
Leila menangis saat mata keduanya bertatapan. Denis sendiri tersenyum manis melihat kekasihnya yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Ia mengangkat Leila dengan santai seperti tidak ada beban dan mendudukkan Leila di pangkuannya. Denis lalu memeluk kekasihnya dengan erat sambil mengelus punggungnya agar lebih tenang.
"Sudah jangan menangis lagi sayang" ucap Denis dengan suara lembut.
"Hiks hiks.......iya sayang" ucap Leila dengan sesegukan.
Denis menghapus air mata Leila di kedua matanya dan tersenyum manis membuat Leila juga membalas senyuman kekasihnya itu.
"Apa Arkan akan baik-baik saja sayang?" tanya Leila sambil menatap Denis dengan tatapan khawatir.
"He Will be fine baby. Bimo akan merawatnya sampai sembuh" (dia akan baik-baik saja sayang) jawab Denis sambil mengecup bibir Leila dengan lembut.
"Heemmm" deham Leila sambil mengangguk kepalanya.
Hari itu Leila dan Denis menghabiskan waktu di penthouse hingga besoknya baru Denis mengantar Leila pulang ke rumahnya saat akan pergi ke perusahaan.
~ Kediaman Baker ~
"Kamu hati-hati dijalan ya sayang" ucap Leila saat akan turun dari mobil.
"Iya sayang. Ingat jangan pernah keluar tanpa seijin aku" ucap Denis dengan suara tegas.
"Iya sayang aku tahu. Ini sudah 10 kalinya kamu beritahu aku" balas Leila dengan wajah cemberut.
Cup.............
Denis mencium bibir Leila membuat sang empunya kaget karena Denis tiba-tiba saja menciumnya.
"Aku pergi sayang" ucap Denis mengelap salivanya di bibir Leila dengan lembut membuat wajah Leila merona.
"I......ya sayang" ucap Leila dengan gugup.
Ia bergegas keluar dari dalam mobil membuat Denis tersenyum manis karena kekasihnya itu tidak pernah berubah sama sekali.
Masih saja malu saat mendapat ciuman darinya. Denis lalu melajukan mobilnya pergi dari sana diikuti 4 mobil pengawal dari belakang yang selalu setia mengawalnya.
"Selamat datang nona muda" sapa pak Jordi yang sedari tadi berdiri di depan pintu mansion.
"Ah! Pak Jordi bikin kaget saja" ucap Leila sambil mengelus dadanya.
"Maafkan saya nona" ucap pak Jordi sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa pak Jordi. Lagian ini juga bukan salah pak Jordi kok" ucap Leila sambil tersenyum manis.
"Iya nona muda"
"Apa ka Rayen sudah berangkat ke perusahan pak Jordi?" tanya Leila sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Belum nona muda. Tuan muda pertama baru saja pulang dengan tuan muda kedua" jawab pak Jordi.
"Hah! Arkan sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Leila dengan kaget.
"Iya nona muda"
"Dimana mereka sekarang pak Jordi?" tanya Leila dengan cepat.
"Keduanya berada di kamar tuan muda kedua nona muda" jawab pak Jordi.
Leila segera naik ke lantai dua menuju kamar Arkan ingin melihat kondisi adiknya, sekaligus ingin bertanya kenapa dia sudah keluar dari rumah sakit.
Ceklek..............
Arkan, Rayen, dan Leo yang berada didalam kamar Arkan langsung menatap ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang dibuka.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Kapan kamu pulang dek?" tanya Rayen dengan suara lembut.
"Baru saja ka" jawab Leila.
"Kenapa kamu sudah keluar dari rumah sakit Arkan? Keadaan kamu belum pulih dek?" tanya Leila dengan cemas.
"Aku tidak suka berada di rumah sakit ka. Lagi pula aku akan segera sembuh karena ka Bimo sedang membuatkan obat mujarab untukku ka" jawab Arkan dengan santai.
"Tapi dek" ucap Leila yang langsung dipotong Rayen.
"Benar yang dikatakan Arkan Leila. Lagian kakak lebih tenang jika dia dirawat di rumah dari pada di rumah sakit" potong Rayen.
"Baiklah kalau memang begitu" ucap Leila.
"Leila kamu jaga Arkan ya karena kakak akan pergi ke perusahaan" ucap Rayen.
"Iya ka. Aku akan menjaga Arkan" balas Leila.
"Kalian hati-hati di rumah ya. Jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi kakak" titah Rayen dengan suara tegas.
"Iya ka" jawab keduanya dengan serentak.
Rayen lalu bersama dengan Leo bergegas pergi dari kamar Arkan menuju perusahaan. Saat sudah didalam mobil Rayen segera menghubungi Denis.
"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin dari seberang.
^^^"Aku ingin bertemu dengan kamu" jawab Rayen dengan suara tak kalah dingin.^^^
"Temui aku di jam makan siang di perusahaan aku"
^^^"Baik....."^^^
Rayen menatap hpnya merasa kesal karena belum selesai ia bicara lagi-lagi panggilannya sudah dimatikan sepihak oleh Denis.
"Denis sialan!" umpat Rayen dengan kesal.
Leo yang mendengar umpatan tuannya melirik sekilas lewat kaca spion karena tidak biasanya tuannya marah-marah sepeti itu.
Ternyata presdir Denis bisa membuat tuan kesal juga ya, batin Leo sambil tersenyum penuh arti.
~ DA Corp ~
Ting...............
Saat lift terbuka keduanya langsung di sambut Rian dengan wajah datar dan dingin didepan pintu. Keduanya lalu dibawa ke ruangan Denis setelah mendapat persetujuan untuk masuk.
