Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 215


Baru juga beberapa jam di tinggalkan suaminya Leila sudah sangat merindukan suaminya. Air matanya tiba-tiba menetes mengingat suaminya yang beberapa bulan terakhir selalu menemaninya di *******mansion******* tanpa mengeluh.


Aku sangat merindukanmu sayang, batin Leila dengan sedih.


"Jangan terlalu bersedih nak. Ada mama dan kakakmu yang akan setia menemanimu disini sayang" ucap Amira dengan suara lembut sambil mengelus kepal Leila dengan lembut.


"Hiks hiks hiks...........aku kangen sama suamiku ma.......hiks hiks hiks.........padahal baru beberapa jam kami berpisah tapi aku sudah merindukannya ma" jujur Leila sambil menangis.


"Kamu yang sabar ya sayang. Ingat suamimu pergi untuk kebahagiaan kalian di masa depan nanti. Mama tahu ini berat untukmu tapi kamu harus kuat dan tidak boleh sedih apa lagi saat ini kamu sedang hamil nak" nasihat Amira dengan suara lembut.


"Kasihan dedeknya pasti sedih lihat mamanya menangis seperti ini" tambahnya lagi sambil mengelus perut Leila.


Leila menatap perut buncitnya yang sudah berumur 4 bulan lebih. Ia mengelus perutnya sambil tersenyum manis membenarkan ucapan mama mertuanya.


Ya aku tidak boleh sedih karena ada anak aku disini dan aku yakin suamiku akan segera pulang, batin Leila dengan tegas.


"Terima kasih ma" ucap Leila dengan suara lembut sambil memeluk Amira.


"Sama-sama sayang" ucap Amira membalas pelukan menantunya.


Kamu tenang saja Denis aku akan menjaga istri dan anakmu disini, batin Rayen yang sedari tadi melihat keduanya.


"Dek kakak balik lagi ya ke perusahaan karena ada meeting 2 jam lagi" ucap Rayen dengan suara lembut.


"Iya ka. Oh bagaimana dengan ka Claudia ka?" tanya Leila.


"Claudia masih di Turki dan rencanannya 2 minggu lagi kakak akan ke sana untuk melamarnya" jawab Rayen sambil tersenyum manis.


"Beneran ka" pekik Leila dengan kaget.


"Iya dek" balas Rayen sambil mengangguk kepalanya.


"Semoga rencana ka Rayen berjalan lancar dan diterima sama ka Claudia" ucap Leila dengan tulus.


"Amin. Doain kakak ya dek"


"Pasti ka" ucap Leila sambil mengangkat kedua jempolnya.


Rayen terkekeh melihat sifat sang adik dan mengacak rambutnya. Wajah Leila yang tadinya tersenyum seketika berganti dengan wajah cemberut.


"Ka Rayen jangan dekat-dekat deh. Kakak bau banget banget" ketus Leila sambil menutup hidung.


"Hah! Bau?" tanya Rayen dengan kaget.


Ia mencium tubuhnya sendiri dan tidak ada bau busuk atau apek, hanya ada bau parfum mahalnya yang setiap hari ia pakai.


"Dek jangan ngaco ya. Wangi gini mana dibilang bau sih" ketus Rayen dengan kesal.


"Ihh!! Ka Rayen sumpah bau banget! Sana jauh-jauh dari aku! Aku mual cium bau ka Rayen!" bentak Leila dengan suara tinggi.


Hah....................


Rayen tercengang mendengar ucapan Leila yang membentaknya dengan suara tinggi. Baru kali ini ia dibentak oleh Leila selama ia hidup, Leo yang sedari tadi berada di sana ikut dibuat tercengang.


Aku tidak menyangka perubahan nona muda seperti ini selama hamil, batik Leo dengan kaget.


Tak tahan dengan bau parfum kakaknya Leila bergegas masuk ke dalam kamar. Ia ingin mencium bau harum suaminya untuk mengurangi rasa mual.


...๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ...


Amira yang tahu apa yang dialami oleh Leila segera menjelaskan dengan sabar tentang hormon hamil ibu hamil kepada Rayen.


"Ternyata ibu hami sangat mengerikan ya ma" ucap Rayen dengan wajah bergidik ngeri setelah mendengar penjelasan mama Amira.


"Hehehehe! Suatu saat kamu juga akan merasakannya setelah menikah nak Rayen" balas Amira sambil terkekeh.


"Semoga istriku tidak seperti adik aku nanti ma" ucap Rayen penuh harap.


Amira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikir Rayen. Tak mau semakin kesal disana Rayen bergegas pergi ke perusahaan dengan Leo.


~ DA Corp ~


Phew...................


Arsen membuang napasnya dengan kasar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ia harus memantau pergerakan Arkan di Italia dan juga Sandro yang sedang melakukan misi penting di Amerika.


Bukan itu saja tugasnya bertambah lagi harus memantau Denis yang sedang bertolak ke Italia untuk membereskan musuh papanya selama ini.


