
Bulan sudah berganti dengan matahari menandakan hari baru telah tiba, mata Leila perlahan terbuka dan langsung di sambut dada telanjang suaminya yang sedang memeluk dirinya dengan sangat erat.
Selalu saja tidur tidak pernah pakai baju, batin Leila sambil meraba dada suaminya.
Ia terkekeh melihat kening suaminya yang mengerut merasa terganggu tidurnya. Leila terus mengelus dada suaminya hingga tak sadar kalau suaminya sudah membuka matanya.
Denis tersenyum menyeringai melihat kelakuan istrinya dan tiba-tiba memegang tangan istrinya membuat Leila kaget.
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Leila dengan kaget.
"Kamu harus bertanggung jawab sudah membangunkannya sayang" ucap Denis dengan suara serak.
"Membangunkan siapa sayang?" tanya Leila dengan bingung.
"Sayang" pekik Leila dengan mata melotot saat Denis menaruh tangannya di in**nya yang sudah membesar di bawah sana.
Tak berkata apa-apa Denis segera menerkam istrinya dan membuat istrinya lelah tak berdaya pagi ini di bawahnya.
"I Love you my wife" ucap Denis setelah mendapat pelepasan.
"I love you too husband" balas Leila dengan suara pelan.
Denis memeluk istrinya dan mengelus kepalanya dengan lembut membuat Leila kembali tertidur karena kelelahan melayani hasrat suaminya pagi ini.
Perlahan-lahan Denis melepas pelukannya dan berjalan dengan tubuh telanjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri Denis segera masuk ke dalam walk on closet dan memilih pakaian untuk ke perusahaan.
Sebelum pergi ia menulis note dan menaruhnya di meja samping ranjang, tak lupa mencium kening istrinya yang masih tidur dengan nyenyak.
"Selamat pagi tuan" ucap pak Tio dengan sopan di lantai satu.
"Heeemm! Siapkan sarapan" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik tuan"
Pak Tio segera memberi isyarat untuk memberitahu koki menyiapkan sarapan buat tuan mereka. Denis memakan sarapan dengan hening dan hanya seperempat saja karena lidahnya tidak cocok dengan masakan koki selain istri dan mamanya.
"Siapkan makanan bergizi untuk istriku dan jangan lupa vitamin dan suplemen untuknya" titah Denis sebelum pergi.
"Baik tuan" jawab pak Tio dengan sopan.
Denis segera masuk ke dalam mobil setelah Sandro membukakan pintu mobilnya untuknya. Saat didalam mobil ia lalu mengambil hpnya yang belum ia buka sejak bangun.
+628xxxxxxxxx
"Langit malam"
"Dimana Arsen?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Sedang dalam perjalanan ke perusahaan bos" jawab Sandro.
"Suruh dia lacak nomor yang mengirim pesan kepadaku semalam" titah Denis dengan tegas.
"Oke bos"
Sandro segera mengambil hpnya dan mengirim pesan ke Arsen yang langsung dibalas Ok oleh Arsen saat itu juga.
Selang 10 menit hp Denis berdering ada panggilan masuk dan ternyata itu adalah Arsen.
^^^"Heemmmm"^^^
"Dia ingin bertemu dengan bos secara pribadi"
^^^"Siapa?"^^^
"Dia tidak memberitahu namanya bos dan aku jamin dia tidak akan membahayakan bos"
^^^"Apa yang dia janjikan ke kamu?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^
"Hacker yang mengirim email itu kepadaku bos selama ini"
^^^"Heemmm! Jam 12:00 tepat di ruanganku"^^^
"Baik bos"
^^^"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sebelum dia datang kan"^^^
"Ya aku tahu bos"
Denis lalu mematikan panggilan sepihak tak membalas ucapan Arsen.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
Denis diam dan segera memeriksa email masuk lewat iPad supaya sampai kantor ia tinggal menandatangani laporan saja.
~ DA Corp ~
Sampainya di perusahaan Arsen sudah menunggu Denis didepan pintu masuk setelah mendapat pesan tentang kedatangan Denis dari Thomas.
"Selamat pagi bos" ucap Arsen dan bagian keamanan didepan perusahaan.
Denis tak membalas sapaan Arsen dan segera masuk ke dalam perusahaan diikuti Arsen, Sandro dan pengawal pribadinya. Tanpa Denis dan lainnya sadari ternyata ada seorang pria yang sedang menatap mereka dari ruang tunggu sambil tersenyum smirk.
"Kita akan bertemu sebentar lagi anak sialan" ucap Alan Draw sambil tersenyum smirk.
"Selamat datang presdir" ucap Rian saat Denis tiba dan ikut masuk ke dalam ruangannya.
"Kosongkan jadwalku saat jam makan siang" titah Denis sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Baik presdir" jawab Rian sambil mencatat semua perintah Denis.
"Jangan lupa beritahu mamaku untuk mengirimkan makan siang nanti"
"Baik presdir"
Rian lalu menaruh beberapa laporan di atas meja Denis dan segera keluar karena sudah tidak ada lagi keperluan disana. Tersisa Arsen dan Sandro yang mendengar perintah dari Denis untuk masalah pekerjaan dan markas.
Saat ini Denis sedang mempelajari laporan proposal yang baru saja dibawa oleh Rian ke ruangannya. Saat membaca nama AD Group keningnya mengerut apa lagi saat membaca nama direktur dari perusahaan tersebut.
"Alan Draw" gumam Denis seperti tidak asing dengan nama tersebut.
Tak berselang lama ia segera mengirim pesan ke Arsen untuk mengirimkan semua data Alan Draw setelah mengingat dimana ia pernah membaca nama tersebut.
Denis segera membaca email dari Arsen dan tak berapa bibirnya tersenyum menyeringai setelah membaca informasi Alan Draw yang ternyata berhubungan dengan Sanches George.
"Menarik! Jadi kalian ingin bermain-main denganku ya" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Datang ke ruanganku" ucap Denis menelan interkom.
Tok.........tok.........tok............
"Masuk" ucap Denis dengan suara dingin saat pintunya di ketuk.
Ceklek.................
"Presdir memanggil saya?" tanya Rian dengan sopan setelah masuk ke dalam ruangan Denis.
"Beritahu direktur Steven untuk menerima proposal dari AD Group dan juga kirim proposal Archile Company ke DA Construction" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik presdir"
"Ah! Untuk AD Group suruh direktur Steven untuk bermain licik dengan perusahan mereka" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Maka dari itu kita akan bermain dengan perusahaan mereka. Tapi terlebih dahulu biar mereka senang dulu sebelum mereka jatuh di titik paling dasar" balas Denis sambil tersenyum licik.
"Baik presdir" jawab Rian yang sudah paham maksud Denis.
"Jam 12:00 tepat kamu jemput seseorang yang akan bertemu denganku. Bawa dia langsung ke ruanganku!" titah Denis dengan suara tegas.
"Kalau boleh tahu siapa namanya bos?" tanya Rian.
"I don't know? Kamu tanya ke Arsen" jawab Denis dengan santai.
"Baik presdir"
Rian segera keluar dan melakukan perintah Denis tak lupa melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11:00 tepat. Berati 1 jam lagi ia harus turun ke bawah untuk menjemput tamu Denis.
Kring..........
Mata Rian tertuju ke hpnya yang berdering ada panggilan masuk dengan nama Anisaโค๏ธ yang membuat sudut bibirnya terangkat.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
^^^"Halo sayang" ucap Rian dengan suara lembut.^^^
"Halo mas. Aku ganggu Ngak mas?" tanya Anisa dengan suara lembut dari sebrang.
^^^"Ngak sayang memangnya ada apa?" tanya balik Rian.^^^
"Aku cuma mau beritahu kalau makanan presdir sudah menuju ke sana di antar oleh pelayan yang bernama Rina ya mas. Ada 4 papar bag ya mas dan itu untuk presdir, mas, tuan Sandro, dan tuan Arsen mas" jawab Anisa menjelaskan.
^^^"Baiklah sayang"^^^
"Ah! Satu lagi mas untuk presdir papar baqnya warna hitam karena itu makanan khusus yang diminta nyonya muda untuk presdir tadi"
^^^"Lalu untuk mas apa ada yang beda sayang?" tanya Rian dengan cepat.^^^
"Untuk mas didepan papar bagnya ada pita. Itu tadi aku yang masak sendiri mas" jawab Anisa dengan malai-malu dari seberang.
^^^"Ah! Mas udah tidak sabar ingin mencicipinya"^^^
"Iya mas dan semoga mas suka ya"
^^^"Pasti sayang"^^^
"Ya sudah mas. Kalau begitu aku lanjut kerja dulu ya mas"
^^^"Iya sayang. Ingat jangan lupa makan sayang"^^^
"Pasti mas"
^^^"Bye sayang"^^^
"Bye mas"
Rian menaruh kembali hpnya dan sudah tidak sabar menunggu makanan kiriman dari sangat pacar. Ya ternyata Rian dan Anisa memutuskan untuk berpacaran dari 2 bulan yang lalu.
~ BakerTech ~
Leo yang barusan mendapat informasi dari anak buahnya segera berlari menuju ke ruangan Rayen untuk memberitahukan informasi tersebut.
Brak.............
"Beraninya kamu masuk tanpa mengetuk pintu Leo!" hardik Rayen dengan suara menggelegar sambil menatap Leo dengan tajam.
Glek...........
Leo menelan salivanya dengan susah merasa gugup melihat tatapan sang tuan yang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Maa.....f tuan" ucap Leo dengan terbata-bata.
"Sebaiknya informasi yang kamu bawa penting. Jika tidak" ucap Rayen memperingatinya sambil memperagakan memotong leher.
Leo tak berkata apa-apa dan segera menaruh hpnya didepan Rayen. Melihat hal tersebut tak bertanya lagi Rayen segera mengambil hp asisten sekaligus tangan kanannya untuk melihat informasi apa yang ingin ia sampaikan.
"Jadi dia sudah berani menginjak kakinya di wilayah kekuasaan aku ya" ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.
"Benar tuan. Menurut informasi anak buah kita ternyata ia sampai ke tanah air tadi malam tuan"
"Hehehe! Dante Constanzo. Sudah lama kita tidak bertemu dan aku tidak akan melepasmu kali ini sialan!" ucap Rayen dengan tatapan penuh kebencian.
"Cari tahu dimana dia sekarang dan apa maksud dia datang kesini" titah Rayen dengan suara dingin.
"Baik tuan"
"Ah! Aku rasa tidak perlu. Kosongkan jadwalku nanti malam" ucap Rayen dengan cepat.
"Apa anda yakin tuan? Bukannya kita harus mencari tahu apa tujuannya kesini tuan?" tanya Leo dengan cepat.
"Ya kita akan mencari tahu dan malam nanti kita akan mengetahuinya" jawab Rayen sambil tersenyum smirk.
Ehh..............
Leo tercengang tak mengerti dengan jalan pikir sang tuan. Rayen yang melihat asistennya seperti sangat penasaran dan masih bingung hanya tersenyum smirk.
Sebenarnya apa sih yang tuan pikirkan, batin Leo penuh tanda tanya.
~ Venue Hotel ~
Hahahaha................
Tawa Alan Draw menggelegar didalam sana saat asistennya memberitahu kalau proposal mereka diterima oleh perusahaan Denis.
Ia tidak menyangka jika akan sangat mudah untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan Denis. Apa lagi proposal yang ia tawarkan itu adalah proposal yang tidak menguntungkan untuk pihak DA Corp.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
"Aku tidak menyangka ia akan menerima dengan mudah proposal aku" ucap Alan sambil tersenyum menyeringai.
"Sepertinya mereka memang sangat mudah untuk dibodohi tuan" ucap asistennya yang bernama Dio.
"Kamu salah Dio. Mereka itu tidak mudah dibodohi tapi mereka ingin kita masuk ke dalam perangkap mereka" balas Alan dengan cepat.
"Hah! Maksud tuan?" tanya Dio dengan penasaran.
"Mereka akan memakai kesempatan ini untuk masuk ke dalam perusahaan aku dan menghancurkan perlahan-lahan" jawab Alan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Dio dengan panik.
"Buat proposal kerja sama yang baru dan saat bertemu dengan perwakilan mereka katakan kalau proposal pertama kita adalah kesalahan kita dan kita baru mengetahuinya setelah proposal kita di terima" jawab Alan dengan suara tegas.
"Baik tuan saya akan segera menyuruh tim perencanaan membuat proposal yang baru" ucap Dio sambil pamit berlalu pergi.
Alan tersenyum smirk menatap ke luar jendela memikirkan Denis yang ternyata sangat licik dan teliti seperti papanya.
Ini akan sangat menarik, batin Alan sambil tersenyum lebar.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
To be continue.............