Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 212


William, Sanches, dan Henry yang baru saja masuk ke dalam ruang pertemuan kaget saat Roy menggebrak meja sambil mengucap nama Denis.


Tatapan matanya berkilat tajam menunjukkan kalau saat ini sedang emosi. Ketiganya saling melirik bertanya apa yang terjadi dengan Roy Martinez tapi tidak ada yang tahu.


"Anda kenapa Mr. Martinez?" tanya William dengan suara berwibawa.


Brugh..................


Roy melempar foto-foto tadi di atas meja sehingga menjadi berserakan. Ketiganya lalu mengambil foto-foto itu dan mulai melihatnya.


Mereka di buat kaget melihat foto-foto itu, Henry sampai berlari keluar menuju toilet tidak bisa menahan mualnya melihat foto Adam yang sangat mengerikan.


Sedangkan didalam ruang pertemuan William dan Sanches syok tidak bisa berkata apa-apa. Baru kali ini mereka mendapat musuh yang sangat mengerikan selama ini dan satu nama yang terlintas di otak mereka yaitu Demian Arkana Massimo.


Bukan tanpa alasan karena kekejaman musuh mereka kali ini sama persis dengan Demian saat membasmi musuh.


"Aku tidak sangka anak si pengkhianat itu ternyata sama kejam dengan dia" ucap Sanches dengan gusar.


"Anak yang lahir dari seorang iblis tetap akan menjadi anak iblis" ucap William dengan suara berwibawa.


"Berengsek!" hardik Roy dengan emosi.


Matanya menatap tajam William seakan ingin membunuhnya karena tidak menyukai ucapan William barusan. Entah kenapa mendengar nama Demian rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik seseorang karena selama ini ia sangat cemburu dengan Demian.


"Jangan pernah sebut nama pengkhianat itu lagi di depanku" hardik Roy dengan suara menggelegar.


"Lalu aku harus menyebutnya dimana? Bukannya kamu sebagai pemimpin harus bisa mencari cara untuk mengatasi anak sialan itu" sarkas William dengan emosi.


"Tutup mulutmu sialan! Kamu diam saja jika tidak bisa berbuat apa-apa! Bukannya selama ini kamu hanya duduk dan tinggal menerima beres jadi jangan pernah menghakimiku pak tua!" bentak Roy dengan suara menggelegar.


"Kamu" tunjuk William dengan mata berkilat tajam.


"APA KALIAN BISA DIAM! INGAT INI BUKAN SAATNYA MENYALAHKAN SATU SAMA LAIN!" bentak Sanches dengan suara tinggi.


Roy dan William diam sambil menatap permusuhan karena masih emosi. Mau tak mau mereka harus menahan emosi saat ini karena apa yang dibilang oleh Sanches benar.


Ceklek..............


Henry masuk dengan kening berkerut melihat suasana dalam ruang pertemuan yang hening tapi terasa mencekam.


Ia melihat ketiganya yang terlihat tegang seperti sedang menahan emosi. Tak mau mendapat amukan ia memilih duduk dengan tenang tidak bertanya apa yang terjadi.


"Sebaiknya kita pikirkan bagaimana rencana kita selanjutnya" usul Sanches setelah melihat suasana sudah tenang.


"Denis Arkana bukan lawan yang bisa kita anggap remeh" ucap Roy.


"Entah kenapa aku merasa kalau Denis Arkana bukan seorang pengusaha biasa. Dari foto-foto itu menunjukkan kalau dia bukan sekedar pengusaha tapi terlihat seperti seorang mafia" ucap William.


"Ya aku setuju dengan anda Mr. Richie. Tidak ada seorang pengusaha yang melakukan kekerasaan seperti itu. Apa lagi cara menyiksanya sudah seperti seorang mafia" tambah Henry setuju dengan ucapan William.


"Dia seorang mafia seperti papanya" ucap Roy dengan suara tegas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ketiganya langsung menatap Roy dengan tatapan bingung seakan bertanya apa maksud dari ucapannya.


"Lawan kita kali ini Denis Arkana bukan Pablo Ulrico" ucap Roy sambil tersenyum smirk.


"Jadi maksud anda Denis Arkana itu seorang mafia" tebak Sanchez


"Heemmm" deham Roy sambil mengangguk kepalanya.


"Phew! Berarti mulai sekarang kita harus behati-hati mengambil tindakan" ucap William sambil membuang napas dengan kasar.


"Menurutku sebentar lagi kita adakan didatangi oleh Denis Arkana" ucap Roy.


"Apa" pekik Henry dan Sanches dengan kaget.


"Jadi kali ini kitalah targetnya" tebak William sambil tersenyum menyeringai.


"Tepat sekali" ucap Roy dengan tatapan tajam.


