
"Nine Cloud?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Apa mereka itu perkumpulan atau nama seseorang pak tua?" tanya Arsen dengan selidik.
"Itu adalah perkumpulan beasr yang sangat rahasia dan berbahaya di luar negeri bos" jawab Rian dengan suara dingin.
"Tepat sekali jawabanmu anak muda" ucap Pablo menatap Rian sambil tersenyum lebar.
Arsen menatap keduanya saling bergantian tapi ia lebih tertarik menatap Rian karena Rian tahu mengenai perkumpulan tersebut. Begitu juga dengan Denis yang menatap sekretarisnya dengan tatapan tajam.
"Aku pernah mendengar nama perkumpulan itu saat menemui klien kita di Korea baru-baru ini bos, di salah satu club ternama di sana" papar Rian menjelaskan seakan tahu apa yang keduanya sedang pikirkan.
"Arsen" ucap Denis dengan wajah dingin dan datar.
Arsen lalu menyuruh Pablo duduk di sofa dengan dijaga ketat oleh Rian. Ia berkutat dengan laptopnya mencari tahu tentang informasi mengenai perkumpulan tersebut.
Paulo yang melihat Arsen sedang berkutat dengan laptop hanya diam saja, ia tahu pasti Arsen sedang mencari tahu tentang informasi mengenai Nine Cloud.
"Tidak usah mencari informasinya karena aku akan memberikan informasi mengenai perkumpulan itu" ucap Pablo.
"Tidak perlu pak tua karena aku sudah mendapatkannya" balas Arsen dengan cepat.
Arsen lalu menampilkan informasi mengenai Nine Cloud di TV agar mereka semua bisa melihatnya. Paulo tersenyum puas melihat cara kerja Arsen yang seperti anak buahnya di markas.
"Jadi si Martinez sialan itu ketuanya" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai membaca informasi mengenai perkumpulan tersebut.
"Bos bukannya ketiga orang itu yang semalam Mark beritahu ya?" tanya Arsen sambil menunjuk foto Dante Constanzo, Alan Draw, dan Luca Othello.
"Hehehehe! Sepertinya aku sudah tahu tujuan kedatangan mereka kesini" balas Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Kalian kenal mereka bertiga?" tanya Paulo.
"Tidak" jawab Arsen dengan singkat.
"Tapi mereka bertiga adalah orang yang semalam menginjak kaki di Indonesia. Apa lagi Alan Draw adalah orang yang mengirim proposal kerja sama ke perusahaan kami" tambahnya lagi.
"Apa! Jadi mereka sudah berada di Indonesia" pekik Pablo dengan kaget.
"Heemmm"
"Jangan pernah menerima tawaran kerja sama dari mereka jika tidak ingin perusahaan kamu bangkrut Denis" ucap Pablo dengan suara tegas.
"Terlambat pak tua karena kami sudah menerimanya" balas Arsen dengan cepat.
"Sebaiknya kamu putuskan kerja sama itu sebelum terjadi sesuatu ke perusahaanku" ucap Pablo memperingati.
Hehehehe................
Denis terkekeh melihat Pablo yang memperingatinya untuk tidak menerima kerja sama dengan perusahaan Alan Draw. Melihat hal itu entah kenapa Pablo merasa jika ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Denis untuk Alan Draw.
"Jangan bilang kamu sedang menyiapkan jebakan untuk dia" tebak Pablo dengan mata melotot.
"Menurutmu?" tanya balik Denis sambil tersenyum smirk.
"Kamu memang licik seperti papa kamu Denis. Tapi aku akui kamu lebih licik dari sahabatku" ucap Pablo sambil tersenyum penuh arti.
"Karena buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" balas Denis dengan wajah datar dan dingin.
"Ya kamu benar"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Pablo lalu menceritakan bagaimana asal usul Nine Cloud terbentuk dan siapa pendirinya yang pertama, yang tak lain adalah papanya Denis sendiri.
