
Glek.............
Leila menelan salivanya dengan susah membaca pesan dari suaminya. Dengan cepat ia bergegas pergi dari sana tak mau membuat suaminya semakin emosi.
"Ka Leila kok udah balik sih? Padahal aku mau ajak ka Leila ke mall" ucap Geby dengan bibir mengerucut.
"Nyonya akan menemui bos baby" bisik Arsen sambil mencium telinga Geby.
"Mas kamu" ucap Geby dengan mata melotot.
"Pergi yuk baby. Entah kenapa aku menginginkanmu sekarang" bisik Arsen dengan suara serak.
Geby yang melihat wajah suaminya sedang menahan hasrat tak berkata apa-apa dan bergegas pamit pergi. Melihat semuanya sudah pergi, Claudia pun pamit pergi karena ia sudah mengantuk.
Kini tinggallah Steven, Amira, dan Zeus disana. Ketiganya mengobrol mengenal satu sama lain, meski kebanyakan Amira dan Zeus yang berbicara karena membahas Zeus.
1 Minggu kemudian
Selama seminggu Amira dan Steven menghabiskan waktu bersama dengan Zeus saling mengenal satu sama lain.
Selama itu juga Zeus belum juga bertemu dengan Denis dan ia pikir kalau Leila adalah anak dari tante Amira. Mungkin karena keduanya sama-sama berbicara dengan lembut membuat ia berpikir seperti itu.
Steven sendiri sudah mengurus kepindahan putranya bersekolah di Jakarta, bukan tanpa alasan karena 2 bulan lagi ia akan menikah dengan Amira dan mereka akan tinggal di Jakarta.
Steven juga telah menemu Denis meminta ijin langsung kepada Denis di perusahaan waktu itu untuk menikahi mamanya.
~ Mansion Denis Arkana ~
"Da da da da" Celoteh baby Kai dengan kencang.
Leila tersenyum manis melihat pemandangan indah didepannya. Saat ini Denis baru saja selesai berenang dan sedang bercanda dengan putranya di kursi santai.
"Senang banget yang udah ketemu papa" ucap Leila sambil menaruh segelas ice americano untuk sang suami.
"Sini sayang" ucap Denis menepuk tempat di sampingnya.
Leila berbaring di samping suaminya sambil memeluk pinggang Denis dengan erat. Sudah 5 hari mereka tidak bertemu karena Denis yang sibuk dengan pembukaan perusahaan cabang di Paris.
"Bagaimana pengasuh baby Kai sayang?" tanya Denis dengan suara lembut.
"Mbok Erna orangnya cekatan dan telaten sayang. Aku suka meski baby Kai masih tidak mau di gendong sama mbok Erna" jawab Leila dengan jujur.
"Usahakan semua kebutuhan anak kita dia yang urus sayang. Aku tidak mau kamu kecapean sayang"
"Iya sayang"
Leila mengelus pipi montok anaknya yang sedang memukul dada sauminya. Apa lagi melihat tato namanya disana membuat bayi itu semakin penasaran.
"Yuhuuuuu baby Kai" teriak suara cempreng Arkan dari dalam mansion.
Baby Kai kaget mendengar teriakan Arkan dan langsung menangis. Denis mengumpat dan memaki Arkan merasa sangat emosi karena mmbuat anaknya menangis.
Bugh............byur.............
Denis menendang Arkan sampai jatuh masuk ke dalam kolam renang. Melihat hal itu baby Kai tertawa senang membuat Arkan mengumpat dan memaki bayi itu dari kolam renang.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Kamu sih bikin baby Kai nangis dek" ucap Leila dengan kesal menatap adiknya.
"Ckk!! Kakak itu udah tidak sayang lagi sama aku" decak Arsen dengan bibir manyun ke depan.
"Kalau kakak tidak sayang sama kamu kakak tidak akan meminta suami kakak bebasin kamu dari masalah kemarin Arkan" ketus Leila dengan kesal.
"Hehehehe! Bercanda ka" ucap Arkan sambil terkekeh.
"Cih" decih Leila dengan tatapan kesal menatap Arkan.
Pak Tio dan pelayan lalu membantu Arkan keluar dari kolam renang. Tak lupa memberinya handuk kering untuk mengeringkan badan.
"Kamu kuras kolam renang dan bersihkan sampai bersih" titah Denis dengan suara tegas.
"Hah! Aku bos" tunjuk Arkan ke dirinya sendiri dengan kaget.
"Pak Tio jangan biarkan pelayan atau penjaga membantu Arkan" ucap Denis dengan tatapan tajam memberi peringatan ke pak Tio.
"Baik tuan" ucap pak Tio dengan sopan.
"Ka Leila" adu Arkan meminta bantuan ke kakaknya.
"Kerjakan saja dek. Lagian ini kesalahanmu jadi jangan protes" ucap Leila sambil menggelengkan kepala tak bisa membantu Arkan.
Sial! Niat mau kabur dari hukuman ka Rayen malah aku dapat hukuman dari bos, batin Arkan dengan mulut komat-kamit menggerutu.
Denis yang tahu apa yang dipikirkan oleh Arkan tidak perduli sama sekali. Ia melenggang masuk ke dalam mansion sambil mengendong putranya untuk membersihkan tubuh.
Leila mengambil baby Kai dan memberikan ke mbok Erna untuk mengganti bajunya yang lembab, karena di gendong suaminya saat keluar dari kolam renang.
Beruntung anaknya mau dan tidak menangis. Ia segera bergegas menyusul sang suami yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Sayang" ucap Leila saat masuk ke dalam kamar.
"Dimana baby Kai sayang?" tanya Denis sambil membuka bathrobe karena ingin mandi.
"Sama mbok Erna sayang. Kamu mandi sana biar aku siapkan bajumu sayang" jawab Leila bergegas menuju walk on closet.
Grep.............
"Sayang" ucap Leila saat pinggangnya di tarik Denis.
"Temani aku mandi sayang" bisik Denis.
"Baiklah sayang" balas Leila dengan malu-malu.
Denis tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri. Dengan cepat ia mengendong Leila masuk ke dalam kamar dan menghabiskan waktu hampir 2 jam karena ia meminta jatah didalam sana.
"Lain kali aku tidak mau menemani kamu mandi lagi sayang" kesal Leila dengan kaki gemetar.
"Nolak suami itu dosaloh" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Ckk!!" decak Leila dengan kesal karena tidak bisa membalas ucapan suaminya.
Denis membantu sang istri memakai pakaian tak lupa mengendongnya keluar karena ia tahu Leila pasti kecapean.
"Baby Kai kayaknya haus nyonya" ucap mbok Erna.
"Mungkin juga mbok" balas Leila setuju dengan ucapan mbok Erna.
Leila lalu menyusui anaknya di ruang keluarga setelah menyuruh pak Tio dan pelayan keluar. Denis sendiri sedang menerima telpon dari Max sambil memantau pekerjaan Arsen.
^^^"Suruh Sean untuk mengawasi pengiriman kita ke kali ini"^^^
"Baik bos"
^^^"Bagaimana dengan geng Ular Cobra?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^
"Mereka tidak berani menganggu klan kita lagi bos. Sebelum Arya keluar ia sudah memberitahu mereka untuk tidak menganggu Black Devil bos"
^^^"Heemmm! Lalu apa yang ia kerjakan sekarang?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^
"Dia sekarang menjadi CEO sekaligus pemilik pasaraya AriMart yang sudah tersebar di kota-kota besar di Indonesia bos" jawab Max.
^^^"Heemmm! Pantau semua kegiatan markas dan kirim semua laporan markas"^^^
"Baik bos"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis lalu mematikan panggilannya sepihak dan saat hendak berbalik, tiba-tiba hpnya berdering dengan nama pemanggil Mama.
^^^"Halo ma" ucap Denis dengan suara lembut.^^^
"Halo nak. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Amira dari seberang.
