
Jantung Geby berdetak dengan cepat mendengar ucapan tante Bella barusan. Matanya menoleh ke belakang sebelum keluar melihat Arsen yang berwajah datar dan dingin seperti biasa.
Jadi ka Arsen dijodohkan ya? Aku yakin ka Arsen menerimanya apa lagi wanita yang dijodohkan dengan ka Arsen sangat cantik dan dewasa, batin Geby sambil tersenyum getir.
Matanya berkaca-kaca mendengar pujaan hatinya yang di jodohkan. Dengan sekali kedip saja air matanya akan meluncur dengan bebas.
Sedangkan Arsen ia sedang menahan emosinya saat ini agar tidak sampai menyakiti sang ibu. Entah kenapa pandangannya tiba-tiba melirik ke arah pintu dan mendapati Geby dengan mata berkaca-kaca.
Sial, batin Arsen dengan kesal saat melihat Geby sudah buru-buru pergi.
"Halo Arsen. Senang bisa bertemu dengan kamu dan kenalkan aku Sari" ucap Sari dengan suara lembut sambil tersenyum manis menatap Arsen.
"Sari" ucap Arsen sambil tersenyum smirk.
"Iya nama aku Sari Mahendra" balas Sari dengan senang saat Arsen tersenyum.
Ia pikir Arsen tersenyum karena menyukainya tetapi ia salah. Sedangkan Bella yang melihat senyuman putranya merasa takut, karena ia tahu arti senyuman itu.
Arsen ibu mohon jangan menyakiti Sari nak, batin Bella menatap putranya dengan tatapan memohon.
"Arsen dia ini sahabat kakak dari SMA dan dia ini putri tunggal dari om Toni Mahendra. Kamu masih ingatkan sama om Toni" ucap Isti dengan semangat.
"Toni Mahendra pemilik hotel Naka" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Kamu benar dek" balas Isti sambil tersenyum manis.
"Kamu tahu Arsen di umur 24 tahun Sari sudah menjadi manajer keuangan di hotel ayahnya. Bahkan dia juga menyelesaikan gelar S2 sambil bekerja. Pokoknya dia ini wanita idaman setiap laki-laki Arsen dan kamu tidak akan menyesal mengenalnya lebih dalam lagi" tambahnya lagi dengan antusias.
Arsen tersenyum menyeringai mendengar kakaknya yang terus memuji Sari. Tanpa mereka sadari kalau sedari tadi Arsen tidak mendengar penjelasan kakaknya dan menganggap itu hanya angin lalu saja.
"Jadi gimana Arsen? Kamu mau kan kalau mengenal lebih jauh tentang Sari?" tanya Isti dengan penuh harap.
"Kamu teman ka Isti berarti seumuran dengan ka Isti?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Iya kita seumuran Arsen" jawab Sari dengan malu-malu.
"Berarti aku harus panggil kamu kakak dong" seru Arsen dengan wajah polos.
"Ah! Tidak Arsen. Cukup Sari saja" ucap Sari dengan cepat.
"Tapi itu tidak sopan. Iya kan Bu?" tanya Arsen penekanan menatap sang ibu yang sedari tadi diam.
"Uhm! Memang tidak sopan nak kalau memanggil orang yang lebih tua dari kita dengan nama saja" jawab Bella.
"Bu" protes Isti dengan mata melotot mendengar ucapan sang ibu.
Hehehehe...........
Arsen terkekeh membuat ketiganya langsung menatap ke arahnya. Mereka merasa merinding mendengar kekehan Arsen yang terdengar sangat menakutkan.
"Tapi menurut kakak umur tidak penting dalam menjalani sebuah hubungan Arsen. Asalkan keduanya bahagia dan saling mencintai" ucap Isti.
"Tapi tidak untuk aku ka" balas Arsen dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Maksud kamu?" tanya Isti dengan gugup.
"Aku tidak suka perempuan yang lebih dari aku" jawab Arsen dengan tegas.
Duar...............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Bagai di sambar petir tubuh ketiganya mematung mendengar ucapan Arsen barusan. Sedangkan Arsen ia menatap kakak dan ibunya bergantian dengan tatapan tajam.
