Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
semakin membaik


Hari itu juga Salva membawa Arya kembali kerumah mereka, ia tak ingin ibu mertua mendengar pertengkaran mereka, apalagi banyak hal yang harus ia bicarakan berdua.


Salva sudah memikirkannya dengan baik, malam ini ia akanan memberikan hak suaminya.


Sejak memilih kembali, sikap Arya benar-benar berubah, ia begitu manja pada istrinya itu. Tentu saja Salva tidak keberatan, ia akan dengan senang hati akan meladeninya.


"Apa masih sakit?" Arya menggeleng, menandakan ia sudah sembuh dari sakitnya.


Arya sedang bermalas-malasan diperlukan salva, ia sangat menikmati usapan lembut tangan Salva dikepala nya.


"Aku ingin kita seperti ini selamanya... Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Arya. Salva menghentikan tangannya membelai rambut Arya.


"Seharusnya aku yang bertanya... kenapa selama ini kau tidak pernah meminta hak mu? apa kamu tidak pernah mencintaiku?"


Arya bangkit dari tidurnya, ia merasa tak senang dengan pertanyaan istrinya.


"Panggil aku mas, sayang! kau masih bertanya kenapa aku tidak memaksa dirimu? itu karena aku mencintaimu, aku tidak ingin membuat mu terluka. Aku ingin kau sendiri yang menginginkan hubungan itu ada!"


Sekali lagi perkataan suaminya yang membuat jantungnya berdetak kencang, begitu perhatian suaminya, bahkan sangat memikirkan perasaannya.


"Kau ingin dengar sesuatu yang sangat indah?" tanya Arya, yang mendapat tatapan bingung Salva.


"Apa?"


"Aku tidak tau apa kau mencintai mu atau tidak...." Arya merengkuh tubuh Salva yang menegang dalam pelukannya. "Tapi satu hal yang aku ketahui selama ini... aku sangat senang saat ada didekat mu, aku sangat sedih jika kau terluka, aku menanggung rindu yang begitu berat saat berjauhan dengan mu, dan hati ini bergetar hebat saat dekat dengan mu, rasanya aku selalu ingin melindungimu, menjaga mu agar tak lepas dari pelukan ku... apa itu bisa dikatakan cinta?"


Arya melihat mata Salva mulai berkaca-kaca, wanita itu benar-benar terharu mendengar kata yang begitu romantis, boleh sekarang ia terbang? Sebaiknya tidak, ia tak ingin meninggalkan suaminya, bagaimana nanti diambil orang!


Arya terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang begitu polos, sepertinya sekali lagi ia harus bertanya, apa benar dia pernah menikah?


"Kenapa masih bertanya hal bodoh itu, kau sudah menjadi istriku, apa masih penting kata itu?" salva menganguk canggung.


"Tentu saja penting..! Semua wanita itu butuh kepastian, bukan hanya angan-angan!"


"Kalau begitu dengarkan ini baik-baik! Aku mencintaimu, aku ingin kau menjadi milikku selamanya... menjadi ibu dari anak-anakku. apa kau bersedia sayang?"


Salva tersipu malu mendengar ungkapan isi hati suaminya, ia semakin menyembunyikan wajahnya didada Arya.


"Mas...."


"Ya ada apa sayang?" lagi-lagi salva tersipu mendengar panggilan suaminya ini.


"Sejak kapan kamu menyukai ku?" salva menekan-nekan jarinya didada Arya, sambil menunggu jawaban suaminya.


Sedangkan Arya sudah mulai mengeram kesal, suaminya tidak tau, perbuatannya membangkitkan sesuatu yang selama ini ia tahan,tapi dia suka.


"Entah lah... perasaan itu tidak tau pasti kapan datangnya, pada siapa berlabuhnya, yang aku tau aku sudah jatuh begitu dalam pada pesona mu!" Jawab Arya.


Tangan salva semakin berani, yang membuat suaminya berteriak minta Lebih. "Apa yang kamu lakukan sayang? kau mau mengoda ku?" Arya menangkap tangan nakal istrinya.


"Ehh maaf mas... aku tidak, tidak bermaksud untuk...."


Cup