Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 192


Tak mengatakan apa-apa Denis beranjak dari kursi dan pergi membuat semua pasang mata menatapnya dengan bingung.


"Silahkan kalian lanjutkan meetingnya karena presdir kami ada sesuatu yang harus di urus" ucap Arsen dengan suara dignin.


"Apa yang terjadi?" tanya Adrian tanpa mengeluarkan suara.


Arsen yang membaca gerakan bibir Adrian segera mengambil hpnya memberi isyarat jika ia akan mengirim pesan nanti. Adrian mengangguk kepalanya mengerti dengan isyarat dari Arsen.


"Perhatian semuanya! Terima kasih atas kepercayaan kalian kepada saya dan sudah menunjuk saya sebagai direktur Kingdom Castel. Saya tidak akan berjanji tapi saya akan membuktikan kalau saya akan memajukan perusahaan ini lebih maju lagi dari sebelumnya" ucap Adrian dengan suara lantang.


"Ah! Satu lagi, saya juga akan merubah semua manajemen perusahaan, tak lupa mengusut tuntas kasus penggelapan dana perusahaan selama ini. Ke depannya siapapun yang terbukti bersalah maka dia akan di pecat dengan tidak hormat dari perusahaan aku" tambahnya lagi dengan suara tegas.


Prok...........prok.........prok.............


Riuh tepuk tangan bergema mendengar ucapan Adrian, kebanyakan semua peserta meeting merasa senang dengan keputusan Adrian karena memang mereka sudah kesal dengan kebijakan manajemen direktur lama yang semena-semana.


Sedangkan dari semua peserta meeting yang hadir hari ini, ada 4 orang saja yang sedari tadi wajah mereka terlihat emosi dan geram.


Adrian menatap keempatnya yang tak lain adalah papa kandungnya beserta keluarga si rubah dengan tatapan mengejek. Ia tersenyum menyeringai menatap papanya seakan berkata ini adalah akhir untuk papa.


Sedangkan didalam mobil Denis saat ini aura didalam sana terasa sangat mencekam. Sandro dan sang sopir sedari tadi diam tak berani bersuara.


"Jadi Arkan sedang bermain dengan perempuan ular itu" ucap Denis dengan suara dingin.


"Iya bos" jawab Sandro dengan gugup.


"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.


"Siapkan helikopter kita ke sana" titah Denis dengan tatapan berkilat tajam.


"Oke bos" ucap Sandro dengan cepat.


Ia segera menelpon anak buahnya untuk membawa helikopter ke apartemen Kingdom, kebetulan ada landasan helipad di apartemen tersebut dan jarak mereka juga sangat dekat dengan apartemen Kingdom.


~ Puncak, Bogor ~


Arkan merokok sambil memangku kaki dengan santai didepan tubuh polos tantenya yang berada di lantai.


Entah dia mati atau pingsan ia tidak tahu karena ia malas mengeceknya. Sedangkan pria teman ranjang tantenya sedari tadi berdiri dengan gemetar ketakutan.


Ia ingin pergi dari sana tapi Arkan melarangnya jadi terpaksa ia harus berada disana dan berpikir untuk tidak mengusik Arkan jika dia masih ingin hidup.


"Hey kamu" panggil Arkan dengan suara tinggi.


"Ak.....u" tunjuk pria tadi ke dirinya sendiri.


"Iya kamu. Memangnya ada orang lain selain kita berdua disini!" bentak Arkan dengan suara tinggi.


"M......aaf"


"Ckk!! Siapa nama kamu?" tanya Arkan dengan kesal.


"Reno" jawab Reno dengan cepat.


"Umur"


"22 tahun"


"Oh lebih tua 2 tahun dari aku" balas Arkan sambil mengangguk kepalanya.


Glek.................


Reno menelan salivanya dengan susah mendapat pertanyaan dari Arkan yang terdengar seperti sedang diinterogasi saja.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Cek dia apa dia tidur atau mati" titah Arkan sambil menunjuk aunty Rena.


Reno berjalan dengan langkah pelan mendekati aunty Rena dan berjongkok didepannya sambil menaruh tangan di hidung.


Matanya melotot menatap Arsen dengan syok tak merasakan napasnya. Ia lalu mengecek lewat nadinya dan seketika ia gemetar ketakutan setelah mengetahui jika tante Rena sudah tidak bernyawa lagi.


"D......ia sudah m......ati" ucap Reno dengan terbata-bata.


"Ah! Padahal aku belum puas bermain dengannya" ketus Arkan dengan kesal.


Reno tercengang menatap Arkan yang dengan santai mengatakan itu saat mendengar kalau orang yan yg ia pukul sudah mati. Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya saat melihat Arkan.


Apa aku akan dibunuh juga, batin Reno dengan ketakutan.


"Kenapa?" tanya Arkan dengan mata memicing.


"Jangan b.......unuh a......ku" ucap Reno dengan terbata-bata karena ketakutan.


