
Seperti yang ia katakan tadi siang jika malam ini Denis akan makan malam dirumahnya dan sedari pulang dari restoran, ia segera menyiapkan makanan kesukaan anaknya dibantu bi Eda dan juga Clara.
“Akhirnya selesai semua” ucap Clara dengan senang.
“Iya jeng. Terima kasih ya jeng sudah bantu aku menyiapkan makan malam untuk kita semua” ucap Amira sambil tersenyum manis.
“Sama-sama jeng. Lagian ini juga sudah menjadi kebiasaan aku kalau di Italia jeng jadi rasanya ganjil kalau sehari aja tidak masuk dapur” balas Clara sambil mengibaskan tangannya.
“Benar itu jeng. Aneh rasanya jika setiap hari di dapur dan sehari saja tidak masuk dapur”
Keduanya lalu saling bercerita tentang kegiatan sehari mereka selama ini. Seila yang hendak masuk ke dapur untuk mengambil minum menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang mommy.
Masuk dapur setiap hari ya! Selama aku hidup bisa dihitung dengan jari berapa kali mommy masuk ke dapur apa lagi memasak, batin Seila tersenyum getir mendengar semua kebohongan yang mommynya ucapkan.
Seila memutuskan untuk kembali ke kamar yang ia tempati selama di rumah tante Amira, dari pada mendengar semua kebohongan yang mommynya katakan.
Sampainya didalam kamar matanya tertuju ke tas yang ia pakai pergi tadi tak mendapati gantungan kunci favoritnya yang paling ia sukai, karena terdapat tangan tangan semua member BTS disana dan hanya di produksi sebanyak 10 buah saja.
“Dimana gantungan kunci favoritku” ucap Seila dengan panik.
Ia membongkar seluruh isi tas dan kopernya mencari gantungan kuncinya tapi tidak menemukannya didalam sana. Air matanya menetes merasa sangat kehilangan barang yang susah payah ia beli dari hasil tabungan uang jajannya selama ini.
Sedangkan diluar Seina kembarannya tersenyum bahagia saat mendengar ucapan kedua orang tuanya didalam kamar saat ia hendak masuk.
Ia tidak menyangka jika kedatangan mereka kesini bukan hanya ingin mengunjungi keluarga uncle Demian yang sudah lama dicari daddynya, tapi ternyata ada maksud lain juga yang akan daddynya sampaikan malam ini.
Tepat pukul 19:30 mobil Denis akhirnya tiba di rumah sang mama ditemani Arsen, Sandro, dan Rian, karena malam ini mereka akan pergi ke markas untuk membahas rencana mereka buat Kenzo.
“Selamat datang den Denis, den Arsen, den Sandro, dan den Rian” ucap bi Eda menyambut keempatnya didepan pintu.
“Hay bi apa kabar?” tanya Rian dengan suara dingin.
“Baik den Rian” jawab bi Eda.
“Wah bibi makin cantik aja” puji Sandro.
“Ah! Den Sandro bisa aja” ucap bi Eda dengan malu-malu.
“Beneran loh bi. Wajah bibi aku perhatikan semakin cantik dan awet muda” ucap Sandro.
“Aduh den Sandro mujinya ketinggian. Tapi mungkin benar juga sih soal bibi di belikan perawatan kulit yang mahal banget sama nyonya den Sandro” pekik bi Eda dengan antusias.
Arsen menggelengkan kepalanya melihat Sandro yang tidak pernah alpa sekali pun menggoda bi Eda jika datang kesini. Sedangkan Denis ia hanya menatap mereka dengan wajah datar dan dingin, tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan keduanya.
“Dimana mama?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Ah! Nyonya sedang menunggu aden di ruang keluarga” jawab bi Eda dengan kaget.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis segera masuk ke dalam tak membalas ucapan bi Eda diikuti oleh ketiga orang kepercayaannya. Sampai di ruang keluarga wajah datarnya mengerut melihat lima orang berwajah khas bule yang tak ia kenali.
Matanya menatap Sandro dengan tajam bertanya kenapa ia tidak di beritahu jika ada orang asing di rumah mamanya. Sandro yang mengerti tatapan bosnya menggelengkan kepalanya memberitahu jika ia juga tidak mengetahui tentang hal ini.
“Kamu sudah datang nak” ucap Amira sambil bangun memeluk anaknya.
“Heeemmm” deham Denis membalas pelukan mamanya.
Wajahnya menatap kelima orang didepannya dengan tatapan mengintimidasi, membuat mereka semua menelan saliva mereka dengan susah merasakan aura yang sangat kuat.
Auranya lebih mengerikan dari Demian, batin Roy.
Jadi ini anaknya jeng Amira ya. Tampan dan sempurna, batin Clara berdecak kagum melihat penampilan Denis.
