Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 178


Berbeda dengan Alan yang sedang bahagia karena berhasil masuk ke dalam perusahaan Denis, saat ini Luca Othello sedang emosi karena bisnisnya tiba-tiba saja digebrek polisi.


Matanya berkilat tajam menatap Sandy tangan kanannya yang baru saja menyampaikan informasi tentang bisnis perdagangan wanita miliknya yang digebrek polisi.


"Bangsat! Bagaimana bisa polisi menemukan gudang penyimpanan kita?" tanya Luca dengan suara menggelegar.


"Maaf bos tapi saya juga tidak tahu bagaimana bisa polisi mengetahui lokasi gudang kita" jawab Sandy dengan gugup.


Brugh...............


Sandy menutup mata menahan rasa sakit di keningnya karena terkena lemparan asbak rokok di dari Luca. Darah segera mengalir di keningnya tapi ia hanya diam saja tidak bisa marah atau protes.


"Ada berapa anak buah kita yang ditanggkap polisi?" tanya Luca dengan emosi.


"Ada 8 orang bos" jawab Sandy.


"Bunuh mereka semua sebelum mereka membuka mulut" titah Luca dengan tatapan berkilat tajam.


"Baik bos"


"Ah! Jangan lupa bawakan informasi mengenai polisi yang menangani kasus ini" ucap Luca dengan cepat sebelum Sandy pergi.


"Tidak perlu kawan" ucap suara baritone dari depan pintu sebelum Sandy menjawab.


Luca menatap Sandy dan memberinya isyarat untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Sandy membungkuk hormat pamit pergi kepada Luca dan Dante Constanzo yang sedang berdiri di depan pintu sambil bersedakap tangan di dada.


Setelah melihat Sandy sudah pergi, Luca memberinya isyarat untuk masuk dan menutup pintu agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa kamu kesini? Bukannya kita akan bertemu dua hari lagi?" tanya Luca dengan bingung.


"Karena kita mempunyai musuh yang sama kali ini" jawab Dante dengan ambigu.


"Hah! Maksud kamu?" tanya Luca dengan kening berkerut tak mengerti ucapan Dante barusan.


"Detektif Gilang adalah polisi yang menangani kasus penggerebekan gudang kamu dan juga gudang penyimpanan narkoba milikku" jawab Dante dengan suara dingin dan tatapan penuh emosi.


"Apa! Jadi gudang kamu juga digebrek" tanya Luca dengan kaget.


"Ya 3 jam setelah aku sampai di Indonesia" jawab Dante dengan suara dingin.


"Berengsek! Ingin cari mati dia!" sarkas Luca dengan emosi.


"Berikan aku data detektif sialan itu" ucapnya lagi dengan suara dingin.


Dante lalu memberikan map coklat berisi informasi mengenai data detektif Gilang kepada Luca. Saat membaca informasi tersebut, Luca tertawa tak menyangka jika detektif Gilang adalah orang yang sangat populer di dunia bawah saat ini.


"Aku tidak sabar ingin bertemu detektif sialan itu" ucap Luca sambil tersenyum smirk.


"Kamu bisa bertemu dengannya nanti malam" balas Dante dengan suara dingin.


Luca menatap Dante sambil mengangkat alisnya sebelah merasa bingung dengan ucapannya barusan. Melihat tatapan Luca yang seakan meminta penjelasan ia segera memberitahu maksud ucapannya.


"Malam ini aku akan club Zeus dan detektif itu juga akan ke sana" ucap Dante.


"Dari mana kamu tahu dia akan pergi?" tanya Luca.


"Karena aku yang membuang umpan kepadanya agar datang ke sana" jawab Dante sambil tersenyum menyeringai.


"Bagus aku suka dengan tindakanmu kawan. Kalau begitu malam ini kita habisi dia sebagai salam pertemuan pertama kita" ajak Luca dengan antusias.


