Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 196


Mata Leila dan Liliana saling bertatapan sesaat, Leila tersenyum manis saat melihat Liliana begitu pula dengan Liliana yang juga membalas dengan senyum manis.


Mungkin aku terlalu berburuk sangka aja, batin Leila.


Sedangkan Denis sedari tadi matanya tidak pernah lepas dari sang istri. Ia tak habis pikir saat mengetahui jalan pikiran sang istri yang selalu saja tidak mau berburuk sangka kepada orang lain.


Denis melirik Arkan dan mengangguk kepalanya memberi isyarat untuk menyuruh Arsen mencari tahu tentang Liliana sebelum ia datang ke Indonesia.


Arkan yang mengerti dengan isyarat sang bos segera berlalu menuju ke tempat Arsen yang sedang bersama dengan keluarganya.


"Sayang aku ke tempat mama ya" bisik Leila yang sudah bosan berada di sana.


"Jangan pergi sendiri sayang" balas Denis berbisik.


"Iya sayang"


Leila lalu pamit kepada semuanya dan menghampiri mama mertuanya yang sedang berbincang dengan keluarga Sandro dan Rian. Denis melirik Lisa memberinya isyarat untuk selalu mengawal istrinya terus tidak boleh membiarkannya sendiri.


Liliana yang melihat Leila sudah pergi tersenyum kemenangan karena bisa mendekati Denis.


Tapi semua angannya tiba-tiba lenyap begitu saja karena Denis sudah pergi dari tempat mereka dan berbaur dengan rekan kerjanya didampingi Thomas anak buahnya.


Sial, batin Liliana dengan kesal.


Meski dalam hatinya sedang kesal tapi Liliana terus tersenyum berbicara dengan para tamu yang sebagian adalah rekan kerjanya juga.


"Bos tuan Ulrico sudah tiba bersama keluarganya" bisik Leo yang melihat kedatangan Pablo Ulrico.


"Tuan-tuan sekalian silahkan dinikmati jamuannya. Saya tinggal dulu karena harus menghampiri tamu undangan yang lain" ucap Rayen dengan suara dingin dan berwibawa.


"Baik presdir Baker" ucap semuanya dengan serentak.


Rayen bergegas pergi diikuti Leo dari belakangnya menuju Pablo yang juga sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Selamat ulang tahun presdir Baker" ucap Pablo dengan suara dingin.


"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di pestaku Mr. Ulrico. Jika anda tidak keberatan saya ingin berbicara pribadi dengan anda" balas Rayen to the point.


Pablo menatap putranya sambil mengangguk kepalanya untuk menemui Amira karena ia ingin berbicara dengan Rayen. Gio yang mengerti isyarat daddynya segera membawa Geby sang adik menuju ke tempat tante Amira.


"Dimana kita bisa berbicara presdir Baker?" tanya Pablo dengan suara dingin.


"Ikut saya Mr. Ulrico" jawab Rayen dengan suara tak kalah dingin.


Rayen lalu menyuruh Arkan untuk menghendel acara ini karena ia ada hal penting yang harus ia bahas dengan Mr. Ulrico saat ini juga.


Sedangkan di tempat Sandro dan keluarganya, ia sedari tadi menatap Liliana bergantian dengan Leila. Ia merasa jika keduanya seolah satu orang tapi beda tubuh.


"Ada apa mas?" tanya Seila yang sedang mengendong sang anak.


"Coba kamu perhatiin deh honey. Perempuan yang bergaun merah itu entah kenapa berperilaku seperti nyonya bahkan make up dan gaya pakaiannya juga sama" jawab Sandro menunjuk ke arah Liliana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Seila mengikuti arah yang ditunjuk oleh suaminya dan seperti suaminya ia juga dibuat bingung melihat sosok Liliana yang terlihat persis seperti sang nyonya.


"Kamu benar mas. Jika dilihat dari belakang aku pikir wanita itu adalah nyonya" ucap Seila setuju dengan ucapan suaminya.


"Setahu aku dandanannya dan penampilannya kemarin tidak persis dengan nyonya. Tapi hari ini dia terlihat seperti nyonya honey" ucap Sandro membandingkan penampilan Liliana kemarin dan hari ini.


"Memangnya kamu bertemu dengan dia dimana sayang?" tanya Seila dengan selidik.


"Dia adalah salah satu klien di perusahaan honey dan kemarin kami baru saja meeting dengan dia di restoran nyonya besar bersama bos" jawab Sandro dengan jujur tidak ingin istrinya cemburu.


"Oh"


Sandro menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Sedangkan Liliana yang melihat Leila sedang menuju ke arah meja yang menyediakan makanan dan minum bergegas pergi ke sana.


