
Tes……………..
Air mata Amira mengalir dengan deras melihat anaknya yang sudah 6 bulan tak bertemu, apa lagi penampilan anaknya yang berubah drastis persis seperti mendiang suaminya.
“Denis...........hiks hiks hiks” lirih Amira dengan isak tangis.
Denis tersenyum hangat menatap sang mama membuat Amira dengan cepat berlari menuju anaknya dan langsung memeluknya dengan erat, sambil menumpahkan semua kerinduannya dan menangis histeris dalam pelukan sang anak.
“Aku sudah pulang ma” bisik Denis dengan suara lembut sambil membalas pelukan mamanya dengan erat.
“Mama sangat merindukanmu nak” ucap Amira dengan sesegukan.
“I know mom. Aku juga merindukan mama” (aku tahu mama) balas Denis dengan suara lembut.
Setelah beberapa saat Denis melepas pelukannya dan mengajak sang mama untuk masuk ke dalam mansion. Sandro dan Rian lalu bergegas memeluk bos mereka dan juga Arsen karena sudah lama mereka tidak bertemu.
“Selamat ya bos untuk pembukaan kantor cabangnya dengan sukses” ucap Sandro sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Heemmm” deham Denis kembali ke wajah datar dan dingin seperti biasa.
“Bos aku senang akhirnya bos kembali dengan selamat” ucap Rian.
“Heeemmm”
“Kamu bocah empat mata! Perubahanmu semakin membuat aku berdecak kagum saja bocah! Hahahaha” ucap Sandro sambil tertawa menepuk pundak kokoh Arsen.
“Terima kasih” balas Arsen dengan suara dingin dan wajah datar.
“Selamat datang kembali tuan” ucap pak Liam dan para pelayan dengan serentak menunduk memberi hormat kepada Denis.
“Bagaimana keadaan mansion selama aku pergi?" tanya Denis dengan suara dingin.
“Semua baik-baik saja tuan” jawab pak Liam dengan sopan.
“Heemmm”
Amira lalu mengajak mereka semua masuk ke dalam mansion untuk menikmati makanan yang sudah ia siapkan sedari pagi tadi, saat mendengar anaknya akan pulang hari ini.
Selesai makan Denis dan lainnya duduk di ruang keluarga untuk berbincang meski lebih banyak Amira, Sandro, dan Rian yang berbicara.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan waktu sudah menunjukkan pukul 18:00, sebelum Sandro dan Rian pulang Denis menyuruh keduanya untuk masuk ke ruang kerjanya membahas beberapa hal penting.
Sedangkan Arsen ia sudah pulang lebih dahulu, karena akan bertemu dengan mama dan kedua kakaknya yang sudah 6 bulan tak bertemu. Amira yang masih merindukan anaknya memilih untuk menginap disana malam ini.
“Bagaimana dengan perusahaan dan bank milikku?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Perusahaan dan bank baik-baik saja bos dan malah semakin berkembang pesat. Untuk kantor cabang kita di Jepang, Singapura, dan Hongkong sudah beroperasi seperti biasa bos” papar Sandro menjelaskan sambil menunjukkan grafik saham di perusahaan pusat dan cabang.
“Apa bangunan perusahaan yang aku suruh kalian beli sudah kalian kerjakan?” tanya Denis dengan tatapan tajam.
“Sudah beres semuanya bos dan bangunan serta tanah itu sudah dibalik atas nama bos” jawab Rian sambil menyodorkan map coklat berisi data kepemilikan tanah dan bangunan.
“Heemmm”
“Bos kalau boleh tahu bangunan itu akan bos apakan? Apa lagi lokasinya bersebelahan dengan hotel Baker milik BakerTech bos?" tanya Sandro dengan penasaran.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Mulai bulan depan Konstruksi DA Corp akan pisah dari perusahaan induk. Aku ingin bangunan itu yang menjadi perusahaan DA Construction disana karena dalam beberapa bulan DA Corp akan masuk ke daratan Eropa” papar Denis dengan suara tegas.
“Kita akan melebarkan sayap ke daratan Eropa bos?” tanya Sandro dengan kaget.
“Heemmmm”
“Berarti DA Corp hanya akan menjadi perusahaan induk yang mengontrol semua proyek perusahaan cabang kita bos” tebak Rian.
“Benar! DA Corp hanya akan menjalankan proyek di bidang tambang batu bara, property, dan minyak bumi” ucap Denis dengan suara tegas.
Sandro dan Rian diam mendengar ucapan bos mereka dan mereka sudah berpikir jika mulai besok pekerjaan mereka akan semakin banyak dari biasanya.
“Jadwalkan meeting besok tepat jam 09:00 pagi dengan semua direktur di DA Corp” titah Denis dengan suara tegas.
“Baik bos” jawab keduanya dengan serentak.
“Bagaimana dengan sialan itu? Kapan waktu pembayaran pinjamannya?” tanya Denis dengan tatapan berkilat tajam.
“Besok adalah waktu batas terakhir mereka harus mengembalikan 20% pinjaman mereka bos” jawab Sandro sambil melihat data-data penting di iPad miliknya.
“Jam 12 malam batas waktu mereka mengembalikan dana pinjaman mereka” ucap Denis dengan suara tegas.
“Baik bos” ucap Rian dengan suara tegas.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan jika lewat waktunya” ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
“Aku tahu bos” balas Rian sambil tersenyum penuh arti.
“Kalian boleh pulang” titah Denis.
“Baik bos. Kami pamit bos dan selamat beristirahat” ucap keduanya dengan serentak.
Denis diam tak menjawab ucapan keduanya, ia hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan dingin dan datar memikirkan seseorang yang sebentar lagi akan dia hancurkan.
Sudah cukup kamu merasa senang sialan karena mulai lusa hari-hari penderitaan kamu akan dimulai, batin Denis dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian.
Tok……………tok………….tok……………
Denis menuju ke pintu saat mendengar ketukan, karena didalam ruang kerja pribadinya kedap suara dan ia harus membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
“Maaf menganggu tuan” ucap pak Liam dengan menunduk sopan.
“Ada apa?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Tuan sudah di tunggu nyonya besar di meja makan untuk malam tuan” jawab pak Liam dengan sopan.
“Beritahu mama aku akan mandi terlebih dulu” titah Denis dengan suara dingin.
“Baik tuan”
Denis segera berlalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri tak ingin membuat mamanya menunggu terlalu lama di meja makan.
~ Kediaman Sanjaya ~
Phew……………
Arsen membuang napas dengan kasar melihat bangunan didepannya yang sudah 6 bulan tidak pernah ia datangi.
Mata hitamnya berkilat tajam melihat mobil yang sangat ia kenali dan ia yakin pasti didalam sana sedang terjadi keributan seperti biasa.
Prang…………….prang………….prang………………
“Ayah aku mohon jangan pukul ibu lagi” lirih Riana kakak pertama Arsen dengan memohon tak sanggup melihat ibu mereka yang selalu di pukul ayah mereka tiap kali ia pulang.
“Minggir kamu sialan! Biar aku beri pelajaran ke wanita tua ini yang sudah berani menganggu wanitaku!” bentak Surya Sanjaya dengan suara tinggi.
“Mas aku tidak pernah menganggu wanitamu itu” ucap Bella dengan suara pelan.
Mata tajam Arsen berkilat penuh amarah melihat kekacauan didepannya, apa lagi melihat wajah sang ibu yang sudah babak belur karena dipukul ayahnya.
“HENTIKAN” teriak Arsen dengan suara bergema membuat mereka semua seketika terdiam.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Bella, Riana, dan Isti kaget melihat kedatangan Arsen saat ini, apa lagi penampilan Arsen yang berubah drastis tidak seperti Arsen yang mereka kenali dulu.
Arsen yang saat ini berdiri di depan mereka adalah sosok Arsen yang dewasa dan memiliki aura yang tak kenal takut jika berhadapan dengan lawannya.
“Arsen…………..hiks hiks hiks” lirih mama dan kedua kakaknya dengan sendu.
“Ckk!! Tahu pulang juga kamu” decak Surya dengan sinis sambil menatap tajam putranya itu.
“Untuk apa anda datang kesini tuan Surya Sanjaya yang terhormat” balas Arsen dengan suara dingin dan tegas.
Deg……………..
Jantung Surya berdetak dengan cepat mendengar suara putranya, yang baru kali ini berbicara tegas dengannya dan tidak ada ketakutan dan gugup seperti biasa ketika mereka berhadapan.
Apa ini anak culunku yang membuat aku selalu malu, batin Surya dengan penasaran.
“KELUAR” hardik Arsen dengan suara tinggi.
“Kamu usir ayah?” tanya Surya dengan mata melotot kaget.
“Ayah saya sudah tidak ada lagi semenjak dia datang bersama selingkuhan dan anaknya itu” jawab Arsen dengan suara tegas.
“Kamu” tunjuk Surya dengan emosi.
“Mulai detik ini anda di larang datang kesini karena ini bukan rumah anda melainkan rumah opa dari ibu saya” ucap Arsen dengan suara dingin dan tegas.
“Anak sialan kamu! Ini rumah aku juga dan aku berhak atas rumah ini berengsek” teriak Surya dengan suara menggelegar.
“Berhak?"
"Apa anda lupa tuan Surya Sanjaya yang terhormat rumah ini atas nama ARSEN SANJAYA! Karena itu wasiat terakhir opa saya sebelum beliau meninggal. Dengan artian saya adalah pemilik sah rumah ini dan bukan tukang selingkuh seperti anda sialan!” bentak Arsen dengan suara tinggi.
Duar…………….
Tubuh Surya menegang bagai disambar petir karena untuk pertama kali ia dibentak oleh putra kandungnya sendiri.
Selama 27 tahun ia tidak pernah mendengar bentakan putranya dan baru kali ini ia merasakan dibentak oleh putranya.
“Kamu bentak ayah?” tanya Surya dengan kaget.
“Sekarang juga anda keluar dari rumah saya sebelum saya menyuruh satpam mengusir anda dengan paksa” usir Arsen dengan suara tegas sambil menunjuk pintu keluar.
“Kamu akan jadi anak durhaka karena sudah mengusir ayah kamu seperti ini!” bentak Surya.
“Saya akan menjadi anak durhaka jika melihat ibu saya yang menjadi korban kekerasaan ayah saya sendiri dan saya hanya diam saja tidak berbuat apa-apa untuk membela ibu saya” ucap Arsen dengan tatapan berkilat tajam.
Surya menatap anaknya dengan tatapan tajam dan emosi sambil berjalan keluar, karena tidak ingin diseret oleh satpam. Saat akan sampai di pintu depan langkahnya terhenti mendengar ucapan Arsen.
“Beritahu selingkuhan anda untuk tidak memfitnah ibu saya jika tidak saya akan membuat dia tidak bisa berbicara untuk selamanya! Satu lagi besok surat perceraian ibu saya akan sampai ke atas meja kantor anda” ucap Arsen dengan suara tegas.
Surya kaget bukan main mendengar hal tersebut dan ia ingin kembali masuk tapi ia urungkan saat melihat kedua satpam yang sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Mau tak mau ia pun harus pergi dari sana meski ia ingin bertanya mengenai ucapan Arsen barusan.
Sial! Anak sialan itu berani membentak dan mengusirku, batin Surya dengan kesal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Arsen apa maksud kamu nak?” tanya Bella setelah suaminya pergi.
“Ibu dengar dengan jelas semua ucapan aku bu” jawab Arsen dengan suara dingin.
“Tapi ibu tidak pernah memikirkan tentang perceraian nak”
“Memangnya ibu mau terus dipukul oleh orang itu dan terus disakiti. Aku tahu selama ini ibu bertahan untuk kami bertiga bu tapi aku mohon ibu harus memikirkan kebahagian ibu juga” pinta Arsen dengan suara lembut.
“Apa yang dibilang Arsen benar bu. Kami akan bahagia jika ibu juga bahagia meski keluarga kita tidak utuh seperti dulu lagi bu” tambah Riana sambil menggenggam tangan ibunya.
“Jadi ibu harus bercerai dengan ayah kalian?” tanya Bella.
“Karena itu memang yang terbaik buat keluarga kita bu. Ayah sudah memilih selingkuhannya dan meninggalkan keluarganya bu jadi kita juga harus bangkit dan jangan terpuruk dalam masa lalu bu” ucap Isti dengan bijak.
“Tidak selamanya perceraian itu buruk bu. Ada kalanya perceraian itu bisa membuat seseorang lebih bahagia karena ia bisa terlepas dari rasa sakit di dalam hatinya bu” ucap Arsen dengan suara lembut.
Bella diam memikirkan ucapan ketiga anaknya karena memang selama ini ia bertahan hanya untuk ketiga anaknya, tapi ternyata ketiga anaknya merasa tidak bahagia melihat ia dipukul seperti itu oleh ayah mereka sendiri.
“Phew! Baiklah ibu akan ikut keinginan kalian” ucap Bella sambil membuang napasnya dengan kasar.
“Terima kasih bu” ucap ketiganya dengan serentak sambil memeluk sang ibu.
Semoga keputusan aku kali ini benar, batin Bella merasa ada suatu beban berat yang terlepas dari hatinya.
~ Bandar Udara Soekarno Hatta ~
Kaki jenjangnya menuruni tangga jet pribadi milik kakaknya dengan pelan sambil menghirup udara malam di kota Jakarta yang sudah lama ia rindukan.
“Akhirnya aku bisa menghirup udara Jakarta lagi” ucap seorang gadis cantik berumur 24 tahun dengan suara lembut dan merdu.
Ia melihat suasana malam disekitar bandara merasa bersyukur, karena selama 2 tahun menjalani operasi mata di Jerman akhirnya ia bisa melihat lagi.
Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah orang yang selama ini ia ingin lihat karena wajah itu yang memberinya semangat untuk bisa melihat lagi.
“Denis Arkana” gumam gadis cantik itu dengan suara lembut.
“Kakak ngapain disitu. Ayok cepat turun aku sudah ngantuk ka” ucap seorang pria tampan sambil menunduk melihat banyak orang di luar sana.
“Ayok adikku sayang. Sekarang kamu tidak perlu lagi menuntun kakak karena kakak yang akan menuntunmu” ajak gadis cantik itu dengan suara lembut.
“Aku bukan anak kecil” ketus pria itu dengan suara sangat pelan.
Kakaknya hanya bisa tersenyum getir melihat adiknya yang masih saja penakut jika bertemu banyak orang, hanya dengan dia dan kakak tertua mereka ia bisa berbicara bebas dan tidak takut.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………..