Tak lupa ia juga menceritakan bagaimana papanya dikeluarkan dengan tidak hormat dari perkumpulan tersebut, juga beserta kisah hidup keduanya saat memasuki dunia bawah pertama kali.
"Apa yang membuktikan jika kamu memang sahabat papa aku?" tanya Denis dengan suara dignin dan tatapan tajam.
"Diriku! Kamu bisa mengambil nyawaku kapan saja jika kamu menemukan semua ucapan aku adalah kebohongan! Tapi satu yang aku pinta tolong lepaskan kedua anakku karena mereka tidak tahu apa-apa!" ucap Pablo dengan suara tegas tak ada keraguan sama sekali.
"Baiklah aku pegang ucapanmu" ucap Denis.
"Bos" protes Arsen yang keberatan.
"Kamu yang akan memantau dia selama 24 jam Arsen" balas Denis yang tahu apa yang dipikirkannya.
"Oke bos dengan senang hati" ucap Arsen dengan antusias.
"Jadi katakan apa tujuanmu yang sebenarnya ingin menemuiku?" tanya Denis dengan suara tegas.
"Papa kamu bukan mati karena penyakit tapi dia diracuni" jawab Pablo dengan wajah serius.
Brak.............
Seketika Denis menggebrak meja kerjanya dengan kaut mengagetkan ketiganya. Mata coklatnya berkilat tajam dengan aura membunuh mendengar ucapan Pablo.
"Katakan" desis Denis dengan tatapan seperti monster kelaparan.
"Selama ini aku mencari tahu tentang perkumpulan itu dan mendapat bukti jika papa kamu tenyata diberi racun saat pulang ke Italia bersama mamamu. Racun yang mereka berikan adalah racun yang samgat mematikan tapi kerjanya perlahan-lahan sehingga tidak bisa diidentifikasi" papar Pablo menjelaskan.
"Racun itu awalnya akan menyerang organ tubuh perlahan-lahan hingga saraf dalam tubuh penderita. Aku mengetahui hal itu dari salah satu dokter yang menciptakan racun tersebut sebelum ia ditembak mati oleh Roy Martinez" tambahnya lagi.
"Bangsat!" maki Denis dengan emosi.
"Bos tenangkan diri anda" ucap Arsen yang melihat emosi sang bos tidak terkontrol.
"Siapa yang memberi racun itu ke papaku?" tanya Denis dengan tatapan membunuh.
"Paman kamu sendiri Martin Massimo. Dan alasan mereka ingin membunuh papa kamu adalah karena ingin menguasai harta papa kamu yang selama ini disembunyikan" jawab Pablo.
Tak hanya itu saja ia juga memberitahu dimana letak harta tersebut dan sistem pengaman untuk membuka brangkas tersebut.
"Jadi mereka ingin menggunakan darahku ya" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Ya karena itu satu-satunya cara untuk membuka brangkas itu" balas Pablo dengan suara tegas.
Hahahaha.................
Tawa Denis seketika menggelegar didalam sana membuat ketiganya menelan saliva mereka dengan susah. Ia lalu menyuruh Arsen untuk membawa Pablo keluar karena sudah tidak ada yang ingin ia bicarakan lagi.
Sampai di luar, sebelum Pablo pulang ia sudah memberikan nomor pribadinya kepada Arsen dan juga memberitahu siapa hacker yang selama ini mengirim pesan kepada Arsen.
2 Jam kemudian
Setelah 2 jam kepergian Pablo dari perusahan Denis, tiba-tiba Denis berlalu pergi dengan wajah menghitam seakan ingin membunuh siapapun saat ini.
~ Pemakaman Harapan ~
Ternyata kepergian Denis adalah mendatangi makam sang papa karena merasa sangat hancur dan sedih mendengar kabar tentang penyebab kematian sang papa.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arsen dan Sandro yang mengikuti sang bos sedari tadi saling menatap merasa kasihan dengan sang bos, karena mereka tahu seperti Denis jika datang ke tempat ini.
Mereka semua berdiri berjaga di depan taman membiarkan Denis sendiri didalam sana. Bahkan tidak ada satu orang pun yang diijinkan untuk masuk ke dalam.