Oh my God. Tampan sekali anak tante Amira! Dia tipe aku banget, batin Seina yang sangat terpesona.
Bukannya dia yang aku tabrak di restoran tadi, batin Seila yang kaget melihat Sandro disana.
Sandro, Arsen dan Rian juga dibuat kaget dengan kelima tamu di rumah sang nyonya, karena mereka tidak mengenali semuanya. Sesaat mata hitam Sandro menangkap wajah dua gadis yang sama persis dengan gadis yang ia tabrak di restoran.
Ia menatap keduanya dengan tatapan selidik mencari tahu siapa yang sudah ia tabrak tadi siang. Bibirnya tersenyum lebar mengetahui siapa diantara mereka yang ia tabrak tadi.
Jadi kamu tamu nyonya ya kucing kecil, batin Sandro dengan senang.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri” bisik Arsen yang melihat Sandro senyum seperti orang gila.
“Aku menemukan kucing kecilku” ucap Sandro dengan suara pelan.
“Hah! Kucing” gumam Arsen dengan bingung sambil mencari kucing yang dimaksud Sandro.
Amira yang tahu pasti anaknya sedang bertanya-tanya siapa orang-orang ini mengajaknya duduk terlebih dahulu untuk memperkenalkannya dengan mereka semua.
“Denis kenalin ini keluarga Martinez dari Italia. Om Roy Martinez adalah sahabat papa kamu sejak mereka kecil hingga dewasa” ucap Amira dengan suara lembut sambil menunjuk Roy.
“Halo Denis senang berjumpa denganmu. Ternyata kamu dan Demian sangat mirip ya seperti pinang di belah dua” ucap Roy sambil tersenyum lebar.
“Oh ya kenalkan ini istri om namanya tante Clara dan ketiga anak om mereka Simon, Seina, dan Seila” tambahnya lagi sambil memperkenalkan keluarganya.
“Heemmm” deham Denis dengan malas membuat Amira merasa malu kepada tamu-tamunya, karena sifat sang anak yang sangat dingin kepada orang lain.
“Halo ka Denis. Senang bertemu dengan kakak! Ternyata kakak aslinya lebih tampan ya dari di foto” ucap Seina dengan suara centil.
“Cih! Jalang” decih Denis dengan suara pelan.
Amira melotot mendengar ucapan putranya itu dan langsung menatapnya dengan tajam, memperingatinya untuk tidak berbicara seperti itu didepan tamunya dan beruntung mereka tidak mendengarnya.
Denis yang melihat tatapan mata mamanya hanya memutar malas matanya seakan tidak perduli, karena apa yang tidak disukainya ia tidak akan pernah menyukainya. Seperti keluarga Martinez yang belum dipastikan apa benar ucapan mereka.
“Jangan terlalu cepat percaya kepada orang baru ma” ucap Denis dengan suara tegas.
“Mama tahu nak. Tapi mereka memang sahabat papa kamu nak” ucap Amira dengan suara tak kalah tegas.
“Om tahu kamu tidak akan percaya begitu saja dengan ucapan om Denis” potong Roy membuat keduanya langsung menatapnya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Roy tersenyum manis membalas tatapan datar dan dingin Denis yang sedari tadi tidak pernah tersenyum. Ia lalu menaruh beberapa foto didepan Denis untuk membuktikan kalau ucapannya benar.
“Itu adalah foto-foto kami sejak kecil hingga masuk ke perguruan tinggi” ucap Roy.
“Kamu bisa konfirmasi kepada keluarga Massimo mengenai kebenaran foto-foto itu anak muda” balas Roy dengan suara tegas.
“Jika anda memang sahabat papaku berarti anda tahu hubungannya dengan keluarga sialan itu” ucap Denis dengan suara dingin.
“Ya om tahu Denis. Tapi hanya mereka yang bisa membuktikan kebenaran foto-foto itu” balas Roy dengan suara tegas.
Denis tersenyum smirk melihat cara bicara om Roy yang mulai terlihat berbeda dari sebelumnya dan ia yakin kalau sifat aslinya tertutupi dengan senyum lembut di bibirnya sama seperti Austin Smith.
Ingin main-main denganku ya, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.
“Lebih baik kita makan dulu sebelum makanannya jadi dingin” ajak Amira.
Semuanya segera beranjak menuju meja makan dan saat Seila ingin pergi tangannya di tahan oleh Sandro. Ia menatap Sandro dengan penuh tanda tanya bertanya apa maksudnya ia menahan tangannya.
“Ikut aku” bisik Sandro segera menarik tangan Seila.
Rian yang sempat melihat keduanya menuju taman samping mengerutkan keningnya bertanya apa yang dilakukan Sandro dengan gadis itu.
