Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
Nasehat bunda


Jika kalian pikir yang tersiksa dengan semua ini hanya Arya, itu salah. Sebagai seorang istri ia juga tidak tega melihat suaminya kebingungan. Tapi bagaimana lagi, jika hati belum bisa diajak berdamai, ia selalu merasa tak siap saat didekat suaminya. hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang, ia berharap rasa takutnya ini lekas hilang.


"Masih melamun aja kak?"


"Bunda? sejak kapan ada disini?" Salva sempat terkejut, mungkin karena ia tadi melamun membuat tidak menyadari kedatangan bunda.


"Belum berbaikan lagi?"


"Bunda mah ... Kan tadi Salva yang bertanya, kenapa gak dijawab dulu?"


"Karena kamu juga tidak menjawab pertanyaan bunda. Sekarang ceritakan sama bunda, apa yang membuat putri cantikku ini sering melamun?"


Salva menarik nafas lelah, jika sedang banyak pikiran hanya Bunda tempat ia mencurahkan isi hatinya. Wanita ini begitu hebat bagi dirinya, selain menjadi istri yang baik untuk ayah, ia juga menjadi ibu yang baik untuk mendengar keluh kesah anak-anaknya. Jika dirinya mampu ia akan memberikan saran yang sangat bermanfaat.


"Salva bingung Bun. Apa Salva sudah keterlaluan sama mas Arya?" Bunda mengernyit tidak mengerti.


"Jadi kamu dan Arya masih bertengkar?"


"Sebenarnya tidak bisa dibilang begitu juga Bun. Salva tidak marah sama mas Arya, hanya saja Salva merasa takut," lirih Salva, bahkan matanya sudah berkaca-kaca tak menentu, ia langsung menghambur memeluk Zera erat.


"Ada apa?"


Tangis Salva pecah di dalam pelukan bundanya, rasanya ia ingin meninggalkan dunia yang kejam ini. Terlalu sakit setiap waktu yang ia lewatkan, semakin hari ia merasa menjadi manusia yang paling kecil, manusia yang paling menyedihkan didunia ini.


"Salva lelah Bun," ia masih terisak dalam Ucapannya. "Kenapa tidak ada yang mau mengerti? Salva ketakutan ... Saat mas Arya mengabaikan ku, aku merasa semuanya akan berakhir! aku pikir aku akan ditinggal pergi lagi dengan luka yang sama. Aku gak sanggup Bun ... Salva gak mau!"


Bunda memeluk tubuh putrinya semakin erat, sekarang ia tau apa yang selama ini ditahan putrinya. Rasanya ia menjadi ibu yang gagal, gagal membuat putrinya bahagia, gagal menepati janjinya pada kakaknya.


"Sayang. Jangan pernah berpikir seperti itu nak, kamu hanya akan menyiksa diri sendiri." Wanita setengah baya itu juga ikut meneteskan air matanya karena sedih melihat keadaan putrinya ini.


"Salva takut Bun... bagaimana jika mas Arya bosan dengan Salva? bagaimana jika nanti mas Arya meninggalkan Salva?"


Yang sabar sayang... bunda yakin Arya tak akan meninggalkan mu. Maafkan bunda yang tidak bisa membuatmu bahagia, maafkan bukan sayang.


"Tidak apa-apa sayang. Menangis lah jika itu bisa membuatmu lega." Memeluk dan mencium puncak kepala Salva, seperti menenangkan seorang anak yang sedang kehilangan barang berharganya.


"Apa nanti mas Arya akan ningalin Salva?" ucap Salva lirih.


"Tidak sayang ... Dia tidak akan pernah meninggalkan mu, dia pria yang baik dan sangat mencintai mu." bujuk bunda, seolah ia ingin menjadi penjamin, bahwa menantunya tidak mungkin meninggalkan putrinya.


"Tapi ... Mas Arya gak mau lagi tidur sama Salva, dia juga gak mau Salva layani," adu Salva dengan Isak tangisnya.


Serentak itu kah hubungan kalian?


Kenapa aku sampai lengah pada putriku, seharusnya aku yang menjadi penenang jikalau sedih, tapi kali ini aku benar-benar terlambat, sehingga membiarkannya larut dalam luka dan masa lalunya.


"Sayang ... Dengarkan bunda." mengusap lembut punggung tangan Salva. "Dalam sebuah hubungan Allah akan menguji iman umatnya, dan sekarang kalian berdua sedang dalam cobaan Allah SWT. Salva harus belajar dari masalah ini, jangan menyerah dengan keadaan sayang." Salva terdiam dalam pelukan bunda Zera.