Sampai di meja jamuan Liliana berdiri menatap jajaran minuman didepannya, seakan ia sedang memikirkan ingin mengambil minuman apa. Meski begitu matanya terus melirik Leila yang berjalan menuju ke arahnya dengan mata terus memandang makanan didepannya.


Brugh.................


Byur...................


Leila kaget bukan main tiba-tiba ada yang menabraknya daro samping dan menumpahkan minuman ke bajunya.


"Maafkan saya nyonya. Maaf saya tidak tidak tahu anda berada di samping saya" ucap Liliana dengan wajah panik dan cemas.


"Uhm! Tidak apa-apa" ucap Leila sambil melihat gaunnya yang sudah basah di bagian depan hingga ke bawah.


"Beraninya anda menumpahkan minuman ke nyonya kami!" bentak Lisa ingin menampar Liliana tapi ditahan oleh Leila.


"Lisa cukup! Ini bukan salah nona ini" potong Leila menahan Lisa yang sudah emosi.


Karena suara Lisa yang agak keras membuat beberapa tamu didekat mereka langsung menoleh ke arah mereka.


Tiba-tiba rahang Denis mengeras dengan wajah merah padam saat mendengar suara pengawal istrinya, dan mendapati sang istri dengan penampilan berantakan apa lagi gaun bagian depannya basah.


"Sial!" umpat Arsen yang melihat sang bos berjalan menuju ke arah Leila dengan emosi.


Arsen bergegas menyusul Denis takut Denis sampai kelepasan emosi disana. Sedangkan Arkan yang melihat ada keributan segera pamit dengan tamu yang lain ingin melihat apa yang terjadi.


Plak.............plak................


"Sayang" pekik Leila dengan kaget melihat apa yang barusan dilakukan suaminya.


Suasana didalam ruang pesta seketika hening saat mendengar suara tamparan yang sangat kuat didalam sana. Apa lagi saat mengetahui jika seorang presdir Arkana baru saja menampar seorang perempuan.


Apa yang terjadi?


Kenapa presdir Arkana menampar wanita itu


Aku yakin perempuan itu sudah menganggu nyonya Arkana


Kasian sekali nasib perempuan itu yang harus menanggung malu didepan umum


Siapa perempuan itu? Kenapa dia di tampar presdir Arkana


Suara bisik-bisik tamu bergema didalam sana membuat Leila merasa tidak senang karena menjadi pusat perhatian.


Sedangkan Liliana sendiri ia syok tak bisa berkata apa-apa saat ini. Wajahnya sampai berbekas karena tamparan Denis yang sangat kuat tidak memandang itu perempuan atau laki-laki.


Kedua tangan Liliana mengepal dengan erat menahan emosi didalam dirinya yang sebentar lagi akan keluar.


Mata hazelnya menatap Leila dengan tatapan penuh kebencian merasa ini semua adalah salah Leila. Melihat tatapan mata Liliana entah kenapa Leila merasa takut tapi ia juga merasa bersalah karena dirinya Liliana ditampar oleh suaminya.


Claudia yang melihat sang majikan syok tidak bisa berkata apa-apa segera mengandeng tangan Liliana agar ia tidak jatuh.


"Mrs. Arkana saya sebagai asisten nona Rasyid meminta maaf atas nama nona Rasyid dengan kejadian barusan. Sekali lagi kami mohon maaf" ucap Claudia dengan tulus sambil menunduk.


Tubuhnya gemetar merasa tatapan Denis yang seakan ingin menelannya hidup-hidup saat ini.


"Maaf! Kalian pikir maaf kalian bisa membuat baju istriku kering!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


"Nona tolong bawa nona Rasyid pergi dan saya sudah memaafkannya" potong Leila sambil memeluk suaminya dari depan takut ia kembali menampar Liliana.


"Sayang" ucap Denis dengan tatapan tajam tidak setuju dengan ucapan istrinya.


"Baik Mrs. Arkana terima kasih" balas Claudia dengan sopan.


Claudia bergegas membawa Liliana pergi dari tempat acara sebelum presdir Arkana kembali menamparnya.


"Sayang udah dong malu diliatin orang" ucap Leila menahan suaminya yang ingin menyusul Liliana dan memberinya pelajaran.


"Ckk!!" decak Denis dengan emosi.


"Arsen tolong kamu bantu Arkan untuk hendel pesta ka Rayen ya" pinta Leila.


"Baik nyonya" ucap Arsen dengan suara dingin.


