
Denis menatap kepergian Roy Martinez beserta keluarganya dari jendela ruang kerjanya. Mata coklatnya menatap Roy dengan tajam saat Roy berbalik dan melihat ke lantai dua.
Keduanya saling bertatapan mengibarkan bendera permusuhan. Masing-masing sudah memiliki rencana balas dendam dalam diri mereka.
Jangan pikir aku tidak tahu kalau sebelum datang ke sini kamu sempat bertemu dengan adik papa aku, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Bos" panggil Sandro.
"Sejak kapan?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Saat kita pertama kali bertemu dengan mereka di sini bos" jawab Sandro yang tahu ke arah mana pembicaraan mereka.
"Kamu tahu dia itu anak siapa kan?" tanya Denis berbalik menatapnya dengan tajam.
"Aku tahu bos. Aku tetap akan perjuangkan dia dan tidak perduli dia anak siapa bos karena hati aku sudah memilihnya" jawab Sandro dengan suara tegas.
Denis menatapnya dengan tajam mencari kebohongan di matanya tapi tidak ada. Ia tahu jika kali ini Sandro serius menjalin hubungan dengan Seila.
"Kamu harus berjuang keras karena daddynya bukan lawan yang mudah" ucap Denis dengan suara tegas.
"Ya aku tahu bos"
"Suruh mereka masuk" titah Denis dengan suara tegas.
"Iya bos"
Sandro segera keluar dan menyuruh Arsen dan Arkan untuk masuk ke dalam ruang kerja Denis. Adrian yang penasaran apa yang akan mereka bicarakan juga ikut masuk ke dalam.
"Kenapa kamu juga masuk Adrian?" tanya Sandro dengan bingung.
"Pengen aja" jawab Adrian dengan santai menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Sandro tak membalas ucapan Adrian lagi karena malas berdebat dengan Adrian yang tidak pernah perduli dengan ucapan orang lain.
Sedangkan Denis ia bersedekap tangan di dada sambil menatap mereka semua dengan wajah datar dan dingin.
"Jadi bisa kalian jelaskan kenapa Riski Akbar sudah berada di perut Leon dan lainnya" ucap Denis dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Bocah kamu yang jawab" bisik Sandro menatap Arsen.
Arsen menatap Sandro dengan wajah datar melihat isyarat kepala Sandro yang menyuruhnya memberitahu Denis apa yang terjadi.
Bibir Arsen tersenyum menyeringai memikirkan sebuah ide licik di kepalanya.
"Sandro akan menjelaskan semuanya bos" ucap Arsen sambil tersenyum smirk menatap Sandro.
Mata Sandro melotot mendengar ucapan Arsen barusan. Ia tidak menyangka jika Arsen akan berpikir licik seperti itu.
"Iya bos. Suruh aja ka Sandro jelaskan semuanya karena semua ini ulah dia bos" tambah Arkan mendukung Arsen.
Sialan kedua bocah ini, batin Sandro dengan kesal menatap keduanya.
Sedangkan yang di tatap tersenyum lebar seakan menertawainya. Mau tak mau Sandrolah yang harus menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi dengan Riski Akbar malam tadi.
"Ini semua karena ulah aku bos" ucap Sandro.
"Lalu?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Aku tidak bisa mengontrol emosi aku semalam karena baru tahu jika Ara waktu itu di perkosa olehnya saat bekerja di kasino Adrian bos" jawab Sandro dengan lirih.
"Apa" pekik Adrian dan Arsen dengan kaget.
"Jadi anak ka Ara adalah siluman ular itu" ucap Arkan dengan suara tinggi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Semuanya lalu menatap Arkan dengan tatapan tajam tak suka mendengar ucapannya barusan. Sedangkan Arkan hanya terkekeh saja sambil memamerkan giginya.
"Sorry kalau aku salah bicara" ucap Arkan memilih minta maaf.
"Sebaiknya kamu diam saja bocah" ketus Sandro dengan sinis.
"Ckk!!" decak Arkan dengan bibir mengerucut ke depan.
"Sudah berdebat?" tanya Denis dengan suara dingin.
Arkan dan Sandro menunduk tak berani menatap Denis karena tahu bos mereka sedang dalam mood tidak baik.
"Jadi karena itu kamu membunuhnya dan memberikan jasadnya ke peliharaan aku?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Benar bos. Aku sangat marah dan dendam memikirkan dia yang sudah memperkosa adik aku bos! Maaf jika aku melakukan sesuatu tidak sesuai perintah bos" papar Sandro dengan suara tegas.
"Not problem. Lagian itu juga bisa membuat anak-anak aku semakin gemuk" ucap Denis sambil tersenyum penuh arti.
"Eh! Iya bos" ucap Sandro dengan lega.
Adrian menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pikiran sahabatnya itu. Denis dan lainnya lalu membahas situasi semalam dimana anak buah Riski Akbar sudah di amankan oleh polisi.
"Tapi kita harus berhati-hati dengan Marco dude. Aku yakin dia akan membalas dendam suatu saat nanti" ucap Adrian memperingati.
"Ya aku tahu" ucap Denis dengan suara dingin.
"Well itu bisa saja terjadi jika dia bisa lari dari penjara Tadmor di Suriah" ucap Arsen.
"Jangan bilang kamu memasukkannya Kesana" terka Sandro.
