Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 197


Claudia yang melihat sang majikan sudah terluka parah sudah tidak bisa menahan rasa ibanya. Ia dengan cepat berlari ke arah keduanya menahan Rayen yang akan menendang Liliana.


"BERHENTI" teriak Claudia berdiri di tengah-tengah keduanya.


"Minggir sialan!" bentak Rayen dengan suara tinggi.


Glek...............


Claudia menelan salivanya dengan susah merasa takut saat dibentak Rayen. Ia menunduk takut melihat kemarahan Rayen, tapi tak berapa lama ia mengangkat kepalanya untuk menatap langsung Rayen.


"Saya mohon berhenti presdir. Tolong maafkan nona Liliana presdir" pinta Claudia dengan mata berkaca-kaca berusaha menatap langsung ke mata Rayen.


Deg................deg...............deg..............


Jantung Rayen berdetak dengan cepat saat mata keduanya saling bertatapan. Mata berwarna amber dari balik kaca mata besar itu membuat dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.


"Saya mohon presdir. Tolong lepaskan nona Liliana" pinta Claudia sambil mengatup kedua tangannya di dada.


"Saya mohon presdir. Apapun akan saya lakukan agar presdir bis a memaafkan nona Liliana" tambahnya lagi dengan memohon.


“Apapun?" tanya Rayen sambil tersenyum menyeringai.


"I......ya presdir" jawab Claudia dia gugup.


Deg..............


Tubuh Claudia menegang saat tangan besar Rayen tiba-tiba menyentuh pipisnya. Ada rasa geli seperti terkena sengatan listrik membuat tubuhnya memanas.


Apa aku akan dibunuh, batin Claudia dengan takut.


"Mulai sekarang kamu itu milikku dan jangan pernah berpikir untuk kabur dariku" bisik Rayen membuat bulu kuduk Claudia remang merasakan napas hangat Rayen.


Eemmmpp..............


Claudia menahan suaranya saat lehernya digigit Rayen. Ia memegang jas Rayen dengan kuat menahan rasa sakit di lehernya. Rayen menjilat bekas gigitannya di leher Claudia sambil memeluk pinggang Claudia menahan bobot tubuhnya.


Sepertinya tuan sudah menemukan dambaan hatinya, batin Leo sambil tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Rayen.


"Presdi.....r" lirih Claudia dengan suara terbata-bata menahan sakit di lehernya.


"Heemmm" deham Rayen yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Sakit"


Rayen seketika berhenti dengan apa yang ia lakukan dan melihat Claudia yang sedang menahan rasa sakit di lehernya. Ia memeluk Claudia sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


Ia lalu memberi isyarat ke Leo untuk membawa Liliana ke rumah sakit. Claudia yang melihat hal itu segera mendorong Rayen takut Liliana diapa-apakan.


"Kenapa?" tanya Rayen dengan tatapan kesal.


"Presdir mau dibawa kemana nona Liliana?" tanya balik Claudia dengan cemas.


"Rumah sakit" jawab Rayen singkat.


"Ah! Syukurlah" ucap Claudia dengan lega.


"Ckk! Kamu pikir aku akan lempar dia ke dalam laut!" ketus Rayen dengan kesal.


"Maaf presdir Baker" ucap Claudia sambil menunduk.


Rayen lalu menyuruh anak buahnya untuk mengantar Claudia ke rumah sakit dengan helikopter miliknya. Ia lalu masuk ke dalam tempat acara karena acaranya belum selesai.


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan bulan sudah berganti dengan matahari menandakan sudah pagi.


Saat ini Rayen bersama keluarganya dan juga semua anak buah Denis serta keluarganya sedang menikmati sarapan bersama, karena sebentar lagi mereka akan sandar di pelabuhan setelah semalam di atas yatch.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sepertinya kamu bersenang-senang semalam" ucap Denis dengan suara dingin.


"Well begitulah" balas Rayen sambil tersenyum smirk.


"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.


"Bos sama ka Rayen lagi ngomongin apa sih?" tanya Arkan dengan penasaran.


"Kamu pengen tahu bocah?" tanya Sandro sambil menatap Arkan menarik turun alisnya.


"Ya iyalah ka. Memangnya ka Sandro udah tahu?" tanya balik Arkan.


"Sudah dong" jawab Sandro dengan sombong.


"Cih! Apa sih yang sebenarnya terjadi semalam?" tanya Arkan sambil memanyunkan bibirnya seperti bebek.


"Bibir om Arkan kayak bebek! Hahaha" ejek Ari sambil tertawa.


"Apa! Dasar bocah nakal" pekik Arkan dengan kesal.


"Ari jangan ngomong kayak gitu ya sama om Arkan" ucap Ara dengan mata melotot tajam memperingati anaknya.


"Tapi bibir om Arkan kan memang mirip bebek bunda" ucap Ari dengan polos.


"Hahahaha! Benar sekali keponakan om" ucap Sandro sambil tertawa kencang.


"Mas" ucap Seila dengan mata tajam memperingati suaminya.


