Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 230


Pak Tio panik bukan main saat Leila tiba-tiba memuntahkan isi perutnya meski hanya cairan bening saja.


Sedari pagi tadi belum ada makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya karena ia merasa mual saat mencium bau makanan. Ia hanya makan buah saja itu pun hanya anggur hijau.


"Nyonya anda baik-baik saja?" tanya pak Tio dengan cemas.


"Kamar" lirih Leila dengan suara pelan tak bertenaga lagi.


Pak Tio dan Lisa lalu memapah Leila menuju ke kamar. Sampai didalam kamar mereka membaringkan Leila dengan hati-hati, pak Tio dengan cepat segera mengambil hp menghubungi dokter Bimo dan dokter Suci.


"Lisa" panggil Leila dengan lemah.


"Iya nyonya. Apa nyonya menginginkan sesuatu?" tanya Lisa dengan khawatir.


"Jangan beritahu suamiku dan mama mertuaku" jawab Leila dengan sekali tarikan napas.


"Tapi nyonya" protes Lisa tidak setuju.


"Aku mohon" pinta Leila dengan memelas.


"Saya tidak bisa nyonya. Kondisi nyonya adalah nomor satu untuk saya dan jika sesuatu terjadi kepada nyonya saya tidak akan memaafkan diri saya nyonya" bantah Lisa tak setuju.


"Yang dikatakan Lisa benar nyonya. Tuan akan marah jika kami tidak memberitahu kondisi nyonya" tambah pak Tio yang setuju dengan ucapan Lisa.


"Memangnya suamiku sudah bisa dihubungi?" tanya Leila sambil tersenyum getir.


"Nyonya" ucap pak Tio dengan wajah sendu tak bisa menjawab pertanyaan Leila.


"Tidak usah memberitahu kondisiku ke suamiku. Lagian dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada aku dan kandunganku" balas Leila sambil meneteskan air mata.


"Saya tetap akan terus menghubungi tuan nyonya" balas pak Tio kekuh.


"Terserah. Tapi jangan beritahu kondisi aku ke mama mertuaku karena mama sedang menemani kakek dan nenek Denis yang baru datang dari Italia" ucap Leila.


"Baik nyonya"


Ketiganya diam tak ada yang berbicara karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Pak Tio menatap Lisa bertanya apa ia sudah mendapat kabar dari sang tuan, yang dibalas gelengan kepala.


Sedangkan Leila ia menahan rasa pusing dan mual di atas ranjang. Air matanya sedari tadi tak pernah berhenti mengalir memikirkan sang suami yang sudah hampir dua hari tak ada kabar.


Apa kamu sudah tidak sayang lagi dengan kami dan sudah mendapat perempuan baru di sana, batin Leila dengan sedih.


Tak lama dokter Bimo dan dokter Suci datang dengan panik setelah mendapat telpon dari pak Tio.


"Nyonya" ucap Bimo dengan cemas.


"Dokter Suci tolong periksa kondisi nyonya karena tadi nyonya sempat muntah" ucap pak Tio dengan sopan.


"Saya periksa dulu ya nyonya" ucap dokter Suci dengan sopan.


Ia lalu mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa Leila. Dengan teliti dokter Leila memeriksa Leila dan kandungannya.


"Apa nyonya sudah makan hari ini?" tanya dokter Leila.


"Belum dok" jawab Leila dengan lemah.


"Nyonya kenapa anda tidak makan. Ingat saat ini kondisi nyonya tengah berbadan dua" pekik Bimo dengan suara tinggi saat mendengar jawaban Leila.


"KAMU SURUH AKU MAKAN MEMANGNYA KAMU TAHU APA YANG AKU RASAKAN HARI INI SIALAN!" bentak Leila dengan suara menggelegar.


"Uhm! Bukan itu maksud saya nyonya" ucap Bimo dengan panik mendapat semburan dari Leila.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Dokter Suci menepuk pundak Leila dengan lembut untuk tidak emosi. Ia takut kandungan Leila kenapa-napa karena terlalu emosi.


"Nyonya tahan emosi nyonya. Ingat ada janin dalam kandungan nyonya" ucap dokter Suci dengan suara lembut.


Napas Leila naik turun menandakan ia sangat emosi. Ia menatap Bimo dengan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Ia tidak tahu apa yang sudah ia lalui hari ini dan apa alasan ia tidak makan dari pagi. Kalau boleh pilih ia juga ingin sekali makan tapi ia akan selalu muntah saat mencium bau makanan.


"Dokter Bimo lebih baik anda keluar saja" pinta dokter Suci.


"Tapi" protes Bimo yang langsung dipotong pak Tio.


"Dokter Bimo sebaiknya ikuti saja ucapan dokter Suci. Dokter kan tahu saat ini nyonya sedang hamil jadi moodnya sering berubah" potong pak Tio menjelaskan.


"Baiklah" ucap Bimo tak membantah.


Setelah melihat dokter Bimo sudah pergi dokter Suci lalu mulai bertanya tentang kondisi Leila. Tak lupa apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Nyonya saya tahu nyonya merasa mual tapi usahakan nyonya tetap harus makan karena bayi dalam kandungan nyonya juga butuh nutrisi" papar dokter Suci menjelaskan.


