
Bagaimana hadiah dari aku nenek tua? Semoga kamu suka ya. Karena aku memberikan hadiah untukmu seperti yang kamu rencanakan untuk putraku! Mata ganti mata begitu pula nyawa di ganti dengan nyawa
Denis Arkana
Begitulah isi surat didalam paket berisi mayat putri haram Hana Massimo. Mata Hana memerah sambil meremas sepucuk surat dari Denis.
Ia yang tadi bersedih sekarang berganti dengan rasa emosi, dendam, dan benci didalam dirinya. Ia tidak menyangka ternyata aksinya sudah di ketahui oleh Denis.
Apa lagi Denis ternyata sudah mengetahui rahasia terbesarnya yang selama ini ia sembunyikan. Bahkan keluarganya tidak mengetahui kalau ia ternyata punya anak dengan pria lain.
Hahahahaha................
"Ternyata aku sudah di bodoh oleh anak sialan itu" ucap Hana sambil tertawa menggelegar.
Hardin yang melihat Hana tertawa mengerutkan keningnya dengan bingung. Ia bingung dengan perilaku Hana karena tadi ia menangis tapi tiba-tiba ia tertawa.
Mungkin karena kematian putri haram nyonya makanya nyonya seperti orang orang tidak waras, batin Hardin.
"Siapkan mobil sekarang juga!" bentak Hana mengagetkan Hardin dari pemikirannya.
"Baik nyonya" gegas Hardin segera keluar dari sana.
Mata Hana memerah dengan kedua tangannya terkepal erat. Ia tersenyum menyeringai menatap dirinya lewat cermin seperti seorang iblis munafik.
"Nyawa di ganti nyawa! Huh" ucap Hana dengan tatapan membunuh.
"Kalau begitu maka aku juga akan menggantikan nyawa putriku dengan nyawa kalian sekeluarga" tambahnya lagi sambil tersenyum smirk.
Hana segera bergegas pergi ingin menemui mafia yang ingin ia ajak bekerja sama untuk membalas Denis. Meski ia harus memberikan nyawanya, ia tidak perduli asalkan ia bisa membalas dendam kepada Denis.
~ Kingdom Apartment ~
Arsen tersenyum menyeringai mendengar rekaman suara Hana di alat pelacak yang di taruh Kris kemarin. Ia lalu melihat posisi Hana yang sudah bergerak meninggalkan hotel Grace.
Tangannya lalu bergerak mengambil hpnya dan menelpon Kris.
"Halo bos" ucap Kris dari seberang.
^^^"Kamu dimana?" tanya Arsen to the point.^^^
"Biasa bos sedang mengikuti wanita tua itu dari jauh" jawab Kris.
^^^"Heemmm! Jangan sampai dia tahu kamu membuntutinya" ucap Arsen memperingati.^^^
"Tenang saja bos. Aku tadi mengajak Lista jadi partner aku untuk mengoceh dia"
^^^"Oke. Jaga diri kalian berdua"^^^
"Siap bos"
Arsen mematikan panggilannya sepihak karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Meski Arsen terlihat dingin dan kejam tapi ia sangat memperhatikan anak buah mereka yang sudah ia anggap sebagai keluarganya.
Ting.......tong.........tong...............
Ia menekan bel apartemen sang bos sebelum masuk karena tadi ia berada didepan kamar Denis. Tak berselang lama mbok Erna membukakan pintu untuk Arsen dan menyuruhnya segera ke ruang kerja sang tuan.
"Selamat pagi bos" sapa Arsen saat masuk ke dalam ruang kerja Denis.
"Kirim semua laporan dari perusahaan pusat dan cabang" titah Denis sambil berkutat dengan laptop didepannya.
"Baik bos"
Arsen segera berkutat dengan laptopnya untuk mengirim laporan yang diminta oleh Denis. Keduanya lalu menghabiskan waktu didalam sana dengan setumpuk pekerjaan yang tidak akan pernah habis.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
2 Jam kemudian
Denis meregangkan tangannya ke atas setelah berkutat dengan pekerjaannya. Setelah sarapan tadi ia langsung berkutat dengan pekerjaannya didalam ruang kerjanya tidak ada waktu untuk berhenti sejenak.
"Apa ada perkembangan dengan nenek tua itu?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Dia baru saja melakukan pertemuan rahasia dengan mafia asal Argentina untuk membalas dendam kepada bos" jawab Arsen melihat informasi dari Kris.
