Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 203


Setelah melihat kedua anaknya sudah pergi dengan cepat Pablo menuju ke basement. Ia sangat penasaran siapa orang yang ingin bertemu dengannya.


Sampainya di basement Pablo melihat ke kanan dan kiri mencari siapa yang ingin bertemu dengannya. Sudah 10 menit Pablo disana tapi ia tidak melihat siapapun disana hanya ada mobil saja.


Pablo berjalan mengelilingi basement parkiran sambil celingak-celinguk waspada takut jika itu adalah musuhnya.


"Aku pikir kamu tidak akan datang" ucap suara berat dari belakang Pablo.


Deg................


Jantung Pablo berdetak dengan cepat mendengar suara yang sangat familiar. Apa lagi pemilik suara ini adalah orang yang sudah puluhan tahun ia cari tapi tidak pernah ketemu.


Pablo dengan cepat berbalik tak sabar ingin melihat apa suara ini adalah orang yang selama ini ia cari atau bukan.


"Long time no see Pablo" (lama tidak bertemu Pablo) ucap orang tadi sambil tersenyum menyeringai.


"Steven" ucap Pablo dengan kaget.


Bugh...............


Pablo memukul Steven di rahangnya hingga wajahnya menoleh ke samping. Bukannya marah karena di pukul tapi Steven malah tersenyum lebar menatap Pablo tak menyangka jika Pablo akan memukulnya pada pertemuan pertama mereka.


Setelah puluhan tahun tak bertemu akhirnya hari ini mereka mereka bertemu kembali.


"Hehehehe! Pukulanmu masih sama seperti dulu" ucap Steven sambil terkekeh.


"Berengsek!" hardik Pablo dengan kesal.


Grep............


Pablo memeluk Steven sahabatnya yang selama ini hilang bagai ditelan bumi, Steven juga membalas pelukan Pablo sambil tersenyum lebar. Ternyata keduanya adalah sahabat yang sudah terpisah setelah Denis keluar dari dunia mafia.


"Dimana kamu selama ini berengsek?" tanya Pablo sambil melepas pelukannya.


"Di tempat yang tidak bisa dijangkau polisi dan perkumpulan sialan itu" jawab Steven dengan emosi menyebut perkumpulan yang sangat ia benci seumur hidupnya.


"Sebaiknya kita ke tempatku" ajak Pablo.


"Heemmm" deham Steven tak protes.


Keduanya lalu bergegas pergi dari mall Baker dengan mobil Steven yang baru saja ia beli kemarin setelah sampai di Indonesia.


~ **DA Corp** ~


Saat ini suasana didalam ruangan meeting di DA Corp terasa sangat mencekam. Apa lagi aura Denis yang menguar didalam sana seakan ingin menguliti mereka semua.


"Bagaimana perkembangan proyek pembangun hotelku di Korea?" tanya Denis dengan suara dingin dan tegas.


"Sudah 95% berjalan presdir. Saat ini kami sedang menunggu analisa dari tim kita untuk mengecek struktur sistem dan keamanan didalam hotel presdir" jawab direktur Steven dengan berwibawa.


"Persiapan peresmiannya?" tanya Denis lagi.


"Semua persiapan sudah 100% presdir" jawab direktur Hendra sebagai orang yang bertanggung jawab mengenai peresmian.


"Sandro kamu besok berangkat ke sana dan cek semua sebelum peresmian nanti minggu depan" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos" jawab Sandro dengan suara dingin.


"Semuanya kumpulkan laporan bulan ini dari setiap devisi dan besok tepat pukul 10:00 berikan rencana setiap devisi untuk tahun ini" ucap Denis dengan suara lantang dan tegas.


"Baik presdir" jawab semuanya dengan serentak.


Denis tidak berkata apa-apa dan segera bergegas keluar dari ruang meeting. Saat Denis keluar semuanya bisa bernapas dengan lega meski harus menyiapkan rencana setiap bagian devisi untuk tahun ini besok pagi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Direktur Steven yang baru saja sampai di ruangannya langsung di sambut oleh sekertarisnya.


"Beritahu semua devisi untuk membawakan rencana mereka tepat jam 09:30 sebelum aku memberikan ke presdir" titah Steven dengan suara tegas.


"Baik tuan" jawab Burhan sekertaris Steevn.


"Oh ya tuan tadi ada telpon dari sekertaris direktur DA Construction ingin melakukan meeting dengan tuan tentang kerja sama dengan Archile Company" papar Burhan menjelaskan.


