
Seketika buaya peliharaan Denis yang bernama Leon berhenti bergerak saat mendengar suara majikannya yang terdengar sangat menyeramkan dan mengintimidasi.
Mata coklat tajam Denis menatap Leon seakan ingin mengulitinya hidup-hidup membuat buaya itu mundur dan masuk ke dalam danau. Mata kuningnya menatap Denis dari dalam danau merasa sangat ketakutan.
Denis berjalan menghampiri Arkan yang sudah sekarat di tanah dengan tubuh penuh darah yang terus mengalir dari luka di sekujur tubuhnya. Arkan menatap Denis dengan wajah pucat merasa sudah tidak mampu lagi untuk menjalani tesnya didalam sini.
“Kamu itu sangat lemah” ejek Denis dengan senyum sinis.
“B…….os” lirih Arkan dengan suara lemah.
“Jika kamu mati saat ini bagaimana dengan nasib kedua kakakmu. Kamu memang terlahir sebagai anak yang tidak berguna didalam keluargamu dan untuk melindungi mereka saja kamu tidak bisa. Lebih baik kamu tidak usah dilahirkan jika kamu hanya menjadi beban buat kedua kakakmu” ucap Denis dengan tatapan sinis.
“Ka Le….ila. Ka Ra….yen” lirih Arkan dengan suara pelan.
Tes…………………..
Air matanya jatuh mengingat kedua kakaknya yang selama ini selalu menjaganya dan tidak pernah membiarkan dia terluka atau di bully oleh teman-temannya sewaktu sekolah.
“Jika kamu masih lemah seperti ini lebih baik kamu mati saja. Lagian kedua kakakmu juga akan mati karena harus melindungi bocah ingusan dan penakut seperti kamu”ejek Denis dengan cemooh.
“Aku t…ida………..k lemah” balas Arkan dengan suara tegas meski terbata-bata.
“Ckk!! Kamu itu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa? Bocah lemah dan tidak berguna seperti kamu lebih baik mati dari pada menyusahkan semua orang! Biar saja kedua kakakmu mati di tangan musuh kalian karena punya adik yang lemah dan tidak berguna seperti kamu!” bentak Denis dengan suara menggelegar.
“Dasar introvert gila! Mati saja kamu pecundang” maki Denis dengan suara tinggi.
“AKU BUKAN PECUNDANG” teriak Arkan dengan suara menggelegar.
Perlahan-lahan ia bangun tak perduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, menatap Denis dengan tatapan tajam dan seperti ada api yang berkobar-kobar di kedua matanya.
“Buktikan jika kamu itu bukan pecundang” ucap Denis dengan santai sambil berlalu pergi dari sana.
Arrgghhh……………….
Teriak Arkan menggelegar didalam sana membuat kelima buaya tadi yang menjauh bergerak dengan cepat menuju Arkan dan saat akan sampai di depan Arkan, ia dengan gerakan cepat melempar kelima buaya itu dengan batu disana dan tidak lari ketakutan seperti biasanya untuk menghindar.
Sean yang melihat hal itu dari luar tidak menyangka jika Arkan akan mempunyai semangat yang tinggi seperti itu, berbeda dengan Arkan yang selama ini mereka kenal sebagai anak penakut dan introvert.
“Aku bertaruh 2 juta dia tidak bisa melewati tes ini” ucap Jeki dengan suara tegas.
“Aku 5 juta dia hanya bisa bertahan paling lama 2 jam lagi” ucap Riki.
“Sepertinya seru juga! Kalau begitu aku bertaruh 3 juta kalau 4 jam lagi dia sudah menyerah” ucap Sean sambil tersenyum menyeringai.
“10 juta kalau dia bisa melewati tes ini” ucap Max dengan suara tegas.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Ketiganya kaget mendengar ucapan Max yang kali ini ikut bertaruh dengan mereka padahal biasanya Max adalah orang yang tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu dan menurutnya itu hanya buang-buang uang saja.
“Woah dude! Tumben kamu tertarik?” tanya Jeki dengan kaget.
“Taruhan yang besar dude tapi siap-siap kehilangan 10 jutamu itu” ucap Sean sambil tersenyum penuh arti.
“Kita lihat saja siapa yang akan menang” balas Max sambil tersenyum smirk.
Keempatnya lalu mulai menonton apa yang dilakukan oleh Arkan didalam sana dengan tubuh penuh luka dan darah tapi ia masih saja melempar buaya-buaya itu dengan batu tidak takut sama sekali.
5 Jam kemudian
Hosh……………….hosh………………..hosh………………….
Napas Arkan satu-satu dengan tubuh gemetaran seakan ingin jatuh karena sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Meski begitu ia masih saja melempar buaya-buaya itu dengan batu di tangannya.
“Kemari kalian berengsek. Aku tidak takut dengan hewan jelek seperti kalian” teriak Arkan dengan emosi.
Crash……crash……crash………crash……..crash…..
Ke lima buaya itu mengibaskan ekor mereka dan berjalan dengan langkah cepat menghampiri Arkan, yang sudah terlihat sangat kelelahan dan tidak sanggup berdiri lagi. Arkan melempar mereka dengan sisa tenaganya tidak sanggup lagi untuk bertahan.
Grep…………….
Tubuh Arkan tiba-tiba ditangkap saat ia hendak terjatuh di tanah, matanya perlahan-lahan mengerjab melihat siapa yang menolongnya dan itu adalah Denis yang ternyata menangkapnya sebelum ia jatuh ke tanah.
