
Alexandro yang mengetahui apa maksud Denis yang murka tadi tidak bertanya lagi karena ia pernah mengalami hal seperti ini.
Aku sudah bilang tadi kan kalau kedatangan kita akan membuat Denis marah, batin Alexandro sambil menghela napas dalam.
"Kakek kenapa?" tanya Sasa yang mendengar Alexandro menghela napas.
"Amira lebih baik kita pulang saja" ajak Alexandro tak menjawab pertanyaan Sasa.
Sasa mencebik bibirnya dengan kesal karena pertanyaannya tidak di gubris. Amira melihat ke arah mommy mertuanya dan sang suami bertanya apa mereka harus pulang atau bagaimana.
"Aku setuju sama uncle Alexandro sayang" ucap Steven.
"Mommy juga nak. Bukannya hal ini pernah terjadi saat kami datang juga waktu itu" tambah Linda mengingatkan.
"Baiklah kita pulang saja" ucap Amira setuju.
Mereka semua segera pergi dari mansion Denis tak mau membuat pemilik mansion semakin marah. Marcel yang memang tujuannya datang ke Indonesia untuk bertemu dengan Denis merasa sangat kecewa.
Padahal aku sudah di Indonesia dari minggu lalu, batin Marcel sambil berbalik menatap mansion Denis sebelum masuk ke dalam mobil.
Sandro yang mengantar kepergian mereka sempat melihat apa yang dilakukan oleh Marcel barusan. Ia langsung berkutat dengan hpnya mengirim pesan kepada Arsen.
Ting.................
Sibocah Arsen
"Aku tidak bisa memantaunya 24 jam dude karena aku sedang berada di rumah sakit saat ini"
Kening Sandro mengerut melihat balasan pesan Arsen. Tak membalas pesannya ia malah menekan tombol panggil untuk bertanya siapa yang sakit.
"Halo dude" jawab Arsen dari seberang.
^^^"Siapa yang sakit dude? Bukan kamu kan?" tanya Sandro to the point.^^^
"Bukan dude. Pak tua itu yang masuk rumah sakit tadi" jawab Arsen.
^^^"You mean your father?" (maksudmu papa kamu) tanya Sandro dengan kaget.^^^
"Ya si tua yang di penjara" jawab Arsen dengan malas.
^^^"Memangnya dia sakit apa sampai masuk rumah sakit bocah?" tanya Sandro semakin penasaran.^^^
"Kata petugas lapas dia sudah 1 minggu ia di rawat di ruang kesehatan penjara karena sering muntah dan pusing. Tapi hari ini dia muntah darah sangat banyak jadi mereka merujuknya ke rumah sakit Medika" jawab Arsen menjelaskan.
^^^"Kira-kira ayahmu sakit apa ya"^^^
"Mana aku tahu. Dokter masih memeriksanya didalam jadi aku belum tahu dia sakit apa"
^^^"Apa kamu sedih saat ini bocah?" tanya Sandro.^^^
"Menurutmu apa aku harus bersedih untuk laki-laki bangsat itu" jawab Arsen dengan suara tinggi.
^^^"Hehehehe! Siapa tahu aja kamu sedih karena biar bagaimanapun dia itu ayah kamu bocah" balas Sandro sambil terkekeh.^^^
"Ckk!! Ayah aku sudah mati sejak dia menikahi selingkuhannya itu" decak Arsen dengan kesal.
^^^"Ya terserah kamu saja bocah. Kalau begitu aku akan menyuruh Mark saja untuk memantau Marcel Massimo" ucap Sandro.^^^
"Pantau juga seluruh keluarga Massimo dude. Kalau perlu cari tahu alasan kedatangan mereka kesini" ucap Arsen dengan suara tegas dari seberang.
^^^"Ya aku tahu"^^^
"Heeemmmm"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sandro lalu mematikan panggilan mereka sepihak karena tidak ada lagi yang ingin ia katakan. Ia lalu segera menelpon Mark yang berada di markas untuk memantau seluruh keluarga besar Massimo.
