Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 186


Eehh..................


Pablo tercengang mendengar pertanyaan Amira barusan. Otaknya berkelana memikirkan maksud Amira dengan mengingat padang hijau yang dimaksudnya.


Padang hijau yang mana ya, batin Pablo berpikir keras.


"Maaf tapi aku tidak bisa mengingatnya" ucap Pablo dengan sopan.


"Uhm! Apa mungkin nyonya punya fotonya? Siapa tahu saya bisa mengingatnya setelah melihat foto yang nyonya maksud?" tanya Pablo lagi.


"Saya tidak punya fotonya. Kebetulan saya melihat foto itu di dompet milik almarhum suami saya saat itu" jawab Amira dengan suara lembut.


"Saya masih mengingat wajah anda persis seperti orang didalam foto itu bedanya foto itu diambil saat suami saya masih muda" tambahnya lagi dengan antusias menyebut nama sang suami.


Deg...................


Jantung Pablo berdetak dengan cepat mendengar ucapan Amira. Otaknya langsung tahu foto apa yang dimaksud olehnya karena hanya ada dua foto saja yang seperti itu.


Dengan cepat ia mengambil dompetnya dan mengambil foto yang selalu ia simpan dan bawa kemana pun ia pergi selama ini.


"Apa maksud nyonya foto ini?" tanya Pablo sambil memberikan foto tersebut.


Amira mengambilnya dan kaget melihat foto tersebut.


"Benar ini fotonya" jawab Amira dengan kaget.


"Ma coba dong aku mau lihat fotonya" pinta Leila yang juga penasaran.


Amira segera memberikan foto itu kepada sang menantu. Leila mengambilnya dan saat ia melihat foto itu ia kaget karena orang didalam foto itu persis seperti suaminya.


"Sayang ini kan kamu" tunjuk Leila dengan kaget.


"Benar bos. Orang didalam foto ini mirip sekali dengan bos" ucap Arkan yang melihat foto itu juga.


"Itu bukan aku" ucap Denis dengan singkat.


"Hah! Kamu yakin sayang? Ini beneran mirip sama kamu loh sayang?" tanya Leila yang belum puas dengan jawaban suaminya.


"Itu foto jadul sayang dan kualitasnya sangat berbeda dengan kualitas foto saat ini. Jadi tidak mungkin itu aku sayang" bantah Denis dengan cepat.


"Benar juga sayang" balas Leila menyetujui ucapan suaminya.


"Itu memang bukan Denis sayang, karena orang di foto itu adalah papanya" ucap Amira dengan suara lembut.


"Apa ma" pekik Arkan dengan suara tinggi.


Bugh.............


"Ka Arsen" sarkas Arkan dengan kesal sambil mengelus kepalanya yang dipukul Arsen barusan.


"Telinga aku sakit sialan!" bentak Arsen dengan tatapan tajam.


Arkan menggerutu tak membalas ucapan Arsen karena tidak ingin dipukul lagi. Melihat hal itu Leila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik yang selalu saja membuat orang lain kesal.


"Foto itu adalah aku dan sahabatku Demian Arkana satu-satunya. Kami mengambil foto itu saat baru saja menyelesaikan misi pertama kami" ucap Pablo sambil tersenyum tulus menceritakan kisah mereka.


"Pantes saja aku merasa tidak asing dengan wajah tuan" ucap Amira.


"Pablo. Panggil saja saya Pablo tidak perlu memakai tuan nyonya" balas Pablo dengan cepat.


"Baiklah. Tapi kamu juga panggil saya Amira tidak usah nyonya. Lagian kamu adalah sahabat mendiang suamiku jadi tidak usah formal" ucap Amira dengan suara lembut.


"Baiklah Amira" balas Pablo sambil tersenyum lebar.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Vito yang baru kali ini melihat sang bos tersenyum dengan lebar merasa sangat senang. Ia tahu sejak kematian sang nyonya, bosnya itu seakan kehilangan gairah hidup tapi beruntung ada tuan muda dan nona muda yang menjadi alasan untuknya tetap hidup.