"Jika masalah seperti ini kamu langsung menyerah, lalu bagaimana cara kalian menghadapi masa depan yang lebih terjal?"


Deg


"Tidak semua pria itu sama seperti Kaivan, sayang. Adakalanya kamu harus mengalah, tapi bukan berarti kamu menyerah nak."


Ada rasa penyesalan yang timbul dihati wanita itu, ternyata dia belum dewasa untuk menyikapi sebuah masalah.


"Jadi... Salva salah?" Bunda menggeleng.


Tangisan itu mulai menghilang setelah beberapa saat, tak ada lagi suara putus asa yang tadi menggema. Ternyata saking nyamannya diperlukan seorang ibu, membuat wanita dewasa itu tertidur dalam tangisnya.


Ayah yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka, memilih menyusul istrinya saat melihat Salva tertidur.


"Biar ayah angkat ke kamar mereka, Bun."


"Memang ayah kuat?" Umur yang hampir masuk kata tua, tentu saja ia sedikit ragu dengan kekuatan suaminya.


"Jangan meremehkan, Tua-tua begini masih kuat kok." Mengedipkan mata seakan ingin menggoda istrinya itu.


Bunda yang seolah mengerti makna dari kedipan itu, hanya memilih memutar mata jengah. "Dasar tua-tua keladi!"


Ayah hanya tertawa melihat istrinya kesal, ia dengan santai mengangkat tubuh putrinya. Bahkan berat badan Salva tidak ada apa-apanya dibandingkan saat dia mengangkat tubuh istrinya saat ingin ... Ya kalian pasti paham maksud ayah.


Saat sudah membaringkan tubuh Salva dikamar mereka, bunda membawa suaminya keluar. Ia ingin memberikan waktu istirahat yang tenang untuk anaknya itu.


"Kenapa tubuh Salva begitu ringan sekarang? Ayah rasa berat badannya semakin turun, Bun." Bunda mengangguk Setuju dengan Ucap ayah.


"Bunda rasa juga seperti itu, apa karena baru sembuh dari sakit?" Ayah hanya diam, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


Saat sampai dikamar mereka, Ayah langsung menarik bunda untuk berbicara hal serius.


"Ada apa?"


"Besok ayah akan berbicara hal pribadi dengan menantu. Sebaiknya bunda dan Nana bawa Salva keluar untuk refreshing, jika begini terus ia akan semakin stres, hal terburuk bisa terjadi dengannya."


Bunda syok mendengar ucapan ayah, ia langsung mencengkeram erat tangan Ardi.


"Apa maksudmu suamiku?"


"Secara tidak langsung Salva sudah diserang stres berat, jika ia semakin tertekan, ia bisa hilang kendali dan... Gila!"


"Mas!"


Nafas bunda naik turun karena saking kawatir dan takut dengan ucapan Ardi. "Bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu mas?!" Ada nada tidak suka dari pertanyaan untuk suaminya itu.


"Bunda ... Yang ayah katakan bukan hanya untuk bercanda. Bunda bisa lihat dari tingkah dan cara putri kita bersikap sehari-hari belakangan ini? Terlihat tatapan kosong, dia seperti bukan dirinya lagi. Kita harus mencegah ini terjadi, sebelum semuanya terlambat."


Perasaan ibu mana yang tidak hancur mendengarnya. Bunda hampir saja jatuh pingsan jika ayah tidak langsung menyambut dan membawa istrinya itu dalam pelukan hangatnya.


"Tidak mungkin! putriku tidak mungkin menjadi gila!" Ardi semakin erat memeluk tubuh istrinya yang ingin meronta-ronta, ia hanya ingin menenangkan perasaan istrinya.


Aku belum terlambat menjadi seorang ayah, bagaimana pun caranya putriku harus sembuh dari Trauma ini.


******


Tidak selalu benar apa yang sedang kita lihat,. adakalanya kita salah memahami keadaan yang ada. karena itu belajarlah untuk selalu mengerti dan peka terhadap sekeliling kita.


......


Hay semua, maaf ya gak update beberapa hari ini, itu semua terjemahan karena ada musibah yang sedang melanda keluargaku. Tapi sekarang akan aku usaha untuk up walaupun dikit πŸ˜πŸ˜…


Jangan lupa kalian tidak jejak ya, beri juga komen apa yang akan terjadi selanjutnya?


Salam cinta dari Ara putri πŸ˜˜β€οΈπŸ’–