
Arya POV
Sebenarnya aku pun merasa sudah bosan hidup sendiri seperti ini, tapi Allah belum menemukan diriku dengan seseorang yang membuat ku merasa nyaman. ibu selalu mendesak untuk menikah, tapi mencari pendamping hidup ini tidak lah semudah mencari goresan dipinggir jalan.
Aku belajar dari adikku, ia begitu mencintai istrinya hingga maut memisahkan mereka. iya... bunda Gilang sudah meninggal saat dia berumur empat tahun,dan sekarang sudah berumur tujuh tahun. selama tiga tahun ini Rian bagaikan kehilangan jiwanya ditinggal sang istri.
Aku pun ingin mencari istri yang benar-benar mencintai ku,bukan karena yang lain. karena mencari yang setia sekarang memang sudah. Aku seorang dokter, jadi waktu untuk bersantai itu dikit, dari pada memikirkan kid yang tak kunjung datang lebih baik aku bekerja.
Hari ini sesuatu membuat rumah utama heboh dengan hilangnya Gilang dari sekolah. aku langsung menuju rumah orang tuaku, sedangkan ayah sedang diluar kota ia tidak bisa diganggu.
"Kenapa bisa hilang Bu?" tanya ku saat sampai, aku melihat ibu sudah menagis.
"Kata pak Anton yang menjemput Gilang, seseorang membawanya! Arya... kamu harus cari keponakan kamu!! ibu gak mau kehilangan cucu ibu!" aku mencoba menenangkan ibu yang terlihat histeris.
Ingin rasanya aku melaporkan ke polisi, tapi itu tak mungkin. ia hilang belum 24 jam. padahal hari sudah sore, untuk anak sekolah dasar waktu pulang sudah lewat lewat lima jam yang lalu.
Belum juga melakukan apa-apa, dua manusia yang aku benci malah datang membuat semakin kesal saja. aku benar-benar muak dengan mereka, mereka Tiara,dan Dinda. dua bersaudara ini tidak mengerti dengan kata ditolak.
Dulu Dinda selalu menganggu rumah tangga adikku, saat istrinya meninggal dan adikku jatuh sakit. perempuan ini malah tak peduli, bajakan dia tidak pernah bertanya kepada Rian.
"Ada apa kalian disini?" bentak ku tak senang.
"Sayang... kok kamu bilang gitu sih? aku rindu tau!" ucapannya manja, Demak membuka aku muak melihatnya.
"Kalian pergi lah! kami sedang tidak menerima tamu!!" bukannya pergi mereka malah duduk disamping ibu.
"Dinda? ada apa kamu datang ke sini? apa Ingi bertemu dengan Rian?" aku melihat wajah tidak senangnya. sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Ti,,tidak mas. aku hanya menemani kak Tiara saja," ucap nya gugup.
"Apa kamu tidak rindu dengan teman mu itu? bukankah dulu kalian dekat?" aku berusaha memancing Dinda,aku ingin lihat seberapa besar ia pernah mencintai adikku.
"Tidak kok mas... kami gak terlalu dekat kok," ucapnya berkilah.
Aku kembali ingat dengan masalah Gilang, aku mencoba menghubungi orang-orang yang bisa membantu mencarinya. dengan begitu akan sedikit mudah, lagi pula aku tidak ingin berita ini didengar orang luar. bisa masalah baru akan muncul nanti.
Tapi aku urungkan niatku, karena teriakkan asisten rumah tangga ibu dari luar membuat kami sama-sama melihatnya.
Setelah tiba di depan rumah aku melihat Gilang sedang menarik tangan seorang perempuan, terlihat perempuan itu mencoba menolak untuk ikut tapi Gilang tetap memaksa. sedangkan ibu langsung berlari memeluk Gilang, mungkin ia masih merasa kwatir.
"Loh nak Salva kan? kok bisa Gilang sama kamu?" aku terkejut mendengar ibu memanggil namanya.
"Ibu kenal?" bisik ku pelan, dan hanya dijawab anggukan dari ibu.
Ku memberikan tatapan tajam pada perempuan itu, mencoba mencari apa maksudnya dia mengantar Gilang pulang. bukannya tak senang, hanya saja mencoba berhati-hati dengan orang yang tidak kita kenal, mungkin saja salah satu trik orang yang ingin berbuat jahat.
*****