Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 161


Tak berselang lama Sandro dan Seila tiba disana. Keduanya lalu menyelami tante Amira dan lainnya, setelah itu Sandro pun bergegas menemui Denis dan lainnya yang berada di lantai dua.


"Kamu sudah datang dude?" tanya Arsen saat Sandro masuk ke ruang kerja Denis.


"Phew! Ingin sekali aku menendang wajah pak tua itu!" ketus Sandro sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Hehehehe.........sabar dude. Nanti malam kita akan bahas tentang pak tua itu" ucap Rian sambil terkekeh.


"Aku sangat jengkel dengannya. Ingin rasanya aku menemui dia sekarang dan buat perhitungan dengannya" sarkas Sandro dengan kesal.


"Sabar dude jangan gegabah karena itu bisa membuat kamu kalah" ucap Arsen dengan suara dingin.


"Heeemmm" deham Sandro.


Keempatnya lalu memeriksa berkas perusahaan dan juga markas. Meski hari ini weekend tapi keempatnya masih saja sibuk tidak ada hari untuk berlibur sedikit pun.


~ Hotel Hilton ~


"Berengsek kalian semua! Tangkap mereka saja kalian tidak becus!" bentak Hito dengan suara menggelegar.


"Maafkan kami bos" ucap anak buahnya dengan serentak.


"Aku tidak butuh maaf kalian sialan! Cepat bawa calon istriku ke hadapan aku bangsat!" maki Hito dengan emosi.


"Baik bos"


Mike mengangguk kepalanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera pergi dari sana. Ia sedari tadi hanya diam saja melihat anak buahnya yang dimarahi oleh Hito.


Ia sebenarnya ingin marah karena lawan mereka kali ini bukan lawan sembarangan tapi ia tidak berani karena Hito adalah tuannya.


"Mike cari cara agar aku bisa bertemu dengan Seila secepatnya" titah Hito dengan suara tegas.


"Bagaimana kalau kita mengirim pesan bohongan mengenai daddynya untuk memancing dia keluar bos" usul Mike.


"Itu ide yang bagus. Segera lakukan seperti yang kamu ucapkan tadi" titah Hito dengan cepat.


"Baik bos" ucap Mike segera berlalu pergi.


Setelah kepergian Mike, Hito berdiri di jendela kamar sambil menatap keluar dengan tatapan berkilat tajam.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku gadis kecil" ucap Hito dengan suara tegas.


Ia berpikir akan memberikan pelajaran kepada Seila setelah ia berhasil di tangkap. Dan akan mengurungnya di mansion agar tidak bisa keluar lagi.


Kring............


Matanya langsung tertuju ke arah hp yang berada di atas meja melihat siapa yang menelponnya. Ada nama Roy Martinez disana dan dengan cepat ia segera menjawab panggilan dari sahabatnya.


^^^"Halo"^^^


"Bagaimana?" tanya Roy dengan cepat dari seberang.


^^^"Kami selalu gagal ingin menemui anakmu. Bahkan ia selalu berada di sisi tangan kanan presdir Denis" jawab Hito dengan berang.^^^


"Sialan! Lagi-lagi anak sialan itu harus ikut campur! Dia pikir dia siapa berani ikut campur dalam hidup putri aku" bentak Roy dari seberang.


^^^"Aku rasa putrimu sudah menjadi tawanan presdir Denis? Tidak mungkin dia melakukan sesuatu tanpa keuntungan untuk dirinya" tebak Hito.^^^


"Jangan mengada-ada kamu! Anak sialan itu tidak tertarik sedikit pun kepada putriku!" hardik Roy dengan suara tinggi.


^^^"Ini hanya pemikiran aku saja kawan. Siapa tahu semua tebakan aku itu benar"^^^


"Aku yakin semua tebakan kamu itu salah. Lebih baik kamu segera bertindak dan bawa kembali putriku"


^^^"Ya aku tahu"^^^


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Hito mematikan panggilannya sepihak karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan.