^^^"Tidak ma, memangnya ada apa?" tanya Denis.^^^
"Uhm! Begini mama ingin mengundang kamu, Leila, sama cucu mama untuk makan malam nanti besok di rumah mama. Sekalian mama ingin kenalkan kamu sama anak uncle Steven dan juga membahas tentang pernikahn kami nak" jawab Amira menjelaskan.
^^^"Iya ma nanti besok kami ke sana"^^^
"Iya nak mama tunggu ya nak"
^^^"Hemmm"^^^
"Titip salam buat anak dan istrimu nak"
^^^"Nati aku sampaikan ma"^^^
"Iya nak"
Denis lalu mematikan panggilannya sepihak karena tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Sebelum masuk ia tersenyum smirk melihat Arkan yang baru saja selesai membersihkan kolam renang.
~ Kediaman Sanjaya ~
Hoek.............hoek..............hoek...........
Suara muntahan dari dalam kamar Arsen menggema didalam kamar mandi. Kamar Arsen yang kedap suara membuat penghuni rumah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Geby memuntahkan semua isi perutnya saat hendak memakai parfum yang biasa ia pakai. Wajahnya sampai pucat setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Sebenarnya aku kenapa?" tanya Geby kepada dirinya sendiri.
Merasa sudah lebih enak Geby bergegas membersihkan mulutnya tak lupa membersihkan bekas muntahannya.
Geby memandang wajahnya di cermin yang terlihat sangat pucat.
"Aku seperti mayat hidup saja" gumam Geby sambil memakai bedak.
Saat hendak keluar dari kamar langkah kakinya terhenti saat melewati kalender. Ia baru ingat jika ia sudah beberapa telat dari jadwal tamu bulanannya.
Otaknya langaung merangkai satu persatu kejadian selama beberapa hari ini. Dengan cepat Geby mengambil hpnya dan mencari tanda-tanda hamil.
"Semua sesuai apa yang aku alami beberapa hari terakhir" ucap Geby dengan syok.
Tak mau salah menebak Geby bergegas mengambil kunci mobil. Saking penasarannya ia sampai tidak berpamitan dengan orang rumah.
Kring.............
Geby melihat nama Tasya teman kampusnya saat hpnya berbunyi.
^^^"Halo Sya"^^^
"Halo by. Kamu dimana sih? Bentar lagi dosen udah mau masuk nih" tanya Tasya dari sebrang.
^^^"Aku lagi di jalan nih" jawab Geby yang ingat kalau ia ada mata kuliah sebentar lagi.^^^
"Yaudah cepatan sebelum bu Dewi keburu masuk. Bisa dapat nilai E kamu"
^^^"Iya iya iya. Bawel banget kamu"^^^
"Ckk!!" Decak Tasya dengan kesal sambil mematikan panggilannya sepihak.
Geby segera melajukan mobilnya menuju kampus biar habis dari kampus baru ia ke rumah sakit. Apa lagi mata kuliah hari ini adalah mata kuliah wajib dan dosennya sangat killer.
~ Medika Hospital ~
Disinilah Geby berada setelah dari kampus. Kedua tangannya berkeringat merasa sangat gugup.
Matanya sedari tadi menatap plang nama diatas yang tertulis dokter kandungan. Belum lagi tatapan para ibu-ibu yang menatapnya sedari tadi dengan tatapan menghujat.
"Mau periksa kandungan juga ya dek?" tanya salah satu ibu hamil di sampingnya.
"Iya tante" jawab Geby dengan malu-malu.
"Anak muda zaman sekarang memang tidak bisa jaga diri lagi ya. Di usia semuda ini saja sudah punya anak" cibir salah seorang wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengan Geby.
"Neng bertobat ya. Jangan melakukan dosa lagi apa lagi kalau sampai neng tega mengugurkan kandungan neng nanti" tambah seorang ibu lagi.
Kening Geby berkerut mendengar ucapan ibu yang tak jauh darinya. Entah kenapa rasanya ia seperti ingin memukul mulut ibu itu tapi ia tahan.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................