"Berengsek!" umpat Sari dengan emosi menahan malu.
"Sari" ucap Isti dengan mata melotot.
Brak...............
Sari membanting pintu dengan keras saat keluar, bahkan ia tidak pamit dengan Isti dan Bella. Ia pergi dengan rasa malu karena ucapan Arsen yang menolaknya mentah-mentah dengan alasan umur.
"Ide siapa ini?" tanya Arsen dengan tatapan tajam.
"Ar......sen" panggil Bella dengan gugup sambil menunduk.
"Ini semua ide kakak Arsen" ucap Isti.
"Sejak kapan kakak ikut campur dengan urusan pribadi aku?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Maaf Arsen kakak hanya ingin kamu dekat dengan perempuan saja karena selama ini kamu tidak pernah membawa pacar ke rumah" jawab Isti menjelaskan.
"Kakak yakin hanya itu? Tidak ada maksud lain lagi?" tanya Arsen dengan mata memicing.
"Beneran Arsen hanya itu tujuan kakak" jawab Isti sambil meremas kedua tangannya.
"BUKANNYA KARENA SUAMI KAKAK DIJANJIKAN POSISI DIREKTUR PEMASARAN DI HOTEL PEREMPUAN SIALAN ITU" hardik Arsen dengan suara melengking.
Huaawaa................
Tangis anak Isti seketika pecah saat mendengar suara Arsen barusan. Sedangkan Isti ia sudah gemetar ketakutan karena Arsen sudah mengetahui maksudnya yang sebenarnya.
"Beraninya kakak ingin menjodohkan aku. Memangnya selama ini apa aku selalu ikut campur dalam urusan pribadi kak Isti!" bentak Arsen dengan emosi.
"Arsen tenangkan dirimu" ucap Bella dengan ketakutan.
"DIAM!" bentak Arsen dengan suara tinggi.
"Aku peringatkan sekali lagi kalian melakukan perjodohan sialan seperti ini lagi, maka aku tidak akan pernah berbicara dengan kalian" ucap Arsen memperingati ibu dan kakaknya.
Brak.............
Arsen membanting pintu dengan kuat saat keluar dari sana. Amira yang baru saja keluar dari ruangannya sampai kaget melihat hal itu.
Ada apa dengan anak itu, batin Amira dengan bingung.
Arsen segera pergi dari sana dengan emosi memilih ke markas untuk melampiaskan kekesalannya. Sebelum itu ia mengirim pesan kepada Sandro dan kalau dia tidak balik lagi ke perusahaan.
~ Kediaman Baker ~
Bunyi berisik di dapur milik Rayen sedari tadi tidak berhenti. Ditambah dengan kata-kata umpatan dan makian dari seorang pria tampan didalam sana.
"Ka Ad jangan lampiaskan emosi kakak ke ayam itu. Kasian nanti ayamnya tidak bisa di makan ka" ucap Arkan di bar dapur.
"Diam kamu bocah! Lebih baik kamu tutup mulutmu jika tidak aku akan menganti ayam ini dengan kamu" hardik Adrian dengan emosi sambil menunjuk Arkan dengan pisau daging.
"Ckk!! Ka Ad menyebalkan" decak Arkan dengan kesal.
Brak.............
Adrian kembali memotong ayam didepannya dengan kuat. Arkan sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adrian.
Berengsek kamu Denis! Anak kamu itu memang menyusahkan. Belum lahir saja dia sudah membuat aku kesusahan, batin Adrian dengan mulut komat-kamit.
2 Jam kemudian
Hampir dua jam Adrian berkutat di dapur hanya untuk membuatkan pesanan bumil yang ngidam ingin makan ayam bakar buatannya.
Meski butuh waktu lama tapi akhirnya Adrian berhasil membuatkan pesanan Leila. Dengan kesal ia menaruh piring berisi beberapa potong ayam didepan Leila.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Yang ikhlas ngasihnya" sarkas Denis dengan suara dingin.
"Ckk!! Lebih baik kamu diam saja gunung es!" hardik Adrian dengan kesal.
Bugh................
"Berengsek kamu Denis!" bentak Adrian dengan kesal karena pukulan di kepalanya.
