
Arsen bergegas masuk ke dalam lift dengan tergesa-gesa sudah tidak sabar ingin melihat siapa orang yang selama ini mengirim email kepadanya.
"Kenapa liftnya sangat lambat" hardik Arsen dengan kesal merasa liftnya bergerak sangat lama.
Matanya hanya tertuju ke angkat lift yang tertera bagian atas menunggu angka 40 yaitu lantai paling atas.
Ting.............
Segera ia berlari keluar dengan cepat saat pintu lift terbuka di lantai 40. Ia harus menaiki 10 anak tangga untuk sampai di rooftop hotel dimana itu adalah helipad untuk helikopter.
Brak.............
Hosh...........hosh..........hosh.......
Napasnya satu-satu saat tiba di rooftop hotel, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari orang yang ingin menemuinya tapi tidak ada siapapun disana.
"Dimana dia?" tanya Arsen dengan dada naik turun.
Arsen mengambil kertas yang diberikan pelayan tadi dan membacanya dengan teliti, takut ia melewatkan sesuatu tapi ternyata tidak.
Berkali-kali ia membolak-balik kertas tersebut mencari sebuah petunjuk tapi tidak ada sama sekali. Ia kembali mengedarkan pandangannya dan memilih menunggu orang yang ingin bertemu dengannya.
Mungkin dia sementara menuju kesini, batin Arsen.
1 Jam kemudian
Sudah 1 jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda siapapun yang akan datang kesini. Ia membuang napas dengan kasar merasa dipermainkan oleh orang itu dan berjanji akan memberinya pelajaran setelah mengetahui siapa orang tersebut.
"Berengsek!" maki Arsen dengan emosi.
Arsen memilih pergi dari sana karena berpikir orang tersebut hanya ingin mempermainkannya. Saat menuruni tangga langkahnya terhenti merasa ada sesuatu yang ganjil.
Ia lalu menghidupkan senter hp karena pencahayaan disana tidak terlalu jelas. Mata hitamnya meneliti tembok yang tergores benda tajam dan bahkan ada cat warna merah yang tidak serasi dengan warna cat tembok.
"Masih basah" ucap Arsen yang meraba cat tersebut.
Deg.............
Jantungnya berdetak dengan cepat saat mencium cat tersebut yang ternyata adalah darah. Dengan cepat Arsen berlari menuju ke arah tangga darurat ingin mencari tahu apa ada jejak lainnya.
"Sial!" maki Arsen setelah sampai di pintu keluar di lantai satu.
Tenyata tebakannya benar saat mencium bau darah di atas. Ia yakin jika orang yang ingin bertemu dengannya pasti diserang seseorang dan orang itu pasti tidak ingin Arsen tahu siapa yang ingin menemuinya.
Kring..............
Hpnya tiba-tiba berdering membuat ia segera mengambilnya. Saat melihat siapa yang memanggilnya ternyata itu adalah Sandro.
^^^"Halo"^^^
"Kamu dimana bocah? Bos mencarimu karena kita akan ke mansion bos sekarang" ucap Sandro to the point dari seberang.
^^^"Aku akan menunggu kalian di depan hotel" ucap Arsen dengan suara dingin.^^^
"Cepatlah kami baru saja keluar dari ballroom"
^^^"Heemmm"^^^
Arsen lalu mematikan panggilan dan berjalan menuju depan hotel untuk menemui Denis dan lainnya.
Sampainya didepan hotel ia segera masuk ke dalam mobil pengawal setelah melihat Denis dan lainnya sudah masuk ke dalam mobil. Didalam mobil Arsen berlutut dengan iPadnya mencari cctv di rooftop hotel tapi tidak ada.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Cctv disana ternyata tidak bisa merekam kejadian di dalam tangga menuju rooftop dan juga tidak ada di bagian pintu menuju tangga darurat.
~ Mansion Denis Arkana ~
Sampainya di mansion tenyata Arkan sudah menunggu mereka karena tadi ia di telpon kakaknya Rayen untuk menemui mereka disana.
"Akhirnya kalian datang juga" ucap Arkan sambil tersenyum lebar.
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah Arkan?" tanya Rayen dengan tatapan tajam.
"Aku sibuk ka dan jarak rumah dengan markas sangat jauh. Jadi aku memutuskan tidur di apartemen saja" jawab Arkan dengan bibir mengerucut.
"Jangan cari alasan kamu Arkan. Hanya 30 menit saja kamu bilang jauh" hardik Rayen dengan suara tinggi.
"Aku tidak mencari alasan ka. Lagian 30 menit menurut aku lama" protes Arkan tak mau mengalah.
"Bilang saja kamu tidak suka dengan peraturan di rumah" ketus Rayen dengan sinis.
"Salah satunya itu ka........hehehehe" ucap Arkana sambil terkekeh.
"Adik sialan!" sarkas Rayen dengan kesal.
"Hey bocah! Jika aku jadi kamu akan akan tidur di rumah hitung-hitung irit pengeluaran" ucap Sandro.
"Kalau ka Sandro mau kakak boleh tinggal di rumah aku" balas Arkan dengan santai.
"ARKAN" tegas Rayen memperingatinya.
"Hehehehe! Bercanda ka" balas Arkan terkekeh sambil mengangkat jarinya tanda peace.
"Dek sesekali kamu harus tidur rumah. Lagian itu ruang orang tua kita dan kamu harus menemani ka Rayen disana" ucap Leila dengan suara lembut.
"Iya ka" balas Arkan mengalah.
Leila lalu segera pergi ke dapur untuk melihat para pelayan yang sedang menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka semua di ruang keluarga.
