Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 48


Brugh………………


Tatapan mata Denis berkilat tajam menatap orang yang menabraknya barusan seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Arsen yang sedari tadi mengikuti bosnya menarik napas dalam merasa kasihan kepada Keysa yang sudah menabrak Denis barusan.


Kamu membangunkan singa yang sedang emosi Keysa, batin Arsen merasa kasihan.


“APA KAMU BUTA SIALAN!” bentak Denis dengan suara menggelegar.


Beruntung ruang kerja Amira berada di lantai dua dan semua ruangan VIP disana kedap suara, jadi para pengunjung tidak mendengar bentakan Denis di sana.


Amira yang mendengar suara anaknya bergegas keluar dari ruang kerjanya karena penasaran apa yang terjadi.


“Ma…..afkan saya tua….n mud…..a tadi say….a tida…..k melihat kedatangan tu….an muda” ucap Keysa dengan terbata-bata karena takut.


“Tidak melihat? Apa matamu masih berfungsi?” tanya Denis dengan suara tinggi.


“Maa….fkan saya tuan muda” ucap Keysa dengan tubuh semakin gemetaran.


“Kalau tidak bisa melihat lagi lebih baik kamu cong.kel saja mata sialanmu itu berengsek!” bentak Denis dengan suara tinggi.


Eeehhh……………….


Keysa tercengang mendengar ucapan Denis barusan yang sangat kasar begitu juga dengan Amira yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


“Denis ayok masuk ke ruangan mama” ajak Amira dengan suara lembut tak ingin anaknya kelepasan emosi disana.


“Ckk!!” decak Denis dengan kesal.


Meski masih belum puas memarahi Keysa, tapi ia tetap melakukan apa yang di suruh oleh mamanya. Arsen sendiri bernapas dengan lega karena ada tante Amira sehingga Denis tidak sampai melakukan kekerasan kepada Keysa.


“Keysa kamu boleh kembali bekerja” ucap Amira dengan suara lembut dan tegas.


“Iya nyonya” ucap Keysa sambil membungkuk hormat.


Amira segera menyusul anaknya didalam sana meninggalkan Keysa dan Arsen disana. Saat Keysa akan melewati Arsen langkahnya seketika terhenti mendengar ucapan Arsen.


“Kamu beruntung karena nyonya muncul tepat waktu Keysa” ucap Arsen dengan suara tegas.


“Iya tuan Arsen saya tahu” balas Keysa dengan sopan.


“Jangan pernah mencari perhatian bos lagi Keysa cukup hal ini aku yang tahu” ucap Arsen memperingati.


Deg……………..


Jantung Keysa berdetak dengan cepat tak menyangka jika Arsen akan mengetahui trik yang ia lakukan barusan. Arsen sendiri menatap Keysa sambil tersenyum menyeringai, melihat wajah terkejut Keysa karena tak menyangka jika Arsen tahu triknya barusan.


“Bodoh” cibir Arsen dengan sinis berlalu masuk ke dalam ruangan tante Amira.


Keysa mengepal kedua tangannya dengan erat menahan emosi mendengar cibiran Arsen barusan, apa lagi Arsen yang mengetahui triknya tadi untuk mencari perhatian Denis dengan sengaja menabrakkan dirinya tapi itu semua gagal total.


Berengsek, batin Keysa dengan emosi.


Sedangkan didalam ruangan Amira saat ini Denis sedang duduk di sofa sambil menutup mata mengontrol emosinya. Amira yang tahu anaknya masih emosi hanya bisa duduk dengan diam tak berani berbicara lebih dulu.


“Bawakan minuman dingin buatku Arsen” ucap Denis dengan suara dingin tanpa membuka mata saat Arsen baru saja masuk.


“Eehh! Iya bos” ucap Arsen dengan kaget karena Denis mengetahui kedatangannya padahal ia sudah membuka pintu dengan pelan agar tak membuat suara.


Setelah Arsen pergi Denis lalu membuka matanya dan menatap mamanya dengan tajam dan dingin membuat Amira menjadi sangat gugup.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Apa mama ketemu mereka?” tanya Denis dengan suara tegas tapi masih ada kelembutan dalam setiap kalimatnya.


“Mama tidak bertemu dengan mereka nak” jawab Amira dengan cepat.


“Heeemmm! Jangan menemui mereka lagi ma karena kedatangan mereka kesini ada maksud terselubung” ucap Denis dengan suara tegas.


“Maksud terselubung?” tanya Amira dengan kening berkerut.


“Perusahaan mereka sedang dalam masalah keuangan dan butuh dana banyak untuk menutupi masalah keuangan mereka. Kedatangan mereka kesini bukan semata-mata ingin mengenal aku tapi mereka membutuhkan sidik jari dan darah aku untuk membuka brangkas milik papa ma” papar Denis menjelaskan semuanya.


“Apa” pekik Amira dengan kaget.


Amira kaget bukan main tak menyangka jika kedatangan keluarga suaminya hanya semata-mata untuk harta warisan milik suaminya yang hanya bisa dibuka oleh anaknya Denis.


Wajahnya yang biasa terlihat ayu berubah seketika menjadi emosi dengan mata berkilat tajam.


“Jadi mereka datang hanya untuk uang papa kamu disana” ucap Amira dengan tatapan berkilat tajam.


“Heemmmm” deham Denis sambil mengangguk kepalanya.


“Sampai kapan pun mama tidak akan membiarkan mereka membawa kamu nak. Apa mereka pikir kamu itu alat penghasil uang untuk mereka apa?” tanya Amira dengan emosi.


Denis tersenyum smirk memikirkan keluarga papanya yang berniat ingin membawa dia hanya untuk menyelamatkan perusahaan mereka.


Arsen yang baru saja masuk membawa minuman dingin untuk bosnya, menatap bosnya dengan selidik dan ia yakin sebentar lagi ada perintah gila lainnya dari sang bos.


Semoga Sandro pulang baru bos memberi perintah gilanya, batin Arsen penuh harap.


“Arsen” panggil Denis dengan suara dingin.


“Iya bos” jawab Arsen dengan cepat.


“Cari tahu semua informasi mengenai Simo Group dan rekan kerjanya. Jangan lupa kirim proposal ke mereka untuk menjalin kerja sama dengan mereka” titah Denis sambil tersenyum penuh arti.


“Denis” ucap Amira dengan mata melotot tajam mendengar nama perusahaan itu.


“Tenang ma. Aku tidak macam-macam kok hanya ingin bermain dengan mereka saja ma! Hehehehe” ucap Denis sambil terkekeh.


“Mama tidak setuju nak. Jika kamu melakukan hal itu berarti kamu sama seperti mereka nak” nasihat Amira dengan bijak.


Denis diam mendengar ucapan mamanya yang ada benarnya juga karena jika dia melakukan hal itu berarti dia sama seperti mereka.


Denis dengan cepat membatalkan perintahnya barusan kepada Arsen, membuat Amira tersenyum bahagia karena anaknya mau mendengar nasihatnya.


Setidaknya mama masih bisa menyelamatkan kamu untuk tidak jadi orang jahat dan licik seperti mereka nak, batin Amira.


~ Hilton Hotel ~


Martin mengumpat kesal sedari tadi saat pulang dari restoran milik Amira, karena lagi-lagi mereka gagal untuk berbicara dengan Amira dan meyakinkan dia jika mereka datang ingin mengenal anak kakaknya Demian.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Apa yang harus kita lakukan daddy? Semua rencana kita gagal total” ucap Martin dengan kesal.


“Menurut daddy sebaiknya kita jangan menganggu Amira dan anaknya lagi” ucap Alexandro dengan suara tegas.


“Apa!” pekik Martin dengan kaget.


“Daddy tidak bisa membatalkan semuanya begitu saja dad. Ingat daddy, kondisi perusahaan kita saat ini sangat membutuhkan dana banyak untuk membayar semua utang-utang kita jika tidak kita akan bangkrut daddy” ucap Martin dengan suara tinggi.


“Karena siapa perusahaan kita seperti ini!” bentak Alexandro dengan tatapan tajam.


“Semua itu aku ngelakuin buat perusahaan kita daddy” hardik Martin dengan suara tinggi.


“Perusahaan? Bukannya demi foya-foya dengan pel***r-pel***rmu itu” ucap Alexandro dengan sinis.


Martin bungkam karena memang apa yang dibilang daddynya itu benar, karena selama ini ia memakai uang perusahaan untuk berfoya-foya dengan alasan mencari investasi di club malam.


“Tuan lalu bagaimana dengan perusahaan? Jika kita tidak membawa tuan muda Denis maka kita tidak bisa membuka brankas milik tuan muda pertama tuan” ucap Justin.


Alexandro diam dengan tatapan dingin menerawang kembali saat ia dengan anaknya berdebat hebat, hanya karena Demian memilih menikah dengan gadis miskin dan asal-usulnya tidak jelas.


Dari pada menikah dengan pilihannya yang memang sudah jelas asal-usulnya, dengan latar belakang sama seperti mereka.


Jika waktu itu daddy merestui pilihan kamu apa kamu masih berada dengan daddy saat ini, batin Alexandro merasa sangat menyesal dan bersalah.


Martin dan Justin yang melihat daddy dan tuan mereka hanya diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu, saling melirik bertanya apa yang terjadi dengan Alexandro.


“Siapkan kepulangan kita malam nanti” ucap Alexandro dengan suara tegas.


“Tapi daddy kita tidak bisa pulang saat ini sebelum membuat Denis ikut dengan kita daddy” potong Martin dengan cepat.


“Jangan membantah ucapan daddy Martin. Suka tidak suka malam ini juga kita pulang” titah Alexandro tak mau dibantah.


“Daddy akan menyesal nanti” hardik Martin dengan suara tinggi.


Brak………………


Martin membanting pintu kamar hotel Alexandro dengan kuat, membuat Alexandro menutup mata melihat emosi anaknya yang sedari dulu tidak bisa di kontrol.


“Tuan apa anda yakin ingin pulang malam ini ke Italia?” tanya Justin.


“Yakin Justin. Semakin lama aku disini maka perasaan bersalah ini semakin besar” ucap Alexandro dengan tatapan sendu.


“Saya akan menyiapkan keberangkatan kita malam nanti tuan” ucap Justin tak bertanya lagi.


Sebelum keluar dari kamar tuannya, Justin menoleh ke belakang melihat tuannya yang sedang menatap ke luar dengan tatapan sendu. Ia tahu tatapan itu adalah tatapan rasa bersalah karena selama ini ia sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Tuan muda pertama apa anda bisa melihat tuan saat ini. Tuan selama ini merasa bersalah dan sangat menyesal sudah mengusir anda dan ia harus menelan kepahitan karena kehilangan anda untuk selamanya, batin Justin merasa iba dengan kondisi tuannya selama ini.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………………