
Sepanjang makan malam Denis menatap mama dan mantan tangan kanan papanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tak berselang lama mata Steven tiba-tiba bersih tatap dengan mata tajam Denis. Ia menelan salivanya berulang kali merasa gugup ditatap seperti itu.
Kenapa Denis natap aku kayak gitu ya? Seakan aku santapan yang empuk, batin Steven dengan bingung.
Denis tersenyum smirk membaca pikiran Steven membuat Steven semakin tidak nyaman. Bulu kuduknya meremang merasakan aura Denis yang sangat mengintimidasi.
"Kamu kenapa dude? Apa kamu sakit?" tanya Pablo yang melihat Steven berkeringat sangat banyak.
"Aku baik-baik saja. Aku ke kamar mandi dulu" jawab Steven dengan suara dingin.
"Pak Tio antar tuan Steven ke kamar mandi" ucap Denis dengan suara dingin dengan tatapan tajam.
"Baik tuan" jawab pak Tio dengan sopan.
Pak Tio lalu membawa Steven ke dalam mansion ke kamar mandi yang terletak di samping dapur. Saat masuk ke dalam kamar mandi Steven mengontrol napasnya yang sedari tadi seperti di cekik.
"Aura yang sangat berbahaya" ucap Steven dengan suara dingin sambil menatap pantulannya di cermin.
Merasa sudah lebih baik Steven berg gas keluar karena tidak ingin membaut semua disana curiga.
Deg.............
Jantung Steven berdetak dengan cepat saat hendak sampai di pintu samping mansion. Kaki Steven seperti di lem melihat Denis yang sedang bersedekap tangan di dada sambil menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
Keringat dingin meluncur dari kening Steven merasa seperti sedang berdiri didekat tunggu pembakaran yang sangat panas.
"Aku sarankan kamu tidak macam-macam dengan mamaku sebelum aku mencabik-cabik tubuhmu" bisik Denis dengan suara dingin.
Glek...............
Steven menelan salivanya dengan susah mendapat bisikan Denis yang terdengar seperti ancaman. Lidahnya kelu tak bisa berbicara merasa takut dan panik di waktu bersamaan.
Melihat Steven yang hanya mematung, Denis tersenyum menyeringai tahu kalau orang didepannya sedang ketakutan meski wajahnya hanya terlihat datar dan dingin.
Tak berapa lama Pablo datang menemui Steven karena hampir 30 menit sahabatnya itu belum juga kembali.
"Dude are you okay?" tanya Pablo dengan khawatir sambil menepuk pundak Steven.
"Hah! Ada apa?" tanya balik Steven dengan kaget.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya ulang Pablo.
"Ya aku baik-baik saja" jawab Steven dengan suara berat setelah mengontrol perasaannya.
"Kamu yakin?" tanya Pablo dengan selidik.
"Heemm! Jangan cemas aku baik-baik saja" jawab Steven dengan suara tegas.
"Baiklah"
Keduanya lalu kembali ke taman belakang bergabung bersama dengan yang lain. Sepanjang makan malam Steven tidak berselera sedikit pun memikirkan ucapan Denis barusan dan entah kenapa ia merasa gundah.
Setelah makan malam semuanya bergegas pulang ke rumah masing-maisng. Sedangkan Amira ia belum pulang karena tadi Denis menahannya tak pulang dulu karena ada yang ingin ia bicarakan.
"Habiskan susumu sayang" ucap Denis sambil memberikan segelas susu hamil ke Leila.
"Terima kasih papa" balas Leila menirukan suara anak kecil.
Cup...........
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis mencium kening Leila membuat Leila menutup mata merasakan ciuman hangat suaminya sambil tersenyum lebar.
"Kamu tidur duluan ya sayang karena aku ingin berbicara dengan mama" ucap Denis sambil mengelus kepala sang istri.
"Bicara apa sayang? Kamu tidak memarahi mama karena sudah membuat kejutan makan malam bersama kan sayang?" tanya Leila memicing.
"Buang pikiran burukmu itu sayang" decak Denis dengan kesal.