"Untuk apa kamu ingin bertemu dengan aku?" tanya Denis dengan suara dingin sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Ayok kita serang markas sialan itu" ajak Rayen.
"Apa dia sudah mulai bergerak?" tanya Denis.
"Menurut mata-mataku dia tidak melakukan apa-apa saat ini, tapi aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu tanpa kita ketahui" jawab Rayen dengan suara tegas.
"Kemarin aku sudah menghancurkan bisnisnya yang berada disini" ucap Denis dengan santai.
"Apa dia tahu kalau kamu yang menghancurkan bisnisnya?" tanya Rayen dengan cepat.
"No"
"Cih!! Dia pasti berpikir jika akulah yang menghancurkan bisnisnya" decih Rayen dengan kesal.
Denis mengangkat kedua bahunya menjawab tidak tahu padahal ia tahu kalau Lewis pasti akan berpikir jika semua itu karena ulah Rayen.
Keduanya lalu membahas rencana penyerangan Lewis bersama Sandro dan juga Arsen. Mereka sepakat jika lusa barulah mereka akan menyerang Lewis karena besok adalah hari pernikahan Sandro dan Seina.
~ Kediaman Sandro ~
Tak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan kini saatnya Sandro akan melangsungkan pernikahannya bersama dengan Seila.
Bukan tanpa alasan ia ingin secepatnya menikahi Seila karena ibunya tidak ingin nama keluarga mereka difitnah. Mega tidak ingin kekasih anaknya tinggal di rumah mereka tanpa ikatan apapun.
Denis bersama dengan mamanya baru saja tiba disana dan langsung di sambut oleh Ando sebagai tuan rumah.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Presdir Denis" ucap Ando dengan sopan.
"Heemmm" deham Denis dengan suara dingin dan wajah datar.
"Bagaimana keadaan kamu nak Ando?" tanya Amira dengan suara lembut.
"Aku baik nyonya" jawab Ando dengan sopan.
"Panggil saja tante nak jangan nyonya. Lagian kita ini sudah seperti keluarga" ucap Amira sambil tersenyum manis.
"Baik tante"
Denis dan mamanya segera mengambil bagian di kursi yang sudah disiapkan untuk mereka dan tak berselang lama Leila, Rayen, dan Arkan datang dengan pengawalan ketat.
Melihat kekasihnya datang Denis segera bangun dan menghampirinya. Seperti biasa ia langsung mengecup bibir Leila didepan umum tidak perduli dengan sekitarnya.
"Ckk!! Ini didepan umum!" decak Rayen dengan kesal.
"Urus saja urusanmu sendiri!" balas Denis dengan tatapan sinis.
Melihat keduanya yang tidak akan pernah bisa akur dengan cepat Leila mengandeng tangan Denis menuju ke arah Amira.
Mereka semua lalu mengikuti acara tahap dari tahap pernikahan Sandro dan Seila hingga bunyi kata yang sangat sakral terdengar lantang disana.
SAH
Kata sah terdengar didalam sana menandakan Sandro dsn Seila sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang mata negera dan agama.
"Selamat ya dude" ucap Arsen sambil memeluk Sandro.
"Thank's bocah empat mata" balas Sandro sambil tersenyum lebar.
"Semoga kamu suka" bisik Arsen sambil memberikan sebungkus kecil bubuk kepada Sandro.
Sandro menatapnya dengan alis sebelah terangkat tidak tahu apa yang diberikan oleh Arsen. Melihat tatapan Sandro dengan cepat Arsen segera memberitahunya.
"Pakai nanti sebelum tidur" bisik Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu memang bocah pintar" balas Sandro sambil tertawa lebar.
Denis dan lainnnya lalu memberi selamat kepada keduanya. Selesai memberikan selamat Denis lalu berbicara dengan Simon yang datang semalam di halaman belakang rumah Denis.
Tanpa Denis dan lainnya sadari ternyata salah satu pengawal Rayen adalah anak buah Lewis yang sedang menyamar dan mengintai mereka.
"Bagaimana kondisi nenek aku sekarang?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Masih sama tidak ada perubahan. Aku juga sudah berbicara dengan dokter yang merawat nenek Linda" jawab Simon.
"Katakan" titah Denis dengan suara dingin.
"Kata dokter tubuh nenek Linda tidak ada komplikasi dan semuanya dalam keadaan baik. Koma nenek Linda ini berkaitan dengan alam bawahnya dimana nenek Linda sendiri yang menolak untuk bangun dari komanya" papar Simon menjelaskan.
Deg...........deg............deg..........
Jantung Denis berdetak dengan cepat entah kenapa ia merasa ingin sekali menemui sang nenek bersama mamanya.
"Bulan depan aku akan ke sana. Urus semuanya agar tidak ada yang tahu kedatangan aku dan saat aku menemui nenek jangan ada orang itu" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik aku akan mengaturnya"
Denis lalu pergi dari sana meninggalkan Simon disana. Saat sampai di tempat acara ia mengedarkan pandangannya mencari sang mama yang tidak terlihat disana.
"Dimana mama aku?" tanya Denis dengan suara dingin ke Max.
"Tadi nyonya bersama dengan ibunya Arsen pergi ke dalam rumah bos" jawab Max yang ingat tadi Amira masuk bersama Bella ke dalam rumah Sandro.
Dengan langkah tergesa-gesa Denis masuk ke dalam rumah ingin mencari sang mama. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tejadi kepada mamanya.
"CARI MAMA AKU SIALAN!" bentak Denis dengan suara menggelar saat tak menemukan sang mama didalam rumah.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.................