"Apa hari ini aku ada jadwal kosong?" tanya Steevn.


"Hari ini tuan tidak ada meeting di luar dan hanya mengecek laporan saja dan menandatangani beberapa berkas" jawab Burhan sambil mengecek jadwal Steven.


"Beritahu direktur DA Construction untuk datang jam 03:00 sore"


"Baik tuan"


Burhan segera keluar dari ruangan Steevn dan baru saja sampai di mejanya Burhan segera mengangkat telponnya dari direktur cabang perusahan yang ada di Bandung.


Brak...............


"Beraninya kamu masuk tanpa mengetuk pintu Burhan!" bentak Steevn dengan suara tinggi.


"Maaf tuan tapi ada sesuatu yang harus saya laporkan" ucap Burhan dengan cepat.


"Katakan"


"Barusan ada telpon dari direktur cabang yang di Bandung kalau ada 3 mayat ditemukan di basement parkiran perusahan tuan" ucap Burhan dengan cepat.


"APA!" pekik direktur Steven dengan kaget.


Tak berkata apa-apa direktur Steven segera pergi ke ruangan Sandro untuk memberitahu hal ini agar di laporkan ke Denis.


Sedangkan didalam ruangan Denis saat ini iala sedang membaca berkas laporan didepannya dengan teliti.


Kring................


Matanya lalu menatap ke hpnya yang berbunyi tertera nama Mark disana.


^^^"Heemmmm"^^^


"Halo bos maaf aku sudah menganggu bos"


^^^"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^


"Bos aku mau beritahu kalau ada menemukan foto tentang Liliana Rasyid dan Roy Martinez yang bertemu di Amerika 4 bulan yang lalu bos"


^^^"Sial! Sudah berapa kali mereka bertemu?" tanya Denis dengan suara berat.^^^


"*Aku tidak tahu bos tapi aku sudah mencari tahu apa mereka bertemu lagi setelah hari itu tapi aku belum menemukan petunjuk bos*" jawab Mark.


^^^"Cari tahu apa mereka berdua bertemu lagi atau tidak karena aku yakin keduanya pasti bekerja sama" titah Denis dengan suara tegas.^^^


"Baik bos aku akan terus mencari sampai mendapat petunjuk lagi"


^^^"Heeemmm"^^^


Denis kalau mematikan panggilannya sepihak. Matanya berkilat tajam memikirkan hal itu dan ia yakin jika Roy Martinez pasti bekerja sama dengan Liliana Rasyid untuk mencelakai mereka.


"Aku tidak akan mengampuni kalian jika kalian berani menganggu keluargaku" ucap Denis dengan tatapan berkilat tajam.


"Masuk" ucap Denis dengan suara dingin saat pintu ruangannya diketuk.


Ceklek...............


Pintu ruangan Denis terbuka dan masuklah Arsen dan Sandro dengan wajah panik. Denis melihat keduanya dengan alis sebelah terangkat seakan bertanya apa yang terjadi.


"Bos gawat bos" ucap Sandro dengan panik.


"Katakan" ucap Deniss dengan suara dignin dan tegas.


"Ada masalah di perusahaan cabang yang ada di Bandung bos. Barusan direktur Steven mengabari jika polisi menemukan 3 mayat di basemant parkiran perusahan bos" papar Sandro menjelaskan.


Eehh.............


Denis bingung mendengar ucapan Sandro barusan pasalnya bagaimana bisa ada 3 mayat di basemant perusahaan.


Bukannya keamanan di setiap perusahaannya baik pusat dan cabang sangat ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Arsen kamu pergi ke Bandung dan cari tahu apa yang terjadi. Selesaikan semuanya sampai tuntas" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Arsen.


"Sandro kamu pantau saham perusahaan dan suruh direktur Steven untuk tetap memantau setiap proyek yang sedang berlangsung. Pastikan tidak ada klien yang membatalkan kontrak kerja sama hanya karena masalah ini" ucap Denis dengan suara tegas.


"Oke bos" jawab Sandro.


"Suruh Rian untuk membuat pernyataan pers kalau pihak DA Corp tidak terlibat dengan tindak kriminal apapun dan akan membantu pihak polisi mengusut tuntas kasus ini"


"Baik bos" jawab keduanya dengan serentak.


Arsen dan Sandro lalu bergegas keluar dan melakukan perintah Denis. Detik itu juga Rian mengeluarkan pernyataan resmi dari DA Corp mengenai kasus saat ini.