"Hehehehe! Jadi dia ingin balas dendam ya" ucap Denis sambil terkekeh.
"Iya bos. Bos pasti tidak akan sangka siapa mafia yang ia temui" ucap Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Who?" tanya Denis dengan alis sebelah terangkat.
"Barnabas Mukito" jawab Arsen.
Hahahahaha.................
Tawa Denis seketika pecah mendengar siapa orang yang diajak kerja sama oleh Hana Massimo. Barnabas Mukito, adalah seorang mafia yang melakukan bisnis prostitusi terbesar disana sekaligus dia juga gerbong narkoba terbesar di Argentina.
Yang membuat Denis tertawa saat mendengar nama musuhnya bukan karena dia seorang mafia juga, tapi Denis tahu orang licik seperti Barnabas yang tidak akan memberikan penawaran murah untuk membantu seseorang.
"Jangan bilang nenek tua itu menjadikan dirinya sebagai bayaran kepada Barnabas" tebak Denis.
"Benar sekali tebakanmu bos" ucap Arsen membenarkan.
"Sepertinya kita harus berburu malam ini" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Aku sudah tidak sabar tunggal malam bos" balas Arsen sambil tersenyum lebar.
"Beritahu Sean malam nanti kita akan berburu"
"Oke bos"
Arsen segera keluar dari sana untuk memberitahu Sean menyuruhnya menyiapkan anak buah mereka. Mereka akan berburu malam ini tapi bukan berburu binatang melainkan berburu manusia.
"Apa suamiku masih kerja Arsen?" tanya Leila saat Arsen sampai di bawah.
"Iya nyonya" jawab Arsen.
"Oh"
Arsen segera pergi dari sana tak membalas ucapan Leila lagi. Ia lalu masuk ke dalam kamar ingin melihat apa anaknya sudah bangun atau belum.
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Leila melihat putranya yang sudah membuka mata di atas ranjang.
"Heeemm" dengan Kai sambil mengangguk kepalanya.
Leila naik ke atas ranjang yang langsung di peluk oleh Kai dengan sangat erat. Ia mengelus kepala sang putra yang terlihat masih mengantuk.
"Ayo bangun dan mandi nak" ajak Leila.
"Papa?" tanya Kai dengan mata sayu.
"Papa lagi kerja sayang" jawab Leila dengan suara lembut sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
"Au andi baleng papa"
"Mandi sama mama ya atau mbok saja karena papa masih sibuk sayang" bujuk Leila.
"No. Mau ama papa" kekuh Kai.
"Ayolah nak kan papa masih kerja jadi tidak bisa temani kamu mandi Kai"
Leila memutar malas matanya melihat kelakuan sang anak yang sangat bossy di umur sekecil ini. Benar-benar mirip sama papanya tidak ada beda sedikit pun.
~ D&A Resto ~
Steven sedang berada didalam ruang kerja sang istri dan sedang menelpon. Amira yang masuk ingin mengajak suaminya agar segera pulang, mengurungkan niatnya hendak berbicara.
lebih baik aku diam saja takutnya itu rekan kerja suamiku, batin Amira.
Melihat istrinya sudah datang tak berkata apa-apa Steven menuju Amira dan langsung merengkuh pinggangnya dengan posesif. Tak sampai situ ia juga melabuhkan sebuah ciuman singkat di bibirnya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Kamu apa-apaan sih mas" ketus Amira dengan mata melotot tajam.
Steven tersenyum lebar tanpa dosa membuat Amira semakin menatapnya dengan tajam.
^^^"Baiklah serahkan semua yang ada isi ke uncle"^^^
"............"
^^^"Tenaga saja kami baik-baik saja disini dan aman"^^^
"..............."
^^^"Uncle akan meminta bantuan kepada Pablo juga"^^^
Steven menyimpan hpnya di atas meja karena telpon mereka sudah selesai. Amira menatap suaminya dengan tatapan bingung, meminta penjelasan mengenai siapa yang barusan menelpon.
"Denis yang nelpon sayang" ucap Steven dengan suara lembut.
"Denis kenapa sayang? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Amira dengan panik.
"Sayang tenangkan dirimu" ucap Steven.
"Tenang gimana sih mas! Aku takut mereka kenapa-napa disana!" bentak Amira dengan mata berkaca-kaca.
Grep..................
Steven menarik istrinya ke dalam pelukannya sambil mengelus punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.
