
Salva panik mencari kesana-kemari tapi tak kunjung menemukannya, dirimu juga mencoba bertanya dengan beberapa ibu-ibu yang lewat.
"Permisi Bu? apa ibu melihat anak kecil memakai pakaian putih dan topi merah?" Ibu-ibu itu hanya menggeleng tak tau.
'ini semua karena perempuan kejam tadi! jika sampai terjadi apa-apa aku pasti akan disalahkan...
Tunggu... sepertinya ia menemukan dimana anak itu berada, didekat sebuah ayunan Gilang sedang bermain-main dengan seorang anak perempuan seumuran nya... bukan bermain... tapi terlihat seperti sedang merayu.
"Astaga!! apa-apaan ini? aku pusing mencarinya,dan ternyata dia sedang merayu anak perempuan lain?" salva mengeram kesal.
Disana Gilang sedang mencolek dan memberikan setangkai bunga pada anak perempuan itu. Rasanya Salva ingin tertawa melihat adegan itu, itu sangat menakjubkan mengalahkan keromantisan orang dewasa.
"Gilang?" Gilang menoleh saat namanya dipanggil. "Enak ya? Bunda sudah mencari kamu dari tadi, tapi kamu malah merayu cewek disini?!" ejek Salva.
Gilang tidak sekecil itu untuk tidak mengerti apa yang diucapkan Salva, ia sudah tujuh tahun dan sudah sekolah dasar. Ia tersipu malu Mendengar ejekan bunda barunya itu, padahal tadi dia sudah dengan susah payah kabur dari pengawasan Salva.
"Bunda... Gilang hanya mengajak Sofi ngobrol kok," ucap Gilang takut. Ingin rasanya Salva tertawa kencang melihat dua anak manusia ini, apa zaman sudah begitu maju? sampai-sampai anak sebesar itu sudah biasa menyukai lawan jenis?
"Tapi... tadi bunda lihat kamu mencolek dan berlutut memberikannya dia bunga apa kamu sedang menembaknya?" Salva semakin menjahili Gilang.
Anak perempuan yang bernama Sofi itu hanya diam dan bercampurnya malu, apalagi tadi memang benar Gilang sedang menggoda dirinya.
"Bunda salah lihat... aku tidak mungkin menyukainya, kami hanya berteman!" kilah Gilang, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sofi.
"Sepertinya ayah harus tau masalah ini... hukuman apa yang? yang cocok untuk anak-anak melanggar aturan seperti kalian?" Anak perempuan itu langsung berkaca.
"Kakak jangan adukan kami ... Kami benar-benar hanya berteman," Ucapnya sesegukan.
Sebenarnya Salva kasihan, tapi dia tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja. Seharusnya anak-anak sebesar mereka belajar, belum waktunya mengenal cinta. Zaman sekarang anak satu tahun saja sudah bisa memakai Gedget, dan umur tujuh tahun di mulai mengenal lawan jenis, benar-benar menakutkan. Diingat zaman ia dulu, seumuran itu ia hanya bermain dan belajar, tapi... uhh kenapa ada yang seperti ini ya?
"Kamu gadis kecil, pulang lah! Kalian masih kecil tidak sepantasnya Melakukan seperti tadi! dan kamu Gilang, ayo pulang." salva membawa Gilang pulang, mungkin ia akan membicarakan masalah ini dengan Arya baik-baik.
******
Arya sudah kembali ke rumah setelah pekerjaannya selesai, ia pulang cukup larut membuat ia merasa lelah. Arya langsung menuju kamarnya, ia ingin cepat-cepat membersihkan tubuhnya.
"Kamu belum tidur?" Arya terkejut mendapati Salva yang masih duduk sambil membaca buku.
"Aku belum mengantuk... apa perlu aku siapkan air hangat?" tanya salva, ia bingung harus melakukan apa?
"Tidak usah, cepatlah tidur, tidak baik bergadang."
Setelah merasa segar Arya keluar dari kamar mandi, ia melihat Salva yang menyiapkan pakaiannya.
"Kenapa masih belum tidur?"
"Hanya belum mengantuk...." kilah Salva lagi.
Tapi Arya tidak percaya akan hal itu, terlihat dari wajah Salva yang mulai terlihat sayu menahan ngantuk.
"Ada apa? ada yang ingin kau sampaikan?" salva menggeleng.
Kali ini Salva mencoba menjadi istri yang baik, ia ingin memulainya dari awal, belajar mengurus suami dan, menunggu suami pulang, ia hanya ingin menyenangkan suami saja.
"Kalau begitu ayo tidur... aku juga ingin istirahat."
Salva mencoba membaringkan tubuhnya, tapi ia merasa nyeri pada memar tadi siang. Apalagi ia tak bisa memberi obat, membuat memarnya Semakin parah. Secara tidak sadar Salva merintih menahan sakit.
"Kamu kenapa?" Arya kembali bangkit mendengar suara rintihan Salva.
"Tidak... tidak ada apa-apanya" mencoba memberi senyum agar Arya percaya.
"Jangan berbohong! tadi kau merintih seperti menahan sakit!"
"Aku tidak apa-apa, kamu tidur saja lagi."
Salva bukan tak mau menunjukkan nya pada Arya, hanya saja luka itu ada dipunggung nya, tidak mungkin ia memperlihatkan pada Arya.
Arya yang tidak percaya menarik tangan Salva agar mendekat, Salva yang masih berbaring membuat lukanya bersentuhan dengan baju membuat begitu perih. Ia kembali merintih menahan sakit.
"Kamu mencoba membohongiku ku? dimana lukanya?"
"Kamu ... kamu tidak bisa melihatnya ... dia ada dipunggung ku," ucap Salva malu.
"Buka baju mu!!"
*****
Jangan lupa VOTE, LIKE,end KOMEN