
Merasa terlalu nyaman dengan tidurnya, serasa ia tidak ingin meninggalkan mimpi indahnya saat ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada guling, yang membuat ia merasa kehangatan saat dipeluk.
Sedangkan suaminya sudah terkikik geli melihat Salva yang semakin menyusup dalam pelukannya, bahkan wanita itu sesekali meraba-raba dadanya yang membuat sesuatu dalam dirinya mulai bangkit.
"Dek? Udah raba-raba ya, nanti mas khilaf loh."
Salva tak merespons, mungkin ia masih berpikir itu mimpi, ia tatap dengan posisinya. Setelah sadar siapa yang ia peluk, barulah ia tahu itu bukan guling, tapi orang yang membuat dia dua hari ini menangis.
"Mas ... Salva benci mas!"
Deg
Entah hanya ucapan mengaur Salva saat tidur atau mungkin ia sudah sadar, tapi itu membuatnya dada ia merasa sakit. Apa ia sudah sangat keterlaluan, sampai sedalam itu istrinya membenci dirinya.
"Dek, Jangan ngomong Gitu dong! Sekarang bangun ya, mas minta maaf!"
Salva tetap tak bergeming. Usapan yang tadinya lembut didada Arya berubah pukulan kecil. Ternyata dia memang sudah terbangun saat suaminya berbicara, tapi ia memilih menikmati kenyamanan itu sebelum berubah lagi.
"Tidak usah minta maaf. Tidak ada yang salah disini."
Salva merenggangkan pelukannya, ia tidak ingin terbuai dengan kelembutan sesaat itu. ada kalanya ia merasa sedih, sakit hati, kecewa, dan sekarang ia merasakannya lagi!
Salva memilih bangun dan menghindari suaminya, toh dua hari ini ia sudah terbiasa untuk tidak dipedulikan. Sekarang ia hanya ingin menikmati apa yang diberikan suaminya.
"Dek ... Mas salah, udah ya? Kamu bisa hukum mas Semaumu, asalkan memaafkan mas." Arya sepertinya langsung mengakui kesalahannya.
Salva menghentikan langkahnya untuk ke kamar mandi, ia berbalik memberikan senyum sinis pada suaminya. Biarlah kali ini ia menjadi istri durhaka, tapi ia ingin menyampaikan semua isi hatinya.
"Hukuman? Mas pikir ini masalah seperti anak-anak disekolah? jika membuat kesalahan diberi hukuman." Tatapan terluka itu sungguh tampak di wajahnya. "Apa mas pikir semudah itu? Segampang itu? Disini kita menjadi hubungan sebagai suami istri, bukan pacaran mas, kenapa kau begitu tidak mempercayai ku?!" Sepertinya batas kesabarannya sudah sampai diujung, membuat ia tidak berpikir lagi saat berucap
"Sayang ...,"
"Aku tau, aku hanya seorang janda yang kamu pungut dengan paksaan menjadi istrimu. Aku hanya wanita yang tidak diinginkan suamiku dulu, dan sekarang terjadi lagi!" Menarik nafas lelah. "Aku punya perasaan, kamu bisa menanyakan alasan pada ku, tapi mas tidak melakukannya. Apa aku terlihat seperti wanita pendosa? wanita penggoda? wanita yang dengan mudah menyerahkan hatinya pada orang lain?"
Disanalah ia menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini ia tahan, pertanyaan yang selama ini selalu menghantui Pikirannya.
Apa aku tidak pantas untuk bahagia?
Apa aku terlihat wanita yang begitu rendah?
Apa aku memiliki begitu banyak dosa? sehingga ia tidak bisa bahagia dan hidup dalam kedamaian.
Atau mungkin dirinya memang tidak pernah diinginkan, hanya dia yang terlalu percaya diri.
Selama ini itu yang ia pikirkan. Saat dicampakkan dengan buruk oleh mantan suaminya, Kaivan. perasaan takut ini selalu menghantuinya. Dirinya benar-benar merasa rendah karena merasa tak diinginkan, rasanya begitu perih seperti luka disiram garam. Dirinya belum sembuh, dirinya masih rapuh, tidak pantaskah ia meminta Sandaran pada orang yang dianggapnya sangat mencintai dirinya?
"Apa aku segitunya tak berharga? Sehingga kalian bisa mempermainkan ku?" Ia mengusap kasar air matanya. "Tidak apa-apa mas, kamu bisa mendiami ku sepuasnya. Anggap saja aku ini hanya boneka kalian,"
Tidak sanggup lagi berucap, Salva keluar dari kamar itu dengan hati yang pilu. Sudah dibilang luka itu belum tertutup rapat, bahkan darahnya belum terlalu kering, tapi kenapa harus ada cobaan lagi?
Aku selalu berpikir untuk tidak pernah berharap, karena pada akhirnya itu sangat menyakitkan. Aku tau ini hanya masalah sepele yang aku besar-besarkan, tapi aku butuh jawaban dari semua pertanyaan dikotak ini.
"Apa aku diharapkan? Atau mungkin tidak?
Apa dirinya masih terkurung bayang-bayang masa lalu?
Nyatanya benar, dirinya masih disalam bayang-bayang kelam masa lalu. Tapi hari ini ia bisa mengungkapkan kekecewaannya. Hatinya terasa sedikit ada ruang, tidak se sesak kemarin-kemarin.
Memang tidak semua terjadi bisa dilupakan, tetapi setidaknya ia masih mampu bertahan. Kenangan akan selalu membuntuti kita ke manapun berada, tapi tergantung kita menyikapinya, apa kita mampu atau tidak melawan kerasnya dunia fana.
******