"Papa.........hiks hiks hiks" tangis Denis pecah saat berdiri didepan makam sang papa.
Hiks.........hiks...........hiks............
Tangisannya tiba-tiba semakin menjadi dan terdengar sangat menyayat hati didalam sana. Ia menangis mencurahkan semua kesedihannya yang dialaminya saat ini sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa mereka jahat pa........hiks hiks hiks.........dia itu adik kandung papa sendiri........hiks hiks hiks.........kenapa mereka tega membunuh papa?" tanya Denis sambil menangis histeris.
Aaarrrgghhh.................
Teriak Denis dengan suara melengking mengeluarkan semua rasa sakit didalam hatinya. Arsen, Sandro, dan Thomas yang berdiri tepat di pintu makam menetaskan air mata.
Mereka sangat sedih mendengar tangisan sang bos yang terdengar sangat menyayat hati didalam sana.
Bos aku mohon bos harus kuat, batin Sandro dengan sedih yang amat dalam.
Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya bos didalam sana, batin Arsen dengan sedih.
Anda adalah bos kami yang kuat dan aku harap bos bisa melewati ini semua, batin Thomas dnsban tulis.
Hari itu Denis menghabiskan harinya di makam sang papa mengeluarkan semua perasaan didalam hatinya hingga malam hari.
~ Zeus Club ~
Saat ini Leo dan Rayen sedang duduk di lounge club di lantai dua yang khusus untuk orang berpengaruh saja dan juga untuk tamu VIP.
Bunyi musik DJ yang sangat kencang dengan begitu banyak manusia dibawah sana yang sedang meliuk badannya mengikuti irama musik. Rayen menyesap minumannya dengan perlahan sambil menatap pemandangan di awah sana.
"Tuan dia datang" ucap Leo yang melihat kedatangan Dante di pintu masuk.
"Apa aku bilang? Dia akan datang kesini karena dia sedang mencari mangsanya" ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.
"Siapa yang dia cari tuan?" tanya Leo dengan penasaran.
Rayen mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Leo tanda tidak tahu. Tak lama keduanya dibuat bingung saat mendapati Dante yang sedari tadi tersenyum menyeringai menatap detektif Gilang yang duduk sendiri di paling pojok.
"Apa ada berita tentang kasus narkoba atau pekerjaan legal hari ini?" tanya Rayen dengan cepat.
"Ada bos. Hari ini sedang heboh dengan kasus penggerebekan penjualan manusia di daerah A dan juga hampir siang tadi ada penggerebekan kasus narkoba di daerah B tuan" jawab Leo dengan cepat.
"Fu*k!" maki Rayen dengan suara tinggi.
"Ada apa tuan?" tanya Leo yang melakukan wajah Rayen memerah tanda ia sangat emosi saat ini.
"Detektif Gilang sedang dalam bahaya karena sudah menjadi target mafia gila itu" jawab Rayen.
"Apa" pekik Leo dengan kaget.
"Ayok kita temui mafia itu sebelum dia melakukan sesuatu kepada detektif Gilang" ajak Rayen.
"Tapi tuan kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan tuan" protes Leo tak setuju.
"Oleh karena itu lebih baik kita yang menemuinya dahulu" balas Rayen sambil tersenyum smirk.
"Baiklah tuan" ucap Leo mengalah mengikuti keinginan Rayen.
Keduanya lalu berjalan menghampiri Dante yang sedang duduk menyesap tequila dengan pandangan tak pernah lepas dari detektif Gilang.
"Wah wah wah! Lihat siapa ini yang berada didepan aku saat ini" ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.
"Long time no see Rayen Baker" (lama tidak bertemu Rayen Baker) balas Dante sambil tersenyum smirk.
"Ya ternyata sudah lama aku tidak bertemu dengan anda Dante Constanzo. Aku harap bisnismu baik-baik saja sejak hari itu" ucap Rayen dengan santai.
Brak.....................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............