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Henry dengan suara dingin.


"Perketat penjagaan kita mulai sekarang dan jangan lupa keluarga kita. Aku tidak tahu kapan dia akan mulai rencananya tapi firasatku mengatakan tidak lama lagi kita akan bertemu dengannya" jawab Roy dengan suara dingin.


Ketiganya diam memikirkan ucapan Roy dan juga memikirkan cara untuk menghadapi Denis. Roy sendiri berpikir jika ini waktu yang tepat untuk mendapatkan darah dan kornea mata Denis.


Aku akan menunggu kedatanganmu Denis Arkana, batin Roy dengan tatapan penuh kebencian.


~ Jakarta, Indonesia ~


David sedari tadi bingung dengan hasil pemeriksaan sang tuan karena tubuhnya tidak ada penyakit apapun.


Bagaimana mungkin tubuh tuan tidak terdeteksi penyakit apa pun? Bukannya malam itu tuan terlihat sangat kesakitan ya, batin David dengan bingung.


Mau tidak percaya dengan hasil pemeriksaan Martin Massimo tapi tadi dia sendiri ikut dengan dokter saat Martin melakukan beberapa pemeriksaan di rumah sakit.


"Tuan" panggil David sambil menoleh Martin di kursi belakang.


"Ada apa?" tanya Martin sambil menutup mata merasa masih sedikit pusing.


"Apa sebaiknya tuan tes darah juga ya" usul David.


"Berengsek! Mau berapa kali kamu ingin aku melakukan pemeriksaan di rumah sakit sialan! Apa kamu itu bodoh tidak mengdengar penjelasan dokter tadi bangsat!" bentak Martin dengan berapi-api.


"Maa...f tuan. Saya hanya masih bingung saja dengan hasil pemeriksaan tuan tadi" ucap David dengan gugup.


"Ckk!! Jadi kamu itu pengennya aku sakit bangsat!" bentak Martin dengan suara menggelegar.


"Bukan itu maksud saya tuan"


"Sekali lagi kamu menyuruhku ke rumah sakit maka aku mematahkan lehermu" ancam Martin dengan tatapan berkilat tajam.


"Maafkan saya tuan" ucap David memilih mengalah.


"Heemmm! Bagaimana dengan perempuan miskin itu?" tanya Martin dengan suara dingin.


"Menurut anak buah kita nyonya Amira sampai hari ini belum keluar dari rumah tuan" jawab David.


"Sialan! Cari cara agar wanita tua itu datang ke hotel" titah Martin dengan suara tegas.


"Baik tuan"


Tak berselang lama mobil Martin tiba di hotel Laviola, saat turun dari mobil Martin merasa jantungnya kembali berdetak dengan cepat tapi ia hiraukan saja.


~ Rumah Arkana ~


Pagi ini Amira yang merasa sudah lebih baik memilih untuk berjemur di taman belakang. Ia ditemani bi Eda menikmati bunga kesukaannya disana.


"Bi tolong ambil hp aku di kamar ya" pinta Amira dengan suara lembut.


"Baik nyonya" jawab bi Eda sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama bi Eda datang kembali sambil membawa hp miliknya. Amira ingin menghubungi Denis anaknya tapi ia urungkan saat melihat kedatangan Arkan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Arkan tumben kamu datang?" tanya Amira sambil tersenyum lembut.


"Cih! Memangnya aku tidak boleh datang ke sini ma" decih Arkan sambil memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu maksud mama Arkan. Kamu kan biasa datang sama Leila atau Denis jika kesini nak" ucap Amira dengan suara lembut tak mau Arkan salah paham.


"Ka Leila mah sekarang kemana-mana harus sama bos ma jadi aku tidak bisa sama ka Leila lagi" keluh Arkan dengan kesal.


"Ya kan Leila sedang hamil nak jadi harus selalu dijaga Denis" ucap Amira dengan suara lembut.


"Benar juga ya ma! Hehehehe" ucap Arkan sambil terkekeh.


Amira menggeleng kepalanya melihat Arkan tapi tak lama matanya memandang ke arah samping melihat seorang gadis bule yang berdiri di belakang Arkan.


"Arkan itu siapa?" tanya Amira sambil menunjuk perempuan di belakang Arkan.


"Oh iya aku sampai lupa. Ka ayok sini" ucap Arkan menepuk keningnya melupakan Claudia.


Ya ternyata perempuan itu adalah Claudia mantan asisten Liliana dan saat ini sudah menjadi pacar kakaknya Rayen.


Pagi ini Arkan yang kesal dengan kakaknya karena tidak mau membelikannya mobil yang ia inginkan, jadi ia mengerjai kakaknya dengan membawa Claudia pergi dari rumah tanpa sepengetahuan sang kakak.