"Tapi aku merasa sangat mual dok" keluh Leila dengan memelas.


"Saya akan memberikan obat anti mual agar nyonya tidak mual lagi"


Dokter Suci kalau memberikan resep obat mual ke pak Tio untuk ditebus di apotik. Tak lupa ia memasang infus di tangan Leila karena ia kekurangan cairan sehingga tubuhnya jadi lemas.


Selesai memasang infus dokter Suci keluar dari kamarnya membiarkan Leila beristirahat.


"Dok Suci bagaiman keadaan nyonya?" tanya Bimo dengan cemas.


"Nyonya mengalami dehidrasi kekurangan cairan dalam tubuh karena tidak makan dokter Bimo. Tapi kata nyonya ia mual kalau mencium bau makanan jadi saya memberikan obat mual dan meminta nyonya untuk makan meski sedikit saja" jawab dokter Suci menjelaskan.


"Kalau begitu padankan saja infus untuk nyonya dok Suci" usul Bimo.


"Saya sudah pasang dokter Bimo. Nanti kalau infusnya sudah habis tolong dokter Bimo lepas ya" pinta dokter Suci.


"Iya dokter Suci"


Dokter Suci segera pamit pergi meninggalkan Bimo dan Lisa disana. Sedangkan pak Tio sedang menyuruh koki membuatkan makanan sop ayam dan untuk Leila.


1 Jam kemudian


Pak Tio masuk dengan seorang pelayan ke dalam kamar utama membawakan makanan untuk Leila.


"Pak Tio bawa keluar makanannya" ucap Leila dengan lemah.


"Tapi nyonya harus makan. Bayi dalam kandungan nyonya sangat butuh nutrisi nyonya. Kalau nyonya tidak makan dia tidak akan mendapat nutrisi" ucap pak Tio dengan tatapan memohon.


Leila memikirkan ucapan pak Tio dan membenarkannya. Ia mengelus perutnya merasa sedih karena melupakan bayi dalam kandungannya.


"Bawa makanan ke sini" ucap Leila.


"Baik nyonya"


Pak Tio dengan semangat menaruh meja kecil didepan Leila lalu menaruh sop ayam dan nasi yang tadi ia buat khusus untuk Leila.


Leila menyendok makanan tersebut sambil menahan napas untuk tidak mencium bau makanan didepannya. Ia menutup mata sambil mengunyah makanan itu yang terasa hambar di lidahnya.


Setelah 10 suapan Leila menyuruh pak Tio membawa makanan itu dari hadapannya. Ia tidak sanggup lagi mencium bau makanan tersebut.


"Nyonya ini air dan obatnya" ucap pak Tio memberikan segelas air dan obat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Leila menerimanya dan segera meminum obat tersebut. Setelah itu ia lalu tidur karena kepalanya terasa sangat pusing.


Pak Tio lalu keluar dari kamar Leila membiarkannya ia istirahat. Sampai di luar kamar Bimo dan Lisa bernapas dengan lega karena sang nyonya mau makan meski hanya sedikit saja.


~ Los Angeles, Amerika ~


Denis tersenyum smirk menonton berita tentang beberapa perusahaan yang bangkrut dalam waktu 2 jam saja.


Mereka adalah perusahaan yang memutus kerja sama dengan perusahaannya sepihak. Sedangkan Arsen ia hanya diam sambil menonton berita didepan sana.


"Bagaimana suasana di ruang meeting?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Direktur Miley sudah memecat mereka semua yang terlibat dengan kasus penggelapan baru-baru bos" jawab Arsen sambil melihat situasi di ruang meeting saat ini.


"Blacklist nama mereka semua setelah keluar dari sini" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos"


Denis diam menonton berita didepan sana tapi tiba-tiba perasaannya tidak tenang memikirkan sang istri. Ia mengambil hpnya ingin menghubungi sang istri tapi ternyata hpnya mati.


"Siapkan jet malam nanti kita pulang" ucap Denis dengan suara dingin.


"Baik bos"


Denis lalu kembali berkutat dengan laporan didepannya ingin menyelesaikan semua kerjaannya sebelum kembali ke Indonesia malam nanti.


Semoga kamu baik-baik saja disana sayang. Tunggu aku sebentar lagi aku pulang sayang, batin Denis.


Hari itu Denis menyuruh direktur Miley untuk merekrut karyawan baru untuk posisi kosong setelah pemecatan besar-besaran hati ini.


~ Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ~


Setelah balasan jam di udara akhirnya jet pribadi Denis landing di bandar udara internasional Soekarno Hatta di Jakarta, Indonesia.


Arsen dan Arkan keluar lebih dulu turun ke bawah menemui anak buah mereka yang sudah stand bay di bawah sana menunggu mereka.


Tak berselang lama Denis keluar dengan aura mengintimidasi membuat semuanya menunduk memberi hormat kepada Denis.


Mata coklat Denis menatap sekeliling melihat langit malam. Ia melirik jam mewah ditangannya yang menunjukkan pukul 02:00 dini hari.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku" gumam Denis dengan semangat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.................