"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku disini sebelum menyusul bos" ucap Arsen sambil memijit keningnya yang berdenyut sakit.


Ceklek..................


Arsen mengumpat mendengar pintu ruangannya yang dibuka dan ia tahu siapa pelakunya. Hanya ada 4 orang saja yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk yaitu bosnya, Sandro, Arkan, dan bocah berisik itu.


"Untuk apa kamu kesini Geby" ucap Arsen dengan suara dingin tanpa membuka mata.


"Yah tidak seru deh" ucap Geby dengan bibir mengerucut merasa gagal ingin mengagetkan Arsen.


Ya orang yang berani masuk ke ruangan Arsen tanpa mengetuk pintu adalah Geby Ulrico. Hampir setiap hari ia akan datang kesini dan entah bagaimana dia membohongi resepsionis dibawah sehingga mereka mengijinkannya masuk.


Geby yang sedari dulu sudah menaruh hati kepada Arsen saat pertama kali bertemu terus mendekati Arsen tanpa leleh. Bahkan ia sampai rela bolos sekolah hanya untuk melihat pujaan hatinya.


Sepertinya ka Arsen pusing dengan pekerjaannya, batin Geby yang melihat raut wajah kelelahan di muka Arsen.


Deg................


Arsen tersentak saat tangan lentik memijit keningnya dengan lembut. Matanya terbuka melihat sosok gadis kecil didepannya yang sedang menatapnya dengan khawatir.


"Apa sangat sakit ka?" tanya Geby dengan tatapan sendu.


Biasanya Arsen akan mendorong dan menolak kontak fisik dari Geby tapi entah kenapa hari ia ia terlihat sangat nyaman dan menikmati pijatan tangan kecil itu.


Brugh....................


"Ka Arsen" pekik Geby dengan kaget tiba-tiba ditarik Arsen sehingga jatuh di pangkuannya.


"Sebentar saja" ucap Arsen dengan suara pelan.


Geby memijit kepala Arsen dengan pelan membiarkan Arsen menyandarkan kepalanya di dadanya. Tangannya lalu menyelusup ke dalam rambut hitam Arsen yang sangat lebat dan terasa sangat lembut.


"Kalau terlalu capek istirahat dulu ka. Ingat kesehatan itu lebih penting" ucap Geby dengan suara lembut.


"Heeemmm" deham Arsen menjawab ucapan Geby.


Arsen menikmati usapan lembut Geby seakan membuat rasa lelahnya perlahan-lahan berangsur hilang.


Melihat Arsen yang tertidur bibir Geby terangkat merasa sangat senang. Ia lalu ikut tertidur di atas pangkuan Arsen yang terasa sangat nyaman.


2 Jam kemudian


Arsen perlahan-lahan membuka matanya dan merasa ada napas hangat di lehernya. Ia memandang ke bawah dan mendapati Geby yang tertidur pulas sambil memeluknya.


Aku tidak menyangka ternyata pelukan bocah ini sangat menenangkan, batin Arsen sambil memindahkan helaian rambut Geby dari wajahnya dengan pelan.


...๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ...


Manis, batin Arsen dengan senang.


~ Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci ~


Seorang pria berbadan tegap dengan tinggi 189 cm turun dari jet pribadinya dengan jas mahal yang membalut tubuh atletisnya.


Mata coklatnya menatap ke sekeliling melihat begitu banyak anak buahnya yang sudah menunggu kedatangannya di sana.


"Benvenuto in italia capo" (selamat datang di Italia bos) ucap Arkan sambil memamerkan giginya.


"Il tuo stupido cervello รจ diventato intelligente?" (apa otak bodohmu itu sudah jadi pintar) tanya Denis sambil tersenyum mengejek.


Arkan menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Denis. Sedangkan anak buahnya yang sudah lama tinggal di Italia menahan tawa mereka mendengar ucapan bos besar mereka.


"Hehehehe! Aku tidak mengerti apa yang bos katakan" ucap Arkan sambil terkekeh.


"Ckk!!" decak Denis dengan sinis.


Denis segera masuk ke dalam mobil setelah Thomas membukakan pintu untuknya. Arkan pun masuk ke dalam mobil Denis dan duduk di samping sopir.


"Ke mansion" titah Denis dengan suara dingin.


"Oke bos" ucap Arkan.


Mobil Denis dan pengawalnya melaju pergi dari sana menuju mansion miliknya, tapi siapa sangka itu adalah markasnya Black Devil di Italia.


Denis lalu menghidupkan hp dan segera menelpon istrinya. Pada dering ketiga barulah istrinya menjawab panggilannya.


"Sayang" pekik Leila dengan senang dari seberang sana.


^^^"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Denis dengan suara lembut sambil tersenyum manis melihat wajah sang istri.^^^


"Aku sangat merindukanmu sayang" ucap Leila dengan mata berkaca-kaca.


^^^"Aku juga merindukanmu sayang. Kamu yang sabar ya disana bersama anak kita" balas Denis dengan suara lembut.^^^


"Heemm! Cepatlah kembali sayang" ucap Leila dengan suara lembut.