"Sayang jangan berantem. Aku itu mau makan bukan mau lihat kalain berantem" ketus Leila dengan bibir mengerucut.
"Ayok makan sayang jangan perdulikan artis gila ini" ajak Denis sambil tersenyum manis.
"Hey sialan aku itu bukan artis lagi" sarkas Adrian dengan kesal.
Denis memberinya jari tengah sambil tersenyum smirk membuat Adrian ingin memukul wajah dingin sahabatnya itu.
"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Denis sambil membersihkan mulut istrinya dengan tisu.
"Kamu coba sendiri saja sayang" jawab Leila sambil menyuapi suaminya.
"Lumayan" ucap Denis merasakan ayam bakar buatan Adrian.
"Cih! Kalau tidak ikhlas kasih nilai masakan aku lebih baik tidak usah sialan" ketus Adrian dengan sinis.
Denis dan Leila tidak menanggapi ucapan Adrian karena sibuk dengan ayam bakar didepan mereka. Sedangkan Arkan ia sedang menelpon Mark di dekat kolam renang mengajaknya ke club nanti malam.
"Wah enak banget ya" ucap Rayen yang baru pulang kantor sambil bersedekap tangan di dada.
Denis, Leila, dan Adrian menoleh melihat Rayen yang baru datang tapi sedetik kemudian ketiganya malah kembali berbalik seakan tidak perduli dengannya.
"Sialan! Begini caranya kalian menghargai tuan rumah ya!" bentak Rayen dengan mata melotot tajam.
"Dude kamu dengar anjing menggonggong tidak?" tanya Adrian.
"Ya suaranya sangat jelek buat kuping aku sakit" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Rayen.
"Bangsat kalian berdua! Beraninya kalian mengatai aku anjing sialan!" bentak Rayen dengan kesal.
"Yang bilang kamu anjing siapa Rayen? Aku rasa kamu harus memeriksa telingamu ke dokter" ucap Adrian dengan wajah polos.
"Sialan kamu Adrian. Kamu..." ucap Rayen yang langsung dipotong Leila.
"Kakak berisik! Lebih baik kakak pergi aja deh!" bentak Leila dengan kesal.
"Dek ini rumah kakak juga loh" ucap Rayen dengan mata melotot.
"Memangnya yang bilang ini bukan rumah kakak siapa?" tanya Leila dengan sinis.
"Phew! Suka-suka kamu saja dek" jawab Rayen sambil membuang napasnya dengan kasar.
Rayen lalu menyuruh pak Jordi membuatkan segelas kopi pahit untuknya. Selama di meja makan Rayen dan Adrian terus mengumpat melihat kemesraan pasangan suami istri di depan mereka.
"Ka dimana ka Claudia?" tanya Leila setelah mereka pindah ke ruang santai.
"Dia bersama mama dan kedua adiknya di apartemen kakak" jawab Rayen.
"Oh"
"Jadi kalian bakal nikah 1 minggu setelah pertunangan?" tanya Adrian.
"Heemm" deham Rayen sambil mengangguk kepalanya.
"Kenapa tidak langsung nikah saja sih. Bukannya kamu akan kerja dobel jika pertunangan dan pernikahan kamu hanya selang seminggu saja" usul Adrian.
"Menurut aku ucapan Adrian ada benarnya ka" tambah Leila setuju.
"Iya juga ya. Kalau begitu besok aku suruh Leo untuk menyiapkan acara pernikahan aku satu minggu lagi" ucap Rayen sambil mengetuk jarinya di dagu.
"Sebaiknya kamu suruh Arkan untuk bantu Leo urus pernikahanmu dari pada dia nganggur" ucap Denis saat melihat Arkan datang.
"Jangan berani menyuruh aku ya ka. Aku lagi banyak kerjaan" protes Arkan dengan suara melengking.
"Loh bukannya barusan Denis bilang kamu itu hanya nganggur saja. Berarti saat ini kamu tidak ada kerjaan bocah" ucap Adrian.
"Ka Adrian diam deh tidak usah ikut campur" ketus Arkan dengan sinis.
"Arkan Luis Baker" ucap Rayen dengan tatapan mengintimidasi.
Glek................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............