
Masalah sudah tak dapat dihindari lagi, acara yang awalnya untuk kegembiraan berubah begitu mencekam. Tio selaku ayah Arya hampir saja memukul putranya itu,ia begitu kecewa mendengar pengaduan adiknya.
Jika ingin menikah seorang ayah akan dengan ikhlas hati merelakannya, tapi jika anak membuat malu orang tua tak ada hal lebih memalukan dari hidup. sekarang Tio merasakan apa arti mencoreng wajah seorang ayah, anak yang begitu membanggakan dirinya sekarang membuat hal yang memalukan.
"Kak tenang lah... kita bisa mencari solusinya." Tio mengangguk-angguk mengerti, sekarang tak ada gunanya menghukum anak yang lebih besar tubuhnya dari dirinya sendiri.
Bu Mala hanya diam saja, ia tidak kwatir seperti yang lain. meskipun ia sedikit merasa bersalah pada Arya, niatnya bukan seperti ini,ia hanya mencoba mendekatkan mereka berdua. tapi takdir malah membatu lebih baik lagi.
Maaf ibumu ini nak... aku hanya berniat mendekatkan mereka, jika tau seperti ini aku juga tidak mau membuat nama baik anakku diragukan.
Berbeda lagi dengan Salva,ia tidak berpikir masalah akan serumit ini. awalnya ia hanya berpikir Bu Mala marah karena sudah berani memukul putranya, tapi sekarang ia malah terjebak dengan tuduhan yang membutuhkan kepalanya serasa ingin pecah.
"Bu... eh Tante tolong jelaskan pada mereka... ini tidak seperti yang terlihat." tak ada cara lain selain meminta bantuan Bu Mala, jika bunda zera nanti tau bisa gawat. sepertinya hidupnya sedang diujung tanduk,tak ada seorang pun yang bersedia membela mereka.
Maya memandang iba kakaknya itu, tak banyak yang bisa ia bantu. tadi dia sudah mencoba menjelaskan tapi malah mendapat bentakan dari Tante Arya.
'Anak kecil tidak tau dosa besar sudah dilakukan!! ini sangat memalukan!!' teriakkan itu masih memenuhi isi kepala dirinya, jika tidak mengingat ia orang tua yang harus dihormati. mungkin ia sudah memaki balik.
"Ayah cobalah mengerti... ini Bena salah paham."
"Diam!!!!" ruangan yang tadinya berisik menjaga hening setelah teriakkan Tante Rahma.
"Kau masih berani berkata ini salah paham?! apa kamu mau melarikan diri dari masalah ini? ya Tuhan... ini sangat memalukan. bagaimana pun kau harus bertanggung jawab pada wanita ini!! kami tidak ingin tau, kalian harus menikah!"
Deg
Salva maupun Arya tak terima dengan keputusan itu,apa mereka juga tidak mengerti disini hanya salah paham. jika saja mereka tau apa yang sudah wanita ini lakukan padanya, mungkin sekarang tak ada yang akan membela dirinya.
"Aku tidak setuju!"
Ucapan mereka hampir bersamaan, Arya memberi tatapan tajam pada Salva. mimpi apa dia semalam? sehingga harus menikahi perempuan yang tidak dikenalnya.
"Diam!!" kali ini Tio yang mengebrak meja dengan keras, pria yang biasanya jarang marah itu,jika marah tak seorang pun yang mampu menghentikannya.
"tidak... aku tidak bisa menikah dengan pria yang aku kenal!! kau harus menghentikan ayah mu!" salva memohon untuk menghentikan kesalah pahaman ini.
"Kau pikir bisa membujuk mereka yang keras kepala? ini semua salahmu!!"
"heiii kenapa kau malah menyalahkan ku? salahkan ibumu yang menyuruh ku!" jika sudah seperti ini siapa yang dapat disalahkan? bahkan Bu Mala malah bahagia mendengar keputusan suaminya.
Memangnya ibu mana yang tidak kwatir? saat anaknya sudah berumur tiga puluh satu belum juga menikah. meskipun caranya salah tapi tetap ia bahagia melihat anak sulungnya itu akan menikah juga.
"Kenapa kau malah tersenyum disaat anakmu ada masalah?" Mala menoleh pada suamiku, terlihat masih ada kemarahan disana.
"Tidak ada... hanya bahagia, akhirnya putraku menikah. jika sudah seperti ini tidak ada yang akan berpikir dia seorang gay." Tio menatap curiga pada istrinya,ia tau betul sifat Mala.
"Apa kamu yang merencanakan ini?" dengan cepat Mala melambaikan tangannya.
"tidak, tidak... aku tidak akan mempertaruhkan kehormatan anakku." Tio mengangguk-angguk setuju, masalah ini memang akan mencoreng nama baik putranya itu.
"Aku harap kamu tidak berbohong! jika sampai...." Tio tak melanjutkan ucapannya.
"Jika tidak apa? kamu mau menghukum ku?"
Tio mengerutkan keningnya, memangnya hukuman macam apa yang dapat diberikan pada istrinya ini. palingan dirinya sendiri yang akan menyesal nantinya.
"Sudah lah... aku hanya merasa aneh. tapi masalah ini sudah seperti ini, aku tidak bisa mencari jalan lain, selain menikahi mereka!" Mala mengusap punggung suaminya, ia tau apa yang membuat suaminya ini kwatir.
"Sudah lah... mungkin ini yang terbaik untuk Arya. umumnya sudah mengharuskan ia untuk menikah, mungkin Allah hanya mengirimnya dengan jalan berbeda." Tio semakin yakin istrinya ini terlihat dalam masalah ini.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? bukankah mereka saling mencintai? makanya mereka melakukannya itu...." Mala gugup setengah mati, bagaimana ia bisa lupa akan hal itu. sepertinya suaminya ini sengaja memicing dirinya, untuk bercerita.
"tidak, tidak.... suamiku aku harus mengurus pernikahan mereka, selagi para tamu belum pulang mereka bisa menjadi saksi!" secepat mungkin Mala pergi, tak mau membuat masalah dengan ucapannya sendiri.
******