
Kaivan kembali kerumah sakit masih dengan pikiran kacau,dia benar-benar kecewa dengan mempercayai Salva.
Baru saja aku merasakan kebahagiaan, tapi aku kembali mendapatkan kekecewaan. Kenapa dia tidak pernah berubah? apa dengan menyakiti orang hatinya akan bahagia?
"Kau sudah kembali..? " Ayah Kaivan melihat anaknya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya...."
"Apa kau melakukan sesuatu pada wanita malang itu? aku sudah mendengar cerita dari pembantu mu....dan pengaduan calon istri muda mu...," ucap ayah Kaivan yang terlihat tidak suka saat mengatakan calon istri muda anaknya itu.
"Dia pantas diperlakukan seperti itu! aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga ku!" ucap Kaivan penuh api amarah.
"Kau benar, tapi lebih Bai kau selidiki masalah ini dengan benar.... aku sedikit curiga dengan cerita calon istri mu itu, sedangkan pembantu mu mengatakan lain," ucap ayah Kaivan, mencoba menyadarkan anaknya dari amarah yang membutakan mata hatinya.
"Apa maksud ayah...?"
"Jangan berlagak bodoh nak.... kau sudah larut dengan dendamnya yang belum kau pastikan kebenarannya.... dan sekarang kau juga akan melakukanlah kesalahan yang sama." Kaivan mulai terlihat tenang. yang dikatakan ayahnya memang benar.
"Tapi aku yakin dia yang sudah melenyapkan Naira.... foto yang diperlihatkan saksi itu sangatlah jelas," ucap Kaivan ragu. tapi ayah Kaivan malah terkekeh kecil meski kebodohan putranya.
"Untuk apa uang mu banyak,jika hal seperti ini kau tidak bisa mengatasinya.... tapi kau perlu tau, mungkin kebenaran itu Benar-benar terlambat untuk kau perbaiki sekarang."
Pembicaraan mereka terhenti karena dokter keluar dari ruang rawat ibu Kaivan.
"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter yang sudah terlihat mulai menua itu.
"Ia saya suamiku dan ini putraku."
"Maaf pak, kami dengar berat hati terpaksa menyampaikan...."
"Apa maksudmu dokter....?! apa terjadi sesuatu dengan istri saya!" Terlihat wajah mereka yang menegang karena takut dengan hal yang paling ditakutin.
*****
Sedangkan Salva yang masih meratapi nasibnya,dia dari tadi memukul kepalanya.
"Kenapa aku tidak ingat??? kenapa aku tidak ingat!!!! siapa... siapa yang sudah aku bunuh?? siapa...!" ia memukulnya kepalanya dengan sedikit kuat..
"Aku benci dia!! aku benci kehidupan ini...! aku benci!!! Kenapa aku tidak memberikan aku kebahagiaan tuhan..? kenapa?!" Salva semakin tidak terkendali,ia semakin menjadi menyakinkan dirinya.
Bu Salma yang baru pulang dari rumah sakit, terkejut melihat kondisi nyonya nya.
"Hentikan nak... hentikan! kau bisa terluka...." Dengan cepat Bu Salma menahan tangan Salva yang semakin menjadi memukul kepalanya.
"Aku bukan pembunuh..! aku bukan pembunuh...bukan," ucap Salva yang semakin menyedihkan,ia terisak.
"Nak Salva tidak salah...! jangan lakukan ini nak,kau akan merugikan dirimu sendiri...," ucap Bu Salma mencolok membuat Salva tenang.
Terlihat Salva yang mulai melemah, Bu Salma mulai melonggarkan pelukannya. ia melihat wajah malang yang sudah dipenuhi air mata, semenjak dia masuk dirumah ini,tak sekalipun dia melihat istri dari tuanya ini tertawa. jikapun ia tersenyum, itu hanya senyum paksa.
Merasa pegangan Bu salma melonggar,Salva tidak menyia-nyiakan kesempatan,ia langsung mendorong Bu Salma menjauh. dengan cepat Salva mengambil pisau buah yang ada diatas meja, dengan cepat pula dia berlari kedalam kamarnya dan langsung mengunci pintunya dengan cepat.
"Nak Salva!!! apa yang kau lakukan??" teriak Bu Salma yang ketakutan melihat nyonya nya membawa pisau dalam kamar. "Aku mohon nak,,, Jangan memilih jalan yang dibenci Allah. kau tidak akan bahagia dunia akhirat nak...." bujuk Bu Salma,ia terisak saking takutnya, takut jika Salva nekat untuk mengakhiri hidupnya.
"Aku harus panggil taun.... dia tidak akan membiar istrinya terluka...." Dengan cepat Bu salma mengambil ponsel nya. tapi berapa kali pun dia mencoba, kaivan tidak kunjung menjawab panggilannya.
*****
**Hay semua😅
bagaimana? adakah yang rindu dengan ku,,,ehhh maksudnya cerita aku.... kalo Ado aku minta dukungan lagi ya,biar aku tambah semangat**.