. "Sekarang kita harus kekantor polisi," ucap Arya ragu-ragu. ia masih ingat dengan ancaman si misterius itu.
"Tunggu kak, bagaimana jika nanti polisi tidak percaya?" Nana mulai berpikir sesuatu, seseorang yang mungkin bisa dicurigai saat ini. "Kak kita harus bertemu dengan mantan suami kakak Salva, mungkin dia yang melakukan semua ini!" Nana sangat yakin dengan itu, hanya pria itu yang ingin mengambil Salva kembali.
"Apa?"
"Kita harus mencobanya kak,"
Arya menganguk Setuju, lagi pula ia ia belum berani melapor ke kantor polisi kata Bagaimana pun nyawa istrinya yang jadi taruhannya.
Mereka langsung menunjuk kerumah kaivan, satu-satunya orang yang sedang bermasalah dengan Arya dan Salva adalah kaivan.
"Kita sudah sampai kak!"
Berhenti di depan rumah mewah,Arya sempat tertegun melihat rumah mantan suami Istrinya itu, ternyata kaivan begitu kaya. tapi bukan itu masalahnya sekarang, ia harus cepat-cepat menemukan istrinya.
Buru-buru Nana keluar, kebetulan sekali kaivan yang baru pulang dari kantornya keluar dari mobil. Dengan cepat Nana menghadang pria itu.
"Berhenti!!"
"Nana? kau!!" Kaivan mendelik tak suka dengan tamunya itu. "Apa yang kalian laki2 dirumah ku?!"
"Jangan pura-pura kau kak!! ngaku saja, pasti kau yang melakukannya!!" tuduh Nana.
"Arya menarik tangan Nana untuk berhenti. "Tuan Kaivan yang terhormat! Kembalikan istri saya!!!"
"Apa maksud kalian?" Kaivan memandang wajah kesal keduanya, ia tidak mengerti tuduhan yang diberikan mereka. "Kenapa kau bertanya tentang istri Anda pada saya...."
******