
Dirumah sakit Arya bersama Salva pergi menjenguk tuan Hendra, menurut dokter yang menanganinya ia sudah sembuh, beberapa hari lagi akan diperbolehkan untuk pulang.
Arya tak sedikit pun meninggalkan istrinya sendiri, mungkin ia menyadari adanya bahaya didekat istrinya, bahaya bertemu mantan.
"Mas...," panggil Salva saat Arya merengkuh tubuhnya saat ingin masuk kedalam kamar rawat tuan Hendra.
"Apa?"
"Sepertinya kamu benar-benar cemburu mas," ejek Salva, padahal tadi malam suaminya ini begitu yakin bilang 'tidak akan cemburu' Tapi sekarang, selangkah pun tak ingin meninggalkan dirinya.
"Aku tidak cemburu sayang... Hanya menghindari bahaya!" salva mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud suaminya.
"Memang bahaya apa mas? ada penjahat kah disini?" Nampaknya Salva Terlalu serius menangapi ucapan asal suaminya.
"Ya ada penjahat... Penjahat yang ingin mengambil istriku."
"Maksudnya?"
Arya yang ingin menjawabnya, langsung dipotong suara orang lain dibelakang mereka. Aura kemarahan mulai tercium dari seseorang disana.
"Apa yang kalian lakukan disini?!" Kaivan baru saja kembali, tapi ia melihat pemandangan yang begitu menyakitkan, dirinya benar-benar tak suka.
"Ohh... Penjahatnya sudah datang," ucap Arya santai.
Kaivan mengepalkan tangannya, merasa tidak terima dengan sindiran yang Arya berikan padanya. Sedangkan Salva yang sudah mengerti hanya tersenyum geli, padahal tadi ia sudah begitu serius tentang penjahat, tapi ternyata suaminya cemburu dengan mantan suaminya.
"Kami hanya ingin menjenguk ayah... maksudku tuan Hendra," Jelas Salva. "Maaf, jangan dengarkan ucapan suamiku, dia hanya bercanda."
"Aku tidak bercanda!!" Tekan Arya tak terima.
Salva hanya tersenyum melihat kecemburuan Arya, ia memilih masuk duluan dan membiarkan dua manusia itu saling menatap tajam.
Sementara itu Hendra sedang duduk bersandar ditempat tidurnya, saat menyadari ada orang yang masuk cepat-cepat ia menghapuskan setitik air dikelukup matanya. Tapi Salva dapat melihatnya, rasanya ada rasa sakit dihatinya saat melihat pria tua itu menagis.
"Assalamualaikum ayah," sapa Salva. "Bagaimana keadaan ayah? apa lebih baik..?"
"Waalaikum salam nak, semuanya baik-baik saja. maaf membuat mu repot untuk datang." salva menggeleng, ini tidak merepotkan, bahkan untuk membalas jasa pria ini ia tidak akan mampu, lalu menjenguk orang sakit merepotkan? tidak, bahkan dalam agama itu sangat dianjurkan.
"Ayah jangan seperti itu... seharusnya aku yang minta maaf, karena beberapa hari ini tidak datang menjenguk ayah."
"Kenapa minta maaf? kamu tidak salah nak, ayah tau alasan mu, apalagi sekarang kau juga harus menjaga keluarga barumu, jangan merasa bersalah lagi!"
"Baiklah...," Salva tersenyum mendengar pengertian tuan Hendra. "Semoga ayah cepat sembuh."
Tak berselang lama, Kaivan masuk dan disusul Arya dibelakangnya. Terlihat wajah yang tak bersahabat, entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai mengeluarkan aura menyeramkan ini.
Merasa suasana yang kurang baik, buru-buru Salva berpamitan pada tuan Hendra. Ia tau jika Arya sudah marah, itu pasti seseorang sudah menyinggung perasaan suaminya.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu marah mas?" Salva bertanya saat mereka telah sampai diruangan kerja Arya.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh keluar dari rumah tanpa diriku!!" Salva mengernyit heran, suaminya ini ditanya apa? jawabannya apa?
"Bukankah selama ini memang seperti itu ya mas? Memangnya ada apa? apa dia mengatakan sesuatu?"
Arya menarik nafas berat, ia rengkuh tubuh istrinya dalam pelukan. "Dia mengancam ku, dia akan mengambil mu dariku, dan membawa mu pergi jauh dariku!" Suara bergetar. "Berjanjilah, mulai hari ini kamu akan menuruti perkataan ku, sayang." kata Arya lagi. Salva mengangguk dalam pelukan hangat suaminya.
"Aku berjanji mas! jangan takut, aku akan selalu disisi mu apapun yang akan terjadi, itu janjiku!!"
Arya bisa bernafas lega, setidaknya istrinya sudah berjanji tak akan meninggalkan nya. Masih banyak hal yang mereka bicarakan tadi, sehingga menyulut api kemarahan Arya, hanya saja ia tidak ingin mengatakan pada istrinya, bagaimana nanti wanita ini juga menjadi takut? ia tidak ingin Istrinya akan merasa takut, dan menyerah akan hubungan ini.
"Ayo... lebih baik kita pulang," ajak Arya.
"Loh... bukankah mas ada pekerjaan setelah ini?"
"Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja, jadi lebih baik pulang saja." Arya menarik tangan salva sebelum protes. "Aku tau apa yang kau cemaskan, sayang. Kamu tenang saja, dokter bedah dirumah sakit ini banyak, tak perlu kau cemaskan itu. Meskipun aku melakukan pekerjaannya, tapi hati tidak tenang, itu akan membuat nyawa pasien akan terancam." Salva mengangguk setuju, tidak ada konsentrasi dalam bekerja, tidak akan baik akhirnya.
"Baiklah suamiku, kau butuh obat penenang. Dan aku tau apa itu!"
"Istriku terbaik... Aku benar-benar butuh obat penenang ini." Arya mengecup bibir salva sekilas, sebelum kembali berjalan sambil menggenggam tangan salva.
Aku rela diri ini akan menjadi obat mu, sayang. Asalkan kau selalu senang dan bahagia, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, meskipun nyawaku jadi taruhannya.
******
Makasih like, komen, dan vote kakak semua.
Salam cinta dari Ara putri πβ€οΈπ