
Kesunyian terjadi didalam mobil, tak seorang pun dari mereka berdua yang mau membuka obrolan lebih dulu. Salva sibuk dengan pikirannya, takut Arya akan memarahinya sampai rumah nanti. Sedang Arya sedang mencoba meredakan rasa cemburunya, ia menyesal mengatakan tidak akan pernah cumburu, tapi nyatanya ia sedang merasakan perasaan laknat ini.
Setelah beberapa saat mereka sampai dirumah, Arya masuk lebih dulu tanpa menunggu Salva. Salva yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas berat, salahnya juga sih ngatain Bima pebinor, jadi pria itu balas dendam,dan terjadilah perang antara dia dan Arya.
Salva masuk dengan lesu, ia langsung menuju kamarnya,ia harus menjelaskan kesalah pahaman ini agar Arya tidak mendiaminya lagi.
"Mas?"
"Siapa pria tadi?"
Salva jadi gugup, ia sendiri bingung cara menjelaskannya. Apalagi suaminya yang sudah tersulut emosi, Salva takut ia akan dibentak nanti.
"Kenapa gak jawab?" ulang Arya, "Jadi benar dia mantan terindah kamu?"
Dengan cepat Salva menggeleng. "Itu gak bener mas ... dia berbohong," jelas Salva.
"Kalau begitu jelaskan!"
"Ya ... dia memang mantanku. Tapi itu dulu,"
Ucapan jujur Salva menjadi masalah, nyatanya Arya semakin cemburu mendengar istrinya bertemu dengan mantannya. Dia memang percaya Salva tidak akan selingkuh, tapi tetap saja ia tidak suka, apalagi pria itu bilang Salva dan dia mantan terindah!
Arya tak bertanya lagi, ia memilih diam mengabaikan istrinya. Lebih baik sekarang ia mengistirahatkan diri dan menyegarkan otak yang sedang dipenuhi emosi, jika dia sampai mengeluarkan amarahnya,ia takut tak bisa mengendalikan diri dan melukai wanita yang dicintainya.
Untuk sekarang memilih diam jalan terbaik untuk Arya, biar istrinya peka jika ia sedang cemburu.
"Mas," rengek salva. "Aku jujur, dia bukan mantan terindah aku!"
Tetap saja Arya tak peduli, ia pergi meninggalkan Salva Salva sendiri, ia menyambar handuk yang tergantung melenggang masuk ke kamar mandi meninggalkan Salva yang masih memanggil dirinya.
"Mas! Salva minta maaf!" teriak Salva dari luar kamar mandi.
******
"Mas mau makan apa?"
Masih diam.
"Mau roti? atau nasi mas?"
Tetap diam.
"Mas... kamu,"
Arya memotong ucapan Salva yang kesekian kalinya ingin bertanya, yang membuat semua orang disana terdiam.
"Na? Bisa tolong ambilkan roti dengan selai kacang?" Pinta Arya pada adik iparnya itu.
"Ehh?"
Nana yang bingung menatap bundanya, jika menurut takut kena salah lagi. Bunda yang paham situasi yang lagi tak baik, menganguk Setuju memberi izin Nana yang mengambil makanan Arya. Bukan apa-apa,ia tau sekarang Arya sedang menghindari dari Salva, jadi dari pada menantunya tidak jadi serapan lebih baik memilih jalan terbaik.
Salva terdiam mematung saat Arya tidak ingin sarapannya diambil dirinya, rasanya sangat sedih dan serasa ada yang menusuk hatinya.
Semarah itukah mas Arya padaku? Aku tau salah, tapi itu tidak sengaja, aku tidak macam-macam dengan Bima.
Tertunduk sedih, tak ada selera untuk melanjutkan sarapannya. Salva mendorong kursinya pelan, pergi meninggalkan meja makan dengan perasaan terluka.
Kamu jahat mas... kenapa kamu tidak mendengarkan penjelasan ku? Aku merasa sakit, sangat sakit melihat orang lain yang mengisi piring makan mu, aku tidak rela meskipun itu adikku sendiri.
Salva menutup pelan pintu kamarnya,ia terisak disana Tampa ditemani siapapun. Hanya dengan cara ini ia bisa melepas rasa sakitnya, tidak mungkin ia bercerita kisah rumah tangganya dengan orang lain.
******