Beruntung Denis dengan cepat membuat pernyataan resmi sehingga saham perusahaannya tidak sampai jatuh karena berita tersebut.


~ Kingdom Castel ~


Adrian menonton berita tentang perusahan sahabatnya yang sedang ramai dibicarakan saat ini. Dengan cepat ia mengambil hpnya dan menelpon sang sahabat.


"Apa apa?" tanya Denis to the point dari seberang.


^^^"Bagaimana bisa ada mayat di perusahaan kamu?"tanya balik Adrian.^^^


"Aku tidak tahu" jawab Denis dengan santai.


^^^"Apa kamu sudah mengecek identitas mayat-mayatnya itu?" tanya Adrian dengan penasaran.^^^


"Arsen yang akan mengurusnya. Dia barusan berangkat ke sana"


^^^"Oh baguslah. Lalu bagaimana dengan saham perusahaan"^^^


"Semua baik-baik saja"


^^^"Oh ya aku tadi sempat melihat salah satu mayat dan mengenali tato di lengan mayat tersebut. Sepertinya itu bisa jadi petunjuk untukmu"^^^


"Heemmm"


"Ckk!! Dasar kutub es sialan" hardik Adrian dengan kesal saat melihat panggilan mereka ternyata sudah putus.


Lagi-lagi Denis memutus panggilannya sepihak tidak mendengar balasan darinya. Mulutnya komat-kamit memaki dan mengumpat Denis di seberang sana.


Tok...........tok...........tok..........


"Masuk" ucap Adrian dengan kesal.


Tak lama sekertarisnya masuk memberitahu jika dibawah ada papanya yang ingin bertemu. Mendengar hal itu Adrian menarik napas dalam karena yakin pasti papanya tidak datang sendiri.


"Biarkan pak tua itu datang!" ketus Adrian dengan kesal.


"Baik tuan" ucap sang sekertaris dengan cepat.


Ia yakin pasti sebentar lagi akan ada pertengkaran hebat didalam ruangan tuannya. Susah biasa ia mengetahui kalau hubungan diantara tuan besar dan tuannya tidak baik.


~ Mansion Ulrico ~


Gaby dan Gio menatap Steven dengan tatapan selidik karena baru pertama kali **daddy** mereka pulang membawa orang tak dikenal ke mansion mereka.


"Jangan menatap om Steven seperti itu anak-anak" ucap Pablo dengan suara lembut.


"Siapa dia daddy?" tanya Geby dengan penasaran.


"Apa dia musuh daddy? Kenapa daddy membawanya ke mansuon kita? Bagaimana kalau dia ada niat jahat sama kita?" tanya Gio beruntun dengan tatapan memicing.


Phew..............


Pablo membuang napas dengan kasar mendengar pertanyaan anak-anaknya yang seakan berkata kalau Steven adalah orang jahat.


"Om Steven adalah sahabat daddy dan juga uncle Demian jadi kalian jangan khawatir" ucap Pablo dengan tegas.


"Daddy yakin?" tanya Gio tak percaya begitu saja.


"Sangat yakin!" jawab Pablo dengan suara tegas.


"Aku akan memantau dia terus" ucap Gio dnebsn suara dingin.


Gio dan Geby berlalu pergi dari sana menuju ke lantai dua. Steven yang melihat kelakuan kedua anak Pablo hanya diam saja karena sifat mereka persis seperti daddy dan mommy mereka yang tidak mudah percaya dengan orang lain.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sifat mereka berdua persis seperti kamu dan istrimu" ucap Steven dengan suara dingin.


"Ya kamu benar" ucap Pablo setuju.


Pablo dan Steven lalu menuju ke ruang keluarga untuk berbicara disana ditemani Vito yang selalu berdiri di belakang Pablo.


Melihat Vito di belakang Pablo, Steven hanya tersenyum tipis tahu kalau Vito takut ia melakukan sesuatu kepada Pablo.


"Jangan ambil pusing keberadaan Vito karena dia tidak akan pergi dari sisi aku" ucap Pablo seakan tahu apa yang dipikirkan Steven.


"Heemmm" deham Steven sambil menatap ke arah sudut ruangan dan tersenyum smirk.


Ia tahu kalau pasti kedua anak Pablo sedang menonton mereka lewat cctv dari lantai dua.


"Jadi apa tujuan kamu ke Indonesia?" tanya Pablo dengan serius.


"Pertemukan aku dengan Denis Arkana" ucap Steven dengan suara dingin dan tegas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............