Leila segera membawa suaminya ke kamar mereka untuk meredakan emosi sang suami. Sampainya didalam kamar Denis segera membuang jasnya sembarang.


"Berengsek!" bentak Denis dengan wajah memerah karena emosi.


"Tenangkan dirimu sayang" ucap Leila dengan suara lembut sambil mengelus punggung suaminya.


"Cih! Kenapa kamu biarkan dia pergi begitu saja sayang" sarkas Denis dengan tatapan tajam.


"Itu bukan sepenuhnya kesalahannya sayang. Lagian aku juga salah karena tidak melihat ke depan sampai menabrak nona Rasyid" balas Leila dengan suara lembut.


"Jangan sebut nama perempuan ja**ng itu di depanku" ucap Denis dengan emosi.


"Tenangkan dirimu sayang. Aku tidak mau kamu emosi sayang" bujuk Leila sambil melepas gaunnya yang basah.


Glek....................


Denis menelan salivanya dengan susah melihat istrinya yang hanya memakai pakaian dalam saja. Dengan sekali tarikan ia langsung membawa istrinya ke ranjang dan menciumnya dengan kasar.


"Bantu aku padamkan amarah aku sayang" ucap Denis dengan suara serak.


"I'm yours hubby" (aku milikmu sayang) ucap Leila dengan tatapan sayu.


Kreet...............


Gigi Denis mengeletuk sudan tidak bisa menahan hasratnya lagi. Malam itu Leila dibuat kewalahan melayani nafsu suaminya yang sangat besar dan tidak ada habisnya.


Sedangkan di dek kapal saat ini Liliana sedang berteriak kesetanan melampiaskan emosinya. Claudia hanya diam saja menjadi pelampiasan amarah Liliana saat ini.


"Berengsek! Perempuan sialan! Aku akan membalasmu wanita ja***g!" pekik Liliana kesetanan.


"Beraninya mereka mempermalukan aku didepan umum! Aaarrgghh............sialan" teriak Liliana dengan emosi.


Prang.............prang...........prang..........


Liliana melempar kursi dan meja di dek kapal hingga patah, tidak peduli jika nanti ia harus menganti rugi karena saat ini ia sangat emosi.


Bugh..............


Claudia menutup mata menahan rasa pusing saat terkena lemparan sepatu Liliana hingga keningnya berdarah.


"Perempuan sialan! Ja***g hina kamu Leila Baker" teriak Liliana dengan suara menggelegar.


"SIAPA YANG KAMU PANGGIL JAL**G!" bentak Rayen dengan suara menggelar dari arah samping.


Ia yang tadi sedang berbicara penting mengenai markasnya dan juga markas Pablo segera menghentikan pembicaraan mereka saat mendengar suara teriakan dari sampainya mereka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Pablo bersama Vito sudah lebih dulu masuk ke dalam tempat acara diikuti Rayen dan Leo. Tapi seketika langkah kaki Rayen terhenti saat mendengar nama yang sangat ia kenali.


Aduh nona kenapa mencari masalah lagi dengan Mr. Balet, batin Claudia dengan pusing.


Ia susah tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Liliana lagian seperti tadi. Sedangkan Rayen matanya menatap Liliana dengan tajam dengan aura membunuh.


"Pres.......dir B.....aker" ucap Liliana dengan gugup.


"Beraninya kamu mengatai adik aku ja***g!" bentak Rayen dengan suara menggelegar.


"Anda salah dengar presdir Baker. Saya tidak sedang mengatai adik anda presdir" bohong Liliana dengan wajah pucat.


"Salah dengar kamu bilang?" tanya Rayen sambil tersenyum menyeringai.


Hahahahaha.......................


Tawa Rayen seketika pecah di sana membuat Liliana berdiri dengan gemetar. Entah kenapa tawa Rayen seperti binatang buas yang sedang mengejek mangsanya.


Grep............


Plak...........plak.........plak........plak..........


Aarrgghhh............


Rayen menampar Liliana berkali-kali sambil menjambak rambutnya dengan kuat membuat Liliana berteriak kesakitan.


"Ampun........hiks hiks hiks.......aku mohon ampuni aku.........hiks hiks hiks..........tolong jangan sakiti aku" pinta Liliana sambil menangis histeris merasa sangat kesakitan.


"Aku mohon berhenti.........hiks hiks hiks" pintanya lagi dengan tangis semakin pilu.


Bugh................bugh.........bugh................


Seperti angin lalu Rayen tidak memperdulikan permintaan Liliana dan terus menendang tubuh Liliana dengan brutal.


Emosinya sudah tidak bisa di kontrol lagi karena mendengar adiknya yang di bilang jal**g.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..................