~ Kediaman Baker ~
Rayen menatap adik bungsunya dengan gusar karena sejak pagi adiknya sudah datang mengeluh tentang istrinya kepada dia.
"Mas tolong gendong Aska bentar" pinta Claudia yang baru saja selesai menyusui anak mereka.
Rayen tak membantah dan segera mengambil putranya yang baru berumur 8 bulan dari gendongan sang istri.
Arkan yang melihat hal itu merasa semakin kesal mengingat sang istri yang selalu saja menghindarinya saat ia ingin melakukan hubungan suami istri.
Padahal sudah hampir setahun mereka menikah tapi ia belum juga menyentuh sang istri. Apa lagi istrinya saat ini sudah mulai berkuliah dan jarang mempunyai waktu yang banyak di rumah.
"Lebih baik ajak istrimu bulan madu atau liburan sana" ucap Rayen yang sedari tadi belum memberikan solusi apapun ke adiknya.
"Itu tidak mungkin terjadi ka. Bianca sekarang sudah sibuk dengan kuliahnya dan jarang sekali dia punya waktu banyak di rumah ka" papar Arkan menjelaskan dengan lesu.
Rayen diam tidak tahu harus berkata apa dan malah melihat sang istri yang tadi sempat mendengar ucapan Arkan.
"Menurutku biar aku dan Leila yang berbicara dengan Bianca mas" bisik Claudia.
"Terima kasih sayang" balas Rayen sambil tersenyum manis.
"Sama-sama sayang. Lagian Arkan kan juga adik aku mas jadi kita harus saling membantu" ucap Claudia dengan suara lembut.
"Iya sayang"
"Ka" panggil Arkan menyadarkan keduanya.
"Kamu tetap lakukan kewajiban kamu sebagai suami dan biar istrimu nanti ka Leila dan kakak iparmu yang akan mengurusnya" ucap Rayen.
"Memangnya bos bakal ijinkan ka Leila keluar dari mansion tanpa bos" balas Arkan mengingat sifat posesif bos sekaligus kakak iparnya itu.
"Ah! Benar kakak melupakan hal itu" ucap Rayen.
"Kalau begitu kami ketemuan saja di mansion Denis mas. Pasti Denis tidak akan keberatan kan mas" usul Claudia.
"Ya itu ide bagus sayang" tambah Rayen.
"Aku akan memberitahu Bianca kalau dia diminta ka Leila ke mansion mereka besok ya ka" ucap Arkan.
"Jangan dulu. Kita hubungi Leila apa dia bisa atau tidak" ucap Claudia.
"Oke kakak ipar" balas Arkan.
Arkan lalu segera pamit pergi karena ia harus menjemput sang istri. Tadi dia sudah menyuruh sopir sang istri untuk tidak menjemput Bianca dan biar dia yang akan menjemputnya.
~ Universitas Galaxy ~
Mobil sport Ferrari merah milik Arkan terparkir di parkiran kampus membuat semua mata langsung menatap ke arahnya.
Apa lagi saat ia keluar dari dalam mobil ia langsung di sambut dengan teriakan histeris mahasiswi kampus Galaxy. Bahkan ada yang terang-terangan menggodanya tapi ia acuh dan tak menggubris mereka.
Padahal dulu Arkan adalah seorang casanova dan tidak akan melewati kesempatan seperti tadi saat di goda oleh cewek cantik. Tapi semua itu berubah sejak ia menikah.
"Ckk!! Dimana sih Bianca kenapa tidak mengangkat telpon aku" decak Arkan dengan kesal.
Arsen mengedarkan pandangannya ke depan siapa tahu ia bisa melihat sang istri tapi mustahil. Ia lalu bertanya kepada salah satu mahasiswa di mana bangunan jurusan tata boga.