"Heemmm" deham Dante sambil mengangguk kepalanya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Keduanya lalu diam sambil berpikir tentang rencana mereka semalam untuk memberi pelajaran kepada detektif Gilang dan sudah tidak sabar untuk melakukan apa yang mereka rencanakan.


~ DA Corp ~


Tepat pukul 12:00 Arsen dan Rian sudah bersama dengan orang yang ditunggu oleh Denis sedari pagi. Apa lagi orang itu yang lebih dulu ingin menemuinya.


Ceklek...............


Arsen, Rian, dan orang tersebut yang berpenampilan serba hitam dan tertutup segera masuk ke dalam ruangan Denis, setelah mendapat persetujuan untuk masuk.


"Bos dia sudah datang" lapor Arsen dengan suara dingin.


Denis diam tidak berbicara dan menatap orang didepannya dengan tatapan dingin dan tajam.


Orang didepannya juga membalas menatap Denis dengan tajam dari balik kaca mata hitamnya, tapi sesaat ia merasa gugup saat terlalu lama mendapat tatapan tajam Denis yang seakan ingin menelannya.


Auranya lebih mengerikan dari Demian, batin orang tersebut.


Melihat orang depannya Denis ia malah tersenyum smirk membaca pikirannya dan ia yakin orang ini bukanlah orang sembarangan.


"Arsen" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.


Arsen yang mengerti maksud ucapan Denis segera mengeluarkan pistolnya dan menodongkan ke orang di depannya. Begitu pula dengan Rian yang juga menodongkan pistolnya ke orang itu dari belakang.


"Hehehehe! Apa aku akan ditembak?" tanya orang tersebut sambil tersenyum menyeringai.


"Tergantung dengan tindakanmu selanjutnya" jawab Arsen dengan suara dingin.


"Baiklah"


Orang itu lalu melepaskan masker mulutnya dan kaca mata hitam yang ia pakai. Begitu pula dengan topi yang ia pakai sehingga wajahnya terlihat jelas didepan ketiganya.


"Begitulah. Ayahku orang Italia sedangkan ibuku orang Indonesia" balas orang tersebut dengan santai.


"Aku tidak bertanya pak tua" ucap Arsen sambil tersenyum mengejek.


Orang itu melotot menatap Arsen merasa kesal karena merasa seperti dipermainkan oleh anak muda didepannya itu.


"Lepaskan topeng wajahmu itu" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.


Deg...............


Jantung orang tersebut berdetak dengan cepat merasa kaget karena ternyata Denis bisa mengetahui jika ia menggunakan topeng wajah saat ini.


Sedangkan Arsen dan Rian yang mendengar ucapan bos mereka juga dibuat kaget. Keduanya tak menyangka jika Denis akan mengetahui hal sekecil itu yang tidak bisa mereka lihat.


"Berengsek!" hardik Arsen dengan emosi merasa dipermainkan.


"Tenang anak muda. Aku mengaku salah dan akan melepaskannya" ucap orang itu sambil mengangkat kedua tangannya mengalah.


"Lakukan cepat sialan!" bentak Arsen dengan suara tinggi.


Sret.............


Dengan cepat orang itu melepaskan topeng wajahnya dan memperlihatkan wajahnya yang asli. Meski sudah berumur sekitar 50an tapi perawakannya masih seperti orang berumur 40an.


"Who are you and what do you want from me?" (siapa kamu dan apa yang kamu mau dariku) tanya Denis dengan saura dingin dan tatapan tajam.


"My name is Pablo Ulrico and i'm from Italia" (nama aku Pablo Ulrico dan aku berasal dari Italia) jawab Pablo dengan suara tak kalah dingin.


"Aku adalah teman papa kamu" tambahnya lagi.


Hahahaha.................


Seketika tawa Denis pecah menggelegar didalam sana membuat Pablo menatapnya dengan bingung. Bukan hanya Denis saja yang tertawa tapi Arsen dan juga Rian juga ikut tertawa dengan tatapan sinis menatapnya.


"My Daddy friend?" (teman papaku) tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Ada masalah dengan hal itu?" tanya balik Pablo sambil mengangkat sebelah alisnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis tak menjawab dan malah tersenyum menyeringai menatap Pablo dengan sinis. Ia lalu melihat Arsen dan mengangguk kepala memberikan isyarat untuk mengambil alih pembicaraan.


"Pak tua! Pak tua!" ucap Arsen sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa anda tahu pak tua? Ada seorang pak tua juga yang sebelumnya berkata dia adalah sahabat tuan besar tapi pada akhirnya ia dihajar oleh bos dan di deportasi dari negara ini untuk selamanya" tambahnya lagi dengan suara dignin dan tegas.


"Ah! Maksudmu si brengsek Roy ya" ucap Pablo dengan santai.


"Kalau anda tahu maka anda sudah bisa menebak bagaimana hasil akhir dari pertemuan kita ini" balas Arsen dengan suara dingin.


"Kamu memang sangat peka dan teliti seperti papa kamu Denis Arkana" ucap Pablo sambil menatap Denis dengan tajam.


"Jadi apa maksud kedatangan anda kesini?" tanya Arsen to the point.


"Apa yang mau kamu dengar?" tanya balik Pablo.


"Jawab pertanyaan aku pak tua karena anda tidak berada di posisi untuk bertanya balik" hardik Arsen dengan suara tinggi.


"Aku lebih suka berbicara langsung dengan bosmu itu dari pada kacung sepertimu" balas Pablo sambil tersenyum smirk.


"Ah! Begitu ya! Kalau begitu apa aku bisa berbicara dengan mereka juga" ucap Arsen sambil menunjuk ke samping.


Pablo lalu melirik ke samping dimana ada TV berukuran besar disana dan seketika matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat dua orang yang sangat dikenalinya.


"Berengsek! Apa yang kamu lakukan dengan anakku sialan?" tanya Pablo dengan suara tinggi.


"Jika kamu tidak ingin mereka kenapa-kenapa sebaiknya kamu mulai menjelaskan tujuanmu kesini dan apa maksud pesan yang kamu kirim selama ini" jawab Arsen dengan suara tegas.


"Baiklah" ucap Pablo dengan cepat karena yakin orang didepannya tidak main-main dengan ucapannya.


Pablo segera menjelaskan maksud tujuannya kesini dan alasan kenapa ia mengirim email kepada Arsen.


Bahkan ia juga menyuruh hackernya di markas untuk mengirim semua bukti tentang persahabatannya dengan Demian Arkana.Massimo sejak mereka berumur 17 tahun.


"Apa lagi yang ingin kalian tanyakan?" tanya Pablo dengan suara dingin.


"Kalau kamu sahabat papaku, kenapa kamu tidak membantu papaku saat dia di usir?" tanya Denis yang sedari tadi diam.


"Karena waktu itu aku harus bersembunyi di Afrika dalam waktu lama karena kejaran interpol dan FBI yang berhasil melacak keberadaan ku. Sebelum aku bersembunyi aku sudah memberitahu hal ini kepada Demian saat ia pulang ke Italia bersama mamamu" Jawab Pablo dengan jujur.


"Setelah 2 tahun kepergian papamu aku baru bisa keluar dari tempat persembunyian setelah anak buahku menghancurkan semua bukti kejahatan aku di polisi. Saat mendengar kematian papamu aku datang ke Indonesia untuk mencari makam Demian dan kalian tapi aku kehilangan jejak kalian karena Demian mengganti identitasnya" ucapnya lagi sambil meneteskan air mata.


Denis diam menatap ke dalam mata Pablo mencari kebohongan tapi yang ia dapatkan hanyalah kejujuran dan rasa sedih yang amat dalam.


"Lalu apa tujuan kamu datang saat ini?" tanya Denis dengan suara dignin.


"Menghancurkan Nine Cloud" jawab Pablo dengan amarah penuh dendam.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue............