
Perjalanan kembali ke Jakarta membuat wajah wanita itu tampak berseri-seri, tidak henti-hentinya ia memikirkan bagaimana reaksi Nana nanti.
Sedangkan Arya hanya menggeleng pelan melihat tingkah istrinya, jika dari kemarin ia tau istrinya sebahagia ini, sudah dari kemarin ia akan membawanya ke Jakarta. Ia tau Salva pasar sudah sangat rindu dengan keluarganya, hanya saja wanita itu sudah terbiasa untuk menyimpan perasaannya sendiri.
"Apa sebahagia itu? kenapa kamu tidak pernah meminta untuk pulang ke Jakarta padaku?"
"Karena aku tau, mas sibuk untuk mencari nafkah untuk hidup kita. Bagaimana mungkin sebegitu tega menyusahkan mu lagi," Ucap Salva lirih.
"Sayang... Sudah berapa kali mas bilang? jangan pernah menyimpan apapun sendirian, Mas akan sangat berdosa jika membuat dirimu bersedih!"
"Maaf kan aku mas... Aku hanya tak ingin menambah pikiran mu, aku melihat mas sudah kelelahan setiap pulang dari rumah sakit." Mengusap tangan suaminya, Kalu dengan yakin ia berkata. "Aku tidak pernah merasa sedih. Bukankah setiap hari kami bisa saling menelpon untuk melepaskan rindu? Mas tidak usah pikirkan itu."
Ia selalu berpura-pura tegar dihadapan semua orang, tapi tidak ada yang tau jika hatinya begitu mendambakan hari ini datang. Kembali pulang ke tanah kelahiran, pergi mengunjungi makam kedua orang tuanya, menghabiskan waktu bersama keluarga bunda, hal yang sangat dirindukan Salva selama beberapa bulan ini.
Lalu ia harus apa? Meminta suaminya libur bekerja hanya untuk membuatnya senang? Ia tidak akan seegois itu. Ia mengerti jika pekerjaan suaminya tidak lah mudah, seorang suami juga butuh dimengerti bukan hanya merengek minta kebahagiaan Dirinya saja.
*****
Jika disini mereka sedang diselimuti kebahagiaan akan bertemu dengan keluarganya. Di tempat lain juga ada yang sedang sibuk memasak menyambut putri dan menantu barunya akan pulang. Yahh... bunda Zera sedang sibuk memasak berbagai macam hidangan, sesekali ia bersenandung kecil sambil mengaduk gulai yang dibuatnya.
"Ayo lah bunda... kami sudah pusing melihat bunda bolak-balik dari tadi, sebenarnya bunda sedang menyambut siapa? dan... hidangan ini begitu banyak hanya untuk kita bertiga." Bunda berdecak kesal, putrinya ini begitu cerewet.
"Aku setuju dengan putri ku! Sebenarnya ada apa? sampai-sampai menyuruh ayah libur?"
Semua Mala sudah siap, rumah sudah rapi. Tapi orang yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Dan sekarang ditambah pertanyaan dari putri dan suaminya yang tidak berubah dari tadi pagi, benar-benar membuat ia ingin berteriak keras menyuruh mereka diam.
"Bunda...," ucapan Nana langsung dipotong bunda.
"Berhentilah bertanya Nana!! bunda sudah cemas,kamu malah menambah pikiran bunda!" Sungut bunda zera kesal. "Nanti kalian juga tau, dan berdoa lah agar mereka selamat sampai tujuan!"
Mereka?? Semakin membuat kepala anak dan ayah itu berdenyut pusing. Tadi sudah ingin pingsan saking penasarannya, dan sekarang ditambah lagi kata, mereka??
Ya Allah, lindungi lah putriku dan suaminya. Aku benar-benar kwatir dengan keadaan mereka yang belum juga sampai, padahal seharusnya lima belas menit yang lalu mereka sudah ada disini.
Suara ketukan pintu membuyar lamunan mereka, Ayah bergerak untuk membuka pintu. Bunda sangat berharap yang datang adalah mereka, jika tidak ia pasti akan sangat kwatir.
******