
Setelah Haris pergi, Adam dan Kaivan juga pergi menemui ayah mereka. Pikiran kaivan benar-benar kacau,ia teringat dengan wajah kesedihan Salva selama tinggal bersamanya.
"Bukankah aku brengsek Dam?? aku berhutang banyak manfaat dari dia!" wajah kaivan sendu saat menyebut kata dia.
"Kamu harus mengejarnya,minta maaf lah dengan baik. kamu tidak hanya memberikan luka fisik, tapi kamu lebih banyak melukai batinnya!" tak terasa mata kaivan mulai berkaca-kaca. jika dia tidak ingat sekarang bersama sahabatnya, mungkin dia sudah menagis meratapi nasibnya.
Setelah berpisah dengan Salva ia mengerti apa arti kata rindu. saat bersama dengan Naira dulu dia tidak separah ini terpuruk, tapi dengan Salva hampa setiap malam ia memimpikan wanita cantik itu.
"Aku merindukan nya dam! apa dia mau memaafkan pria seperti ku?" Adam yang menyetir mobil dibuat terkekeh geli.
"Sudah terlambat mengucapkan kata itu kai!! ingat bagaimana kau membuat dia mengeluarkan air mata? ingat bagaimana kamu mengangkat tangan memukul dirinya? sekarang pikirkan kata rindu itu, apa masih pantas?"
deg
Rasanya sangat menyakitkan mendengar ucapan sahabatnya itu,Adam benar. bagaimana dia pantas mengucapkan kata itu, disaat ia sudah melukis luka begitu indah dihati sang wanita.
"Apa tidak ada gunanya aku mencoba memperjuangkan nya? mungkinkah masih ada rasa cinta itu untuk ku?" Adam menggeleng melihat sahabatnya itu, sudah terjadi baru menyesal. kemana pikirannya selama ini? apa dia tidak berpikir dulu untuk melakukan itu?
"Setelah ini selesai, aku akan pergi kerumah Tante zera! aku yakin dia pasti masih mencintai ku," ucap Kaivan penuh harapan.
"Cobalah... semoga kau berhasil sobat," ucap Adam, padahal dalam hati ia ingin memaki sahabatnya itu. bodoh kok dipelihara?
******
Ditempat sana seseorang sedang menyesali kebodohannya. lain lagi disini, seorang wanita cantik sedang menarik kopernya menuju stasiun bus. Ia tersenyum lebar melihat pada keluarga yang akan ia tinggalkan, sambil melambaikan tangannya Salva menaiki bus.
Aku pasti akan sangat merindukan kalian... aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian semua, bunda,ayah. kalian terbaik!
Bus berjalan meninggalkan kota Jakarta, bersamaan dengan air mata Salva yang mengalir saat keluarganya mulai tak terlihat. Rasa sesak memenuhi dadanya, tapi ini demi masa depan yang lebih baik.
Dulu saat menikah ia juga meninggal keluarganya, tapi dia tidak merasa sedih. mungkin karena ia berpikir dia tidak kehilangan karena kaivan bersamanya,ia terlalu fokus dengan kehidupannya. sehingga ia tidak sadar,ada orang lain yang merindukan Dirinya di lain tempat.
"Nak kamu kenapa nangis?" salva tersentak kaget, saat seorang ibu-ibu menepuk pundaknya. ternyata ibu itu teman sebangkunya dak bis ini.
"Maaf Bu... saya hanya sedih meninggalkan keluarga saya," ucap Salva lembut,ia mengusap air matanya karena merasa malu diliatin orang-orang.
"Saya salvania putri,ibu bisa panggil saya salva." sambil bersalaman.
"Tak usah terlalu formal, panggil Bu Mala saja!"
"Kamu ke Bandung ada apa? ada keluarga atau mau cari pekerjaan?" salva melihat wanita paruh baya itu sejenak, sepertinya wanita ini sangat ke ibu-ibuan. lihatlah bicaranya penuh dengan kelembutan.
"Dua-duanya bu... Bu Mala juga ke Bandung?"
"Keluarga Ku semuanya di Bandung,aku ke Jakarta hanya mengunjungi kerabat." salva mengangguk ngerti, sepertinya ia merasa nyaman dalam mobil saat ada yang mengajaknya bercerita.
"Terima kasih sudah menemani saya ngobrol Bu," ucap salva sungkan.
"Sudah ku katakan,tak usah formal nak... semoga kita bertemu lagi setelah ini." salva tersenyum mendengar perkataan Bu Mala.
"Tentu saja, jika Allah menghendaki."
Satu hal yang membuat salva kagum dengan ibu Mala. selain ramah dan berbicara dengan lembut, salva juga senang melihat Bu Mala yang berkerudung. terlihat ibu ini sangat kuat ilmu agamanya,ia sangat ingin seperti itu nantinya.
Obrolan mereka masih berlanjut,tak jarang salva tersenyum mendengar Bu Mala bercerita tentang kehidupannya. Tapi saat Bu Mala bertanya tentang status nya membuat senyum salva memudar.
"Nak salva masih gadis? atau sudah menikah?" Entah mengapa pertanyaan seperti ini yang selalu dibenci dirinya,ia merasa kurang percaya diri.
"Aku seorang janda Bu... aku baru saja bercerai," ucap salva sendu.
Bu Mala merasa bersalah telah menanyakan hal itu,ia bisa lihat wajah Salva yang tadinya ceria langsung terlihat sedih.
"Jangan bersedih... mungkin Allah sedang menyiapkan yang terbaik untuk mu,"
Seperti dugaan Salva salah,tadi ia pikir Bu Mala akan mengejeknya atau tidak menyukai dirinya. tapi ternyata ia malah memberi support, yang membuat kepercayaan diri salva kembali.
"Terimakasih Bu...."
*****