
Langkah kaki Sandro dan Arsen terhenti seketika saat Denis menendang meja didepan sofa hingga pecah. Arsen melihat Sandro yang sedang menatapnya juga sambil menggelengkan kepala untuk tidak beranjak dari tempat mereka berdiri.
“F**k! Berengsek kalian semua an***g” maki Denis dengan suara bergema.
Prang……………prang……………prang………………
Denis menendang dan melempar barang didalam ruangannya hingga pecah membuat ruangannya seperti baru saja di terpal badai. Rian yang akan masuk ke dalam sana mengurungkan niatnya saat mendengar bunyi pecahan didalam sana.
Lebih baik sebentar baru aku masuk saja, batin Rian yang memilih menghindar.
“Dimana informasi yang aku suruh kalian cari?” tanya Denis dengan tatapan tajam menatap keduanya.
“I…..tu” ucap Arsen dengan gugup sehingga tak menyelesaikan ucapannya dengan benar.
Bugh………bugh………..bugh…………..bugh………….
Denis memukul Arsen dengan brutal merasa emosi karena Arsen sangat lambat menjawab pertanyaannya. Sandro yang tak ingin seperti Arsen segera mengambil iPad milik Arsen dan membuka informasi yang sudah ia dapatkan sedari kemarin.
“Ini informasinya bos” ucap Sandro sambil menyodorkan iPad milik Arsen ke Denis membuat gerakan Denis terhenti saat akan meninju Arsen.
Hosh…………….hosh…………hosh……………..
Napas Arsen naik turun menahan sakit di sekujur tubuhnya yang baru kali ini rasakan pukulan dari Denis.
Selama ini ia sudah merasakan sakitnya dipukul, tapi tidak sesakit pukulan Denis yang seperti ingin menghancurkan tubuhnya hingga ke tulang-tulang.
Denis mengambil iPad Arsen dan membaca semua informasi yang didapat oleh Arsen disana. Matanya berkilat tajam membaca setiap kata yang tertera didalam sana, apa lagi ia baru mengetahui maksud mereka yang sebenarnya ingin membawa dia ke Italia.
Hahahahaha………………..
Tawa Denis pecah didalam sana membuat Sandro dan Arsen bergidik ngeri, karena tawa Denis bukan seperti orang lagi bahagia tapi seperti iblis yang sedang menertawai mangsanya.
Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa bos mencari informasi mengenai mereka, batin Sandro penuh tanda tanya besar.
“Orang yang terlalu kepo biasanya umurnya pendek” ucap Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Sandro.
“Maafkan aku bos” ucap Sandro dengan cepat.
Brak……………….
Arsen menatap nanar iPadnya yang sudah terbelah bagi dua di tangan Denis, ingin marah tapi ia tidak berani takut di hajar kembali oleh Denis. Apa lagi pukulan Denis barusan sangat kuat dan tepat di organ vitalnya.
“Bawa dia ke rumah sakit” titah Denis dengan suara dingin.
“Baik bos” ucap Sandro dengan patuh.
Ia lalu menghubungi anak buahnya untuk datang membawa Arsen ke rumah sakit karena ia harus selalu stand by di samping Denis. Setelah kepergian Arsen dengan cepat Sandro menyuruh cleaning service untuk membersihkan ruangan Denis.
“Tuan” panggil Rian dengan suara pelan.
“Jangan memintaku menemui bos Rian. Aku tidak mau menjadi samsak tinju bos didalam sana” ucap Sandro sambil menunjuk kamar pribadi Denis dengan dagunya.
“Baiklah tuan” ucap Rian memilih menaruh berkas-berkas laporan diatas meja kerja Denis dari pada memberinya langsung.
Hari itu Denis melampiaskan emosinya kepada Sandro dan Rian membuat mereka kepayahan, bahkan kesalahan kecil saja dalam laporan Denis langsung memecat karyawannya tanpa belas kasih sedikit pun.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
4 Hari kemudian
Semenjak kejadian Denis menghancurkan ruang kerjanya mulai hari itu Sandro, Arsen, dan Rian selalu meneliti pekerjaan mereka sebelum memberikan ke Denis.
Arsen yang sudah lebih baik memilih masuk kerja meski ia masih merasa sekujur tubuhnya terasa sangat sakit.
“Jam berapa makan malam dengan tuan besar Regans?” tanya Denis dengan suara dingin tanpa menoleh dari berkas laporan didepannya.
“Jam 19:00 malam di kediaman mereka bos” jawab Sandro.
“Kita pergi kesana semua” titah Denis dengan suara tegas.
“Baik bos”
“Beritahu mamaku kalau hari ini tidak usah mengantar makan siang”
“Baik bos”
“Suruh Max datang kesini” titah Denis dengan tatapan tajam.
“Sekarang bos?” tanya Sandro dengan cepat.
“Tidak tahun depan” seru Denis dengan kesal.
“Maaf bos” ucap Sandro memilih minta maaf tak ingin membuat mood Denis jadi buruk.
Sandro segera keluar dari ruangan Denis melihat isyarat tangannya yang menyuruhnya keluar, sampai diluar ia mengelus dadanya dengan lega karena selamat dari terkaman singa buas didalam sana.
