
Denis mengambil hanya saat mendengar bunyi pesan masuk dan ternyata itu adalah pesan dari Simon.
Simon Martinez
"1,5 jam waktu untukmu bertemu dengan nenek Linda"
^^^"Oke"^^^
"Asisten aku Bram sudah menunggu kalian di parkiran basemen hotel"
Denis menatap foto plat mobil yang akan dipakai mereka yang baru saja dikirim oleh Simon. Ia melakukan hal tersebut karena hanya mobil Simon yang diijinkan masuk ke dalam mansion utama Massimo.
"Ayok kita pergi" ajak Denis.
"Kemana nak?" tanya Amira yang belum mengetahui rencana Denis.
"Loh kamu belum memberitahu mama sayang?" tanya Leila dengan cepat.
"Belum sayang. Nanti sampai sana mama akan tahu" jawab Denis dengan suara lembut.
Leila dan Amira tidak bertanya lagi dan mengikuti Denis bersama Sandro yang sudah keluar lebih dahulu.
Sampainya di basemen hotel keempatnya langsung disambut oleh Bram asisten Simon dengan sopan. Tak berbicara apa-apa mereka segera masuk ke dalam mobil dikawal oleh pengawal pribadi Denis dan juga anak buah Simon.
~ Mansion Utama Massimo ~
Selang 30 menit akhirnya mereka tiba di mansion utama keluarga Massimo. Setelah melewati pemeriksaan di pintu masuk akhirnya mobil yang dinaiki oleh Denis dan lainnya diperbolehkan masuk.
"Nak ini" ucap Amira dengan syok melihat bangunan didepannya yang sangat ia kenali.
"Kita akan bertemu dengan seseorang disini ma" ucap Denis dengan suara lembut.
"Tapi nak mereka" ucap Amira dengan wajah cemas mengingat masa lalunya saat pertama kali menginjakkan kaki disini.
"Ma semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku ya" ucap Denis sambil menggenggam tangan sang mama dengan erat.
Amira menatap anaknya dengan tatapan sulit diartikan karena saat ini dibenaknya hanya ada kejadian saat ia pertama kali datang kesini, dan juga ia terus berspekulasi mengenai apa yang akan terjadi nanti.
Bagaimana kalau aku akan diusir lagi seperti waktu itu?
Aku tidak mau dihina lagi sama mereka
Denis pasti akan merasa malu dihina oleh keluarga suamiku karena kasta aku
Mas aku tidak mau anak kita dihina oleh keluargamu di tempat ini lagi
Denis yang tahu apa yang sedang mamanya pikirkan segera memeluk sang mama. Ia mengelus punggung mamanya dengan lembut menenangkannya, sekaligus memberitahu jika semua akan baik-baik saja.
"Jangan takut ma karena Denis tidak akan biarkan satu orang pun menghina mama atau menyakiti mama didalam sama" ucap Denis dengan suara tegas.
"Iya nak" jawab Amira yang merasa sudah lebih tenang.
Mereka lalu turun dari mobil dan sebelum masuk ke dalam Bram sudah memberitahu jika mereka hanya punya waktu 1 jam saja disini sebelum Simon dan tuan besar Massimo kembali.
"Apa pelayan dan penjaga tahu kehadiran kami?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Tidak Presdir Denis. Mereka semua sudah kami bius dan hanya penjaga gerbang saja yang tidak. Untuk cctv di sini juga sudah kami matikan" jawab Bram dengan sopan.
"Kalau begitu ayok kita ke tempat nenek aku" titah Denis dengan suara dingin dan tegas.
"Silahkan ikut saya presdir" ucap Bram yang berjalan lebih dulu menuntun mereka.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis, Amira, Leila, Sandro, dan Bram lalu bergegas masuk ke dalam mansion dan segera menuju ke arah ruangan yang pintunya paling besar di dalam mansion ini.
Sampainya didepan ruangan tersebut yang tak lain adalah kamar utama, Bram segera membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti oleh Denis dan lainnya.
"Mommy" ucap Amira dengan syok saat melihat sosok yang sangat ia kenali sedang terbaring lemah dia atas ranjang.
Hiks..........hiks.........hiks..........
Tangisnya seketika pecah melihat sosok yang ia panggil mommy. Bukan tanpa alasan karena hanya sosok itulah yang menerima dirinya dengan tulus saat datang kesini.
"Mommy.........hiks hiks hiks........apa yang terjadi sama mommy.........hiks hiks hiks.......kenapa mommy bisa seperti ini" lirih Amira sambil menangis histeris.
Leila yang mendengar dan melihat mama mertuanya menangis juga ikut menangis. Ia memeluk suaminya dengan erat merasa sangat kasihan melihat nenek sang suami yang terbaring koma.
Denis sendiri menatap sosok yang ia kenal sebagai neneknya dengan perasaan sedih dan hancur.
Tes............
Air matanya mengalir dengan deras melihat neneknya yang terbaring lemah di ranjang dengan begitu banyak alat rumah sakit.
"Sayang.........hiks hiks hiks" ucap Leila sambil menatap suaminya yang juga sedang menangis dalam diam.
Denis membenamkan wajahnya di leher sang istri dan menangis sejadi-jadinya meski tidak ada suara. Bram dan Sandro yang melihat ketiganya menangis, juga ikut menangis tak kuat menahan diri melihat kesedihan mereka.
Meski mereka tidak ada hubungan keluarga dengan Linda Massimo.
"De.....nis........hiks hiks hiks.......sini nak sapa nenek kamu" panggil Amira dengan sesegukan.
Leila melepas pelukannya agar suaminya bisa menghampiri sang mama. Sampai di sana Denis menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh sang nenek.
"Nenek........hiks hiks hiks........ini Denis cucu nenek dari papa Demian.......hiks hiks hiks" lirih Denis dengan suara lemah.
"Apa yang terjadi dengan mommy?" tanya Amira sambil menatap Bram.
"Nyonya Massimo mengalami kecelakaan didepan mansion saat mengejar mobil tuan Demian waktu mereka diusir. Sejak kecelakaan itu nyonya Massimo dinyatakan koma hingga hari ini" jawab Bram menjelaskan.
"Maafkan aku mommy.....hiks hiks hiks" ucap Amira sambil menangis tersedu-sedu.
Hiks..........hiks.......hiks......hiks........
Tangisan Amira dan Denis bergema didalam sana dengan sangat pilu. Siapa saja yang mendengar tangisan keduanya akan ikut menangis karena sangat menyayat hati.
Tanpa mereka semua sadari ternyata jari tangan Linda pelan-pelan bergerak. Matanya perlahan-lahan mulai terbuka mengerjab beberapa kali merasa kesusahan, apa lagi cahaya yang masuk ke matanya terasa menyilaukan.
Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa melihat dengan jelas dan telinganya juga mendengar suara tangis yang terdengar menyayat hati.
Wajahnya menoleh ke samping ingin melihat siapa yang menangis dan seketika jantungnya berdetak dengan cepat melihat sosok yang sangat ia rindukan selama ini.
"De......mia........n" ucap Linda dengan terbata-bata dengan suara lemah.
Deg..............
Jantung Amira dan Denis berdetak dengan cepat mendengar suara perempuan yang terdengar sangat lemah. Keduanya langsung mengangkat wajah mereka dan seketika kaget melihat sosok didepan sana yang sudah membuka mata.
"MOMMY. NENEK" pekik keduanya dengan suara menggelegar mengagetkan Bram, Sandro, dan Leila.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Nyonya besar Massimo" teriak Bram dengan mata melotot kaget.
Linda tersenyum manis melihat Amira dan Denis bergantian. Keduanya langsung memeluk Linda dan menangis sejadi-jadinya merasa senang melihat Linda yang akhirnya sadar setelah pulang tahun koma.
"Mommy........hiks hiks hiks" panggil Amira sambil menangis histeris.
"A......ir" ucap Linda dengan pelan merasa kerongkongannya sangat kering.
Keduanya lalu melepaskan pelukan mereka dan Amira segera mengambil air minum dan sedotan lalu membantu mommy mertuanya minum.
"Presdir Denis" panggil Bram.
"Heemmm"
"Apa kita harus segera memberitahu hal ini kepada tuan Simon. Apa lagi waktu Presdir disini tersisa 20 menit saja" papar Bram menjelaskan.
Denis tidak langsung menjawabnya dan malah melihat neneknya dengan tatapan sulit diartikan. Apa lagi melihat mamanya yang sangat senang bertemu dengan neneknya.
"Suruh Simon kesini sekarang dan beritahu dia tentang nenek yang sudah sadar" titah Denis dengan suara dingin.
"Lalu?" tanya Bram yang langsung dipotong Denis.
"Aku akan tetap disini" potong Denis yang tahu apa yang ingin ditanyakan Bram.
"Baiklah presdir Denis" balas Bram dengan sopan.
Ia lalu keluar dan mengambil hpnya menelpon Simon untuk segera kesini, tidak lupa menelpon dokter yang selama ini merawat nyonya Massimo agar segera datang memeriksa keadaan Linda.
~ Modena Golf ~
Simon yang baru saja selesai menerima telpon dari Bram asistennya, berkali-kali membuang napasnya dengan kasar.
Ia menatap Alexandro Massimo yang sedang berbicara dengan Justin asistennya dengan perasaan campur aduk.
Tenang Simon! Semua akan baik-baik saja karena kamu membawa kabar baik meskipun ada kabar buruk juga, batin Simon menguatkan dirinya sendiri.
Ia lalu berjalan kembali menghampiri Alexandro dengan langkah tegap ingin menyampaikan berita ini.
"Kakek" panggil Simon dengan sopan.
"Apa kamu sudah selesai menelpon?" tanya Alexandro sambil tersenyum lembut.
"Sudah kek" jawab Simon dengan cepat.
"Baguslah. Kalau begitu ayok kita lanjut main golf" ajak Alexandro dengan antusias.
"Uhmmm......itu kek! Sebenarnya aku ingin mengajak kakek pulang ke mansion kakek" ucap Simon sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Pulang? Tapi ini baru 1 jam kita disini nak Simon" protes Alexandro yang tidak ingin pulang sekarang.
Bukan tanpa alasan karena ini adalah hobinya dan sudah lama sekali ia tidak bermain golf karena kesibukannya, apa lagi anak dan semua cucunya tidak menyukai permainan golf seperti mendiang putra pertamanya.
"Kita harus pulang sekarang kek. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kakek setelah sampai disana" tegas Simon dengan wajah serius.
"Baiklah" ucap Alexandro yang melihat wajah serius Simon.
Mereka segera pergi dari sana menuju mansion. Didalam mobil tidak ada yang berbicara karena masing-masing sibuk dengan pemikirannya.
Semoga kakek Alexandro tidak marah karena aku sudah membawa Denis dan mamanya ke sana, batin Simon dengan penuh harap.
Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Simon, batin Alexandro yang menatap Simon dengan tatapan curiga.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...........