"Ya aku akan cuma tanya saja sayang" balas Leila sambil mengerucut bibirnya.
Cup................
Denis mencium bibir Leila dengan cepat tak tahan melihat bibir istrinya yang sangat menggoda seperti itu.
"Manis" ucap Denis sambil menjilat bibirnya setelah ciuman keduanya terlepas.
Blush................
Pipi Leila merona merasa malu mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Denis hanya terkekeh melihat wajah merona sang istri yang sangat mengemaskan.
"Sayang jangan lama-lama ya" ucap Leila saat Denis sampai di depan pintu.
"Iya sayang" balas Denis dengan suara lembut.
Denis bergegas turun ke bawah menemui sang mama yang sedang menunggunya di ruang keluarga.
"Nak" panggil Amira dengan suara lembut.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama mama" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.
"Apa nak?" tanya Amira dengan penasaran.
"Apa mama punya perasaan ke Steven Smith?" tanya Denis to the point.
"Ehh! Maksud kamu apa nak?" tanya Amira dengan bingung.
"Tadi aku lihat mama dan dia saling curi pandang" jawab Denis.
"Mungkin kamu salah lihat nak! Hehehehe" balas Amira sambil terkekeh.
"Aku bukan anak kemarin yang tidak mengetahui tatapan kalian berdua ma" sarkas Denis dengan suara dingin dan tegas.
Glek...................
Amira menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan putranya. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena memang yang dibilang putranya benar.
"Ma" panggil Denis dengan suara berat.
"Phew! Ya kamu benar nak. Mama memang mencuri pandang dengan uncle Steven tadi dan mama jujur ada perasaan lain yang menjalar di hati mama saat bertemu dengan dia" jujur Amira sambil membuang napasnya dengan kasar.
Denis diam tidak langsung membalas ucapan sang mama. Ada banyak pikiran di otaknya memikirkan ucapan sang mama dan entah kenapa ia tidak rela mamanya menikahi orang lain selain papanya.
"Apa perasaan yang sama persis dengan papa ma?" tanya Denis dengan tatapan tajam.
"Untuk papamu perasaan itu tidak tergantikan nak dan selamanya papamu akan selalu nomor satu di hati mama. Sedangkan untuk uncle Steven mama belum bisa memastikannya nak" jawab Amira menjelaskan.
"Jujur aku tidak mau posisi papa aku digantikan orang lain ma" ucap Denis dengan suara tegas.
Amira diam tidak menjawab ucapan sang anak karena ada rasa bimbang di hatinya. Apa lagi saat mengingat wajah Steven.
Apa yang harus aku jawab? Aku tidak tahu dengan hati aku sendiri, batin Amira.
Denis tersenyum getir menatap sang mama yang terlihat ragu dan bingung.
"Thomas akan mengantar mama pulang" ucap Denis dengan suara dingin dan datar.
"Denis" panggil Amira dengan tatapan sendu.
Denis tidak menoleh saat dipanggil dan terus jalan menuju lift. Melihat hal itu Amira merasa sedih karena tahu sudah menyakiti hati anaknya karena tidak menjawab ucapan Denis barusan.
Maafin mama nak tapi mama akan melakukan apa yang kamu mau untuk kebahagiaanmu nak, batin Amira dengan sedih.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Amira segera pergi dari sana, sampainya di depan mansion Thomas sudah berdiri menunggunya di samping mobil.
Sedangkan Denis ia menatap mobil sang mama yang sudah keluar dari mansion dari balkon kamar dengan tatapan sulit diartikan.
Maafkan aku ma jika aku egois, batin Denis dengan gusar.
1 Minggu kemudian
Sejak pembicaraan keduanya di mansion Denis waktu itu, mulai besoknya Amira selalu menghindar jika Steven datang ke restoran membuat Steven merasa ada yang hilang karena tak bisa berbicara lagi dengan orang yang ia sukai.
Ya Steven sudah menyadari perasaannya kalau ia mempunyai perasaan lebih kepada Amira. Ia juga telah memberitahu hal ini kepada putra tunggalnya dan meminta restu untuk menikah lagi.
"Uncle nanti tidak usah jemput aku ya karena aku mau ke mall sehabis dari restoran aunty Amira" ucap Geby saat di tengah jalan.
"Heemmm" deham Steven dengan suara dingin.
~ D&A Resto ~
Sampainya di D&A Resto Geby bergegas keluar dari mobil uncle Steven dan berlalu masuk ke dalam. Saat hendak pergi, mata Steven menangkap sosok Amira yang baru saja pulang berbelanja dengan Anisa asisten pribadinya.
"Amira" panggil Steven dengan suara dingin.
Amira menoleh melihat siapa yang memanggilnya dan kaget tak menyangka orang yang ingin ia jauhi berada di depannya saat ini.
"Uhm! Steven apa kabar?" tanya Amira dengan gugup karena tidak bisa kabur.
"Kurang baik" jawab Steven dengan singkat.
"Kenapa?" tanya Amira dengan cemas.
"Kamu mengkhawatirkan ku?" tanya balik Steven saat melihat wajah cemas Amira.
"Eh! Tidak. Aku hanya bertanya saja. Ya cuma tanya saja" jawab Amira dengan gugup.
"Oh jadi kamu.." ucap Steven yang langsung dipotong Amira.
"Maaf Steven aku harus pergi karena pekerjaanku sangat banyak hari ini" potong Amira dengan cepat sambil berlalu pergi tak menunggu jawaban Steven.
Steven mematung melihat Amira yang sudah masuk ke dalam restoran meninggalkannya sendiri. Ia tahu kalau Amira sedang menghindarinya, tapi alasannya kenapa.
Jangan bilang ini semua menyangkut dengan Denis, batin Steven menebak.
Dengan kesal Steven berlalu pergi dari sana tanpa sadar kalau apa yang barusan terjadi ternyata direkam oleh pengawal Amira dan mengirim ke sang bos.
Denis menonton video yang dikirim pengawal sang mama dengan tatapan datar. Ia tidak tahu harus berkata apa saat melihat video tersebut.
"Berengsek!" umpat Denis dengan kesal.
Kring..............
Matanya melirik ke arah hp yang berbunyi dan ada panggilan video dari sang istri.
^^^"Halo sayang" ucap Denis dengan cepat menjawab panggilan sang istri.^^^
"Sayang kamu lagi sibuk tidak?" tanya Leila dari seberang.
^^^"Tidak sayang. Apa ada yang kamu inginkan sayang?" tanya Denis dengan suara lembut.^^^
"Hehehehe! Kamu paling tahu saja kalau aku menginginkan sesuatu sayang" jawab Leial sambil terkekeh.
^^^"Karena aku itu suamimu sayang"^^^
"Ya itu pastilah suamiku yang tampang" goda Leila dengan suara manja dari seberang.
^^^"Sayang kamu membangunkannya" ucap Denis dengan suara serak. sambil mengarahkan kamera ke area privasinya.^^^
"Apa!" pekik Leila dengan syok.
^^^"Kamu datang ya kesini sayang" pinta Denis dengan tatapan sendu.^^^
"Tapi aku masih di rumah ka Rayen dan ingin makan ayam bakar buatan Adrian di sini sayang" balas Leial dengan mata berkaca-kaca.
^^^"Ya sudah aku saja yang ke sana dan nanti aku kabari Adrian untuk ke sana buatkan apa yang kamu mau sayang"^^^
"Baiklah sayang aku tunggu ya"
^^^"Heemm! Jaga kandunganmu disana sayang dan jangan sampai lelah" titah Denis dengan suara tegas.^^^
"Siap suamiku tersayang"
^^^"Iya sayang"^^^
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis segera mematikan panggilannya sepihak karena ia harus menghubungi Adrian.
Sesuai prediksinya Adrian mengumpat dan memaki kesal saat ia menghubunginya. Mau tak mau Adrian harus membatalkan meetingnya saat ini juga dan bergegas pergi ke kediaman Baker.
^^^"Sandro siapkan mobil kita ke kediaman Baker" ucap Denis menelpon Sandro.^^^
"Baik bos"
Denis bergegas mengambil jasnya dan memakainya. Sebelum pergi Denis menyuruh Rian menghendel semua pekerjaannya hari ini karena ia tidak akan kembali lagi.
~ D&A Resto ~
Di restoran D&A saat ini Bella, dan Isti serta anaknya Isti baru saja turun dari mobil. Mereka bergegas masuk ke dalam restoran setelah melihat teman Isti yang bernama Sari tiba di sana.
"Selamat datang" ucap pelayan dengan sopan saat membukakan pintu untuk mereka.
"Kami tadi sudah reservasi ruang VIP atas nama Bella Sanjaya" ucap Isti.
"Baik nyonya kalau begitu silahkan ikut rekan saya" balas pelayan dengan sopan menunjuk rekan di sampingnya.
Mereka lalu diantar ke ruangan VIP 1 dilantai dua, saat berjalan menuju lantai dua keempatnya berpapasan dengan Geby yang hendak turun.
"Loh tante Bella, ka Isti" ucap Geby dengan senang melihat mereka.
"Geby kamu disini juga ya? Datang sama siapa sayang?" tanya Bella.
"Aku sendiri saja tante. Kebetulan aku lagi belajar masak di restoran aunty Amira karena tidak ada lagi kesibukan di sekolah tante" jawab Geby dengn sopan.
"Oh kamu tinggal nunggu kelulusan saja ya" ucap Isti.
"Iya benar ka" balas Geby.
"Kalau begitu ayok kita makan siang bersama nak Geby" ajak Bella.
"Ibu" ucap Isti tak setuju sambil melirik Sari di sampingnya.
Melihat isyarat Isti barusan membuat Geby tahu kalau mereka ada hal penting yang harus dibicarakan dan ia tidak boleh ada disini.
"Tidak perlu tante kebetulan aku tadi sudah makan siang" tolak Geby berbohong.
"Oh iya nak. Kapan-kapan kita makan siang bareng ya" ucap Bella sambil tersenyum manis.
"Iya tante kalau begitu aku permisi dulu tante, ka Isti" ucap Geby dengan sopan.
"Iya Geby" jawab Bella dan Isti serentak.
Mereka lalu bergegas masuk ke dalam ruang VIP 1, sedangkan Geby kembali ke dapur ingin membantu pelayan menyiapkan pesanan tante Bella.
Ceklek................
Pintu ruang VIP terbuka dan masuklah Arsen yang baru saja datang. Tak berapa lama pelayan dan Geby masuk mengantar pesanan mereka.
"Ibu kenapa ngajak aku makan siang?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Ibu hanya pengen makan bareng sama kamu anak" jawab Bella dengan gugup.
"Oh"
"Lalu dia siapa?" tanya Arsen sambil menunjuk Sari di samping mamanya.
"Ini kenalin Sari teman kakak dek" jawab Isti mewakili sang ibu.
"Heemmm" deham Arsen dengan suara dingin sambil menatap Geby dengan kening berlutut.
Sejak kapan bocah ini jadi pelayan di restoran nyonya besar, batin Arsen dengan bingung.
"Silahkan di nikmati hidangannya semua" ucap Geby dengan sopan sambil tersenyum manis.
"Terima kasih ya Geby" balas Isti.
"Iya ka"
"Arsen sebenarnya mama ngajak kamu makan siang barang karena ingin mendekatkan kamu dengan Sari nak" ucap Bella sambil tersenyum manis.
Deg.............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
.......
.......
.......
.......
Hay guys aku mau kasi nih visual tentang pemeran dari Penyesalan Anak Durhaka😍 Semoga kalian suka dengan visualnya ya😘
(Denis Arkana)
(Leila Rose Baker)
(Sandro)
(Arsen Sanjaya)
(Arkan Luis Baker)
(Rian Nugroho)
(Rayen Anthony Baker)
(Leo asisten Rayen)
(Seila Martinez)
(Anisa istri Rian)
(Amira Anggraini)
(Max pimpinan markas Black Devil)
(Mark Hacker 2 markas)