“B…..os” panggil Arkan dengan suara pelan.
“Kamu berhasil melewati tes ini” ucap Denis dengan suara dingin.
Arkan menutup mata pingsan tidak sanggup lagi untuk berdiri, membuat Denis melirik Max untuk datang membawa Arkan menuju ke ruang kesehatan, karena ia sudah berhasil melewati tes yang diberikan oleh Denis selama 1 minggu.
“Kerja bagus anak-anak” puji Denis melihat kelima peliharaannya yang berdiri didepannya dengan rapi.
Crash…..crash……..crash……..crash……crash…….
Kelima ekor buaya itu mengibaskan ekor mereka menjawab ucapan Denis yang mereka paham. Tak lama Denis menyuruh Sean untuk menurunkan makan malam kelimanya dengan jumlah porsi lebih banyak dari biasanya.
“Jangan lupa kirim uang kalian ke rekening aku” ucap Max dengan senyum mengejek ke teman-temannya.
“Ckk!! Aku tahu sialan” balas Jeki dengan kesal.
“Aku tidak sangka bocah itu akan berhasil” ucap Riki setelah mengirim uang taruhannya ke rekening Max.
“Jangan menilai sesuatu dari sampulnya karena bisa saja itu akan menipu kalian” ucap Max sambil tersenyum mengejek ke arah ketiganya.
Ketiganya berdecak kesal dalam hati melihat kepergian Max yang menang taruhan kali ini, sedangkan di ruang kesehatan Bimo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat luka di sekujur tubuh Arkan yang sangat banyak.
“Pastikan tubuhnya kembali sehat seperti semula dalam 1 minggu karena aku akan membawanya ke Amerika” titah Denis mengagetkan Bimo di ruang kesehatan.
“Hah! Itu mustahil bos. Apa lagi lukanya yang sangat parah seperti ini bos” ucap Bimo dengan kaget.
“Aku tidak perduli karena itu menjadi urusanmu. Bukannya kamu itu seorang dokter jadi lakukan saja apa yang aku perintahkan” ucap Denis dengan suara dingin dan berlalu pergi dari sana.
Bimo mengusap wajahnya dengan kasar tak tahu harus berbuat apa kepada Arkan, dan bagaimana bisa ia menyembuhkan Arkan seperti semula hanya dalam waktu satu minggu saja.
“Apa bos pikir aku ini Tuhan apa” gumam Bimo dengan kesal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Mau tak mau ia harus melakukan apa yang di perintah oleh bosnya, karena jika tidak melakukan perintah Denis maka ia yang akan mendapat hukuman dari Denis yang sangat tidak masuk akal selama ini.
~ BakerTech ~
Saat ini Leila sedang membaca laporan keuangan di perusahaannya dengan kening mengerut, pasalnya laporan yang ia dapat dari direktur keuangan banyak sekali ada kecurangan didalam sana.
“Ka Leo datang ke ruanganku” ucap Leila lewat interkom.
Tok…………….tok………………tok……………..
“Masuk” ucap Leila dengan suara tegas.
Leo segera masuk ke dalam ruangan Leila setelah mendengar suara Leila yang menyuruhnya untuk masuk. Sampai didalam ia menatap Leila dengan kening berkerut melihat wajah Leila yang terlihat sangat marah tak seperti biasanya.
“Nona muda” panggil Leo dengan sopan.
“Ka Leo baca laporan ini” ucap Leila sambil menyodorkan sebuah laporan kepadanya.
Leo mengambil laporan tersebut dan membacanya dengan teliti. Tak berapa lama keningnya mengerut membaca setiap jumlah uang yang tertera didalam sana.
“Bagaimana bisa uang perusahaan tinggal 1 miliar saja nona” ucap Leo dengan suara tinggi.
“Sepertinya mereka tidak menganggap aku sebagai presdir disini dan terus melakukan korupsi ka Leo” ucap Leila dengan emosi.
“Biarkan aku yang menyelidiki masalah ini nona muda” ucap Leo dengan cepat.
“Tidak ka Leo. Aku yang akan turun tangan langsung untuk menyelidiki masalah ini sekaligus ingin melihat siapa yang berani mengambil uang perusahaan” ucap Leila dengan cepat.
“Tapi nona muda” ucap Leo yang langsung di potong Leila.
“Jangan menghalangiku ka Leo karena aku tidak akan mengikuti ucapan ka Leo kali ini” potong Leila dengan cepat.
Leo diam saja tidak bisa berkata apa-apa untuk menyuruh Leila tak ikut menyelidiki hal ini, karena disini Leila adalah tuannya selama tuan muda pertama Baker belum siuman dari koma.
Ya Tuhan aku tidak ingin nona muda mengalami hal yang sama seperti tuan waktu itu, batin Leo dengan cemas.
“Suruh direktur keuangan ke ruanganku sekarang ka Leo” titah Leila dengan suara tegas.
“Nona muda” ucap Leo dengan sendu memintanya untuk tidak ikut menyelidiki masalah ini.
Leila menatap Leo dengan tajam tak ingin dibantah kali ini, dan menyuruhnya untuk tidak memintanya membatalkan rencananya menyelidiki masalah keuangan di perusahaan.
Mau tak mau Leo hanya bisa mengikuti semua keinginan Leila dan ia harus menyusun rencana untuk melindungi Leila dari musuh mereka selama ini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………..