"Mama kenalin ini ka Claudia pacar ka Rayen" ucap Arkan mengenalkan.


"Hah! Yang benar" pekik Amira dengan kaget.


"Beneran ma. Tanya aja sama ka Claudia" balas Arkan dengan jujur.


"Halo nyonya" ucap Claudia sambil menunduk.


"Jangan panggil nyonya nak. Panggil saja mama seperti Arkan" balas Amira dengan suara lembut.


"Iy......a ma" ucap Claudia dengan gugup.


Amira lalu mengajak Arkan dan Claudia untuk sarapan bersama di taman belakang. Claudia yang tadinya gugup tidak lagi gugup karena tenyata Amira sangat asyik diajak mengobrol.


~ Mansion Denis Arkana ~


Hoeek............hoeek..........hoeek...........


Leila memuntahkan semua isi perutnya didalam kamar mandi. Denis yang sedang tidur bergegas bangun saat mendengar suara muntah sang istri.


Dengan telaten ia memijit tengkuk sang istri sambil membersihkan bekas muntahannya. Leila diam saja membiarkan suaminya membantu ia membersihkan mulut karena saat ini tubuhnya sangat lemah.


"Aku bawakan teh hangat ya sayang" ucap Denis.


"Aku mau susu coklat saja sayang" ucap Leila dengan suara lemah.


"Ya sudah aku suruh pak Tio buatkan ya sayang"


"Aku maunya kamu sayang" ucap Leila dengan manja.


"Baiklah tunggu disini sayang"


"Aku ikut sayang. Aku tidak mau jauh dari kamu sayang" lirih Leila dengan mata berkaca-kaca.


Denis segera mengendong istrinya seperti koala tak mau membuat sang istri sedih. Sejak mendengar penjelasan dokter Suci mengenai kehamilan dan hormon ibu hamil, ia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk sang istri.


"Selamat pagi tuan, nyonya" ucap pak Tio di lantai satu.


"Pergi" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik tuan"


Pak Tio lalu memberi isyarat kepada pelayan dan koki untuk keluar dari dapur. Sampainya di dapur Denis mendudukkan istrinya di meja kitchen dan bergegas membuat susu coklat dengan arahan Leila.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Selesai minum susu Leila yang merasa sudah lebih enak segera membuatkan sarapan untuk suaminya. Keduanya lalu sarapan bersama dengan hening.


"Aku ke ruang kerja dulu ya sayang" ucap Denis mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Jangan lama ya sayang" ucap Leila yang tidak mau jauh dari suaminya.


"Iya sayang"


Cup...............


Denis mencium bibir istrinya dan bergegas ke ruang kerjanya diikuti Arsen yang baru saja datang. Sedangkan Leila ia duduk di ruang keluarga sambil menonton film action.


"Pak Tio tolong bawakan anggur hijau" ucap Leila.


"Baik nyonya"


Sedangkan didalam ruang kerja Denis saat ini ia sedang mendengar informasi mengenai paket yang ia kirim untuk Onur Rasyid.


"Jadi adiknya sudah dipindahkan ke Turki?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Benar bos" jawab Arsen.


"Hehehehe! Ternyata dia masih ada otak juga" ucap Denis sambil terkekeh.


"Bos mata-mata kita memberitahu kalau Martin Massimo semalam di rawat di rumah sakit Pertiwi karena batuk berdarah saat di club Zeus" ucap Arsen memberitahu.


Hahahaha.....................


Tawa Dinas menggelegar didalam sana mendengar laporan Arsen barusan. Ia yakin kalau racun yang ia berikan sudah mulai bekerja.


"Berapa banyak dosis yang kalian berikan ke pak tua itu?" tanya Denis.


"Semuanya bos" jawab Arsen.


"Bagus" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


"Suruh mata-mata kita untuk tidak mematai dia lagi karena aku yakin sebentar lagi ia akan pulang ke negara asalnya. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya mati karena racun itu" tambahnya dengan tatapan penuh dendam.


"Baik bos"


Sebelum Arsen pergi ia juga memberikan beberapa undangan dari kolega Denis salah satunya yaitu dari Pablo Ulrico.


"Kapan ulang tahun putranya?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Minggu depan bos dan ia juga akan mengumumkan tentang Gio yang akan menjadi penerusnya nanti di perusahan" jawab Arsen menjelaskan.


"Heemmm" deham Denis.


Arsen lalu segera keluar karena tidak ada lagi yang ingin ia sampaikan. Ia akan kembali ke perusahaan untuk membantu Rian mengurus perusahaan dan mengantikan Denis untuk meeting di luar.


Kring..................


Alis Denis terangkat sebelah melihat nama Austin Smith di layar hpnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.............