“Loh dimana Seila?” tanya Clara tak mendapati putri keduanya di meja makan.
“Ke kamar mandi mommy” jawab Seila dengan cepat.
“Arsen dimana Sandro?” tanya Amira.
“Dia lagi nerima telpon di luar nyonya” jawab Rian.
“Oh” ucap Amira dengan percaya.
Arsen mengangkat alisnya sebelah menatap Rian tak percaya dengan ucapannya barusan, tapi dibalas kedipan mata oleh Rian memberitahunya jika sebentar baru ia ceritakan.
~ Zeus Club ~
“Senang bekerja sama dengan anda Mr. A” ucap Riski Akbar sambil tersenyum lebar.
“Heemmm! Pastikan kalian menyiapkan semua keinginanku tepat waktu” ucap Mr.A dengan suara dingin dan tegas.
“Pasti Mr.A! Anda tidak akan kecewa sudah bekerja sama dengan geng Elang Putih” balas Riski Akbar dengan suara tegas.
“Heemmm”
Riski Akbar dan anak buahnya segera pergi dari sana setelah berhasil mendapat kerja sama dengan mafia Crown.
Melihat rekannya sudah pergi orang yang dipanggil Mr. A tadi segera membuka topengnya begitu juga dengan tangan kanannya, karena mereka tidak ingin indentitas mereka diketahui oleh dunia bawah.
“Beritahu anak buah kita untuk tetap waspada dengan orang itu karena dia orang yang sangat licik” titah Austin dengan suara dingin.
“Baik bos” ucap Kenneth dengan cepat.
“Bos anak buah kita tadi melapor jika mereka melihat Roy Martinez sekeluarga berada di Indonesia” lapor Kenneth.
“Siluman rubah itu juga ada disini?” tanya Austin dengan cepat.
“Iya bos” jawab Kenneth.
“Buat apa dia datang kesini? Apa di Italia dan Eropa sudah tidak ada mangsa lagi jadi dia masuk ke wilayah Asia?” tanya Austin dengan penasaran.
“Suruh anak buahmu mengikuti dia dan cari tahu kenapa dia kesini” titah Austin dengan suara tegas.
“Aku sudah menyuruh anak buahku menyelidikinya tadi bos. Mungkin sebentar lagi kita sudah mendapat jawabannya” balas Kenneth dengan cepat.
“Good” (bagus)
“Tutup semua informasiku disini jangan sampai si rubah tua itu tahu” tambahnya lagi dengan suara tegas.
“Iya bos”
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Kenneth segera berkutat dengan hpnya menghubungi hacker mereka, sedangkan Austin ia menyesap vodka dengan pikiran berkelana memikirkan apa maksud kedatangan Roy Martinez disini. Karena dia sangat membencinya yang sudah menggagalkan bisnisnya di Italia.
~ Kediaman Baker ~
Saat ini Leila sedang menceramahi adiknya karena sudah membuat keributan di Deluxe Casino dan beruntung tidak ada korban jiwa hanya beberapa barang yang hancur.
“Kamu tahu dek kakak baru kali ini haru menginjakan kaki disana! Kakak bukan kesana untuk senang-senang seperti yang kamu lakukan tapi untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat” ucap Leila dengan suara tegas.
“Maaf ka” ucap Arkan dengan wajah memelas.
“Kakak tidak melarangmu untuk senang-senang di luar sana tapi jangan membuat masalah dek” keluh Leila sambil mengurut keningnya yang sakit mengurus adiknya itu.
“Maafkan aku ka” lirih Arkan dengan mata berkaca-kaca.
Phew………………
Leila membuang napasnya dengan kasar tak bisa memarahi adiknya jika sudah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Ia menggerakkan tangannya menyuruh Arkan untuk mendekat.
“Jangan diulangi ya dek” ucap Leila dengan suara lembut sambil mengelus kepala Arkan dengan lembut.
“Iya ka” ucap Arkan sambil memamerkan giginya karena tahu Leila tidak marah lagi.
Pak Jordi yang melihat keduanya tersenyum bahagia merasa senang karena keduanya sudah berbaikan kembali. Apa lagi melihat perubahan tuan muda kedua, yang sudah tidak takut lagi keluar sendiri dan tidak menjadi anak introvert lagi.
“Pak Jordi ada 2 mobil polisi yang ingin masuk di gerbang depan” lapor seorang petugas keamanan kepadanya.
“Periksa mereka dulu sebelum diijinkan masuk” titah pak Jordi dengan suara tugas.
“Baik”
Pak Jordi segera menuju ke depan mansion untuk mencari tahu apa maksud kedatangan mereka, sebelum memberitahu Leila selaku orang yang bertanggung jawab di mansion ini.
Semoga mereka tidak membawa berita buruk, batin pak Jordi dengan gelisah.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue…………………..