Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 146


Rahang Sandro mengeras hingga urat-uratnya terlihat sangat jelas, menandakan jika saat ini ia sangat emosi.


Pak tua sialan! Beraninya kamu ingin menjodohkan kekasihku dengan tua bangka itu, batin Sandro dengan emosi memuncak.


Denis tersenyum menyeringai melihat Sandro karena mudah sekali menebak apa yang sedang ia pikirkan. Ia sudah tidak sabar ingin melihat siapa orang yang berani mengusik asisten di sekaligus tangan kanannya.


"Kamu akan bergerak sendiri kali ini" ucap Denis dengan wajah datar.


"Baik bos. Aku sudah tidak sabar ingin melihat siapa orang yang berani mencuri kekasihku" balas Sandro dengan tatapan berkilat tajam.


"Heeemmm. One day" (satu hari) ucap Denis dengan suara dingin.


"I know bos" (aku tahu bos) balas Sandro yang paham ucapan Denis barusan.


Sandro segera berlalu pergi dari sana dengan amarah membara membuat Leila yang berpapasan dengannya di ruang tengah tak berani menyapanya.


"Ada apa dengan ka Sandro?" gumam Leila dengan penuh tanda tanya.


Tak mau ambil pusing dengan tingkah Sandro, ia memilih ke dapur ingin membuat makan malam untuk dia dan Denis.


Brak...........


Sandro membanting pintu mobilnya dengan kuat melampiaskan emosi didalam hatinya. Ia mengambil hpnya dan menelpon Seila kekasihnya tapi nomornya tidak bisa dihubungi.


"Berengsek!" maki Sandro dengan emosi.


"Awas kamu pak tua sialan! Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu" tambahnya lagi dengan tatapan membunuh.


Sandro lalu melajukan mobilnya pergi dari sana menuju bandara untuk segera berangkat ke Singapura.


Sedangkan Denis yang mendengar bunyi deru mobil Sandro sudah pergi segera mengambil hpnya dan menelpon Arsen.


"Halo bos" ucap Arsen dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Pantau pergerakan Sandro yang akan berangkat melakukan misi saat ini ke Singapura" titah Denis dengan suara berat dan dingin.^^^


"Loh bukannya Sandro tidak ada misi hingga bulan depan ya bos?" tanya Arsen dengan penasaran.


^^^"Lakukan saja apa yang aku pinta sialan!" hardik Denis dengan suara tinggi.^^^


"Maafkan aku bos"


Denis mematikan panggilan sepihak tak membalas ucapan Arsen lagi. Ia lalu turun ke bawah mencari Leila dan sampai di dapur ia tersenyum manis mendapat sang kekasih sedang memasak.


Beruntung aku memiliki pacar seperti kamu sayang, batin di Denis sambil tersenyum manis.


~ Kediaman Senjata ~


Arsen menatap hpnya dengan bingung saat Denis mematikan panggilannya sepihak.


"Apa yang terjadi? Kenapa Sandro melakukan misi mendadak sekali?" tanya Arsen dengan penasaran.


Karena sangat penasaran ia segera berkutat dengan laptop pribadinya melacak keberadaan Sandro saat ini, tak lupa juga mencari tahu apa yang sebenarnya Simon lakukan.


1 Jam kemudian


Hehehehe.................


Arsen terkekeh setelah 1 jam berhasil mendapat informasi yang membuat Sandro berani pergi melakukan misi kali ini sendiri.


Ia juga tidak sangka ternyata ada orang tua yang sangat kejam sepeti Roy Martinez. Hanya karena dendam dan emosi ia rela memberikan putri kandungnya untuk menjadi alat tukar dalam rencananya.


"Kamu itu tidak pantas di panggil daddy pak tua sialan!" sarkas Arsen dengan suara tinggi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Arsen lalu melacak lokasi Sandro melalui iPad karena ia harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai tadi di perusahaan.


Ting...............


Pandangannya teralihkan dari laptop menuju hpnya yang berbunyi tanda ada pesan masuk.


Arsen mengerutkan keningnya membaca email masuk yang tidak dikenalinya. Pasalnya email itu hanya berupa pesan yang tidak ia mengerti.


...Langit malam! Langit malam!...


"Pesan tidak jelas" ucap Arsen tak menggubris pesan tersebut.


Ia lalu melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa laporan masuk dari kantor cabang dan juga memantau sistem keamanan di perusahan utama dan markas.


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa hari sudah berganti.


~ DA Corp ~


Denis saat ini sedang memeriksa tumpukan laporan didepannya yang menggunung karena susah 2 hari ia tidak masuk kerja.


Baru saja dua hari saja sudah sebanyak ini laporan yang harus ia periksa dan tanda tangani.


Apa lagi kalau sebulan ia tidak masuk, susah pasti ruangannya akan penuh dengan berkas laporan penting.


Tok...........tok.........tok..........


"Masuk" ucap Denis dengan suara dingin saat mendengar pintu diketuk.


Ceklek............


"Presdir" panggil Rian dengan sopan setelah membuka pintu.


"Apa kamu ingin membunuh aku hari ini sialan!" bentak Denis dengan suara tinggi saat melihat Rian yang masuk sambil membawa setumpuk laporan.


"Maaf presdir tapi ini adalah dokumen yang harus presdir tanda tangani hari ini" ucap Rian sambil menunduk.


Phew..............


Denis membuang napasnya dengan kasar melihat laporan tersebut. Ingin marah tapi tidak bisa karena memang ini semua tugasnya.


"Jangan ada yang menganggu aku hari ini" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Rian dengan sopan.


Rian lalu keluar dari ruangan Denis saat melihat isyarat Denis untuk keluar. Denis sendiri mulai kembali berkutat dengan berkas didepannya dengan serius.


Saat ini Sandro sedang berdiri di bagian atas pabrik yang sudah lama di tinggalkan. Ia sedang memantau situasi di sekitar mansion dari orang yang akan di jodohkan dengan Seila kekasihnya.


"Jadi dia seorang mafia juga ya" ucap Sandro sambil tersenyum menyeringai.


Entah kenapa ia merasa jika perjodohan ini ada hubungannya dengan sang bos. Ia yakin jika Roy Martinez pasti sedang menyiapkan sesuatu untuk membalas Denis.


"Kamu memilih musuh yang salah pak tua........hehehe" ucap Sandro sambil terkekeh.


Ia lalu mengintai suasana mansion dan menghitung ada berapa banyak penjaga disana. Tak lupa mencari jalan masuk yang aman ke sana untuk menyelamatkan kekasihnya.


Tak berselang lama matanya menangkap beberapa mobil hitam berjejer menuju ke arah mansion. Ia terus memantau mobil-mobil itu dan kaget saat melihat sosok yang sangat dikenalinya.


"Bangsat!" maki Sandro dengan emosi.


Kedua tangannya mengepal dengan kuat saat melihat sang kekasih yang di dorong keluar dari mobil dengan kasar, Bahkan kedua tangannya di rantai.


"Tunggu aku sayang. Secepatnya aku akan menyelamatkanmu" ucapnya dengan suara tegas.


Sandro segera membereskan semua peralatannya ke dalam tas dan memakai topeng untuk menyelinap masuk ke dalam sana, apa lagi waktu sudah malam sehingga mempermudahnya untuk menyelinap.


Brugh.................


Sandro melompat dari tembok ke tanah dengan sangat berhati-hati. Ia lalu menyelinap masuk dari jendela kamar dan menghindar cctv yang terdapat di sudut ruangan.


Saat tiba di lantai dua, Sandro bersembunyi di balik pilar saat mendengar tawa 2 orang orang didalam sana.


Bangsat! Aku akan membunuhmu berengsek, batin Sandro dengan emosi saat mendengar pembicaraan mereka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ia berdiri lama disana menguping semua pembicaraan kedua orang didalam sana yang ternyata membahas apa maksud perjodohan Seila dan uncle Hito.