"Seperti yang kamu pikirkan. Kebetulan dia adalah penjahat kelas dunia yang paling berbahaya" jawab Arsen dengan santai.
Prok............prok............prok.............
"Kamu memang pintar bocah empat mata" puji Sandro sambil bertepuk tangan.
~ Rumah Sakit Pertiwi ~
Ando hari ini pergi menemui Kenzo di rumah sakit Pertiwi tempat ia di rawat saat ini. Saat tiba di lantai kamarnya ia bisa melihat begitu banyak polisi yang berjaga disana.
Apa mereka pikir sialan itu bisa kabur apa makanya di jaga ketat seperti ini, batin Ando tak habis pikir.
"Bukannya kamu asisten tuan Kenzo Arjuna?" tanya detektif Gilang yang kebetulan berada di sana.
"Ya benar" jawab Ando dengan singkat.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya detektif Gilang dengan cepat.
"Aku ingin melihat tuan Kenzo Arjuna" jawab Ando.
"Waktumu 10 menit"
"Baik"
Ando lalu masuk ke dalam kamar rawat Kenzo setelah para petugas membuka pintu untuknya. Saat masuk ke dalam matanya langsung bertatapan dengan Kenzo yang baru saja sadar.
"Bagaimana kabar anda tuan?" tanya Ando dengan suara dingin.
"An***g kamu! Bajingan sialan kamu sialan!" hardik Kenzo dengan suara tinggi.
Ando tersenyum menyeringai melihat Kenzo yang tidak bisa berbuat apa-apa di atas tempat tidur dan hanya tinggal menunggu ajalnya saja.
"Ini adalah pembalasan aku untuk bajingan seperti kamu. Aku harap kamu bisa menikmati harimu di neraka nanti" bisik Ando sambil tersenyum lebar menatap Kenzo.
Wajah Kenzo merah padam merasa sangat emosi mendengar bisikan Ando barusan. Ingin rasanya dia memukul Ando tapi tangan dan kakinya sudah tidak berfungsi lagi seperti dulu.
Ando terkekeh melihat wajah Kenzo yang merah padam karena emosi. Ia lalu bergegas keluar dari sana karena sudah tidak ada lagi keperluan dengan Kenzo.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sebelum Ando pergi ia ditahan oleh detektif Gilang yang ingin memberitahunya sesuatu.
"Aku hanya mau bilang jika nanti kamu akan memanggil kamu untuk di interogasi mengenai kasus tuan kamu itu" ucap detektif Gilang dengan cepat.
"Baik" balas Ando dengan singkat.
Ia segera pergi dari sana membuat detektif Gilang menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan Ando yang sangat dingin dan irit bicara.
"Sepertinya semua orang yang aku kenal memiliki sifat dingin dan minum ekspresi" gumam detektif Gilang.
~ Bandar Udara Soekarno Hatta ~
Simon menatap wajah daddy dan mommy mereka yang sedari tadi terlihat seperti ada awan gelap di atas kepala mereka.
"Daddy" panggil Simon.
"Heemmm" deham Roy sambil menatap putranya.
"Sudah waktunya kita berangkat" ucap Simon memberitahu.
"Kamu bawa mommy dan kedua adikmu masuk lebih dulu sama" titah Roy dengan suara tegas.
"Memangnya daddy tidak masuk sama kami?" tanya Simon dengan bingung.
"Kalian duluan saja" ucap Roy dengan suara tegas tak mau di bantah.
"Baik daddy" jawab Simon tak bertanya lagi.
Simon segera memapah Seila menuju ke pintu keluar untuk naik ke dalam pesawat jet keluarganya. Sebelum keluar ia berbalik melihat daddynya yang sedang berbicara dengan seseorang yang tidak dikenalnya.
Siapa itu, batin Simon penuh tanda tanya.
Sedangkan Roy ternyata ia sedang berbicara dengan teman lamanya yang ternyata seorang mafia dia Singapura.
"Aku minta kamu habis orang ini beserta seluruh keluarganya" ucap Roy dengan emosi sambil memberikan foto Denis.
"Loh ini bukannya presdir Denis Arkana?" tanya Hito teman lama Roy.
"Ya kamu benar" jawab Roy dengan kesal.
"Bagaimana bisa kamu berurusan dengan pengusaha kejam itu? Dia bukan orang sembarang teman" ucap Hito dengan penasaran.
Roy lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada temannya. Hito yang mendengar cerita Roy sebenarnya juga menyalahkan Roy karena memang disini keluarganya yang salah.
"Baiklah aku akan membantumu" ucap Hito mengiyakan permintaan temannya.
"Terima kasih kawan. Tidak sia-sia aku berteman dengan kamu selama ini" ucap Roy sambil tersenyum lebar.
"Tapi itu semua tidak gratis teman" ucap Hito sambil tersenyum penuh arti.
"Apa yang kamu mau?" tanya Roy dengan cepat.
"Salah satu putrimu. Aku ingin menikahi salah satu dari kedua putrimu" jawab Hito dengan semangat.
Roy diam memikirkan permintaan Hito karena ia harus memutuskan apa harus mengiyakan permintaan Hito atau tidak.
"Baiklah! Tapi sebelum itu biarkan aku bicara dengan kedua putriku" ucap Roy setelah berpikir agak lama.
"Baiklah teman. Aku tunggu kabar kamu" balas Hito sambil tersenyum lebar.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.................