"Cih! Memangnya siapa yang mau bunuh kamu? Kamu kan tidak ada masalah sama aku jadi buat apa aku membunuhmu" ketus Arkan dengan tatapan sinis.


"Tapi lain ceritanya kalau kamu memberitahukan hal ini ke orang lain atau mungkin polisi" tambahnya lagi sambil tersenyum menyeringai.


"Tidak! Aku tidak akan menceritakan hal itu ke siapapun atau polisi! Aku mohon tolong bebaskan aku" pinta Reno sambil berlutut didepan Arkan.


"Bagaimana ya? Biasanya orang yang tidak akan membuka mulutnya kecuali dia sudah mati" ucap Arkan sambil menaruh jari di dagu seakan sedang berpikir.


"Tolong aku mohon. Aku akan melakukan apapun untuk kamu asalkan kamu tidak membunuh aku" lirih Reno dengan wajah semakin pucat karena ketakutan.


"Apapun?" tanya Arkan dengan mata berbinar-binar.


"Iya apapun" jawab Reno dengan t gas.


Cekrek................


Reno kaget saat Arsen memfotonya entah untuk apa hanya Arkan yang tahu. Arkan lalu mengirim foto itu ke Mark untuk mencari tahu identitas Reno.


"Ingat jangan pernah lari atau pergi dari kota ini. Karena aku akan menemukanmu sampai ke ujung dunia" ucap Arkan dengan suara tegas.


"Baik"


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran"


"Terima kasih"


Reno lari terbirit-birit dari sana menuju mobilnya di garasi. Arkan terkekeh melihat Reno yang sudah berlalu pergi dari sana.


Tak berselang lama senyum di bibirnya hilang melihat 5 mobil mewah yang masuk ke dalam vila. Ia menelan salivanya melihat sosok yang sangat menakutkan turun dari mobil setelah asistennya membuka pintu.


Mati aku, batin Arkan dengan takut.


Tap...........tap...........tap.............


Bunyi langkah kaki semakin mendekat ke tempat Arkan berada. Tubuhnya seketika menegang melihat wajah sang kakak yang mengelap didepan sana.


"Ka Rayen" ucap Arkan dengan pelan.


Mata Rayen berkilat tajam melihat tubuh telanjang tante Rena yang berlumuran darah di lantai. Leo lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengecek tante Rena apa masih hidup atau sudah mati.


"Dia sudah mati tuan" lapor Leo saat anak buahnya menggelengkan kepala setelah mengecek kondisi tante Rena.


Rayen tak berkata apa-apa dan maju menghampiri sang adik. Sampainya didepannya ia menatap Arkan dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Bugh................brugh.................


Tubuh Arkan terpental ke belakang saat Rayen memukulnya di perut. Arkan meringis kesakitan tak bisa berdiri karena pukulan sang kakak yang sangat kuat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sudah kakak bilang jangan macam-macam Arkan! Apa kamu ingin berurusan dengan polisi! Hah" bentak Rayen dengan suara tinggi.


Phew...................


Rayen membuang napasnya dengan kasar melihat sang adik yang menangis di lantai. Ia lalu mengangkat adiknya dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Maafin aku kak..........hiks hiks hiks" ucap Arkan.


"Jangan diulangi lagi. Kakak hanya tidak ingin kamu sampai berurusan dengan polisi karena bertindak ceroboh" ucap Rayen dengan suara lembut.


"Iya kak"


"Leo bersihakan jejak Arkan didalam sini dan buang mayat perempuan siluman itu ke peliharaanku" titah Rayen dengan suara dingin.


"Baik tuan" jawab Leo dengan suara tak kalah dingin.


Leo lalu memerintah semua anak buahnya membersihkan jejak Arkan disana. Sedangkan keduanya duduk di sofa menunggu pekerjaan Leo selesai baru mereka pulang.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi helikopter di belakang vila. Anak buah Rayen yang melihat siapa yang datang bergegas masuk ke dalam vila dengan panik.


"Tuan" ucap anak buah Rayen dengan panik.


"Kenapa? Siapa yang datang?" tanya Leo mewakili Rayen.


"Presdir Denis dan kedua orang kepercayaannya tuan" jawab anak buah Leo dengan cepat.


"APA!" pekik Arkan dan Rayen dengan kaget.


Tiba-tiba keduanya merinding merasakan aura yang sangat mengintimidasi dari arah pintu. Tak berapa lama sosok dengan wajah menghitam dan aura membunuh masuk ke dalam vila dengan tatapan seperti monster berdarah dingin.


"Ka kenapa bos kesini" bisik Arkan merangkul lengan sang kakak karena takut.


"Fu*k" umpat Rayen setelah mengetahui maksud kedatangan Denis.


Denis tersenyum seperti iblis melihat tubuh telanjang dilantai. Mata coklatnya yang tajam seperti pedang langsung menatap Arkan, membuat Arkan berkali-kali menelan salivanya membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"B......os" panggil Arkan dengan terbata-bata.


Denis mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya sebagai isyarat untuk mendekat.