Ia lalu berpikir untuk memberi pelajaran kepada Denis karena sudah berani ikut campur dalam urusannya dengan Seila.


~ Kediaman Baker ~


Saat ini Leila, Arkan, dan Rayen sedang menunggu kehadiran Denis dan rombongannya yang akan datang sebentar lagi.


Ketiganya hari ini memakai pakaian seragam berwarna nude yang membuat mereka bertiga terlihat sangat memukau malam ini.


"Tuan Denis sudah tiba didepan tuan" lapor pak Jordi kepada Rayen.


"Ayok Arkan kita sambut tamu kita" ajak Rayen.


"Iya ka" balas Arkan dengan antusias.


Sedangkan Leila ia menunggu mereka di ruang tengah.


Didepan rumah Arkan dan Rayen tersenyum lebar melihat Denis yang datang bersama mamanya, ada juga Rian, Sandro, Max, Arsen, beserta keluarga mereka masing-masing.


"Selamat datang di rumah kami" ucap Rayen dengan suara tegas menyambut kedatangan mereka semua.


"Iya nak Rayen" balas Amira mewakili mereka semua.


"Silahkan masuk semuanya" ucap Arkan mempersilahkan mereka untuk masuk.


Denis dan lainnya segera masuk ke dalam, sampainya didalam jantung Denis berdetak dengan cepat melihat kekasihnya yang terlihat sangat cantik malam ini.


"Bos sabar bos" bisik Sandro sambil terkekeh melihat sang bos yang menganga melihat calon istrinya.


"Aku tahu adik aku cantik dude" ucap Rayen sambil tersenyum lebar.


Eheemm..........


Denis berdeham menormalkan rasa gugupnya yang kedapatan mengagumi calon istrinya. Sedangkan Leila ia menunduk merasa sangat malu karena sedari tadi Denis tidak mengalihkan pandangannya dari dia.


"Sama-sama mama Amira. Ini sudah kewajiban saya sebagai kepala keluarga untuk menyambut kedatangan mama dan semuanya" balas Rayen dengan sopan dan berwibawa.


Arkan yang baru pertama kali mendengar kakaknya berbicara dengan sopan sampai syok menatap sang kakak. Sandro dan lainnya yang melihat kelakuan Arkan menahan tawa mereka agar tidak pecah.


"Jangan bikin malu dek" bisik Rayen sambil mencubit Arkan di tangan.


"Cih! Sakit ka!" ketus Arkan dengan bibir mengerucut.


"Ada apa nak Rayen?" tanya Amira yang tidak tahu apa yang terjadi karena tadi sedang memberi isyarat kepada Anisa untuk menaruh barang hantaran yang mereka bawa.


"Tidak ada apa-apa ma" balas Rayen sambil tersenyum manis.


Amira mengangguk kepalanya tanda mengerti. Ia lalu menatap Denis bertanya apa harus memulai memberitahu maksud kedatangan mereka yang di balas angguk kepala.


"Jadi maksud kedatangan kami malam ini adalah untuk melamar nak Leila untuk anak mama Denis. Sekiranya nak Rayen dapat menerima dengan baik itikad kami" ucap Amira dengan sopan dan berwibawa.


"Aku hargai sekali maksud baik mama dan keluarga. Pribadi aku sendiri menerima lamaran dari Denis tapi semua keputusan aku serahkan kembali ke adik aku Leila, karena dia yang akan menjalaninya" ucap Rayen dengan suara tegas.


"Baiklah nak Rayen. Tapi sebelum itu ijinkan Denis untuk melamar nak Leila didepan kita semua" pinta Amira.


"Baik mama"


Denis lalu bangun dan menghampiri Leila. Leila lalu ikut berdiri menyambut kedatangan Denis dengan senyum manis.