Belum juga aku cerita kamu sudah panik seperti ini sayang, batin Steven.
Merasa istrinya sudah lebih tenang ia lalu menceritakan semua yang terjadi kepada Denis dan keluarganya selama di Amerika. Ia juga memberitahu apa yang ia bicarakan dengan Denis tadi.
"Kenapa kamu tidak cerita sama aku mas?" tanya Amira dengan suara dingin.
"Maaf sayang bukannya aku tidak mau memberitahumu tapi aku tidak ingin hal ini menganggu konsentrasinya" jawab Steven.
"Bukannya 3 hari belakangan ini kamu sedang sibuk dengan pesanan katering untuk 3 acara nikahan berturut-turut sayang" tambahnya lagi mengingatkan sang istri yang sibuk belakangan ini.
"Maaf mas" ucap Amira dengan sesal.
"Iya sayang. Ke depan jika aku melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai tolong beritahu aku ya sayang" ucap Steven sambil memeluk istrinya.
"Iya mas"
Ceklek..................
"Oh come on dad mom. Apa aku harus menunggu kalian semalam di mobil" cerca Zeus dengan kesal.
Bagaimana tidak ia sudah di mobil hampir 1 jam menunggu orang tuanya. Ternyata mereka malah sedang bermesraan.
"Ckk!! Ganggu saja" decak Steven dengan kesal.
"Ayok mas kita pulang" ajak Amira dengan malu-malu.
Ketiganya lalu pulang dengan satu mobil, sampai di luar Zeus mengerutkan keningnya melihat ada begitu banyak anak buah sang kakak yang berdiri sekitar restoran.
Zeus melirik daddynya bertanya apa yang terjadi, tapi di balas daddynya dengan isyarat mata kalau ia akan memberitahu setelah sampai di rumah.
~ Mansion Utama Massimo ~
"Semua cucuku berada di depan pintu gerbang?" tanya Linda dengan kaget.
"Iya nyonya" ucap pelayan.
"Lalu kenapa kalian tidak membuka gerbang untuk cucu-cucuku" ucap Linda dengan bingung.
"Maaf nyonya tapi tuan memberi perintah untuk tidak mengijinkan semua keluarga Massimo baik orang tua dan anak-anak untuk masuk ke dalam mansion nyonya" papar pelayan tadi menjelaskan.
"Ceoat buka gerbang dan suruh semua cucuku untuk masuk" titah Linda dengan suara tegas.
"Baik nyonya"
Linda tak habis pikir dengan jalan pikir suaminya yang tidak masuk akal sama sekali. Bukannya mereka itu cucu mereka sendiri, tapi mereka di perlakukan seperti orang asing.
"Aku yakin suamiku menyembunyikan banyak hal tentang keluarga besar kami dari aku" gumam Linda dengan yakin.
"NENEK...........hiks hiks hiks" pekik semua cucu Linda dengan suara melengking saat memasuki mansion.
Loh mereka kenapa menangis, batin Linda dengan bingung.
~ Markas A Black Devil ~
Denis berpangku kaki di kursi kebesarannya sambil menatap semua anak buahnya dengan tatapan membunuh.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Meski waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 tapi mereka bukannya tidur malah mereka sedang bersiap untuk berburu.
"Jeky kamu jaga istri dan anakku" titah Denis.
"Oke bos" jawab Jeky.
"Bos semuanya sudah siap" lapor Arsen.
"Ayok kita berangkat" ucap Denis dengan aura membunuh.
"baik bos"
Denis bangun sambil memaki topeng wajahnya diikuti semua anak buahnya. Aura kekuasaan dan mengintimidasi menguar didalam sana membuat suasana terasa sangat mencekam.
"DIBUNUH ATAU MEMBUNUH. INGATLAH ADA ORANG-ORANG TERCINTA KITA YANG MENUNGGU KITA PULANG JADI JANGAN MEMBUAT MEREKA SEDIH" ucap Denis dengan suara lantang.
"HIDUP LORD DEVIL" seru semua anak buah Black Devil dengan suara lantang.
"BLACK DEVIL" teriak Denis dengan suara lantang.
Drum...........drum.........drum..........
Mobil box dengan keamanan tinggi berlalu keluar dari markas A Black Devil. Leila menatap kepergian sang suami dari lantai 3 dengan perasaan cemas dan takut.
"Pulanglah buat kami sayang" ucap Leila penuh harap.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..................