"Sorry Denis ini semua bukan kesalahan Arkan tapi aku. Aku mohon jangan apa-apakan dia" ucap Rayen dengan cepat.


"Memangnya kamu pikir aku ingin melakukan apa?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Biarkan dia kali ini Denis" pinta Rayen.


"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.


"Bocah jangan berdiri diam saja disitu. Apa kamu itu laki-laki bertanggung jawab!" bentak Sandro dengan suara tinggi.


"Jangan pernah membentak adik aku sialan!" bentak Rayen tak terima Arkan dibentaknya.


"Kakak jangan marah ya. Ini perbuatan Arkan dan sudah seharusnya Arkan bertanggung jawab" ucap Arkan dengan suara tegas.


"Tapi dek" ucap Rayen yang langsung dipotong Arkan.


"Percaya sama Arkan ka. Aku bukan anak kecil lagi ka" potong Arkan dengan meyakinkan.


"Heeemm"


Arkan maju mendekati Denis dengan gugup dan jantungnya berdetak dengan cepat merasa takut.


Bugh...........bugh..........bugh...........


Brugh..............


Denis menghajar Arkan dan menendangnya hingga terpental ke belakang mengenai meja sampai patah. Rayen menutup mata melihat adiknya yang dihajar dengan brutal oleh Denis.


"Cukup Denis" hadang Rayen berdiri tepat didepan Arkan saat Denis hendak memukulnya kembali.


"Bos pak Tio barusan mengabari kalau nyonya demam" ucap Arsen yang baru saja mendapat pesan dari mansion.


"Kita kembali" titah Denis dengan cemas mendengar nama sang istri.


"Kamu beruntung bocah" ejek Sandro sebelum keluar.


Phew.................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rayen membuang napasnya kasar merasa lega karena adiknya Leila, nyawa Arkan selamat dari monster berwujud manusia itu.


"Ini peringatan terakhir untuk kamu Arkan" ucap Rayen dengan suara tegas.


Arkan mengangguk kepalanya menjawab ucapan sang kakak, karena tubuhnya sangat sakit. Rasa sakit pukulan Denis ternyata lebih sakit dari pukulan sang kakak tadi.


~ Mansion Denis Arkana ~


Denis melompat turun dari helikopter tidak menunggu helikopter landing dengan benar. Pikirannya hanya tertuju kepada sang istri yang sakit didalam mansion.


Brak.................


"Tuan! Bos! Sayang" ucap ketiga orang didalam kamar dengan serentak.


Pak Tio, Bimo, dan Leila kaget saat mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan kuat dari luar. Ketiganya langsung memandang ke sosok yang masuk dengan wajah panik dan cemas.


"Kamu tidak kenapa-napa kan sayang?" tanya Denis dengan cemas.


"Nyonya hanya demam dan juga kurang darah bos. Sepertinya nyonya banyak pikiran sehingga membuat kondisi nyonya drop bos" jawab Bimo menjelaskan.


Denis tidak mengatakan apa-apa dan langsung naik ke ranjang memeluk istrinya. Bimo lalu memberikan resep obat kepada pak Tio untuk membelinya di apotik tak lupa menyuruh pak Tio menyiapkan makanan penambah darah untuk sang nyonya.


"Apa kamu memikirkan tante kamu sayang?" tanya Denis dengan suara lembut.


"Iya sayang" jawab Leila dengan jujur.


"Jangan memikirkan dia lagi sayang karena dia tidak akan berani lagi mengusik rumah tangga kita dan juga keluarga kamu sayang" ucap Denis dengan suara tegas.


"Hah! Kok bisa sayang?" tanya Leila dengan kaget.


"Jangan bilang" tambahnya lagi setelah menebak apa yang terjadi.


"Bukan aku sayang. Kakak dan adikmu yang membereskannya sayang karena mereka sangat marah mengetahui niat tante kamu sayang" jawab Denis dengan jujur.


"Yang benar sayang" ucap Leila tak percaya.


"Heemmmm" deham Denis.


Meski aku sebenarnya ingin membunuh wanita tua itu dengan tanganku sendiri tapi sudah keduluan sama adik kurang ajarmu itu, batin Denis dengan kesal.


Leila tak bertanya lagi apa yang dilakukan oleh adik dan kakaknya kepada tante mereka, karena yang terpenting ia tidak akan diganggu lagi oleh sang tante.


3 Bulan kemudian


Selama 3 bulan rumah tangga Denis dan Leila sangat harmonis. Apa lagi Roy Martinez tidak pernah melakukan apa-apa lagi kepada Denis dan keluarganya, tapi Denis yakin kalau Roy pasti akan membalasnya suatu hari nanti.


Benar dugaan Denis kalau Roy Martinez masih sangat dendam kepadanya. Hari ini Roy sedang bertemu dengan seseorang dan melakukan kerja sama dengan orang itu untuk menjebak Denis.


Kita lihat apa yang akan terjadi sebentar lagi Denis Arkana, batin Roy sambil tersenyum menyeringai.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..................