"Kalian sendiri yang mengantar nyawa kalian kepada monster berdarah dingin" gumam Sandro sambil tersenyum penuh arti mendengar pembicaraan mereka.


Sandro lalu menyelinap dengan cepat menuju ke salah satu kamar yang tadi ia lihat jika kekasihnya di bawa ke sana.


Sret.............


"Siapa itu?" tanya Seila dengan was-was saat mendengar jendela yang dibuka dari luar.


Sandro segera masuk ke dalam dan melepas topeng wajahnya, membuat Seila seketika berlari memeluk kekasihnya dan menangis tak menyangka jika Sandro akan datang menolongnya.


"Hiks hiks hiks...........tolong aku.........hiks hiks" pinta Seila sambil menangis tersedu-sedu.


"Shut! Kamu tenang baby aku sudah disini" ucap Sandro dengan suara lembut menenangkan Seila.


"Bawa aku pergi dari sini baby. Aku tidak ingin menikah dengan uncle Hito" ucap Seila dengan cepat.


"Iya baby. Ayok kita pergi dan tetap pegang tangan aku jangan sampai lepas" ajak Sandro dengan suara pelan.


Seila mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Keduanya lalu keluar lewat jendela dengan mengendap-endap.


Sandro mengendong Seila dan melompat ke bawah beruntung tidak ada penjaga di sekitar sana. Keduanya lalu berlari menuju ke arah taman dimana ia tadi masuk dari sana.


Grep....................


Sandro menarik Seila dengan cepat dan bersembunyi di belakang pilar saat mendengar suara langkah kaki.


Jantung Seila berdetak dengan cepat mendengar suara langkah kaki yang terdengar semakin dekat ke arah mereka.


Wajahnya mulai panik hingga berkeringat takut jika mereka tertangkap. Matanya memandang Sandro yang memeluknya dengan erat sambil membenamkan kepalanya didadanya.


Sandro melihat ada 2 orang penjaga yang sedang berpatroli menuju ke arah mereka. Saat mereka akan sampai ke arah mereka ia memeluk pinggang Seila dan berjalan memutar pilar tersebut.


"Kapan jam kerja kita selesai" ucap si A.


"Masih 6 jam lagi. Jangan mengeluh" ucap si B.


"Hah! Rasanya sungguh capek dan membosankan melakukan hal ini berulang kali setiap hari" keluh si A.


"Ya kamu benar. Tapi mau bagaimana lagi ini memang pekerjaan kita" jawab si B.


"Seandainya saja aku orang kaya" lirih si A dengan senyum kecut.


Melihat keduanya sudah berlalu dengan cepat Sandro mengendong Seila dan berlari dengan cepat menuju tembok mansion.


Sandro memilih mengendong Seila karena mereka harus menyelinap dengan cepat sebelum musuh menyadari keberadaan keduanya.


~ London, Inggris ~


Seorang pria paruh baya menatap keluar jendela dengan tatapan sulit diartikan.


"Tuan" ucap tangan kanannya dengan suara dingin.


"Dimana dia?" tanya pria itu dengan suara tak kalah dingin.


"Indonesia tuan" jawab tangan kanannya.


"Apa kamu sudah mengirim email kepadanya?" tanya sang tuan.


"Sudah tuan tapi tidak di respon. Kami hanya bisa mendapat email orang kepercayaannya bos" jawab tangan kanan dengan cepat.


"Tetap kirim pesan tersebut lalu perlu kirim langsung ke perusahaannya"


"Baik tuan"


"Kosongkan jadwal ku setelah pekerjaan aku di Afrika selesai karena aku akan pergi menemuinya sendiri"


"Baik tuan"


Tangan kanannya segera pergi dari sana meninggalkan tuannya yang masih memandang keluar jendela dengan tatapan sulit diartikan.


"Aku menemukan dia kawan" ucap pria itu dengan senyum lembut.


🌼 🌼 🌼 🌼 🌼


To be continue..........