Denis lalu menyuruh mama dan istrinya untuk segera tidur karena sudah hampir tengah malam. Sedangkan dia dan lainnya bergegas masuk ke dalam ruang kerja Denis karena ada sesuatu yang ingin mereka bahas.


"Jadi ada apa kamu manggil om kesini Denis?" tanya Pablo to the point setelah berada didalam ruang kerja.


"Arsen" panggil Denis sambil mengangguk kepalanya memberi isyarat.


"Apa anda mengenal orang ini?" tanya Arsen dengan suara dingin sambil memperlihatkan video orang yang tadi mereka tangkap di hotel.


Pablo dan Vito melihat video itu dengan teliti merasa tidak asing dengan wajah itu. Tak lama keduanya saling melirik dan mengangguk kepala seakan sudah tahu siapa dia.


"Dia salah satu anak buah kepercayaan Roy Martines yang sangat jago menembak dari jarak jauh" ucap Pablo.


"Kirim mayatnya ke mansion pak tua itu sekarang" titah Denis dengan suara dignin.


"Oke bos" jawab Sandro segera mengirim pesan kepada Max.


"Arkan kamu pimpin pasukan kita serang markas Luca Othello besok malam"


"Oke bos aku siap" ucap Arkan dengan senang.


"Jangan lupa kirim kepala orang itu ke pak tua itu" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Serahkan padaku bos" balas Arkan sambil tersenyum lebar.


"Jangan sampai kepalanya cacat" ucap Denis memperingatinya.


"Uhm! Akan aku usahakan bos"


"Bos sebaiknya suruh Jeki atau Max untuk mengawasinya" usul Sandro yang langsung mendapat polotan tajam dari Arkan.


"Ya aku setuju dengan Sandro bos" tambah Arsen.


Berengsek! Bilang aja kalian syirik tidak bisa bermain-main seperti aku, batin Arkan sambil menggerutu dam hati.


"Terserah" ucap Denis dengan suara dingin.


"Biar anak buah om ikut membantu bocah itu Denis" ucap Pablo.


"Lakukan seperti yang om mau. Bukannya dia itu jadi urusan om" ucap Denis dengan suara dingin dan datar.


"Heemmm"


"Maaf ya kakek nama aku itu Arkan bukan bocah!" ketus Arkan dengan tatapan sinis.


"Aku bukan kakek kamu!" ketus Pablo dengan sinis.


"Memang anda bukan kakek aku karena kakek aku karena tidak seperti kakek" ketus Arkan.


"Kamu" tunjuk Pablo dengan rahang mengeras.


"Pak tua tidak usah pedulikan bocah itu karena memang dia itu sedikit gila" ucap Arsen.


"Tutup mulutmu sialan! Beraninya kamu memanggilku pak tua!" bentak Pablo dengan suara tinggi.


"DIAM!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


Semuanya diam tidak ada yang berbicara saat melihat kemarahan di wajah Denis. Tatapan mata coklat Denis seakan ingin membunuh mereka saat itu juga jika mengeluarkan suara.


Memang benar kok situ itu sudah tua tapi tidak mau mengakuinya, batin Arsen sambil mencibir menatap Pablo.


Sialan kamu berengsek! Rasanya aku ingin memotong lidahmu itu yang sudah berani memanggilku pak tua, batin Pablo dengan tatapan berkilat tajam.


Denis lalu menyuruh mereka semua pulang karena sudah tidak ada lagi yang ingin mereka bahas. Apa lagi saat membaca pikiran mereka, ia tahu jika keduanya akan semakin menjadi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


~ Markas Black Damon ~


Waktu berlalu dengan sangat cepat dan saat ini Denis sedang menonton aksi Arkan dan pasukannya bersama anak buah Pablo yang menyerang markas Luca Othello.


Bukan tanpa alasan ia menyerang markas Luca Othello, karena penyerangannya kemarin malam itu semua karena Luca Othello yang mengirim anak buahnya dan para gangster di kota ini.


Hahahahaha...............


Tawa Denis seketika pecah melihat aksi Arkan yang sedang bermain dengan tubuh Luca. Sandro, Arsen, Max, dan Mark yang berada di belakang Denis hanya diam saja.


Mereka berkali-kali menelan saliva dengan susah mendengar tawa Denis yang terdengar sangat menakutkan.


"Beritahu Arkan untuk membakar markas dia hingga rata dengan tanah" titah Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Baik bos" ucap Arsen segera mengambil hpnya menelpon Jeky.


"Bos ada laporan dari direktur Steven jika dia sudah melakukan perintah bos didalam perusaan Alan Draw" lapor Sandro.


"Hubungi direktur Steven" titah Denis dengan suara dingin.


Sandro segera menghubungi direktur Steven sesuai perintah Denis barusan. Pada panggilan kedua direktur Steven langsung menjawab panggilan itu dari seberang.


"Halo presdir" ucap direktur Steven dengan sopan dari seberang.


^^^"Kacaukan manajemen keuangan mereka dan suruh anak buahmu untuk mempublikasikan semua kecurangan mereka" titah Denis.^^^


"Baik presdir"


^^^"Besok pagi tepat jam 10:00 aku mau berita itu sudah menyebar di publik"^^^


"Siap presdir. Besok pagi jam 08:00 kami akan meeting bersama dengan direktur Draw presdir"


^^^"Lakukan seperti bisanya dan jangan sampai dia curiga dengan apa yang kalian lakukan"^^^


"Baik presdir"


Denis segera mematikan panggilannya sepihak tak membalas ucapan direktur Steven. Ia sudah tidak sabar ingin melihat kejatuhan Alan Draw sekaligus besok pagi dan juga ini semua ia lakukan untuk membuat Roy Martinez disana semakin emosi.


Ini baru permulaan pak tua, batin Denis sambil tersenyum smirk.


~ Mansion Martinez ~


Prang.............prang............prang............


Bunyi benda pecah didalam ruang kerja Roy Martinez bergema dilantai dua. Seina dan sang mommy yang sedari tadi mendengar hal itu merasa sangat ketakutan tak berani menemui suami dan daddy mereka.


"Mommy apa yang terjadi sama daddy?" tanya Seina dengan takut.


"Mommy juga tidak tahu sayang. Tapi sudah dua hari berturut-turut daddy kamu selalu emosi saat mendapat paket sayang" jawab Riana menjelaskan.


"Paket apa sih mom?" tanya Seina dengan penasaran.


"Mana mommy tahu sayang. Hanya daddy dan kepala pelayan yang tahu isi paket itu sayang" jawab Riana dengan cepat.


"Aku jadi penasaran isi paket itu mom sampai membuat daddy menghancurkan semua barang didalam ruang kerjanya" ucap Seina dengan penasaran.


"Orang yang terlalu banyak ingin tahu biasanya mati muda loh" ucap Simon mengagetkan keduanya.


"Kakak!" pekik Seina dengan mata melotot tajam.


Simon tersenyum sinis menatap keduanya tidak perduli jika keduanya adalah mommy dan adikmu kandungnya.


Sejak kejadian di mansion waktu itu, Simon sudah tidak respek lagi dengan keluarganya. Ia hanya menganggap jika Seila adalah keluarganya saat ini.


"Simon kenapa kamu bicara sepeti itu ke adik kamu!" bentak Riana.


"Aku cuma memberitahunya saja mom. Lagian apa yang aku bilang itu benar kok" balas Simon dengan suara dingin.


Ia berlalu masuk ke dalam kamar tidak memperdulikan tatapan mommy dan adiknya yang seakan ingin membunuhnya.


Saat melewati ruang kerja sang daddy ia sempat melihat kotak sedang berwarna hitam yang sedang dipegang kepala pelayan.


Aku yakin pasti itu kiriman dari Denis lagi, batin Simon dengan sangat yakin.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.................