"Akhirnya sampai juga" gumam Arkan melihat bangunan jurusan tata boga didepannya.
"Kamu" panggil Arkan saat seorang mahasiswi hendak melewatinya.
"Saya ka" tunjuk perempuan tadi ke dirinya sendiri.
"Heemmm" deham Arkan sambil mengangguk kepalanya.
"Ada apa ya ka?" tanya perempuan tadi dengan salah tingkah.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Kening Arkan mengerut melihat perempuan didepannya yang sibuk membenarkan rambut dan pakaiannya. Ia yang melihatnya menjadi risih dan ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Kamu tahu dimana kelas Bianca Safitri anak semester 1?" tanya Arkan dengan cepat.
"Ya. Kamu tahu dimana kelasnya?" tanya Arkan lagi.
Perempuan tadi tidak mengatakan apa-apa dan malah menunjuk ke arah ruang kelas yang tak jauh dari mereka. Arkan lalu bergegas pergi ke ruangan yang di tunjuk perempuan tadi.
"Kenapa cowok sekeren dan tajir itu mencari anak miskin dan cupu itu ya" ucap perempuan tadi dengan syok.
Sampainya di ruang kelas Bianca wajah Arkan seketika mengeras, melihat sang istri yang sedang berbicara sambil ketawa dengan seorang laki-laki yang agak tampan.
"Jadi ini alasannya kamu tidak menjawab telpon aku" gumam Arkan dengan tatapan membunuh.
Dengan langkah panjang Arkan masuk ke dalam kelas Bianca membuat suasana seketika menjadi hening. Bianca yang melihat seisi kelas jadi diam bergegas menoleh ke arah belakang.
Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat sosok yang sangat ia kenali menghampirinya dan tak lain adalah suaminya.
Grep..................
"Kamu harus dihukum karena sibuk dengan kaki-laki lain dan tidak menjawab telpon suamimu istriku!" bisik Arkan dengan suara dingin penuh penekanan.
Glek...............
Bianca menelan salivanya dengan susah mendengar bisikan sang suami. Apa lagi tangan Arkan di pinggangnya sedari tadi meremasnya dengan kuat membuat dia kesakitan.
"Hey bung siapa kamu? Jangan kurang ajar ya sama perempuan!" bentak Reno teman sekelas Bianca dengan emosi.
"Siapa aku bukan urusanmu" jawab Arkan dengan suara dingin.
"Mas kita pergi saja ta" ajak Bianca yang tahu suaminya sedang emosi.
Arkan melirik sang istri dari balik kaca mata hitamnya dan mendapati wajah penuh harap istrinya. Ia tahu istrinya meminta mereka pergi karena tidak ingin membuat keributan di sana.
Cup..............
"Ayok baby" ajak Arkan setelah mengecup bibir Bianca.
Bianca dan semua orang dibuat kaget akan apa yang di lakukan oleh Arkan. Ia yang syok tidak mengetahui jika Arkan sudah menariknya pergi dari sana, meninggalkan Reno yang mengepal kedua tangannya dengan erat.
Berengsek, batin Reno dengan kesal.
Sampainya di dalam mobil Arkan membuang kaca matanya dengan asal sambil memegang stir mobil dengan kuat. Bianca yang melihat wajah sang suami terlihat sangat marah menjadi takut.
"Bangsat!" umpat Arkan dengan suara menggelegar.
"Ma........s" panggil Bianca dengan gugup.
"DIAM!" bentak Arkan untuk pertama kali kepada sang istri.
Bianca menunduk sambil memegang tasnya dengan erat merasa takut sekaligus sedih. Untuk pertama kalinya, ia dibentak oleh suaminya dan melihat wajah sang suami yang terlihat berbeda dari biasanya.
2 Hari kemudian
Sejak dua hari yang lalu Bianca belum bertemu dengan suaminya. Ia terus menghubungi sang suami tapi nomornya tidak aktif, bahkan pesannya juga tidak dibalas.