“Suruh Max kesini sekarang” titah Sandro dengan suara tegas.
“Kenapa harus aku? Kenapa kamu tidak langsung menghubungi dia saja?” tanya Arsen dengan bingung.
“Pulsa aku habis” jawab Sandro dengan ketus sambil berlalu pergi.
Eehhh……………
Arsen membeo memikirkan ucapan Sandro yang tak masuk akal baginya. Apa lagi ia tahu jika dalam sebulan Sandro mengisi pulsa di kartu prabayarnya hingga 500 ribu.
Rian yang sempat mendengar ucapan keduanya, menahan tawanya yang hampir pecah tak menyangka jika Arsen akan sangat mudah dibohongi oleh Sandro. Padahal selama ini dia yang mengurus semua keperluan Sandro dan Denis sampai dengan pulsa prabayar.
Bodoh! Mau aja dibodohi bos Sandro, batin Rian sambil tertawa dalam hati.
Selang 1 jam kemudian Max sudah berdiri didepan Denis dengan gugup, karena sudah 10 menit berlalu Denis hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan datar tak berbicara satu kata pun.
“Kamu tahu kenapa aku suruh kesini?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Tidak bos” jawab Max dengan suara tegas.
“Aku ingin kamu membuat kandang di belakang markas untuk peliharaanku” tegas Denis dengan suara dingin.
“Kalau boleh tahu ada berapa ekor bos?” tanya Max.
“5 ekor. Buat juga kolam yang agak dalam di tengah kandang dan untuk tempat mereka tidur harus jauh dari kolam itu dan rancang tempat makan mereka agar makanannya diturunkan dari atas di seberang kolam itu” papar Denis menjelaskan.
“Berapa ukuran kolamnya bos?” tanya Max sambil mencatat apa saja yang Denis katakan.
“Uhmm! Sebesar taman perusahaan dibawah” jawab Denis sambil mengetuk jarinya diatas meja.
“Sebesar taman perusahaan” gumam Max mengulang ucapan Denis.
“Apa” pekik Max dengan kaget setelah mengingat luas taman perusahaan DA Corp.
Denis tersenyum menyeringai melihat reaksi Max yang baru saja sadar dengan apa yang ia katakan. Max sendiri saat ini otaknya sudah traveling kemana-mana memikirkan jenis peliharaan bosnya itu.
Tidak mungkin jika bos akan memelihara hewan seperti itu, batin Max sambil menggelengkan kepalanya.
“Well! Seperti yang kamu pikirkan aku akan memelihara mereka” ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
Glek…………….
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Max menelan salivanya dengan susah tak habis pikir ternyata bosnya itu mempunyai hobi yang sangat aneh.
Apa lagi hewan yang akan ia pelihara nanti bukan hewan peliharaan seperti biasanya dan ia yakin semua teman-temannya akan kaget, saat ia membawa hewan peliharaan bosnya ke markas.
“1 minggu!” tegas Denis.
“Eehh! 1 minggu bos” ucap Max dengan bingung.
“Dalam 1 minggu harus sudah selesai kandang yang aku mau” ucap Denis dengan suara tegas.
“Akan aku usahakan bos”
“Kamu boleh pergi” usir Denis dengan suara dingin.
“Baik bos. Permisi” pamit Max sambil membungkuk memberi hormat.
~ Mansion Utama Regans ~
Jam 19:00 tepat Denis dan ketiga orang kepercayaannya sudah berdiri didepan mansion utama keluarga Regans, guna menghadiri undangan jamuan makan malam tuan besar Regans.
Tuan besar Regans beserta istrinya sudah berdiri didepan pintu mansion menyambut kedatangan tamu kehormatan mereka. Meski umur Denis masih sangat muda tapi tuan besar Regans sudah mengakui kehebatannya dalam dunia bisnis.
“Selamat datang di kediamanku tuan Denis Arkana” ucap tuan besar Regans dengan hangat.
“Terima kasih sudah mengundangku kesini tuan besar Regans” balas Denis dengan suara dingin dan wajah datar.
“Ayok kita masuk ke dalam soalnya semuanya sudah pada nunggu” ajak nyonya besar Regans.
Kening Denis mengerut mendengar ucapan nyonya besar Regans yang mengatakan jika mereka sudah di tunggu didalam sana entah itu siapa. Denis lalu menatap Sandro memberi isyarat untuk terus waspada jangan sampai lengah.
Denis dan lainnya lalu diarahkan oleh tuan besar Regans menuju meja makan, sampainya disana kening Denis mengerut melihat seluruh anggota keluarga besar Regans yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing menyisakan satu buah kursi yang kosong.
Ia tersenyum smirk melihat hal tersebut dan melihat tuan besar Regans dengan tatapan tajam, karena ia yakin jika kursi itu khusus untuknya sedangkan mereka tahu kalau ia biasanya selalu didampingi oleh 3 orang kepercayaannya.
Anda sudah salah memilih lawan pak tua, batin Denis dengan rahang mengeras.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………