"Kalian berdua memang menyebalkan" ketus Arkan dengan kesal.


"Ari ayok minta maaf sama om Arkan" tegas Ando.


"Baik ayah" ucap Ari dengan patuh.


Dengan kaki kecilnya Ari turun dari kursi menghampiri Arkan yang menatapnya dengan kesal. Sampai disana ia menatap Arkan dengan wajah sendu membuat Arkan tak bisa memarahinya.


"Om Arkan aku minta maaf" ucap Ari dengan tulus.


"Iya om sudah maafkan" balas Arkan sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih om" ucap Ari dengan senang.


Mereka lalu berbincang dengan hangat tapi tidak dengan Leila yang sedang menahan sakit di bagian bawah, karena semalam suntuk ia harus melayani suaminya.


"Apa masih sakit?" tanya Denis berbisik.


"Iya sayang" jawab Leila.


Grep..............


Dengan santai Denis mengendong Leila pergi membuat semua mata disana menatap mereka dengan bingung.


"Bocah kalau kamu penasaran apa yang terjadi semalam tanya saja sama asisten kakakmu" bisik Sandro sebelum menyusul Denis.


Sebelum pergi Sandro menitip istri dan anaknya kepada sang ibu karena ia harus mengikuti Denis yang sudah berlalu pergi ke landasan helipad.


Arkan yang penasaran dengan apa yang terjadi semalam, bergegas menarik Leo menuju ruangan kosong untuk menanyakan apa yang terjadi semalam.


~ Rumah Sakit Kota ~


Saat ini Claudia sedang menemani Liliana yang sedang tidur di brankar rumah sakit. Liliana ditempatkan di ruang VIP setelah semalam sampai di rumah sakit.


Claudia juga sudah menelpon tuan besar dan nyonya besar memberitahu apa yang terjadi dengan putri mereka. Mungkin beberapa jam lagi mereka akan tiba di sini.


Aku yakin aku pasti akan dipecat karena tidak becus menjaga nona Liliana, batin Claudia.


Isshh............


Ringis Liliana di atas brankar menyadarkan Claudia dari pemikirannya. Ia bergegas menghampiri Liliana untuk menanyakan keadaannya.


"Nona" panggil Claudia dengan sopan.


"Dimana aku?" tanya Liliana sambil menatap ke sekeliling yang berwarna putih.


"Nona berada di rumah sakit. Semalam nona pingsan saat dibawa kesini" jawab Claudia dengan cepat.


Liliana memegang kepalanya yang berdenyut dan tiba-tiba ingatannya tentang semalam berputar di kepalanya.


"Nona jangan bergerak dulu. Kata dokter nona harus bed rest total selama pemulihan" ucap Claudia dengan cepat saat melihat Liliana yang hendak bangun.


"Apa kata dokter?" tanya Liliana dengan ketus.


"Nyonya mengalami patah tulang di lengan kanan, rusuk bagian kiri nona juga patah. Terlebih sekujur tubuh nyonya memar dan nona dilarang bergerak terlalu banyak selama pemulihan" jawab Claudia menjelaskan.


"Apa!" pekik Liliana dengan suara melengking.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Claudia menutup telinga saat mendengar suara Liliana yang sangat memekikkan telinga. Ia hanya diam saat Liliana memaki dan mengumpat Rayen Baker dan Denis Arkana yang susah melakukan ini semua kepadanya.


"Apa kamu sudah beritahu orang tuaku?" tanya Liliana dengan suara tinggi.


"Sudah nona dan mereka sedang dalam perjalanan kesini" jawab Claudia dengan gugup.


"Bagus. Aku sudah tidak sabar ingi membalas mereka semua" ucap Liliana sambil tersenyum menyeringai.


"Kenapa semalam kamu diam saja saat si sialan Rayen itu memukul aku sialan!" bentak Liliana dengan tatapan tajam menatap Claudia.


"Maafkan saya nona semalam saya ketakutan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Claudia sambil menunduk.


"Angkat wajahmu" titah Liliana dengan suara tinggi.


Plak..............


Claudia terhuyung ke belakang tak menyangka akan di tampar oleh Liliana. Wajahnya memerah dan terasa sangat sakit saat mendapat tamparan yang begitu kuat dari Liliana.


"Itu hukumanmu karena hanya diam saja" ketus Liliana dengan kesal.


"Iya nona" balas Claudia sambil mengepal kedua tangannya menahan rasa sakit.


"Pergi carikan aku makanan" sarkas Liliana dengan suara tinggi.


"Baik nona"


Sebelum pergi Claudia memberitahu dokter untuk memeriksa keadaaan Liliana yang sudah sadar. Selama perjalanan ia mengelap air matanya yang sedari tadi ia tahan.


Kamu harus kuat Claudia. Ingat nasib keluargamu jika kamu berhenti dari pekerjaan ini, batin Claudia menguatkan dirinya sendiri.


~ Yatch Rayen Baker ~


"Kenapa kakak melepas tante itu begitu saja?" tanya Arkan dengan emosi setelah mengetahui apa yang terjadi semalam.