~ DA Corp ~
Denis sedang berkutat dengan setumpuk laporan didepannya. Tak lama Rian masuk bersama Arsen dan Sandro untuk membawa semua berkas yang di minta oleh Denis tadi.
"Ini semua?" tanya Denis menuju ke tumpukan berkas yang sangat tinggi didepannya.
"Iya bos" jawab Sandro mewakili.
Phew..................
Denis membuang napasnya dengan kasar tak menyangka selama liburannya beberapa ninggu, ternyata pekerjaannya sudah menumpuk setinggi bahunya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Mau tak mau ia harus mengerjakan semua berkas itu karena memang ini pekerjaannya. Ia lalu menyuruh Sandro untuk tidak menerima tamu atau siapapun yang mencarinya selain istri dan anaknya.
"Bos sedari kemarin Marcel Massimo terus menghubungi aku meminta ingin bertemu dengan bos" lapor Sandro.
"Abaikan saja dia. Aku sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk bertemu dengan sialan itu" ucap Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Arsen suruh Adrian datang di jam makan siang nanti" titah Denis.
"Baik bos" jawab Arsen.
"Rian kamu dan direktur Steven yang hendel meeting dalam minggu ini" ucap Denis dengan tajam.
"Baik presdir" jawab Rian.
Ketiganya lalu keluar dari ruangan Denis setelah melihat isyarat tangannya yang menyuruhnya pergi. Saat sedang memeriksa laporan didepannya tiba-tiba hp Denis berbunyi tertera My Lovely Wife
^^^"Halo sayang" ucap Denis yang langsung di sambut wajah cantik sang istri.^^^
"Halo sayang. Kamu lagi sibuk ya sayang?" tanya Leila dari seberang.
Denis mengarahkan kamera belakang ke setumpuk berkas didepannya yang menjulang tinggi.
"Segitu banyaknya sayang" pekik Leila dengan kaget.
^^^"Heemmm! Sepertinya aku akan lembur dalam seminggu ke depan sayang" ucap Denis dengan gusar.^^^
"Aku akan mengirim makan siang dan malam untuk kamu sayang" ucap Leila dengan wajah sedih.
^^^"Iya sayang. Titip salam aku buat anak kita"^^^
"Pasti sayang. Semangat kerja suamiku"
^^^"Iya istriku"^^^
"Sayang nanti sebentar ka Devina dan Bianca akan kesini" ucap Leila memberitahu.
^^^"Iya sayang. Jaga diri kamu dan anak kita disitu sayang"^^^
"Iya suamiku"
^^^"Bye sayang, I love you"^^^
"Love you more husband"
Denis tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri, dengan semangat ia mengerjakan semua pekerjaannya agar cepat selesai baru ia tidak lembur terlalu lama.
~ Mansion Denis Arkana ~
Tepat jam makan siang Devina dan Bianca sampai di mansion Leila. Bertepatan dengan Tom yang baru saja mengambil makan siang Denis yang dibuatkan oleh Leila.
"Kalian sudah sampai" ucap Leila sambil tersenyum manis.
"Iya Leila. Gimana liburannya" ucap Claudia memeluk Leila.
"Sangat menyenangkan kakak ipar" balas Leila dengan antusias.
"Jadi pengen liburan kayak kamu! Hehehehe" ucap Claudia sambil terkekeh.
"Ajak ka Rayen sana kakak ipar" ucap Leila sambil tersenyum lebar.
"Nanti pulang aku bicarakan sama suamiku dulu"
Bianca hanya diam menatap kedua kakak iparnya dengan wajah sedih. Pikirannya hanya tertuju kepada sang suami yang sudah dua hari tak ada kabar.
"Loh Bianca kamu kenapa?" tanya Leila saat melihat mata Bianca berkaca-kaca.
Hiks...........hiks...........hiks............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............