^^^"Iya sayang. Jangan lupa minum vitaminmu sayang dan jaga kandunganmu selama aku tidak ada sayang"^^^


"Iya sayang. Kamu baru sampai disana sayang?" tanya Leila.


^^^"Iya sayang"^^^


Denis lalu memberi beberapa wejangan kepada istrinya selama perjalanan ke mansion. Sampai di mansion ia segera keluar dari dalam mobil setelah panggilan mereka selesai.


"Selamat datang bos" ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Denis tidak berkata apa-apa dan segera masuk ke dalam mansion. Arkan mengikuti bosnya masuk ke dalam mansion melewati semua anak buah mereka yang menunduk memberi hormat.


"Besok kamu jemput Simon datang kesini tepat 07:00 pagi" titah Denis ke Arkan sebelum masuk ke dalam kamar.


"Baik bos" ucap Arkan.


"Mulai besok kamu resign dari perusahan pak tua itu"


"Siap bos"


Denis segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena selama perjalanan ia sama sekali tidak tidur. Sedangkan Arkan ia segera mengirim pesan kepada Simon tidak perduli ini jam berapa.


Akhirnya aku tidak perlu ke kantor tua bangka itu lagi, batin Arkan dengan senang.


~ Mansion Martinez ~


Simon yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya menatap pesan Arkan dengan kening berkerut.


"Untuk apa Arkan menyuruhku bertemu besok pagi" ucap Simon dengan bingung.


Karena penasaran ia segera menelpon Arkan tapi sialnya nomor Arkan sudah tidak aktif lagi. Mau tak mau ia harus menahan rasa penasarannya sampai besok.


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan matahari sudah berada di atas langit menandakan hari sudah pagi.


...๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ...


Saat ini semua keluarga Martinez sedang menikmati sarapan dalam keadaan hening di meja makan. Simon sedari tadi tahu daddynya mencuri pandang ke arahnya tapi ia tidak ambil pusing.


"Seina malam nanti persiapkan dirimu karena kita akan bertemu dengan calon suamimu" ucap Roy dengan suara tegas sambil mengelap mulutnya.


"Tapi daddy aku tidak mau dijodohkan dengan om-om daddy" ucap Seina dengan bibir mengerucut.


"Jangan membantah ucapan daddy Seina" tegas Roy tak menerima penolakan


Brak.................


Simon tiba-tiba menggebrak meja dengan kuat sambil menatap daddynya dengan emosi. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikir daddynya yang mau menjodohkan adiknya dengan om-om.


"Beraninya kamu menggebrak meja Simon!" bentak Roy dengan suara tinggi.


"Apa daddy tidak cukup kehilangan satu putri daddy! Hah! Apa hanya harta saja yang ada di otak daddy sehingga daddy tega menjual anak kandung daddy sendiri!" bentak Simon dengan suara tak kalah tinggi.


"Ini semua untuk kebaikan adikmu. Jangan berani kamu menggagalkan perjodohan Seina seperti Seila waktu itu Simon" hardik Roy dengan emosi menatap putranya.


"Sampai kapanpun aku menentang perjodohan Seina. Jika daddy masih tetap ingin menjodohkan Seina jangan salahkan aku akan berlaku kasar kepada daddy" balas Simon dengan suara lantang.


"Kakak..........hiks hiks hiks" ucap Seina sambil menangis.


Entah kenapa ia merasa sangat bersyukur karena masih ada kakaknya yang membelanya. Padahal selama ni ia sudah berbuat kasar kepada kakaknya dan juga kembarannya.


"Simon jangan berkata seperti itu kepada daddy kamu. Semua yang dilakukan daddy kamu semua untuk kebahagiaan kalian semua" ucap Riana.


"Kebahagiaan kami mom? Apa aku salah dengar mom? Selama ini mommy dan daddy hanya memikirkan tentang harta dan kekuasaan saja tidak pernah memikirkan perasaan kami" teriak Simon dengan suara lantang.


Plak.............plak.............


Roy menampar Simon dikedua pipinya dengan kuat membuat kedua sudut bibirnya robek. Simon menatap daddynya sambil tersenyum menyeringai tidak membalas tamparan barusan.


"Ingat daddy sampai matipun aku tidak akan membiarkan daddy menjual adik aku lewat perjodohan sialan itu" tegas Simon dengan tatapan penuh kebencian.


"Anak kurang ajar ka.." ucapan Roy terpotong karena hpnya tiba-tiba berdering.


Matanya melihat nama William Richie di layar hanya. Sangat jarang sekali William Richie akan menelponnya karena selama ini ia selalu mengirim pesan.


"Temui daddy malam nanti" ucap Roy dengan suara dingin.


"Ckk!! Lihat saja kalau aku ada waktu" balas Simon berlalu pergi dari sana.


Roy menutup mata mengontrol emosinya karena saat ini ia harus berbicara dengan William. Ia berjalan ke taman samping dan menjawab panggilan William.


Prang..............prang.............prang............


...๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ...


To be continue...............