"Kakak sudah memberinya pelajaran jadi kedepannya dia tidak akan berani berulah lagi" jawab Rayen dengan suara dingin.


"Tapi bagaimana kalau dia balas dendam ka. Aku yakin tante ja***g itu tidak terima begitu saja ka" balas Arkan dengan suara tinggi.


"Kalau begitu kakak akan layani dia" balas Rayen sambil tersenyum menyeringai.


"Terserah ka Rayen. Tapi aku akan membunuh dia jika dia berulah lagi ka" ucap Arkan dengan suara tegas dan tatapan membunuh.


"Heemmm" deham Rayen.


"Oh ya ka, lalu perempuan yang semalam kakak peluk itu siapa?" tanya Arkan dengan penasaran.


Ia sangat penasaran dengan perempuan yang dipeluk kakaknya, karena setahunya kakaknya itu tidak mudah dekat dengan perempuan asing.


Rayen menatapnya dengan alis sebelah terangkat tapi tak lama bibirnya ia terangkat mengingat mata amber itu.


"Ka Rayen masih sehatkan?" tanya Arkan dengan tatapan menyelidik melihat kakaknya senyum-senyum sendiri.


"Menurutmu" sarkas Rayen dengan sinis.


"Menurutku kakak harus ke rumah sakit" balas Arkan dengan santai.


Bugh..............


"Ka Rayen" pekik Arkan dengan suara tinggi saat kepalanya di pukul.


"Biar kamu lebih pintar sedikit" ketus Rayen sambil berlalu pergi.


Arkan menggerutu menatap sang kakak yang sudah pergi tapi tetap mengikutinya karena mereka sudah sampai di pelabuhan.


~ Mansion Denis Arkana ~


Saat ini Denis sedang mengoles salap di bagian bawah istrinya. Tadi sampai di mansion Bimo sudah menunggunya dengan membawa obat yang ia minta saat masih di yatch.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sayang biar aku saja" ucap Leila dengan wajah merona.


"Tidak usah malu sayang. Lagian aku sudah melihatnya bahkan menikmatinya" balas Denis dengan santai.


Leila menutup matanya tak bisa membalas ucapan suaminya yang terlalu jujur. Selesai mengoles salap Denis membantu istrinya untuk tidur karena Leila belum bisa bergerak banyak.


"Ada apa-apa panggil pelayan atau aku ya sayang" ucap Denis dengan suara lembut sambil mengelus kepalanya.


"Iya sayang. Apa kamu akan ke perusahaan sayang?" tanya Leila.


"Tidak sayang. Aku akan membahas beberapa hal penting dengan Arsen dan Sandro di ruang kerja aku" jawab Denis.


"Oh"


Denis lalu mengecup kening istrinya dan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Sampai didalam ruang kerja ternyata ia sudah di tunggu Arsen, Sandro, dan Max yang baru saja datang.


"Bagaimana Arsen?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Tidak ada yang aneh sebelum dia datang ke Indonesia bos. Seperti biasa ia hanya bertemu dengan klain dan bersenang-senang di mall dan club bos" jawab Arsen setelah semalam mencari tahu tentang Liliana.


"Kamu yakin?" tanya Denis dengan selidik.


"Iya bos karena semua informasi yang aku dapat akurat" jawab Arsen dengan suara tegas.


"Kirim mata-mata kita untuk pantau dia karena aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan perempuan ja**ng itu" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos"


"Sandro bagaimana mata-mata kita di Italia?" tanya Denis.


"Semuanya baik-baik saja bos dan tidak ada pergerakan aneh dari pak tua itu bos. Dan kata Simon daddynya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan anggota Nine Cloud dan setiap hari hanya sibuk dengan urusan perusahaan bos" jawab Sandro menjelaskan.


"Tetap suruh anak buah kita untuk terus mengikuti mereka semua"


"Baik bos"


"Lalu apa yang membawa kamu kesini Max?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Anda harus lihat ini bos" jawab Max sambil menunjukkan beberapa foto.


"Apa ini?" tan Denis dengan kening berkerut melihat foto papanya.


"Saya mendapat foto tuan besar saat pergi ke Meksiko beberapa hari yang lalu melakukan transaksi seperti biasa bos. Disana saya melihat foto tuan besar di pajang dengan ukuran besar di markas mereka dan setiap hari mereka harus memberi penghormatan ke foto tuan besar sebelum beraktifitas" jawab Max menjelaskan.


"Siapa mereka dan ada hubungan apa mereka dengan papaku?" tanya Denis dengam penasaran.


"Sepertinya kita harus bertanya ke pak tua Pablo itu bos" usul Arsen.


"Siapkan mobil kita ke sana" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos" jawab Sandro segera keluar.


"Apa masih ada yang lain?" tanya Denis dengan tatapan menyelidik menatap Max.


"Martin Massimo sedang dalam perjalanan kesini bos" jawab Max dengan suara dingin.


"Hehehehe! Sepertinya dia sudah menyiapkan peti matinya sendiri" balas Denis sambil terkekeh.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............