"Leila Rose Baker, didepan keluarga besar kita aku Denis Arkana ingin mempersunting dan menjadikanmu istri serta ibu dari anak-anakku. Aku tidak bisa berjanji akan membuatmu selalu bahagia tapi aku akan buktikan selama hidupku aku akan membuat kamu menjadi perempuan paling bahagia di bumi ini. Apa kamu bersedia menikah dengan aku" ucap Denis dengan suara tegas dan lantang.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Semuanya didalam sana takjub mendengar pernyataan Denis yang terdengar tegas dan tulus saat melamar Leila.


Sebelum Leila menjawab, ia melihat ke arah Rayen dan Arkan yang diberi anggukan kepala jika mereka setuju.


"Ya aku bersedia" ucap Leila dengan suara lembut sambil tersenyum manis.


Prok...........prok........prok........


Tepuk tangan bergema didalam sana saat mendengar jawaban Leila. Denis lalu menarik Leila ke dalam pelukannya merasa sangat bahagia.


Setelah acara lamaran selesai kedua keluarga besar segera membahas pernikahan keduanya yang akan di laksanakan 2 Minggu lagi.


Rayen sendiri memberi keputusan kepada Denis untuk menyiapkan acara pernikahannya sendiri karena tahu Denis sudah menyiapkan semuanya.


~ Markas Black Damon ~


Setelah acara lamaran tadi, Denis mengantar mamanya pulang dan disinilah dia sekarang bersama anak buah kepercayaannya di markas mereka.


"Bos apa kita akan melakukan misi?" tanya Arkan dengan cepat.


"Heemm" deham Denis menjawab pertanyaan Arkan.


"Yeeyy.........aku sudah tidak sabar" balas Arkan dengan senang.


"Kamu tidak akan masuk dalam misi kali ini bocah jadi jangan senang dulu" ucap Sandro dengan cepat.


"Hah! Memangny kenapa?" tanya Arkan dengan kaget.


"Apa kamu itu buta bocah? Lihat dirimu sendiri baru tanya bodoh!" cibir Sandro dengan ketus.


Eehh................


Arkan bingung mendengar ucapan Sandro barusan dan langsung melihat tubuhnya. Seketika ia terkekeh saat melihat tangan kirinya yang masih di gips dan ia lupa akan hal itu.


"Hehehehe..........aku lupa" balas Arkan sambil terkekeh.


"Dasar bocah!" cibir Sandro dengan tatapan mengejek.


"Dimna posisi sialan itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Ada di Remix club bos. Dia saat ini sedang bertemu dengan rekan kerjanya yaitu Aditia Sergio bos" jawab Arsen.


"Apa kamu sudah mendapat rencana mereka?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Sudah bos" jawab Arsen.


Ia lalu memutar rekaman suara yang berhasil dia dapat dari kamar Hito. Saat mendengar rekaman tersebut wajah Sandro seketika merah padam menandakan ia saat ini sangat emosi.


"Bangsat! Beraninya mereka ingin mengelabui istriku!" hardik Sandro dengan suara tinggi.


"Apa yang harus kita lakukan bos?" tanya Max dengan suara dingin.


"Ikuti rencana mereka tapi jangan kirim Seila" jawab Denis dengan cepat.


"Maksudnya bos?" tanya Arkan dan Sandro dengan serentak.


"Kirim Lisa untuk menyamar menjadi Seila dan buat dia agar ditangkap oleh mereka. Setelah itu barulah kita habisi mereka di tempat persembunyian mereka" jawab Denis menjelaskan.


"Aku setuju dengan ide bos" ucap Arsen, Sandro, dan Arkan dengan serentak.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan samaran Lisa bos" ucap Max.


"Ya. Besok bawa dia ke rumah Sandro dan kita akan mulai rencana kita dari sana dan jangan lupa tempatkan anak buah kita untuk bersembunyi di dekat sana" titah Denis.


"Baik bos" ucap mereka semua dengan serentak.


Mereka lalu bergegas pergi dari sana meninggalkan Denis sendiri didalam sana. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan sebelum pernikahannya.


Kring................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..............