"Pak Tio tolong bawa ke depan ya" ucap Leila dengan suara lembut.
"Baik nyonya" jawab pak Tio kepala pelayan dengan sopan.
Leila segera kembali ke ruang keluarga diikuti pak Tio dan dua pelayan yang membawa minuman dan cemilan untuk mereka semua.
"Jadi ada apa kamu suruh kami kesini?" tanya Rayen.
Denis tidak langsung menjawab dan malam menatap sang istri sambil mengangguk kepala sebagai isyarat untuk Leila yang berbicara.
"Dek" panggil Rayen saat melihat pasangan suami istri didepannya yang sedang menatap satu sama lain.
"3 Hari yang lalu tante Rena menelponku" ucap Leila dengan wajah cemberut.
Byur.................
Seketika semuanya menatap Arkan yang menyemburkan minumannya saat mendengar ucapan sang kakak barusan. Matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar nama yang sangat ia benci.
"Untuk apa tante gila itu menghubungi ka Leila" pekik Arkan dengan suara tinggi.
"Arkan tahan emosimu" ucap Rayen dengan suara tegas.
"Heemmm" deham Arkan sambil memanyunkan bibirnya dengan kesal.
"Dek apa benar tante Rena menghubungimu?" tanya Rayen memastikan.
"Iya ka. Entah dari mana dia dapat nomor telpon aku dan menghubungi aku dari 3 hari yang lalu, meminta kita semua untuk menemuinya" jawab Leila menjalankan.
"Lalu kamu jawab apa dek?" tanya Rayen dengan suara dingin.
"Aku bilang akan bertanya dulu ke kakak dan Arkan" jawab Leila.
"Buat apa dia mencari kita lagi. Bukannya selama ini dia sudah hilang kabar sejak membawa lari uang perusahaan dan semua perhiasan mommy" ketus Arkan dengan emosi.
"Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu ka" ucap Leila.
"Ya bisa jadi" ucap Rayen mendukung ucapan sang adik.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Ketiganya diam dengan pikirkan masing-masing memikirkan apa maksud tante Rena menghubungi Leila mengajak bertemu dengan mereka.
Denis yang melihat istrinya seperti tertekan dengan orang yang sedang mereka bicarakan, segera menggenggam tangannya dengan erat membuat Leila langsung menatapnya.
"Semua akan baik-baik saja sayang. Jangan khawatir ya" ucap Denis dengan suara lembut.
"Iya sayang" balas Leila sambil tersenyum manis.
"Leila jangan pernah angkat telpon dia lagi dan jangan pernah kamu menemui mereka" titah Rayen dengan suara tegas.
"Iya ka" balas Leila.
"Kamu juga Arkan" ucap Rayen sambil menatap Arkan.
"Tenang saja ka! Aku tahu apa yang harus aku lakukan" jawab Arkan dengan suara tegas.
"Baguslah kalau begitu. Biarkan kakak yang mencari tahu apa maksud tante Rena sekaligus ada yang harus kakak omongin dengan tante gila kita" ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.
"Baiklah ka tapi ingat hati-hati dan jangan sampai kakak masuk dalam jebakan dia" ucap Leila memperingatinya.
"Iya dek"
Rayen dan Arkan lalu pamit pulang setelah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Sedangkan Denis ia menyuruh Leila masuk ke kamar lebih dulu karena ada sesuatu yang ingin dia bahas dengan Arsen dan Sandro.
Didalam ruang kerja Denis, saat ini ia sedang membaca informasi yang di kirim Mark tadi mengenai kedatangan 3 orang penting di Italia.
"Apa mata-mata kita sudah bergerak?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Sudah bos" jawab Arsen dengan serentak.
"Lalu tadi kamu kemana bocah?" tanya Sandro dengan penasaran.
"Orang yang mengirim email setiap hari kepadaku mengajak bertemu di rooftop" jawab Arsen dengan suara dingin.
"Lalu apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Sandro semakin penasaran.
"Belum" jawab Arsen singkat.
"Kenapa?"
Arsen lalu menceritakan dari awal hingga akhir kenapa ia belum bertemu dengan orang tersebut. Mendengar hal itu Sandro dan Denis juga ikut dibuat penasaran sebenarnya siapa orang itu.
"Aku jadi bingung. Apa dia itu musuh bos atau musuh kamu?" tanya Sandro dengan bingung.
"Aku tidak tahu dude" jawab Arsen.
"Dia bukan musuh aku begitu juga kamu" ucap Denis dengan suara tegas.
"Apa bos yakin?" tanya keduanya dengan serentak.
"Heemmm" deham Denis sambil menggaruk kepalanya.
"Kalau begitu apa aku tidak usaha mencari tahu dia lagi bos?" tanya Arsen.
"Tetap cari tahu" jawab Denis dengan suara tegas.
"Baik bos"
"Mulai besok kirim bodyguard tambahan untuk mama dab istriku karena aku rasa akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi ke depannya" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.
"Ah! Jangan lupa suruh Max untuk mengirim langsung pesanan senjata pesanan pemerintah Argentina"
"Bukannya itu tugas Jeky bos?" tanya Sandro dengan cepat.
"Suruh Jeky untuk mengurus koruptor di hotel aku yang di Korea dan biarkan Max yang melakukan tugas pengiriman" jawab Denis dengan suara tegas.
"Baik bos"
Arsen dan Sandro lalu pamit pulang karena sudah tidak ada lagi yang harus mereka bahas. Denis lalu masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri sebelum tidur.
Selesai membersihkan diri ia segera naik ke ranjang dan menyusul sang istri yang sudah tertidur lebih dulu.
Ting............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue............