Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 167


Lama keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Dimana Paulo memikirkan sahabat dan keluarganya, sedangkan Vito memikirkan nasib sang bos.


"Vito suruh kedua anak aku untuk segera kesini" ucap Pablo dengan suara tegas.


"Apa anda yakin bos?" tanya Vito dengan kaget.


"Ya aku yakin" jawab Paulo dengan suara tegas.


"Tapi bagaimana jika mereka di serang musuh anda seperti waktu itu bos?" tanya Vito dengan cepat.


"Aku akan menghadapi mereka. Aku tidak ingin menjadi pengecut seperti dulu yang terus melarikan diri dan bersembunyi" jawab Paulo dengan suara dingin.


Phew..........


Paulo membuang napasnya dengan kasar mengingat kejadian beberapa tahun terakhir, dimana ia harus kehilangan istrinya karena melindungi kedua buah hati mereka.


"Cukup sudah aku kehilangan orang yang aku cintai dan sayangi Vito. Kini saatnya aku membalas mereka dan tidak ada gunanya aku bersembunyi" tambahnya lagi dengan suara tegas.


"Baiklah bos aku akan segera menjemput tuan dan nona muda" ucap Vito tak bertanya lagi.


"Terima kasih Vito" ucap Paulo dengan tulus.


"Sama-sama bos" balas Vito sambil tersenyum manis.


Vito bergegas pergi dari sana tapi baru saja ia hendak membuka pintu ia menghentikan niatnya.


"Bos kemana aku harus membawa tuan dan nona muda?" tanya Vito dengan cepat pasalnya rumah sang bos di Argentina sudah hancur.


"Disini. Sebelum kamu pergi menjemput anak-anakku kamu beli mansion untuk kami tinggal" jawab Paulo dengan suara tegas.


"Kalau begitu aku akan sekalian mengurus surat-surat kepindahan bos dan identitas bos sekeluarga" balas Vito.


"Lakukanlah"


"Baik bos"


Vito segera beranjak keluar dari kamar hotel Paulo dan melakukan perintah sang bos.


~ Rose Hotel ~


Waktu sudah menunjukkan pukul 11:00 pagi tapi kedua pengantin baru itu belum juga membuka mata.


Tak lama sepasang mata coklat tajam perlahan-lahan terbuka dan saat melihat sosok disampingnya ia tersenyum manis, apa lagi mengingat kegiatan mereka semalam hingga dini hari.


"Sayang ayo bangun" bisik Denis dengan suara lembut.


Eenngghhh............


Leila melenguh tapi tak membuka matanya karena tubuhnya sangat lelah. Melihat hal itu Denis tidak membangunkan istrinya dan membiarkan dia tidur.


Denis bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tak lupa mengirim pesan ke Sandro untuk membawakan makan siang buat mereka satu jam lagi.


"Sayang ayok bangun. Kamu harus makan" ucap Denis sambil mengusap pipi istrinya dengan lembut.


Leila perlahan-lahan mengerjab matanya dan ia langsung di sambut dengan senyum manis suaminya.


"Sayang" ucap Leila dengan suara serak.


"Heemmmm"


"Jam berapa sekarang sayang?" tanya Leila.


"11:45 sayang" jawab Denis dengan suara lembut.


Mata Leila melotot kaget tak menyangka ia akan bangun di jam seperti ini. Denis yang melihat wajah kaget istrinya terkekeh karena menurutnya sangat gemas.


"Ayok aku bantu ke kamar mandi sayang" ucap Denis langsung mengendong istrinya.


Leila tidak protes karena memang tubuhnya sangat sakit, apa lagi di bagian intinya terasa ngilu.


Iisshh............


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Leila meringis saat in*i tubuhnya terkena air beruntung Denis sudah keluar jika tidak ia panik dan memanggil dokter untuk memeriksanya.


Hampir 1 jam Leila didalam kamar mandi, membuat Denis khawatir takut istrinya kenapa-napa didalam sana.


Ceklek............


Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan Denis yang hendak masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek istrinya.


"Kenapa kamu tidak panggil aku sayang?" tanya Denis dengan cepat.


"Aku masih bisa jalan sendiri sayang" jawab Leila sambil tersenyum manis.


"Aku tahu bagian bawahmu masih sakit sayang. Lain kali panggil aku sayang untuk membantumu" titah Denis dengan suara tegas.


"Iya sayang" ucap Leila menjawab iya tak mau berdebat dengan suaminya.


Denis lalu mengendong istrinya ke ranjang dan membantunya memakai pakaian. Wajah Leila memerah seperti kepiting rebus saat dibantu berpakaian.


Mereka memang sudah menjadi suami istri tapi ia belum terbiasa dengan perlakuan suaminya dan sering kali tersipu malu.


"Ayok kita makan sayang" ajak Denis.


"Kenapa kamu pesan sebanyak ini sayang?" tanya Leila saat menatap begitu banyak makanan di atas meja.


"Aku tidak tahu kamu pengen makan apa sayang jadi aku pesan saja semuanya" jawab Denis dengan santai.


"Lain kali pesan secukupnya saja sayang. Karena nanti mubasir jika kita tidak menghabiskan semuanya sayang" ucap Leila dengan bijak.


"Iya sayang"


Keduanya lalu segera menyantap makanan didepan mereka dengan lahap dan hari itu keduanya menghabiskan waktu didalam kamar tak ingin di ganggu siapapun.


2 Hari kemudian


Setelah 2 hari menginap di hotel akhirnya Leila dan Denis pulang ke mansion milik Denis. Selama dua hari Leila merasa badannya remuk redam hingga tidak bisa berjalan karena terus di gempur suaminya.


~ Mansion Denis Arkana ~


"Selamat datang di rumah" ucap semuanya dengan serentak.


"Ka Rayen, Arkan kalian disini juga" ucap Leila dengan senang melihat kakak dan adiknya disana.


"Pasti dek. Kami ingin menyambut pengantin baru yang pulang hari ini" ucap Rayen.


"Ka Leila sakit?" tanya Arkan saat melihat Leila digendong suaminya.


"Tidak dek cuma kelelahan aja" jawab Leila sambil tersipu malu.


"Kelelahan karena apa ka?" tanya Arkan dengan cepat.


Leila diam tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan yang lainnya yang tahu kenapa Leila kelelahan menggelengkan kepala mereka menatap Arkan.


"Lebih baik kita masuk ke dalam" ajak Amira.


"Bocah lebih baik kamu tidak bertanya lagi" ucap Sandro sambil merangkul pundak Arkan masuk ke dalam.


"Loh memangnya kenapa?" tanya Arkan dengan penasaran.


"Suatu saat kamu juga bakalan tahu" jawab Sandro sambil tersenyum penuh arti.


Arkan mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Sandro barusan. Pikirannya berkelana memikirkan apa maksud Sandro tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya.


Semuanya lalu berkumpul di ruang keluarga dan membicarakan banyak hal disana. Tak lupa dengan rencana Denis yang akan bulan lalu lusa ke Italia dan setelah seminggu mamanya akan menyusul ke sana.


Setelah makan malam bersama Denis lalu mengajak Sandro dan lainnya masuk ke ruang kerjanya untuk membahas beberapa hal.


"Bagaimana dengan markas?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Markas baik-baik saja bos dan kita juga mendapat pesanan senjata yang sangat banyak dalam bulan ini" jawab Sandro.


"Beritahu Max untuk tetap memantau produksi senjata kita dan pengirimannya" titah Denis dengan suara tegas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Baik bos" jawab Sandro.


"Selama aku bulan madu kalian yang akan menghendel urusan perusahaan. Segera beritahu aku jika terjadi sesuatu" titah Denis dengan tatapan tajam.


"Baik bos" jawab Arsen dan Sandro dengan serentak.


"Beritahu Arkan untuk membantu Max di markas. Dan kamu Sandro yang akan menemani mama aku ke Italia nanti" ucap Denis.


"Baik bos" ucap Sandro dengan suara tegas.


"Arsen cari tahu orang yang menatap aku saat aku selesai dansa waktu di resepsi pernikahan. Dia berdiri di bagian selatan bersebelahan dengan tuan besar Regans" ucap Denis dengan suara dingin dan datar.


"Memangnya dia kenapa bos?" tanya Arsen dengan penasaran.


"Tidak lama lagi dia akan menghubungiku untuk bertemu" jawab Denis dengan ambigu.


"Baik bos" balas Arsen tak bertanya lagi.


Meski dalam hatinya ia sangat penasaran dengan ucapan Denis tentang orang itu. Tapi ia tidak berani bertanya lebih dalam lagi, Denis sebenarnya tahu jika Arsen belum puas dengan jawabannya tapi ia tidak perduli.


Hari ini adalah hari keberangkatan Denis dan Leila untuk bulan madu. Keduanya saat ini sudah berada di dalam jet pribadi Denis yang akan membawa mereka ke Italia.


~ Roma, Italia ~


Setelah 13 jam 45 menit akhirnya jet pribadi Denis landing di Bandar Udara Internasional Leonardo da Vinci di Roma, Italia.


Sebelum turun dari jet Denis sudah menghubungi Simon memberitahu kedatangan mereka.


Bukan tanpa alasan Denis menghubungi Simon, karena kedatangannya kali ini ia membutuhkan koneksi Simon agar tidak ada yang mengetahuinya.


Ia berencana akan berbulan madu sekalian menemui sang nenek nanti minggu depan bersama mamanya.


"Selamat datang Denis dan Leila" ucap Simon di bawah jet.


"Terima kasih sudah menyambut kami ka Simon" balas Leila dengan suara lembut.


"Suatu kehormatan untukku" balas Simon sambil tersenyum lebar.


"Jaga mata kalian dari istriku sebelum aku mencongkel mata kalian!" bentak Denis dengan suara tinggi saat anak buah Simon menatap istrinya sedari tadi.


"Sayang" ucap Leila dengan malu.


"Lakukan perintah Denis" ucap Simon dengan suara tinggi.


Seketika semua anak buah Simon menunduk melakukan perintah Simon. Melihat hal itu Denis segera menyuruh anak buahnya saja untuk mengawal mereka tidak mau aku anak buah Simon.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Semuanya sudah siap sesuai keinginanmu" jawab Simon.


"Heemmm"


Denis dan Leila bergegas pergi dari sana menuju villa yang akan mereka tempati selama seminggu disana.


Sebelum masuk ke dalam mobil Denis mengangguk kepalanya sebagai isyarat kepada Simon untuk menutup jejak informasi mereka saat ini.


"Dì ai tuoi uomini di sorvegliare Denis e sua moglie da lontano" (Beritahu anak buahmu untuk menjaga Denis dsn istrinya dari jauh) titah Simon ke asistennya yang bernama Bram.


"Si signore" (baik tuan) jawab Bram.


"dov'è adesso papà?" (dimana papa saat ini) tanya Simon dengan suara dingin.


"Il signor Roy è con il signor Massimo alla griglia del casinò" (tuan Roy sedang bersama tuan Massimo di kasino Grill) jawab Bram.


"guarda tutti! Non far sapere a papà che Denis è qui" (Pantau semuanya! Jangan sampai papa tahu kedatangan Denis di sini) titah Simon dengan suara tegas.


"Si signore" (Baik tuan) jawab Bram dengan suara tegas.


Simon lalu bergegas pergi dari sana tak ingin sampai papanya tahu keberadaan dia disini. Didalam mobil ia terus memikirkan rencana untuk mempertemukan Denis dengan sang nenek di mansion utama Massimo.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue................