
Salva kembali kerumahnya, untung suaminya tak ada dirumah, jadi ia tidak melihat jika Salva kembali dalam keadaan kacau dan dipenuhi air mata.
Meskipun ia bisa bermulut kasar pada Kaivan, tapi hatinya tetap lemah. Dan dirinya sangat benci akan hal itu, mengapa ia tidak bisa menjadi wanita kuat untuk kali ini saja, ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena masih menangis untuk pria bodoh itu.
"Bunda!!!" Salva terhenyak.
Ternyata ibu mertuanya dan keponakan suaminya, sudah menunggu diruang tamu.
"Ibu? kenapa tidak bilang jika mau kesini? jika Salva tau, salva akan membuat sedikit makanan untuk menyambut ibu." Salva berusaha tersenyum manis dihadapan ibu mertuanya, ia tidak ingin wanita tua itu tau masalah dirinya.
"Ibu hanya ingin berjalan-jalan saja sayang, lagi pula Gilang sudah rindu sama bundanya."
Sedangkan Gilang menatap Salva dengan berbinar, sepertinya ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
"Bener kah?" Salva mencoba mencubit pipi Gilang yang tembem, tapi langsung ditepis sang anak.
"Ihh bunda! Gilang gak anak kecil lagi, kenapa kalian hobi sekali mencubit pipiku?" Anak itu memonyongkan bibirnya, yang semakin menggemaskan Dimata Salva.
Punya anak seperti itu pasti menyenangkan... setiap hari ada yang selalu membuat ku sibuk, selalu ada yang memanggil bunda setiap hari. Ya Allah, maafkan hamba yang terlalu banyak meminta.
"Bu... bagaimana keadaan ayah dan Rian? apa keadaannya semakin membaik?"
Bu Mala menggeleng lesu. "Ayah baik-baik saja nak, hanya saja Rian... Sampai sekarang ia masih mengurung diri di kamar, semakin hari ia semakin takut untuk bertemu orang-orang."
Salva mengerti akan hal itu, ia sudah pernah melihatnya secara langsung keadaan adik suaminya. Sebenarnya Ia tidak takut untuk bertemu orang-orang, hanya saja ia tidak ingin ketenangannya terganggu, dan pria itu masih betah untuk selalu berada didunia ilusinya. Seperti ia sengaja untuk itu, entah apa alasannya tak ada yang tau kecuali Allah yang maha tau.
*****
Kaivan yang ditinggal pergi oleh Salva, hanya bisa diam tertunduk. Sampai seorang menepuk pundaknya, memberi ia kembali mengangkat kepalanya.
"Maaf anda siapa?"
Arya mengulur tangannya. "Perkenalkan aku Arya, suami Salva!"
Deg...
Kaivan memang belum mengenal arya, meskipun kemarin ia melihat foto Salva dan suaminya, tapi itu tidak terlalu jelas karena jarak mengambilnya yang jauh.
"Saya hanya ingin mengatakan, jauhi istriku!" Ucap Arya dingin.
Kaivan tertawa sumbang, ia tidak percaya suami dari mantan istrinya sampai menguntit mereka saat berbicara.
"Apa peduli anda?" Kaivan memandang remeh Arya. "Apa kau takut dia akan memilih ku?"
Arya tersenyum sinis, pria didepannya ini terlalu sombong. "Aku percaya dengan cinta istriku, jadi anda tidak perlu kwatir, dia tidak akan pernah memilih anda!"
Arya meninggalkan Kaivan yang masih mengoceh,memaki Arya. Tapi ia tak perduli, ia yakin cinta salva untuknya sudah cukup untuk jaminan hubungan mereka.
Sebenarnya Arya tidak sengaja menguntit, Ia hanya ingin menyusul istrinya saat ia jam istirahat dirumah sakit. Tapi ditengah jalan ia melihat Salva berdebat dengan seorang pria yang tak asing untuknya, ia sudah berjanji akan. menghapal wajah saingannya itu.
Mendengar Salva menolak mantan suaminya, Arya tersenyum bahagia, apalagi pas ia bilang istrinya sangat mencintai ia, membuat senyum diwajah Arya semakin merekah.
Ia tak jadi pulang untuk menemui istrinya, ia harus kembali kerumah sakit lagi, jam istirahat nya bahkan sudah habis lewat lima menit dari tadi.
...Jika hubungan dibangun dengan sebuah kepercayaan, badai apapun tak akan sanggup untuk merobohnya!...
...Kepercayaan adalah sebuah pondasi untuk sebuah hubungan, dan cinta sebagai tiang penyangga untuk membuat sebuah rumah tangga menjadi utuh! agar tak menjadi puing-puing cinta!...