Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
orang-orang jahat


Seperti yang direncanakan Salva dan Gilang pergi bermain keluar, anak itu begitu senang saat diajak bermain ditaman, apalagi banyak anak yang seusianya yang mengajak bermain.


Salva hanya perlu mengawasinya, agar tidak terjadi yang tak diinginkan, ia membiarkan Gilang berinteraksi dengan caranya sendiri.


"Haiii bukankah wanita ini yang ada dirumah Arya kemarin?" seorang gadis menunjuk Salva dengan jijik, Salva yang belum sadar ia ia hanya memperhatikan Gilang agar tak lepas dari pengawasannya.


"Kamu kenal dengan dia?" tanya wanita yang lebih tua disamping gadis cantik itu.


"Ya... wanita yang sudah menghancurkan rencana ku! wanita yang datang sok jadi pahlawan!! Bahkan sekarang aku tidak berani bertemu dengan Arya lagi, ia mengadu aku yang sudah membuang Gilang!" ucapannya penuh dendam.


"Kalau begitu beri dia sedikit pelajaran! tidak ada yang boleh menganggu seorang Tiara!" mereka berdua saling tersenyum licik.


"Mama Benar... ayo kita buat sedikit pertunjukan," Tiara mulai mendekati tepat Salva berdiri, dengan sengaja ia menyenggol lengan Salva.


Salva yang tidak siap hampir saja terjungkal ke belakang, dengan cepat ia berusaha mendapat pegangan.


"Heyyy apa tidak bisa melihat orang?" salva yang kesal langsung berteriak, sudah tau dia berdiri dibawah pohon dan tidak menghalangi jalan orang, tapi manusia satu ini malah sengaja menyenggol nya.


"Upsss sorry nona... tapi saya sengaja!!" salva merasa tak senang melihat siapa yang ada didepannya, Tiara... ia masih ingat dengan perempuan ini, orang yang tidak disukai Gilang.


"Apa maksud mu?" tanya salva.


"Jadi kau masih ingat dengan ku? bagus lah... setidaknya kau tidak perlu lagi bertanya-tanya, apa mau ku?"


Dengan kasar Tiara mendorong Salva ke pohon, Salva yang tidak siap tubuhnya membentur pohon dengan keras. Ia merasakan punggungnya begitu sakit, apalagi mengenai batang pohon yang sedikit tajam, sudah dipastikan punggungnya akan memar.


Merasa tak terima perlakuan kasar Tiara Salva membalas menjambak rambut Tiara.


"Apa maksud mu? kau mencoba menyakiti ku?!" bentak salva, Ia Semakin keras menarik rambut Tiara.


"Kau gila!! lepaskan rambut ku!" Tiara berteriak histeris, ia merasa kepalanya sakit. Merasa tak bisa melepaskan cengkraman Salva, Tiara berteriak meminta tolong pada ibunya.


Orang-orang mulai berkerumunan, banyak yang penasaran apa yang terjadi.


"Ya Tuhan...! apa yang kau lakukan pada putriku? apa kau ingin membunuh orang?" Ibu Tiara mulai memainkan perannya, ia berteriak seolah putrinya disiksa.


Salva mengerutkan keningnya, kenapa sekarang malah seperti drama ya? padahal tadi gadis ini yang mencari masalah.


'astaga siapa dia?'


'apa dia gila?'


'sepertinya perencanaan ia membenci temannya"


Banyak lainnya bisik-bisik dari warga yang menonton, Salva yang merasa disudutkan melepas Tiara.


Dasar wanitanya bodoh... ini yang aku cari, kau akan menyesal sudah bermain dengan ku!


"Nona kenapa kau menyakiti orang lain?" bentak Sorang ibu-ibu.


"Tau nih... kalo mau berantam jangan disini! gak lihat banyak anak-anak!" sambung ibu-ibu lain.


"Ibu... ibu!! kakak itu tidak salah... temannya yang lebih dulu mendorong kakak cantik. wanita itu jahat!!" seorang anak kecil mencoba membela Salva, ia melihat kejadian yang sebenarnya.


Ibu-ibu yang tadinya menggunjing Salva terdiam mereka Langsung membubarkan diri karena merasa bersalah, lagi pula mereka tidak ingin terlibat masalah oleh lain.


"Kau!!" Tiara menunjuk Salva dengan benci. "Jangan pikir ini sudah selesai! aku akan membalas mu!"


Tiara pergi dengan kesal, mekipun rencananya gagal, setidaknya ia sudah membuat perempuan Terluka. Benturan dengan batang pohon tadi, ia yakin untuk satu Minggu ini akan merasa nyeri.


"Astaga... aku hampir saja lupa, dimana Gilang?"


salva mencari mencari Gilang, tapi anak itu tidak terlihat di tempatnya terakhir ia bermain.


Bisa mati aku, jika Gilang sampai hilang... ya Allah cobaan apa lagi ini? kenapa aku harus dikelilingi orang-orang jahat seperti mereka?


Salva menyusuri taman untuk mencarinya, tapi tak kunjung ketemu. apalagi sinar matahari yang Semakin panas membuat Salva semakin kwatir.


*****